
Seorang wanita yang sedang menggunakan kimono yang membuat penampilannya terlihat sangat anggun. Saat ini sudah berada pada sebuah tempat, yang dimana dirinya saat ini sedang menyelidiki sesuatu, setelah dirinya menerima sebuah informasi dari seseorang tadi.
Dengan beberapa orang bawahannya, saat ini mereka mulai menelusuri sebuah tempat yang sedang mereka selidiki itu. Tempat yang mereka masuki, memang terlihat seperti sebuah ruang medis. Karena memang, bisa dikatakan ruangan tersebut dipenuhi dengan peralatan medis.
“Sepertinya, markas ini sama seperti markas yang lainnya, dan digunakan untuk mengumpulkan darah manusia, Nona Amaterasu” ucap bawahan dari wanita tersebut, setelah bawahannya itu selesai menyelidiki berbagai hal yang berada ditempat tersebut.
“Hahh... Lalu, apakah ada korban yang berada ditempat ini?” tanya Amaterasu kemudian, yang memang kembali menghela nafasnya, karena bisa dikatakan rencananya untuk menemukan sebuah pihak bisa dikatakan gagal.
“Mereka berada disebuah ruangan, Nona Amaterasu. Dan seperti markas yang lainnya, kondisi korban saat ini sangat mengenaskan” Balas bawahannya itu kembali.
“Kalau begitu, bawa aku ke sana. Biar aku sendiri yang merawat kondisi mereka” ucap Amaterasu kemudian, yang dimana dirinya ingin melihat kondisi dari para korban tempat ini, dengan mata kepalanya sendiri.
Amaterasu memang sedang berada disebuah tempat, yang dimana tempat ini diberitahukan kepadanya oleh Zen. Zen memang menyuruhnya untuk meneliti tempat tersebut, karena peliharaannya merasakan sebuah bau yang dikenalnya berada ditempat ini.
Dan disinilah wanita itu berada, pada sebuah ruangan yang dipenuhi oleh beberapa pihak yang terlihat sangat memprihatinkan. Kondisi mereka memang sangat mengenaskan, karena tubuh mereka terlihat sangat amat kurus dan kulit tubuh mereka sangat memucat.
Walaupun bisa dikatakan mereka tidak menemukan korban yang tewas dari apa yang sedang terjadi ditempat itu. Namun para korban yang berhasil mereka temukan, beberapa dari mereka bisa dikatakan sudah masuk dalam masa kritis, dan mungkin jika tidak cepat ditangani mereka akan tewas.
“Sepertinya, darah mereka terus diperas oleh pihak yang melakukan hal itu kepada mereka, Nona Amaterasu” balas bawahannya kembali.
“Ck... lalu apakah tempat ini juga tidak mempunyai informasi, tentang kemana darah yang mereka ambil itu dibawa pergi?” tanya Amaterasu kemudian, yang mulai bertanya kembali kepada bawahannya sambil mencoba merawat beberapa korban yang ditemukan oleh bawahannya itu.
Memang seperti beberapa markas yang lainnya yang diberitahukan oleh Zen kepada Amaterasu. Yang bisa dirinya bisa temukan hanya beberapa korban yang menjadi korban penculikan yang dilakukan oleh para Vampire, dan kondisi mereka bisa dikatakan sama dan sangat mengenaskan.
Walaupun semua bekas perbuatan mereka juga ikut tertinggal, namun hingga saat ini Amaterasu belum menemukan titik terang tentang apa yang sedang direncanakan oleh para Vampire hingga saat ini. Apalagi darah yang mereka ambil dari beberapa manusia, seakan menghilang entah kemana setelah mereka selidiki lebih jauh keberadaan darah tersebut
“Hahh... kalau begitu, cepat hubungi pihak terkait untuk menjemput keberadaan mereka ditempat ini” ucap Amaterasu kemudian, yang sudah menyelesaikan memberikan pertolongan pertama, kepada para korban yang sedang dirawatnya tadi.
Sekali lagi, apa yang dirinya temukan dan selidiki mengarahkan dirinya menuju kesebuah jalan buntu. Karena tempat yang dirinya masuki tadi, tidak ditemukan apapun yang mengarahkan dirinya kepada sebuah rencana yang dilakukan oleh para Vampire.
Bahkan dari seluruh tempat yang diberitahukan Zen kepadanya, semuanya mempunyai kondisi yang sama. Yang dimana korban masih berada ditempat itu dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, dan pihak yang melakukan semua itu sudah menghilang entah kemana.
Bahkan seluruh bukti yang mereka temukan ditempat ini, tidak mampu mengarahkan mereka untuk melangkah lebih jauh menyelidiki kasus itu lebih jauh. Karena memang, sepertinya para Vampire sudah melakukan tugas mereka sangat amat baik dalam menyembunyikan kegiatan mereka selama ini.
__ADS_1
“Bagaimana, kamu menemukan sesuatu?” namun sebelum Amaterasu memikirkan sesuatu tentang kelanjutan rencananya, sebuah suara yang familiar mulai mengejutkan dirinya.
“Hahh... kamu mengejutkanku, Zen.” ucap Amaterasu kemudian, yang melihat sosok berwajah datar saat ini memasuki tempat dimana dirinya berada.
Tentu Amaterasu tidak menjawab pertanyaan Zen, dan hanya menunjukan kondisi dari markas itu kepada Zen, untuk memberitahukan jawaban tentang apa yang dirinya tanyakan tadi. Apalagi, Zen saat ini mulai mengangguk paham, karena dirinya sudah menyelidiki tempat ini pada awalnya dan dirinya juga tidak menemukan apapun ditempat tersebut.
“Hmm... sepertinya mereka bergerak dengan cepat. Padahal, aku berharap kamu menemukan sesuatu.” ucap Zen kemudian.
Memang Zen selalu menepati janjinya untuk membantu Amaterasu. Walaupun dirinya hanya memikirkan cara untuk menghabisi para Vampire, tetapi tetap saja dirinya terus melaporkan semua hal yang dirinya temukan kepada salah satu Dewa dari pihak Shinto itu.
Termasuk markas yang sebelumnya digunakan oleh para Vampire yang sebelumnya berada disini, untuk mengambil darah manusia yang mereka culik dari berbagai wilayah di negara ini. Apalagi tempat ini merupakan tempat ketiga yang Zen beritahukan kepada Amaterasu.
Tetapi seperti tempat-tempat yang lain yang diberitahukan oleh Zen sebelumnya. Tempat ini tidak menunjukan sebuah bukti, maupun informasi tentang apa yang sedang para Vampire itu rencanakan, dan dibawa kemana darah-darah itu setelah berhasil mereka dapatkan.
“Lalu, mengapa kamu bisa berada disini, Zen? Biasanya kamu hanya memberitahukan diriku lokasi yang harus aku periksa, dan dirimu tidak akan ikut campur lagi dengan apa yang terjadi selanjutnya” ucap Amaterasu kemudian, yang juga bingung mengapa Zen bisa berada ditempat ini.
Memang Zen dengan serius akan mencari para Vampire yang ingin dirinya temukan. Apalagi berkat bantuan Fenrir, bisa dikatakan dirinya cukup sukses menemukan keberadaan markas mereka. Namun sayangnya, sebelum dirinya sempat menyergap pihak yang sangat dibenci oleh dirinya itu, para Vampire itu berhasil melarikan diri lagi.
Maka dari itu setelah menemukan tempat mereka, walaupun para Vampire yang diincarnya melarikan diri. Membuat Zen memutuskan untuk langsung memberikan informasi tersebut kepada Amaterasu tentang markas yang dirinya temukan, sebagai janjinya dalam kerja sama yang mereka lakukan.
“Mengapa Istrimu tidak dirawat pada wilayah tempat dirimu tinggal?” tanya Amaterasu kemudian, yang cukup kebingungan mengapa Istrinya harus dirawat pada sebuah wilayah yang berbeda dari wilayah tempat mereka berada.
“Karena dirinya kebetulan sedang sakit di wilayah ini. Jadi, aku membawanya ke rumah sakit yang berada di wilayah ini” balas Zen kemudian.
Memang markas yang ditemukan Zen saat ini, berada diarea Ibukota negara tempat dirinya berada. Jadi, dirinya memutuskan untuk menyempatkan diri melihat kegiatan Amaterasu ditempat ini, setelah memastikan Vero sudah masuk kedalam dunia mimpi miliknya.
Apalagi, sebenarnya Zen mempunyai sebuah urusan tadi, dan saat dirinya kembali setelah menyelesaikan urusannya itu, dirinya mengingat bahwa Amaterasu sedang memeriksa sebuah tempat yang dirinya beritahukan dan membuat Zen berinisiatif untuk melihat keadaannya.
Zen sebenarnya memang sudah tidak menemukan petunjuk apapun yang menunjukan keberadaan para Vampire yang sedang bersembunyi dari hadapannya. Namun, dirinya berharap bahwa mungkin, pihak Amaterasu dapat menemukan sesuatu yang tidak bisa dirinya temukan.
Namun nyatanya, seperti yang sudah diketahui bahwa pihak dari wanita tersebut juga tidak dapat menemukan apapun, yang membantu mereka dalam menyelidiki keberadaan para Vampire itu lebih jauh. Karena bisa dikatakan, para Vampire tersebut melakukan tindakan mereka dengan cara yang amat sangat bersih.
“Lalu, bukankah kamu seharusnya menjaga kondisi Istrimu? Mengapa kamu bisa berada ditempat ini?” tanya Amaterasu yang kebingungan, mengapa pria itu malah datang ketempat ini dan tidak menjaga keberadaan Istrinya.
__ADS_1
“Aku sedang menyelesaikan sebuah urusan tadi. Jadi saat aku kembali, aku tidak sengaja melewati tempat yang sedang kamu selidiki saat ini” balas Zen.
Sebelumnya, Zen memang sedang menyelidiki sesuatu, setelah dirinya mendapati sebuah informasi tentang orang-orang yang menyerang dirinya dan Vero tadi. Tentu dirinya langsung bergerak dengan cepat untuk mencari pelaku utama dari kejadian yang dirinya alami.
Tetapi setelah berhasil menemukannya, dirinya malah menemukan sesuatu yang sangat menarik. Jadi, Zen memutuskan untuk membuat orang-orang yang melakukan hal keji kepada dirinya dan Vero tadi, untuk melakukan apapun yang mereka inginkan dan Zen hanya menunggu dengan tenang rencana apa yang akan mereka gunakan untuk menyerang dirinya.
Apalagi, Zen sudah merencanakan berbagai hal untuk membuat mereka sangat menderita, apalagi setelah mendengar percakapan mereka tadi. Jadi, Zen memutuskan untuk menunggu saja apa yang akan mereka lalukan, dan Zen sudah bersiap untuk membuat hidup mereka sangat amat menderita.
“Hahh... bisakah kamu tidak menunjukan senyum menyeramkan itu kepadaku, Zen?” ucap Amaterasu kemudian, yang tidak sengaja melihat ekspresi Zen yang cukup menakutkan.
“Ah... maafkan aku. Aku hanya membayangkan sesuatu yang menyenangkan tadi” balas Zen yang mulai mengembalikan ekspresinya seperti semula, setelah dirinya membayangkan jalannya rencananya tadi.
Tentu membayangkan beberapa orang akan tersiksa ditangannya, membuat Zen sangat amat bersemangat. Apalagi dirinya sudah tidak sabar mengimplementasikan rencana jahatnya itu kepada orang-orang yang ingin mencari masalah dengannya.
Maka dari itu, saat membayangkan rencananya yang sudah dirinya persiapkan itu. Zen tidak sengaja menunjukannya rasa semangatnya yang dirasakannya lewat ekspresi wajahnya, dan membuat beberapa pihak akan sangat ketakutan jika melihat ekspresinya saat ini.
“Ya... dan jangan sering-sering menunjukan ekspresi seperti itu, Zen." Dan membuat Zen hanya mengangguk menjawab perkataan dari Amaterasu yang menegurnya. "Lalu... aku dengar perusahaan Istrimu sedang mengalami masalah?” tanya Amaterasu yang melanjutkan kalimatnya tadi, dan mencoba merubah topik pembicaraan mereka.
“Ho... dari mana kamu tahu, bahwa perusahaan istriku mengalami masalah?” tanya Zen balik.
“Waktu senggang ku, aku gunakan untuk mencari tahu siapa sebenarnya Istrimu. Karena aku sangat penasaran, wanita seperti apa yang dinikahi oleh pria sepertimu” balas Amaterasu kemudian.
“Ya, dirinya memang mempunyai sebuah masalah. Tetapi sepertinya dirinya sudah berhasil menyelesaikannya” kata Zen yang menjawab pertanyaan dari Amaterasu, tentang kondisi perusahaan Istrinya tadi.
Memang Zen sudah menceritakan sebagian kisahnya kepada Amaterasu. Bahkan Amaterasu juga sudah tahu bahwa Zen menyembunyikan status yang dimilikinya dihadapan Istrinya. Tentu Zen tidak memberikan alasan yang sebenarnya mengapa dirinya melakukan hal tersebut.
Namun yang diperkirakan oleh Amaterasu, Zen hanya ingin mencoba hidup sebagai manusia normal pada umumnya, sehingga dirinya menyembunyikan statusnya itu dari Istrinya. Walaupun sebenarnya Amaterasu tahu, bahwa alasan yang dirinya berikan merupakan sebuah kebohongan, namun dirinya hanya menerima saja alasan tersebut.
“Aku bisa membantunya. Kamu tahukan, aku merupakan Putri dari Kerajaan Jepang. Tentu aku mempunyai sebuah perusahaan besar untuk bisa membantu Istrimu” Ucap Amaterasu.
“Terserah dirimu saja. Tetapi aku ingatkan, jangan sampai identitas ku sampai terbongkar” Kata Zen, yang memang memutuskan untuk menunda memberitahukan identitasnya kepada Vero.
Sebenarnya, Vero sudah memiliki sesuatu yang bisa membuat Zen untuk menunjukan status yang sebenarnya tentang dirinya saat ini. Namun, Alfred masih melarangnya untuk melakukannya. Karena Alfred berkata, bahwa hal itu belumlah cukup untuk membuat Zen menunjukan jati dirinya.
__ADS_1
Tentu Zen bingung dengan perkataan bawahannya itu, yang masih bersikeras melarangnya. Namun Zen memutuskan untuk membiarkannya saja, karena memang dirinya tidak ingin terburu-buru menunjukan jati dirinya kepada siapapun saat ini, karena kehidupannya masihlah cukup menyenangkan.
“Hm.. baiklah. Kalau aku sudah tidak sibuk, mungkin aku akan bekerja sama dengannya”