Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kecoa


__ADS_3

Zen yang melihat kendaraan yang ditumpangi oleh Angel sudah menghilang dari pandangannya, membuatnya mulai beranjak dari tempatnya. Saat ini Zen mulai berjalan menuju basemen dari pusat perbelanjaan yang dia kunjungi tadi dan mencari sebuah tempat yang menurutnya sepi dan bebas dari pengawasan.


“Keluarlah, jangan menjadi seperti pengecut” kata Zen setelah sudah berada disebuah area terpencil dari lokasi tempatnya berada.


Aura negatif yang sedari tadi mengikutinya, memang sengaja dituntun oleh Zen agar mereka mengikuti dirinya ketempat ini, agar Zen bisa mencoba hasil kerja kerasnya menyenangkan Angel tadi dan melihat seberapa besar kekuatan yang di terimannya.


“Cih... dasar sombong, apakah kamu mengira bisa mengalahkan kami semua” kata seseorang pria yang cukup dikenal oleh Zen dan mulai muncul dihadapan Zen bersama beberapa orang yang membawa berbagai senjata benda tumpul dan senjata tajam pada pegangan mereka.


“Sudah kubilang untuk pergi tadi, mengapa kamu masih muncul di hadapanku?” balas Zen kemudian yang sudah melakukan pemanasan dan bersiap untuk menghabisi mereka.


Pria yang berbicara kepada Zen itu merupakan pria yang mengajak Zen untuk bertaruh tadi, dengan Angel sebagai bahan taruhannya. Dirinya yang sangat kesal, akhirnya mulai memanggil semua preman yang dikenalnya untuk membantunya dalam menghabisi Zen.


Tentu saja dirinya membayar mereka, untuk setidaknya membuat Zen saat ini cacat akibat dirinya yang berani-beraninya mencari masalah kepada pria yang merasa berkuasa tersebut, setelah mampu membayar beberapa orang untuk membantunya.


“Kecoa tetaplah kecoa” gumam Zen yang mulai mengeluarkan semua aura yang didapatkan dari Angel tadi.


Suasana ditempat itu memang perlahan mulai mencekam, dan preman-preman yang disewa oleh pria yang akan membuat Zen cacat tadi saat ini mulai berkeringat dingin karena merasakan aura yang sangat menyeramkan.


Tetapi sebelum mereka bereaksi, seseorang dari mereka tiba-tiba saja mulai berteriak karena melihat salah satu kakinya sudah terputus dari badannya. Mereka semua mulai menengok asal teriakan itu dan hanya melihat darah yang terus keluar dari pangkal kaki pria itu yang sudah terputus.


“A-Apa yang sudah terjad-” namun sebelum seseorang menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja kepalanya sudah terputus dari tubuhnya dan mulai terjatuh lalu menggelinding menuju kesalah satu kaki dari kawannya dan membuat semua orang yang berada di sana langsung panik ketakutan.


Suasana semakin mencekam, dimana sekarang kabut mulai muncul entah dari mana dan mulai memenuhi area tersebut. Pandangan para preman itu saat ini mulai terganggu, tetapi beberapa dari mereka kembali berteriak kesakitan.


“T-Tolong!” teriak seseorang yang mulai ketakutan dan mulai melihat area sekelilingnya namun yang dia lihat hanya pandangan berwarna putih memenuhi penglihatannya.

__ADS_1


Pria yang meminta tolong itu mulai berlari menembus kabut yang tebal itu, hingga dirinya tidak sengaja menabrak kawannya karena memang pandangan mereka sangat pendek dan membuat mereka berdua mulai tersungkur. Tetapi setelah itu, mereka berdua dengan cepat mulai bangkit dan akan melarikan diri kembali.


“Ayo cepat kel-” namun sebelum kawannya itu selesai menyelesaikan kalimatnya, kepalanya tiba-tiba pecah dan memuncratkan darah dan serpihan daging yang mulai mengenai seluruh tubuh dari rekannya yang membantu dirinya bangkit tadi.


“AHHHHHHHH” teriak pria itu setelah dirinya melihat sebuah bola mata dan serpihan daging menempel pada pakaiannya setelah melihat kepala rekannya tadi meledak.


Suara teriakan terus keluar, dimana awalnya suara itu saling bersautan satu sama lainnya, akhirnya perlahan mulai berkurang dan membuat tempat itu mulai sunyi, hingga perlahan kabut putih tebal yang berada ditempat itu mulai menghilang.


Bagian tubuh yang berceceran, darah yang bercipratan dan mengalir diberbagai tempat dan beberapa pakaian, senjata dan sebagainya mulai terlihat diarea tempat dimana kabut itu menghilang tadi.


Namun dipusat dari itu semua, seorang pria saat ini sedang berjongkok sambil gemetaran dengan apa yang sedang terjadi ditempatnya berada saat ini. Dirinya mulai melihat sekeliling dan hanya mendapati semua tempat yang dilihatnya berubah menjadi warna merah.


“A-Ampuni a-aku tuan” katanya sambil menengok keberbagai tempat untuk mencari seseorang yang menurutnya melakukan ini semua.


Perlahan suara kaki mulai terdengar dan mendekat kearah pria tersebut. Dengan aura hitam di seluruh tubuhnya yang keluar, pria yang berekspresi datar itu mulai berjalan semakin mendekat kearah pria yang berjongkok ketakutan tersebut.


Zen cukup puas dengan kekuatan yang dia hasilkan dari menyenangkan Angel tadi, walaupun kekuatannya yang dia dapatkan itu tidak sebanding dengan kekuatan asli miliknya, tetapi cukup untuk membuat pembantaian ditempat ini cukup indah menurutnya.


Pria yang ketakutan itu tidak peduli dengan darah dan beberapa organ tubuh yang berceceran dan mulai merangkak untuk menjauh dari Zen. Namun naasnya, langkah Zen yang santai itu ternyata lebih cepat dari dirinya dan saat ini Zen sudah berjongkok didepan pria yang ketakutan itu.


“Hm... lihatlah wajahmu saat ini kecoa. Ketakutan, frustasi, kecewa, menyesal dan sebagainya saat ini tergambar jelas pada wajahmu yang tak berdaya itu” ucap Zen sambil memberikan senyum mengerikannya.


“Jika saja kamu mengikuti perkataanku tadi, mungkin semua ini tidak terjadi.” Lanjut Zen kemudian.


Pria itu hanya mulai gemetaran dan air matanya mulai keluar dari matanya yang juga terlihat gemetaran. Celananya juga sudah mulai basah saat ini karena sebuah cairan keluar dari balik celananya, setelah melihat dan merasakan aura intimidasi dari Zen itu.

__ADS_1


“A-Ampuni ak-” namun sebelum pria itu menyelesaikan permintaan pengampunannya, Zen lebih dulu memberikannya pengampunan yang layak baginya, yaitu mati tanpa tersiksa.


“Hahh... sudah lama aku tidak melakukan pembantaian menggunakan kekuatan gelap milikku” gumam Zen setelah memutuskan kepala pria yang merangkak didepannya tadi, yang dimana kepalanya saat ini terlepas dari tubuhnya sambil menunjukan sebuah ekspresi teror yang nyata.


“Baiklah, mari pulang” gumam Zen yang mulai berdiri dari tempatnya dan akan beranjak dari sana.


Setelah kepergian Zen, sebuah kabut hitam mulai muncul ditempat pembantaian tersebut dan memunculkan sesosok pria yang menggunakan setelan formalnya dan mulai menatap tempat yang menjadi pembantaian itu dengan raut wajah yang kebingungan.


“Tunggu... bukankah ini seperti perbuatan tuanku?” gumamnya setelah melihat itu semua.


“Ya... benar. Tuan Sloth yang melakukan ini semua” jawab seseorang yang tiba-tiba muncul ditempat itu.


“Tunggu... kamu mengubah nasib kematian mereka dan menjadikan mereka mati ditangan tuanku?” tanya pria tersebut yang merupakan Bari kepada seorang wanita cantik yang baru saja muncul ditempat itu.


“Tentu saja. Aku harus menemukan alternatif lain, karena mereka harus mati hari ini, kalau tidak tatanan nasib di Dunia ini akan kacau” balas seorang wanita yang bisa terlihat sebuah sayap terdapat pada punggungnya.


“Benarkah?” balas Bari yang mulai mengeluarkan sebuah kertas usang dan memeriksa nama-nama yang tertera didalamnya.


“Baiklah kalau begitu, mari bekerja” Gumam Bari yang sudah memegang sebuah pena dari bulu elang dan bersiap mencoret nama-nama dari daftar yang tertulis di kertas usang yang di pegangnya


“Dengan kekuatan yang diberikan oleh kematian sendiri, Saya Bari sang pengambil nyawa yang ditugaskan oleh kematian, memerintahkan kalian untuk bangkit dan meninggalkan semua yang kalian anggap nyata dan merasa terhormat untuk dibimbing oleh seorang utusan kematian”


Begitulah sebuah mantra yang diucapkan oleh Bari dan membuat tubuh-tubuh dari semua orang yang sudah berceceran itu mulai membentuk beberapa jiwa utuh dan mulai berbaris dengan rapi atas perintah Bari tadi.


“Kalau begitu aku pamit, aku ingin mengantarkan para jiwa busuk ini terlebih dahulu” balas Bari dan wanita bersayap itu hanya mengangguk saja dan memperhatikan jiwa yang sedang dibimbing oleh Bari mulai menghilang kedalam kabut berwarna hitam.

__ADS_1


“Huhh.. sudah lama aku tidak melihat seroang Deadly Sins membantai orang”


__ADS_2