Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Pindah


__ADS_3

Hari sudah berganti dengan cepat, yang dimana beberapa hari sudah berlalu. Seperti pagi-pagi biasanya, Zen saat ini sudah duduk dengan sabar menantikan sarapan paginya dimeja makan pada kediaman milik Vero. Namun berbeda dengan pagi hari biasanya, beberapa pelayan dikediaman Vero saat ini entah mengapa seperti mulai bersikap waspada kepada Zen.


Tentu hal ini dikarenakan Zen yang bertingkah seperti sedang membongkar kedok mereka beberapa hari kemarin, yang dimana dirinya memaksa seorang pelayan memakan makanan yang sudah mereka berikan sesuatu seperti sebuah racun pencahar kepadanya kemarin.


Apalagi pelayan yang dipaksa Zen untuk memakan makanan yang dibawakan kepadanya kemarin, langsung mengalami sebuah diare yang dahsyat, yang dimana dirinya baru kembali dari rumah sakit yang merawatnya, karena dirinya kekurangan banyak sekali cairan didalam tubuhnya akibat apa yang dirinya konsumsi tersebut.


“Apakah mereka tahu bahwa kita mengetahui kedok dari mereka? Karena sepertinya saat ini mereka bertindak tidak seperti biasanya” ucap Vero kepada Zen yang duduk disebelahnya.


“Mungkin. Tetapi kamu tenang saja, karena mereka tidak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu dan beberapa orang yang berada disini” kata Zen yang meyakinkan Vero.


Memang ada tiga orang pelayan yang sudah melayani Vero selama beberapa tahun belakangan ini. Tetapi dirinya baru mengetahui, bahwa mereka merupakan seorang mata-mata yang bertugas mengawasinya dikediaman miliknya, oleh seseorang yang memerintahkan mereka melakukan hal tersebut.


Tentu hal ini baru dirinya ketahui setelah Zen menjelaskan semuanya kepadanya, dan membuatnya cukup terkejut setelah mengetahuinya. Apalagi bisa dibilang mereka sudah bekerja selama bertahun-tahun dengannya. Bahkan awalnya Vero tidak mempercayai perkataan suami bayarannya itu pada awalnya.


Tetapi, dengan kejadian yang dimana salah satu dari mereka benar-benar masuk rumah sakit, karena obat yang dirinya masukan kedalam makanan dari Zen beberapa hari yang lalu, akhirnya membuat Vero langsung mempercayai perkataan suami bayarannya itu.


“Tetapi, bisakah kamu mempercepat rencana yang kamu buat itu kepada mereka, karena aku semakin khawatir jika semakin lama mereka tidak dibereskan, akan semakin membahayakan” balas Vero kemudian.


“Kamu tenang saja. Mereka mungkin akan hilang dengan sendirinya dan kita bisa mengetahui siapa yang memperkerjakan mereka” balas Zen dengan yakin.


Awalnya Zen mengira bahwa mereka merupakan suruhan dari Richard, namun ternyata dirinya salah. Karena Zen sudah menyelidiki mereka sejenak, hingga dirinya menemukan sebuah fakta bahwa mereka memiliki Tuan yang berbeda, dan saat ini Zen memutuskan untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang menyuruh mereka untuk mengawasi Vero.


Apalagi Vero juga tidak menyangka bahwa ternyata ada orang yang sangat jahat kepadanya, karena dirinya memasukan seorang mata-mata kedalam kediamannya. Apalagi hal itu membuatnya sedikit ketakutan saat ini. Karena memang dirinya tidak ingin kejadian seperti yang dilakukan Richard akan terjadi lagi kepada dirinya.


“Ini dia makanannya!” ucap Bibi Leni yang mulai menyajikan berbagai makanan yang dirinya masak, pada meja makan tempat Zen dan Vero sudah menunggu kedatangannya.


“Terima kasih Bibi” ucap Zen kemudian, yang sudah meraih sendok dan piringnya lalu mulai mengambil berbagai makanan yang sudah tersedia di atas meja makan tempatnya berada dan mulai menyantapnya.


Tidak ada yang spesial dalam acara sarapan pagi dikediaman Vero itu, selain Zen yang mampu menghabiskan seluruh makanan yang sudah dibuatkan oleh Leni kepadanya. Hingga akhirnya saat ini Vero dan Zen sudah bersiap, dan mulai berangkat menuju perusahaan dari Vero.


Ditempat lain, seorang wanita juga baru saja menyelesaikan sarapan yang baru dibelinya tadi. Dengan membuang bungkus yang membungkus makanan yang disantapnya, wanita itu mulai kembali masuk kedalam ruang inap yang ditempati oleh Ibunya di rumah sakit ini.


Memang Ibunya sudah dikeluarkan dari ruang ICU karena kondisinya sudah kembali stabil. Jadi, saat ini dirinya bisa terus menemani keadaan Ibunya, karena saat ini Ibunya berada disebuah bangsal tempat dimana dirinya sedang dirawat.

__ADS_1


Saat ini, wanita itu sedang asik memperhatikan beberapa perawat yang sedang mengganti cairan infus milik ibunya yang habis. Namun sedang asik memperhatikan kegiatan mereka, ponsel yang berada di kantongnya mulai gemetar menandakan bahwa ada yang sedang menghubunginya.


“Benarkah, Ver?” ucap Kelly, yang saat ini sudah keluar dari dalam ruangan tempat Ibunya berada, untuk mengangkat panggilan tersebut.


Lorong bangsal tempatnya berada saat ini, menjadi saksi dimana Kelly sangat bahagia saat menerima panggilan dari sahabatnya itu. Apalagi yang membuatnya senang adalah, sebuah kabar yang sudah dirinya nantikan beberapa hari ini.


Tentu kabar yang dirinya terima merupakan kabar tentang dokter yang dikatakan oleh Zen, yang mungkin bisa menyembuhkan penyakit dari Ibunya. Apalagi Vero berkata bahwa dokter tersebut sudah menghubungi suaminya dan berkata saat ini sudah berada di kota Marlet.


Tentu kabar tersebut langsung membuat Kelly bertambah bahagia. Apalagi dokter tersebut langsung menyuruh Ibu dari Kelly untuk dipindahkan menuju rumah sakit Light Hope, agar dirinya bisa diperiksa secara menyeluruh oleh dokter tersebut.


“Ya... dan Semoga dokter itu bisa mengidentifikasi dan menyembuhkan penyakit Ibumu, Kel” ucap Vero, yang memang merupakan orang yang menghubungi sahabatnya itu dan mengatakan informasi yang dirinya terima dari Zen tadi.


“Ya, aku berharap seperti itu, Ver.” balas Kelly kemudian.


Zen sebenarnya sempat melupakan tentang rencananya untuk menyembuhkan Ibu dari Kelly. Namun setelah Vero menanyakan tentang kelanjutan kabar dari dokter yang dihubungi oleh Zen beberapa hari yang lalu, akhirnya membuat Zen langsung membuat rencananya untuk menyembuhkan penyakit dari wanita tersebut.


Zen tentu langsung membuat kabar palsu kepada Vero yang menyatakan bahwa dokter tersebut sudah berada di kota Marlet. Tentu saja kabar tersebut langsung diberitahukan Vero kepada Kelly yang dirinya sudah hubungi melalui sambungan telfonnya, yang dimana Kelly saat ini masih setia menjaga keberadaan Ibunya yang berada di rumah sakit.


“Kalau begitu, segeralah mengurus seluruh administrasi agar Ibumu bisa dipindahkan menuju Rumah sakit tersebut, Kel” ucap Vero kemudian, yang memerintahkan sahabatnya itu untuk langsung bergerak dengan cepat, mengurus semua hal terkait kepindahan Ibunya dari rumah sakit tempat dimana dirinya dirawat.


Vero juga merasa lega, bahwa sepertinya sahabatnya itu sudah mendapatkan sebuah solusi dari permaslahan yang sedang dirinya hadapi. Bahkan dirinya berharap bahwa dokter yang akan memeriksa keadaan Ibu dari sahabatnya itu, bisa menyembuhkan keadaannya.


“Hahh... Baiklah mari lanjut bekerja” ucap Vero kemudian, yang mulai melanjutkan pekerjaannya yang sudah mulai menumpuk.


Kelly disisi lain juga mulai mengurus permasalahan tentang kepindahan Ibunya. Bahkan dirinya sudah mendapatkan surat izin untuk memindahkan Ibunya, dan sudah menyelesaikan semua urusan tentang pembayaran yang belum terselesaikan untuk perawatan Ibunya ditempat ini.


“Kalau begitu, sekarang tinggal membereskan barang-barang milik Ibu yang masih berada dikamar rawatnya” ucap Kelly.


Kelly langsung beranjak menuju kamar rawat Ibunya, dan mulai membereskan semua barang-barang milik ibunya yang berada di sana. Tetapi karena memang barang milik Ibunya tidak terlalu banyak, saat ini dirinya sudah menyelesaikan tugasnya itu dan langsung membawanya menuju kendaraannya.


Setelah memastikan semua barang Ibunya sudah berada didalam mobilnya, Kelly akhirnya langsung kembali menuju ruang inap tempat dimana Ibunya berada. Saat ini dirinya hanya mulai menunggu beberapa petugas rumah sakit tempat ini, yang akan membantunya memindahkan Ibunya menuju rumah sakit Light Hope.


“Nona Kelly?” namun sedang asik menunggu kedatangan beberapa staf rumah sakit yang akan membantunya, ternyata seseorang saat ini mulai menghampirinya.

__ADS_1


“Agus?” ucap Kelly kemudian, setelah mengenali siapa yang memanggilnya itu.


Ya, pria itu merupakan seorang petugas reparasi pada gedung apartemen yang ditinggali oleh Kelly. Tentu saja saat dirinya melihat keberadaan Kelly ditempat ini, pria itu langsung memutuskan untuk datang menyapanya.


“Mengapa kamu bisa berada disini?” tanya Kelly kemudian.


“Ah... Temanku sedang dirawat ditempat ini, jadi akau sedang menjenguknya” Jawab pria itu kepada Kelly.


Tentu Kelly hanya mengangguk saja dengan jawaban yang dirinya terima dari pria itu. Apalagi dirinya cukup senang bahwa ada seorang yang dikenalnya berada disini, dan membuatnya tidak terlalu merasa sendirian menunggu beberapa pihak yang akan membantu dirinya memindahkan Ibunya.


Namun sebelum mereka berdua akan berbincang lebih lanjut. Saat ini netra mata Kelly tidak sengaja menatap kearah seorang pria yang mulai mendekat kearah mereka. Bahkan Kelly cukup terkejut mengapa pria itu saat ini berada ditempat ini.


“Ibumu belum dipindahkan?” tanya Zen kepada Kelly, yang saat ini sudah berada didekat dirinya.


Agus yang awalnya merasa senang karena mendapatkan kesempatan bisa menghibur Kelly, cukup terkejut dengan kemunculan seorang pria ditempat dimana dirinya berada. Bahkan dirinya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Kelly merasa bahagia dengan kedatangan pria tersebut.


“Siapa pria ini?” ucap Agus didalam benaknya, yang entah mengapa mulai merasa cukup kesal dengan keberadaanya ditempat ini.


“Zen... apa yang kamu lakukan disini? Bukankah seharusnya kamu bersama Vero saat ini?” tanya Kelly kemudian, yang masih tidak menyangka bahwa Zen saat ini berada ditempat ini.


“Hahh... Dirinya yang menyuruhku kesini” Balas Zen kemudian, yang sebenarnya sangat terpaksa menerima keputusan yang dilakukan oleh Vero tadi.


Memang karena bisa dikatakan bahwa dokter yang akan merawat Ibu dari Kelly merupakan dokter yang direkomendasikan oleh Zen, jadi Vero menyuruh Zen untuk menemani sahabatnya itu disaat Ibunya akan dipindahkan.


Jadi, disinilah pria itu berada, yang dimana sebenarnya Kelly langsung merasa senang dengan kedatangannya. Tentu pancaran aura kebahagian dari Kelly itu, tidak luput dari penglihatan Agus yang saat ini terlihat emosinya semakin memuncak.


“Ah... Zen, perkenalkan ini Agus. Dirinya bekerja di gedung apartemen tempat dimana diriku tinggal” Kata Kelly yang memperkenalkan Agus dengan Zen.


“Zen”


“Agus”


Sapa mereka bersamaan, sambil menjabat tangan. Namun Zen saat ini bisa merasakan sesuatu yang gelap dari pria yang saat ini sedang bersalaman dengannya. Tetapi Zen memutuskan untuk menghiraukannya saja kegelapan yang merupakan aura negatif itu, karena dirinya merasa sedang sibuk dan tidak ingin menambah kembali kesibukannya.

__ADS_1


“Lalu, kapankah Ibumu akan dipindahkan?”


__ADS_2