
Sebuah meja yang besar saat ini sudah menjadi tempat perjamuan yang bisa dikatakan mewah, yang berada pada sebuah tempat yang beberapa orang sedang berkumpul didalamnya. Apalagi bisa dikatakan semua pihak yang sangat amat penting sudah duduk mengitari dan mengisi semua sisi dari meja tersebut.
Bisa dikatakan pertemuan itu merupakan sebuah pertemuan keluarga yang sedang diselenggarakan ditempat tersebut, karena saat ini bisa terlihat salah satu dari mereka bisa dikatakan merupakan keluarga baru yang ingin dikenal oleh beberapa pihak dari keluarga tersebut.
Maka dari itu, saat ini meja yang sudah dihidangkan berbagai makanan yang lezat mulai menyambut mereka semua, sambil mereka akan membincangkan berbagai hal untuk mengenal lebih dekat keluarga baru mereka tersebut.
“Paman Zen, aku mau yang itu” ucap seorang Balita yang berada di gendongan Zen, yang meminta Zen untuk menyuapkannya berbagai makanan.
Namun tentu saja ada yang mengganggu perbincangan mereka ditempat itu, yaitu para keponakan dari Zen yang seakan mulai lengket kepadanya. Apalagi bisa dilihat Zen saat ini terlihat lebih mementingkan diri mereka dari pada pertemuan yang sedang diselenggarakan tersebut oleh seluruh keluarganya.
“Baiklah, sini Paman ambilkan” ucap Zen yang mulai memberikan apa yang diinginkan oleh salah satu keponakannya itu yang saat ini berada di gendongannya.
“Aku juga ingin makanan yang sama, Bibi Vero” ucap seorang balita yang juga berada gendongan Vero dan tentu saja juga menginginkan makanan yang sama untuk diambilkan oleh Vero.
Memang, selain mereka akan membincangkan berbagai hal yang akan perbincangkan pada meja makan tersebut, bisa dikatakan Zen dan Vero saat ini disibukkan dengan tingkah keponakan dari Zen yang sangat bersikap manja kepada mereka.
Tentu Zen tidak mempermasalahkan tingkah mereka itu. Bahkan, Vero juga merasa senang melakukannya, karena menurutnya jika dirinya bisa mengambil hati dari anak-anak keluarga suaminya dengan tulus, dipastikan mereka juga tidak akan bersikap buruk kepada dirinya.
Bukannya dirinya memanfaatkan situasi itu untuk kepentingan dirinya. Karena memang dirinya juga merasa senang dengan keberadaan keponakan dari Zen yang bisa dikatakan sangat menggemaskan, dan akhirnya dirinya mulai sekalian saja menggunakan mereka untuk membantu mengambil hati seluruh keluarga dari Zen.
“Bukankah Paman berkata jangan merepotkan Paman Zen dan Bibi Vero?” Namun Azrael saat ini mulai menasehati para keponakannya yang bersikap manja tersebut.
Tentu sebenarnya ada sesuatu yang sangat penting yang akan mereka perbincangkan ditempat itu. Termasuk, ini adalah waktu yang tepat dimana Vero akan mengetahui semua status dari Zen yang sebenarnya. Termasuk identitasnya yang merupakan sang pemilik kuasa.
Namun, sepertinya apa yang akan mereka lakukan itu harus tertunda sejenak. Karena seperti yang beberapa pihak yang berada di sana tahu, Zen sangat menyayangi keluarganya dan saat ini bisa terlihat dirinya mulai memanjakan seluruh keponakannya dan tidak memperdulikan lagi keadaan sekitarnya.
Maka dari itu pembicaraan itu harus tertunda sejenak, sebelum Zen benar-benar menyelesaikan urusannya dalam merawat satu persatu keponakannya yang sedang bermanja kepada dirinya. Namun sisi lain, berbeda dengan Vero yang seakan kegugupannya mulai berkurang, saat ini Bibi Leni masih terpaku ditempatnya dan tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
“Tidak usah sungkan, Nyonya Leni. Anda juga bisa menikmati makanan anda” ucap Mikhael yang melihat wanita yang duduk disebelah Vero itu, duduk dengan perasaan yang gugup ditempatnya.
Bibi Leni termasuk pihak yang juga berada dimeja perjamuan tersebut, dan bergabung dengan seluruh pihak yang merupakan keluarga dari suami nona mudanya ditempat tersebut. Tentu didalam dirinya masih merasa canggung saat ini, karena dirinya mulai menghadapi situasi yang membuatnya kebingungan.
Siapa yang tidak gugup duduk dihadapan seluruh orang yang penting di dunia ini. Vero juga merasakan perasaan yang sama pada awalnya, tetapi sepertinya perilakunya itu mulai terhalang oleh tingkah imut keponakan dari Zen yang juga sangat manja dengan dirinya.
Maka dari itu Vero sempat melupakan sejenak tentang keberadaan orang-orang penting tersebut. Tetapi, berbeda dengan Bibi Leni, karena bisa dikatakan dirinya tidak tahu harus berperilaku seperti apa, apalagi dirinya tidak ingin sikapnya itu dapat membuat Nona Mudanya akan dicap buruk oleh keluarga suaminya atas tingkahnya.
“B-Baik... Tuan Mikhael” ucap Bibi Leni yang menjawab perkataan Mikhael dengan nada yang sedikit tergagap, karena dirinya cukup takut salah berbicara kepada seorang Raja Kerajaan besar tersebut.
Dimeja makan yang besar itu, bisa dikatakan Zen, Vero dan Bibi Leni sudah duduk pada salah satu bagian sisi dari meja tersebut. Ketiga orang itu sudah ditemani oleh Alfred, Misa dan Margaret yang juga duduk ditempat yang sama dan bisa dikatakan duduk berjejeran bersama pada bagian sisi meja tersebut.
Namun pada bagian seberang mereka, atau pada sisi meja yang lain. Saat ini seluruh keluarga Zen yang merupakan seluruh Heavenly Sins dan keluarga mereka masing-masing sudah duduk di sana. Hingga akhirnya mereka bisa dikatakan saling berhadapan saat ini.
“Baiklah, sambil kita menikmati hidangan lezat yang sudah dihidangkan untuk kita, mari kita memperkenalkan diri terlebih dulu kepada Keluarga baru yang saat ini sudah berada bersama kita ditempat ini” ucap Mikhael yang membuka percakapan mereka pada meja makan yang besar tersebut.
Semua orang akhirnya mulai mengangguk menjawab perkataan dari Mikhael. Bahkan Vero saat ini sudah mulai memperhatikan percakapan yang akan dimulai itu, yang dimana adik-adik Zen akan memperkenalkan diri mereka masing-masing.
“Kalau begitu, aku akan mulai memperkenalkan diriku terlebih dahulu” ucap Mikhael yang memutuskan untuk menjadi pihak yang pertama kali melakukannya.
Mikhael perwujudan dari Kasih, merupakan pihak tertua dari Seven Heavenly Sins. Dirinya mempunyai tiga orang Istri dan dua orang anak. Istri Pertama, merupakan Valana, kedua merupakan Aghata dan Istri terakhirnya merupakan Levia yang sedang mengandung. Seperti yang diketahui anak mereka adalah Ana dan Levon.
Lalu, anak Kedua dari Seven Heavenly Sins adalah Sammael sang Kesederhanaan. Mempunyai dua orang Istri, yang dimana Istri pertamanya merupakan seorang Demi-God bernama Anette dan mempunyai Putra bernama Gerald. Istri Keduanya merupakan manusia biasa yang bernama Xena dan dari pernikahan kedua itu mereka mempunyai dua orang Putri, yaitu Agnes dan Bela.
Pihak tertua ketiga seperti yang sudah diketahui yaitu Uriel sang Kebijaksanaan yang merupakan seorang Heavenly Sins yang hidup dengan sangat sederhana bersama Istrinya Kelani. Bisa dikatakan mereka tidak mempunyai keturunan, karena memang ada suatu hal yang membuat mereka tidak dapat memilikinya.
Yang Keempat, atau anak dengan urutan Keempat dari Heavenly Sins yaitu Gabriel atau wujud dari Sifat Rajin. Dirinya memiliki dua orang Istri. Istri pertama bernama Iona dan mereka sudah dikaruniai anak kembar bernama Mela dan Meta. Lalu Istri kedua bernama Keysa dan mereka mempunyai seorang Putra dari pernikahan mereka yang diberi nama Gilvan.
__ADS_1
Anak Kelima, tentu saja si manja Ramiel. Sang kebaikan hati yang membuat sikapnya sangat amat manja. Dirinya mempunyai seorang Istri bernama Elyna, dan dari pernikahan mereka itu Ramiel memiliki seorang Putra bernama Victor dan seorang anak yang masih berada dikandungan dari Elyna.
Yang keenam merupakan Seven Heavenly Sins yang mewarisi sifat Kerendahan Hati. Dirinya merupakan Rafael, dan dirinya juga sudah mempunyai seorang Istri yang merupakan mahluk mistik yaitu Siren. Dan untuk pernikahan mereka berdua, mereka juga dikaruniai seorang Putri bernama Kesi.
Dan terakhir, atau pihak paling muda dari Seven Heavenly Sins merupakan Azrael. Bisa dikatakan dirinya sendiri yang saat ini belum menikah, atau bisa dikatakan dirinya tidak berhasil menemukan sosok Istrinya yang seharusnya melewati sebuah siklus reinkarnasi, dan hingga saat ini masih menunggu keberadaannya untuk muncul menemui dirinya.
“Ya... itulah ketujuh orang yang merupakan keluarga dari Suamimu, Kakak Ipar” ucap Mikhael yang dimana dirinya bersama adik-adiknya sudah memperkenalkan diri mereka dan keluarga mereka masing-masing.
Tentu perkenalan mereka pada awalnya hanya menyangkut siapa mereka dan satu persatu mereka mulai memperkenalkan keluarga mereka kepada Vero. Tentu mereka belum memberitahukan identitas asli mereka kepada Vero, karena mereka ingin dengan perlahan memberitahukannya.
Vero juga mendengarkan dengan seksama seluruh perkenalan dari keluarga suaminya itu. Tentu dirinya sudah mengetahui mereka sepenuhnya, tetapi saat ini mereka mulai memperkenalkan diri mereka secara detail kepada Vero.
Tentu semua hal yang mereka sampaikan akan dicerna baik-baik oleh Vero. Bahkan keponakan dari Zen yang sedang bermanja-manja dengannya tidak mengganggu dirinya, dalam memperhatikan semua hal yang sedang mereka bicarakan saat ini.
“Kalau begitu, apakah kita bisa melanjutkan proses perkenalan selanjutnya, Kak?” dan begitulah Mikhael mulai menatap Kakaknya dan meminta persetujuan atas tindakan yang akan dirinya ambil nanti.
Zen yang masih sibuk dengan kegiatannya bisa dikatakan mulai menghentikan kegiatannya sejenak. Dengan menatap sejenak sosok Istrinya yang saat ini juga sedang menatapnya dengan tatapan kebingungan, Zen lalu mulai menatap adiknya Mikhael dan langsung memberikan jawabannya.
“Yap... kamu bisa memulainya” ucap Zen dan membuat Mikhael mulai mengangguk mendengar jawaban Kakaknya itu.
Vero cukup bingung tentang apa yang sebenarnya yang dimaksud oleh Suaminya itu. Bahkan dirinya mulai mendekat kearah Zen, dan mulai membisikkan sesuatu kepadanya tentang apa maksud percakapan yang dirinya lakukan bersama adiknya.
“Kamu akan tahu nanti. Bukankah aku pernah berkata, aku masih mempunyai sesuatu yang belum aku beritahukan kepadamu? Jadi dengarkan dengan seksama apa yang akan dijelaskan oleh Adikku oke” ucap Zen yang membuat Vero semakin kebingungan dengan perkataannya, walaupun dirinya juga menyadari sesuatu atas perkataan suaminya itu.
Memang saat dirinya mengetahui identitas Zen sebenarnya saat pertemuan dengan Alfred beberapa hari yang lalu. Zen pernah berkata bahwa semua yang sudah dirinya ucapkan, belumlah menyatakan seluruh identitasnya yang sebenarnya dari suaminya itu.
Maka dari itu, dirinya saat ini mulai duduk kembali ditempatnya seperti semula, dan mulai memperhatikan Mikhael yang sepertinya akan menjelaskan sesuatu kepada dirinya. Namun anehnya, sesuatu yang aneh mulai terjadi ditempat tersebut.
__ADS_1
Vero dan Bibi Leni langsung merasa terkejut dengan apa yang sedang dirinya lihat saat ini, bahkan mereka cukup kebingungan mengapa keadaan seluruh ruangan tempat mereka berada saat ini sepertinya mulai berubah. Apalagi, mereka tidak mengetahui fenomena apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini.
“Kakak Ipar, sebaiknya kamu mempersiapkan dirimu atas apa yang akan terjadi nanti”