Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Rapat


__ADS_3

Seorang wanita yang saat ini sedang terbaring pada sebuah tempat tidur pasien, saat ini sedang melakukan sebuah pertemuan. Dengan menatap layar laptop yang saat ini berada dihadapannya, saat ini wanita itu sedang fokus untuk mengikuti pertemuan yang sedang berlangsung itu.


Memang bisa dibilang hanya dirinya sendiri yang ikut pertemuan itu menggunakan pakaian pasien, tidak seperti seluruh rekan-rekannya yang saat ini menggunakan pakaian dinas mereka. Karena memang, kondisi dari wanita yang sedang mengikuti pertemuan itu, bisa dikatakan sedang menjalani sebuah perawatan.


Namun, walaupun kondisinya bisa dikatakan sedang tidak fit, wanita itu tetap dengan fokus untuk terus mengikuti pertemuan yang sedang berlangsung itu, apalagi pertemuan tersebut memang sangat membutuhkan keberadaannya yang saat ini terpaksa mengikuti pertemuan itu lewat daring.


“Apakah kondisi anda sudah baik-baik saja, Komandan Santi?” ucap salah satu pihak, yang mulai membuka percakapannya dengan Santi, sebelum pertemuan itu dimulai.


“Ya, kondisi saya baik-baik saja sekarang. Jadi, mari kita mulai pertemuan kita” ucap Santi yang berusaha untuk tetap fokus, walaupun dirinya dalam kondisi yang tidak terlalu sehat saat ini.


Memang akibat perbuatan Zen, yang meninggalkan korban yang dirinya siksa sedemikian rupa pada kediaman yang dimasuki oleh Santi. Membuat Santi yang melihat kejadian tersebut, langsung pingsan dan tak sadarkan diri. Bahkan bisa dikatakan wanita itu pingsan selama seharian penuh melihat kejadian yang sangat tragis itu.


Tentu hal tersebut sangatlah aneh bagi beberapa pihak saat ini, karena tidak mungkin Santi akan pingsan karena terpengaruh dengan sesuatu yang dirinya lihat. Apalagi dirinya berasal dari divisi penyelidikan kematian tidak wajar, sebelum dirinya diangkat menjadi seorang kepala kepolisian sebuah wilayah.


Maka dari itu, dirinya dipastikan sering melihat korban dengan kondisi yang lebih mengenaskan sebelumnya. Namun anehnya, saat dirinya sedang mengrebek sebuah tempat, dirinya malah terlihat cukup ketakutan melihat kejadian yang dialami oleh seorang korban.


“Baiklah, pertemuan kali ini akan meminta penjelasan, terkait kasus hilangnya beberapa orang yang diculik oleh sebuah pihak” ucap seseorang yang mulai membuka pertemuan itu, yang membacakan agenda pertemuan yang akan berlangsung itu.


Dengan dibacanya agenda pertemuan itu, akhirnya rapat itu secara tidak langsung sudah dimulai. Bahkan beberapa pihak saat ini sudah membuka berkas yang berada ditangan mereka masing-masing dan bersiap untuk melakukan pertemuan yang saat ini akan berlangsung itu.


“Komandan Santi, selaku kepala kepolisian Kota Marlet. Kami ingin menanyakan apakah anda mengetahui identitas asli dari pemberi informasi tentang kasus tersebut?” tanya seseorang kemudian, setelah akhirnya pertemuan itu dimulai.


“Tentu saja, saya mengetahuinya, Pak” balas Santi kemudian, yang dengan mantap menjawab pertanyaannya.


“Lalu, apakah anda tidak mencurigai pihak tersebut, yang mungkin salah satu kaki tangan dari kelompok tersebut. Karena seperti yang sudah kita ketahui, bahwa para korban yang berhasil kita temukan, bisa dilihat kondisi mereka benar-benar seperti barang yang sudah terpakai” ucap salah satu dari mereka kembali.


“Maksud Bapak, informan saya sengaja untuk melakukan itu?” tanya Santi kemudian, yang sedikit paham dengan arah pembicaraan yang sedang dilakukan dalam pertemuan tersebut.


“Betul. Yang Kami takutkan, bahwa pihak itu sengaja mendekati anda dengan memberikan sebuah informasi, agar kedok dari kelompoknya tertutupi. Apalagi, pihak tersebut memberitahukan informasi tentang letak para korban, namun hingga saat ini kita tidak menemukan titik terang tentang pelakunya” ucap salah satu orang kembali.


Memang pertemuan itu sedang membahas tentang kejadian orang-orang hilang yang terjadi hampir di seluruh Indonesia bahkan dunia saat ini. Namun karena rasa frustasi mereka yang tidak menemukan pihak yang melakukan semua itu, mereka saat ini langsung mencurigai seorang pihak.

__ADS_1


Tentu pihak yang langsung mereka curigai adalah Zen, yang selalu memberikan informasi kepada Santi tentang keberadaan para korban yang berhasil dirinya temukan. Karena menurut mereka hal tersebut sangatlah aneh bagi mereka.


“Tentu saja tidak. Saya memastikan sendiri bahwa informan saya bukan pelaku dari tindakan tersebut” balas Santi kemudian, karena dirinya tahu dengan pasti hal itu bukanlah perbuatan dari Zen.


“Apakah anda yakin, Komandan Santi?” tanya seorang pihak kembali, yang sebenarnya masih sangat mencurigai sosok dari Zen.


“Saya sangat yakin.” Balas Santi yang mencoba meyakinkan mereka.


Tentu hal tersebut tidak serta merta membuat keberadaan Zen akan menghilang dari daftar pihak yang dicurigai oleh beberapa pihak. Namun pernyataan Santi tadi, memang saat ini didukung oleh seseorang yang memang tidak bisa mereka sangkal perkataannya.


Ya, orang tersebut merupakan kepala kepolisian negara ini, yang mempercayai apa yang dikatakan oleh Santi. Semua orang bingung sebenarnya, mengapa kepala kepolisian negara ini langsung mempercayai perkataan dari Santi, karena memang seharusnya mereka harus mencurigai berbagai pihak untuk dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.


Namun karena dirinya merupakan atasan mereka, mau tidak mau mereka hanya mengikuti pernyataannya saja, yang saat ini membuang Zen dari daftar pihak yang mereka curigai, padahal mereka merasa sangat janggal dengan identitasnya hingga saat ini.


"Baiklah, karena agenda dari pertemuan ini sudah dibahas dan ditemukan solusinya, maka dari itu pertemuan ini saya katakan diakhiri." ucap pemimpin pertemuan itu, dan akhirnya mengakhiri pertemuan yang sudah berlangsung selama hampir dua jam itu.


Memang mereka terus mendiskusikan berbagai hal dalam pertemuan itu, hingga akhirnya semua hal yang mereka cari solusinya itu sudah selesai mereka diskusikan. Santi bahkan mulai menghela nafasnya setelah selesai melakukan semua itu.


Bahkan dirinya saat ini langsung mematikan laptopnya dan mulai memijit sejenak bagaian belakang lehernya yang menegang, akibat pertemuan yang sangat menguras tenaga itu. Hingga akhirnya, wanita itu mulai menatap seorang pria yang duduk disebelah tempat tidurnya, yang memang berniat menjenguknya tadi.


“Cih.. kenapa kamu tidak bilang, jika kalian ingin tahu identitas dari pihak tersebut dan apakah benar bahwa dirinya pelakunya. Silahkan mencoba mencari tahu sendiri, tetapi semua resiko ditanggung oleh pihak yang melakukannya” ucap Zen, yang masih duduk dengan tenang ditempatnya saat menjawab pertanyaan dari Santi.


Awalnya Zen sangat bingung, mengapa sebuah rumah sakit menjadi sebuah tempat yang sering dirinya kunjungi. Termasuk hari ini, yang dimana dirinya memutuskan untuk berkunjung pada rumah sakit untuk melihat kondisi dari Santi, yang dirinya dengar kabarnya berada ditempat ini.


Memang Zen memutuskan untuk menjenguk keberadaan Santi, yang saat ini berada di rumah sakit yang sama, dari tempat dimana Ibu dari Kelly dirawat. Jadi, dirinya memutuskan untuk sekalian melihat kondisinya yang bisa dikatakan memburuk akibat ulah dari Zen.


“Lalu, kamu akan membunuh mereka, bukan?” tanya Santi kemudian, yang saat ini mulai menyandarkan dirinya, karena kepalanya mulai pusing mendengar perbincangan mereka saat ini, apalagi menyangkut tentang hal pembunuhan dan sebagainya.


“Hahh... sudah kubilang bukan, penyakitmu itu merupakan penyakit mental. Lebih baik, kamu mengkonsultasikan kondisimu itu kepada dokter... ehm... dokter... pi..”


“Psikiater, Zen. Psikiater” Ucap Santi yang membantu Zen menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


“Benar... Psikater. Cih... kenapa aku susah sekali mengingat nama profesi tersebut” balas Zen kemudian, walaupun apa yang dirinya ucapkan itu masihlah salah.


Santi sebenarnya ingin membenarkan kembali perkataan Zen, namun sayangnya dirinya tidak mempunyai tenaga untuk melakukannya. Apalagi, entah mengapa dirinya langsung merasa tertekan hanya dengan mendengar sebuah kata yang menjerumus kearah pembunuhan tadi.


Santi tentunya semakin sadar dengan kondisinya saat ini. Apalagi dokter yang merawat kondisinya juga berkata bahwa dirinya mungkin mengalami gejala depresi. Tentu sekali lagi Santi tidak ingin menerima diagnosa tersebut, namun dirinya menyadari bahwa benar dirinya saat ini sedang mengalami hal seperti itu.


“Ya.. aku tahu. Aku akan konsultasikan kondisiku, setelah selesai mengalami perawatan ditempat ini. Lagipula, mengapa kamu menyiksa orang yang menusuk dirimu hingga seperti itu?” tanya Santi kemudian yang kesal saat Zen menunjukan sebuah maha karya yang sangat menyeramkan kepadanya.


“Balas dendam tentu saja. Tentu dirinya harus merasakan apa yang aku rasakan” ucap Zen kemudian.


“Tapi, dirinya merupakan kaki tangan Zen, Bukan pelaku sebenarnya. Apalagi kamu tidak sampai tertusuk bukan, jadi mengapa kamu membalas dirinya dengan cara yang sangat kejam?” tanya Santi kembali, yang memang tidak mengerti arah pemikiran dari Zen.


Pelaku yang membuat Santi pingsan beberapa hari yang lalu, tentu sudah menjalani pemeriksaan. Walaupun bisa dikatakan kondisi dirinya sangat parah baik raga dan jiwanya, tetapi pihak kepolisian berhasil mendapatkan sesuatu dari dirinya.


Tentu pihak kepolisian sudah mengetahui bahwa dirinya diancam oleh seseorang, Bahkan saat ini pihak kepolisian sudah bergerak untuk mencari pelaku yang sebenarnya, baik orang yang mengancam pria tersebut, maupun pria yang sudah melukai dirinya sedemikian rupa.


“Tetapi tetap saja, Zen. Itu terlalu kejam.” kata Santi kemudian.


“Cih... bukankah kamu sudah memeriksanya. Jadi, kamu tahukan dirinya diancam menggunakan apa?” tanya Zen kembali, yang membuat Santi sempat bungkam sejenak mendengar perkataannya.


Pria yang disiksa oleh Zen, memang diancam menggunakan sesuatu, agar dirinya mau mencelakai Zen. Walaupun dirinya tidak tahu bahwa dirinya akan menyesali keputusannya itu. Tetapi karena media yang digunakan untuk mengancamnya, cukup untuk membuat pria itu berbuat nekat dan berani melakukan tindakan tersebut.


Tentu bukan sesuatu hal yang sepele yang digunakan oleh otak dari kejadian penusukan yang dialami oleh Zen, untuk mengancam pihak yang sudah disiksa sedemikian rupa oleh Zen. Apalagi, mungkin pria itu tetap melakukan tindakannya, walaupun dirinya tahu bahwa konsekuensi yang dirinya terima merupakan sebuah penyiksaan yang sangat keji.


Karena apa yang pihak itu gunakan untuk mengancamnya, adalah sebuah rahasia yang dimiliki pria tersebut yang tidak boleh tersebar kemanapun. Pelecehan, pemerkosaan, penculikan dan sebagainya, adalah merupakan perbuatan kelam yang dilakukan oleh pria tersebut, yang digunakan sebagai media untuk mengancamnya.


Maka dari itu, pihak yang mengancamnya menggunakan hal keji yang dirinya perbuat, membuat pria itu mau tidak mau melakukan hal kriminal kepada Zen pada saat itu. Dan hal itulah yang membuat pria yang sudah disiksa oleh Zen itu, memberanikan diri untuk melakukan tindakannya.


“Tetapi, bukankah kamu bisa menyelesaikannya secara hukum?” balas Santi yang akhirnya membuka kembali percakapan mereka, dengan membuka pemikiran Zen yang sangat bisa dikatakan sangat senang main hakim sendiri.


Namun perkataan dari Santi itu, langsung membuat Zen tertawa saat itu juga. Zen tahu, bahwa wanita itu memang tidak ingin dirinya melakukan sebuah hal buruk. Apalagi melakukan sebuah pembunuhan dan sebagainya, hanya untuk kesenangan semata.

__ADS_1


Tetapi yang Santi tidak ketahui, apa yang dirinya yakini itu sepertinya saat ini tidak bisa untuk dirinya implementasikan. Karena memang, bisa dikatakan apa yang dirinya yakini itu masihlah cacat, karena terbukti beberapa pihak menggunakan hal tersebut, untuk kepentingan mereka sendiri.


“Hah? Hukum? Lalu apa yang bisa dibuat oleh hukum yang kamu yakini itu, saat orang tuanya yang kaya, saat ini sudah membebaskan dirinya”


__ADS_2