Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Bentuk Perasaan


__ADS_3

Seorang wanita saat ini dengan geram menatap layar ponselnya yang sedang menunjukan sebuah panggilan video antara dirinya dengan seseorang, yang terlihat sedang menyekap suaminya saat ini. Apalagi dengan nada ancaman yang terus dirinya ucapkan, membuat wanita itu semakin kesal dibuatnya.


Memang saat ini dirinya berada di ruangan kantornya sendirian mengangkat panggilan tersebut. Karena pria yang menghubunginya itu, menyuruhnya untuk menerima panggilan video itu sendirian, dan tidak boleh memberitahukan panggilan tersebut kepada siapapun.


Tentu dirinya mengikuti perkataan pria tersebut, karena wanita itu merasa sangat khawatir dengan keadaan suaminya, karena terlihat dengan jelas kondisinya saat ini bisa dibilang tidak baik-baik saja. Karena bisa dikatakan, keberadaannya saat ini terlihat sedang ditodong oleh beberapa pihak menggunakan senjata api oleh mereka.


Maka dari itu, wanita tersebut berusaha untuk tetap tenang dan mendengar semua permintaan pihak yang saat ini sedang mengancamnya, agar nyawa suaminya bisa terselamatkan dari pihak-pihak yang ingin melukai dirinya itu.


“Hahahaha... bagaimana? Aku berkata jujur bukan?” ucap pria bernama Indra yang saat ini merasa senang, bahwa rencananya berhasil untuk membuat takut pihak yang saat ini sedang menerima panggilannya itu.


“Sudah kubilang lepaskan dirinya, brengsek!” teriak Vero yang saat ini merasa sangat marah dengan perilaku pria yang menghubunginya itu, yang saat ini sedang menyekap suaminya.


Sebenarnya, Vero tidak menyangka sama sekali, bahwa sosok Zen yang dirinya kenal bisa keluar dari marah bahaya apapun, saat ini terlihat tidak berdaya dengan beberapa moncong pistol yang saat ini sudah ditodongkan kearah dirinya.


Sebenarnya pemikirannya itu tidak salah. Karena memang, sebenarnya Zen hendak melepaskan dirinya secara langsung dan menghabisi beberapa orang yang berani-beraninya mencari masalah dengannya saat ini. Apalagi bisa dipastikan seluruh pihak yang ingin berbuat jahat kepada Vero, sudah berada ditempat dirinya disekap.


Namun dirinya langsung mengurungkan tindakannya itu, disaat dirinya merasakan sebuah perasaan baru yang saat ini dirinya rasakan. Sebuah perasaan tulus, saat ini bisa terus dirasakan oleh Zen, yang dimana perasaan itu berasal dari sosok yang sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini.


Zen tentu tidak tahu sama sekali tentang perasaan itu. Karena perasaan itu sangatlah berbeda dari aura kebahagiaan yang sering dirinya dapatkan dari Vero dan beberapa wanita yang lainnya. Jadi, Zen cukup kebingungan dengan apa yang sedang dirinya rasakan saat ini.


Maka dari itu, Zen memutuskan untuk membiarkan adegan yang sedang terjadi dihadapannya terus berlanjut, agar dirinya bisa dengan pasti mengidentifikasi sebenarnya perasaan apa yang sedang dirinya rasakan, terhadap wanita yang saat ini sangat jelas mengkhawatirkan keberadaannya.


“Oh... tidak semudah itu, Vero. Tentu jika kamu ingin pria ini lepas, kamu harus menuruti semua perkataan diriku” ucap Indra yang merasa semakin di atas angin atas tindakannya.


“Cih... dasar biadab. Mengapa kamu memakai cara ini, hanya untuk menjalankan rencana mu?” ucap Vero yang semakin kesal, dengan tingkah pria yang saat ini seakan sedang mengancam dirinya menggunakan suaminya.


Zen memang sudah pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Bisa dikatakan apa yang saat ini sedang dirinya rasakan, seperti sesuatu yang pernah dikeluarkan oleh Bibi Leni kepadanya saat itu. Namun dirinya masih bingung saat ini, karena memang sesuatu dari dalam hatinya seakan memaksa dirinya untuk menerima perasaan tersebut dari Vero.


Memang Zen hendak ingin langsung menerima perasan itu. Namun sayangnya, dirinya tidak mengerti cara melakukannya. Karena bisa dibilang, apa yang dikeluarkan oleh Vero cukuplah berbeda dengan apa yang dikeluarkan oleh Bibi Leni dahulu.


Dahulu, dirinya hanya harus mengungkapkan rasa terima kasihnya untuk menerima ketulusan dari wanita tersebut. Namun apa yang dikeluarkan oleh Vero saat ini, bisa dikatakan bukan hanya sebuah rasa terima kasih yang Zen harus sampaikan. Melainkan sesuatu yang lain, dan membuat Zen cukup bingung tentang hal tersebut.


“Tenanglah. Seperti apa yang aku katakan, jika kamu mau mengikuti perkataan diriku, maka aku akan melepaskan Suamimu sesuai keinginan dirimu” ucap Indra kembali saat menjawab perkataan dari Vero kepadanya.


“Cih... kamu kira aku mempercayai apa yang kamu kat-” namun belum selesai dirinya menyelesaikan kalimatnya, saat ini suara tembakan mulai terdengar dari panggilan video yang sedang dilakukan olehnya.


Tentu Vero merasa sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi pada panggilan yang dirinya lakukan itu. Karena dengan mata kepalanya sendiri, sebuah tembakan saat ini berhasil mengenai paha dari Zen, yang masih duduk dengan terikat ditempatnya.


Apalagi setelah tembakan itu mulai ditembakkan, saat ini Zen langsung tersungkur di tanah setelah dirinya menerima tembakan yang dirinya terima tadi. Bahkan saat ini beberapa pihak yang berada di sana malah mulai tertawa dengan apa yang terjadi, dan tidak memperdulikan ekspresi Vero yang sangat terkejut dengan kejadian tersebut.

__ADS_1


“ZEN!” teriak Vero panik, setelah melihat suaminya sudah tersungkur dengan kondisi tubuh masih terikat pada kursi yang dirinya duduki tadi.


Siapa yang tidak panik, melihat suaminya saat ini terima sebuah tembakan pada dirinya. Bahkan bayang-bayang kejadian yang pernah dirinya alami dan membuatnya sedikit takut mengingatnya, saat ini seakan kembali terjadi dan membuat dirinya tidak tahu harus melakukan apa.


“Sudah kubilang, ikuti perkataan diriku dan kamu akan bisa melihatnya kembali dengan selamat” ucap Indra yang saat ini sangat senang melihat ekspresi dari Vero yang saat ini sangat amat panik.


Tentu Vero tidak menyangka, pria yang saat ini mengancamnya akan benar-benar melakukan apa yang dirinya ancam kan itu kepadanya. Apalagi sebenarnya dirinya tidak tahu keadaan pasti dari Zen setelah terkena sebuah tembakan yang mengenainya itu.


Bahkan saat pria itu sudah tersungkur, terlihat tidak ada pergerakan lagi yang dilakukan oleh Zen. Jadi, Vero menganggap bahwa kondisi dari suaminya itu sangatlah parah, sehingga bisa dikatakan dirinya terlihat sudah tidak berdaya saat ini.


“A-Apa yang kamu lakukan, brengsek!” teriak Vero, yang saat ini tidak sadar bahwa dirinya sudah mengeluarkan air mata.


Memang rasa kekhawatiran dirinya terhadap Zen, membuatnya sangat amat tidak kuasa melihatnya. Apalagi, dirinya seakan ingin langsung membunuh pria yang saat ini menghubunginya, karena berani-beraninya melukai orang yang sangat dirinya cintai tersebut.


“Diamlah, atau kamu mau suamimu saat ini mati ditangan kami” ucap Indra, sambil menunjukan bahwa ada seseorang saat ini sudah meletakan moncong pistolnya tepat di kepala dari Zen.


Tentu karena dirinya sangat takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan Zen, akhirnya Vero mulai diam dan mulai mendengarkan apa yang diinginkan pria tersebut, agar suaminya itu bisa dilepaskan dan mendapatkan perawatan atas kondisinya yang terlihat tidak berdaya itu.


Apalagi bisa dilihat sepertinya kondisi dari suaminya sangat parah, sehingga dirinya tidak melakukan apapun untuk melawan pihak yang saat ini berbuat jahat kepadanya. Jadi, Vero akan hanya diam saja dan membiarkan pria itu mengutarakan keinginannya


“Nah... jika kamu diam seperti itu, semuanya akan sangat mudah” ucap Indra yang saat ini kembali tersenyum jahat dan bersiap menjalankan rencana selanjutnya.


“Apa kamu gila!” teriak Vero yang tidak menyangka bahwa perintah yang dirinya berikan agar suaminya bisa terbebas, merupakan sesuatu yang sangat tidak ingin dirinya lakukan.


“Oh... kamu tidak mau. Baiklah” ucap Indra yang saat ini mulai memberikan gesture kepada orang bayarannya, untuk mulai melukai Zen saat ini.


Tentu melihat tindakan Indra itu membuat Vero mulai panik. Karena bisa dilihat beberapa orang yang saat ini sedang membawa senjata dan menodongkan kearah Zen, seakan ingin melakukan sesuatu yang jahat untuk kembali melukainya.


“T-Tunggu!” teriak Vero, yang memang langsung menggagalkan rencana mereka, setelah melihat tindakan mereka itu.


Mendengar jawaban dari Vero, tentu Indra langsung mengangkat tangannya untuk membuat gestur berhenti, agar beberapa pihak yang dibayarnya itu untuk membatalkan niat mereka, yang akan menyiksa Zen agar wanita itu mau menurut dengan mereka.


Apalagi dengan kondisi yang tidak berdaya, saat ini Vero mencoba mencari cara agar bisa bernegosiasi terhadap pria itu, untuk mengganti permintaannya. Karena memang, dirinya sama sekali berniat untuk menceraikan sosok yang sudah mencuri seluruh hatinya tersebut.


“Apakah kamu menerima permintaanku?” tanya Indra kembali, yang saat ini menatap wajah Vero dengan lekat dari balik layar ponselnya.


“T-tapi, mengurus perceraian tidak segampang itu, tu-”


“Kamu seorang konglomerat, Vero. Tentu kamu bisa mengurus perceraian dirimu dengan cepat, jika kamu mau” ucap Indra yang memotong perkataan wanita itu, yang seakan ingin mencoba bernegosiasi dengan dirinya.

__ADS_1


Mendengar bahwa dirinya tidak bisa mengelak lagi, Vero saat ini mulai menangisi keberadaannya yang saat ini tidak mampu melakukan apapun untuk membantu suaminya. Apalagi dirinya seakan merasa tidak berguna, karena tidak bisa melakukan apapun tentang kondisi Zen dan terancamnya status pernikahan mereka.


Apalagi, pria itu selalu menyelamatkan dirinya dari apapun, namun dirinya hanya bisa menangis menanggapi kejadian yang dirinya alami. Dan juga, syarat yang diberikan oleh pria itu tidak bisa langsung dikabulkan olehnya, karena memang dirinya tidak rela melepaskan Zen yang sudah sangat dicintainya.


“Lalu, apa jawabanmu?” tanya Indra yang saat ini memaksa Vero untuk segera mengambil keputusan.


Memang sangat berat untuk Vero mengambil sebuah keputusan, yang sedang dipaksakan kepada dirinya. Apalagi dirinya bisa melihat kondisi Zen harus segera diselamatkan, jadi dirinya harus cepat mengikuti perkataan orang yang mengancam dirinya.


Tetapi di satu sisi dirinya tidak rela harus berpisah dengan Zen. Hingga keputusan yang akan dirinya ambil membuatnya sangat berat melakukannya. Namun, sebuah keputusan harus dirinya ambil agar suaminya bisa selamat.


“M-Maafkan aku Zen.” Ucap Vero sebelum mengambil keputusan “B-Baiklah, aku akan m-melakukan permintaanmu” ucap Vero, yang langsung menangis histeris mengucapkan perkataannya itu.


Tentu perkataannya itu membuat Indra cukup senang mendengarnya. Karena dirinya merasa berhasil melakukan rencananya dan tinggal menjalankan semua rencana selanjutnya, yaitu mendapatkan wanita tersebut dan perusahaannya.


Namun tidak memperdulikan kondisi dari Indra yang sangat bahagia dengan keberhasilan rencananya. Vero saat ini merasakan sangat kacau setelah mengatakan sesuatu yang dirinya tabukan untuk keluar dari dalam mulutnya. Karena memang dirinya tidak ikhlas dengan sebuah keputusan yang baru saja dirinya ambil tersebut.


“M-Maafkan aku Z-Zen. Aku terpaksa m-melakukannya. K-Karena aku Mencintaimu” Ucap Vero sambil menangis histeris, yang saat ini meratapi kejadian dengan mengungkapkan isi hatinya kepada pria yang saat ini seperti terlihat tidak berdaya.


Namun setelah dirinya menyatakan perasaannya itu, entah mengapa sosok pria yang sedari tadi sedang mencari jawaban tentang apa yang harus dirinya lakukan, tiba-tiba saja mendapatkan sebuah pencerahan. Karena bisa dikatakan dirinya sudah mengerti bagaimana cara untuk menerima sebuah perasaan tulus yang dirinya rasakan itu.


"Hah... Aku mengerti sekarang" gumam Zen, yang saat ini sudah mengerti sepenuhnya dengan apa yang harus dirinya lakukan tentang aura tersebut


Sebuah untaian tali tak kasat mata, entah mengapa saat ini mulai menghubungkan diri Zen dengan diri Vero saat ini. Memang keberadaannya tidak akan terlihat oleh semua pihak, karena bisa dikatakan tali itu akan menjadi sebuah tanda bagi pihak seperti Zen, disaat dirinya akan membangkitkan sebuah berkah yang dikhususkan untuk dirinya.


Dengan tidak ada yang menyadari tindakan Zen selanjutnya, saat ini pria itu mulai menatap rupa dari Vero dari layar ponsel yang digunakan Indra untuk menghubunginya. Sambil menunjukan senyum menghangatkan yang terukir pada wajahnya, saat ini Zen akhirnya mulai menyadari sesuatu.


"Aku juga mencintaimu, Vero" gumam Zen dengan pelan, yang menandakan bahwa dirinya mulai menerima perasaan tulus yang saat ini merasuki dirinya.


Dengan dirinya baru saja mengucapkan perkataan seperti itu, sebuah aura kebahagiaan akhirnya mulai keluar dari dalam tubuhnya. Aura tersebut, akhirnya mulai memasuki diri Vero dan membuat wanita itu cukup terkejut dengan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Apalagi, aura mereka langsung saling membalas satu sama lainnya, dan membuat aura itu semakin kuat intensitasnya saat mereka mulai bergabung. Dan dengan Zen yang mulai menerima perasaan mereka, akhirnya aura itu akhirnya sepenuhnya mulai bersatu dan menandakan bahwa mereka sudah terikat sepenuhnya pada aura tersebut.


“Hahaha.. tenanglah, aku bukan pria yang sejahat itu, maka dari it-“


Namun perkataan pria itu mulai terhenti sesaat sebuah suara tembakan mulai terdengar. Indra tentu langsung menengok kearah asal suara tembakan tersebut berasal. Hingga akhirnya dirinya malah melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa satu persatu orang yang dibayarnya mulai tewas tertembak oleh seseorang.


Bahkan sosok yang sebelumnya terlihat tidak berdaya, mulai mendekat kearah dirinya. Apalagi setelah pria itu berhasil membunuh semua pihak yang berada di sana satu persatu, dengan senjata yang direbutnya dari pihak yang menodongnya tadi.


Tentu melihat hal yang sangat mengejutkan itu, Indra saat ini hanya diam terpaku saja ditempat dimana dirinya berada. Apalagi, dirinya masih berdiri kaku sambil gemetar, saat pria itu mulai merebut ponselnya dan mulai berbicara dengan pihak yang dirinya hubungi tersebut.

__ADS_1


“Mengapa kamu menangis? apakah kamu mengira pria yang sangat kamu cintai ini, akan kalah dengan mudah?”


__ADS_2