
Dengan langkahnya yang santai, saat ini Zen sudah beranjak dari tempat dirinya berada sebelumnya untuk meninggalkan tempat tersebut. Apalagi, tentu dirinya tidak mau direpotkan oleh beberapa pihak kepolisian, yang mungkin akan menanyakan berbagai hal kepadanya jika dirinya masih berada di sana.
Hingga akhirnya, saat ini dirinya sudah berdiri di samping sebuah mobil mewah yang terparkir di samping sebuah jalan raya yang dirinya lalui dan mulai membuka pintunya. Dengan perilaku yang masih santai, saat ini dirinya mulai masuk kedalamnya dan mulai duduk pada bangku penumpang dari mobil mewah tersebut.
"Aku tahu kalau Kakak sibuk, tetapi sempatkanlah waktu untuk menyelamatkan Istri Kakak sendiri" ucap sosok yang menyambut Zen didalam mobil yang dimasukinya itu.
Setelah Zen masuk kedalam kendaraan yang bisa dikatakan mewah tersebut, sosok pria saat ini mulai menyambutnya dengan senyuman yang terpampang dengan jelas pada wajahnya. Apalagi, bisa terlihat matanya saat ini mengisyaratkan kerinduan yang amat sangat dalam kepada sosok Zen yang baru saja masuk kedalam kendaraan tersebut.
"Cih... apakah kamu keberatan untuk menolong Kakak Iparmu sendiri? tanya Zen kembali, yang saat ini langsung menatap pria tersebut dan membalas perkataannya.
"Tentu saja tidak, Kak. Lagipula, aku sudah tahu bahwa Kakak tidak akan datang karena sudah mengetahui keberadaan diriku berada di sana, bukan?" ucapnya sekali lagi yang membuat Zen langsung tersenyum mendengar perkataannya tersebut.
Pria itu merupakan Ramiel, yang memang berniat menjenguk keberadaan Kakaknya. Karena bisa dibilang, disaat dirinya mendengarkan bahwa Kakak sepupunya itu sudah bangun dari tidur panjangnya, dirinya langsung ingin mencari keberadaannya saat itu juga.
Namun naas, bahwa perilakunya itu dihalangi oleh Kakaknya Mikhael, karena mereka masih ingin menyembunyikan identitas Zen, Sampai memang benar-benar ada sosok yang memang akan bersanding dengan keberadaan Kakaknya itu dengan tulus.
Tentu mereka semua mengetahui kekacauan yang terjadi di neraka atas ulah Kakaknya itu, yang asal menerima wanita yang ingin menikahinya. Jadi, mereka berusaha untuk tidak mengulang kembali, sesuatu seperti itu pada dunia ini.
Karena memang, hingga saat ini mereka masih mengawasi sosok Vero dengan ketat. Karena bisa dikatakan, selain dirinya merupakan inang dari sebuah kekacauan, mereka tidak mau Vero akan mengetahui identitas Zen sebelum wanita itu memang benar-benar mempunyai perasaan tulus kepada Kakaknya.
Hingga akhirnya apa yang mereka tunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Jadi, setelah Ramiel merasakan sebuah aura yang menyatakan Kakaknya sudah menerima perasaan dari seorang yang tulus kepadanya, Ramiel ingin memeriksanya sendiri. Hingga dirinya menemukan Vero dalam keadaan yang sedang diserang tadi.
"Tentu saja. Jika tidak, aku sudah datang menyelamatkan dirinya dan membantai orang yang menyerangnya tadi" ucap Zen membalas perkataan dari Ramiel tadi.
Memang saat pertarungan yang dirinya lakukan tadi, Zen sudah merasakan Vero dalam marah bahaya. Namun karena dirinya merasakan aura yang dikenalnya dekat dengan keberadaan dirinya, membuat Zen tidak perlu repot-repot untuk menyelamatkan dirinya.
Walaupun dirinya harus mengorbankan kondisi dari Kelly, tetapi Zen memang sengaja melakukan hal tersebut kepada wanita itu. Karena bisa dikatakan, Zen mempunyai rencana tentang kondisi dari wanita itu kelak. Maka dari itu, dirinya membiarkan saja Kelly mengalami sedikit luka dari kekalahan yang dirinya terima itu.
"Lalu, apakah Kakak tidak merindukanku?" ucapnya kepada Zen, yang saat ini memang sangat merindukan sosok yang paling disayangi oleh dirinya itu.
"Cih... kukira disaat kita berpindah dunia, sifat manja mu akan menghilang. Tetapi sepertinya, sikapmu bisa dikatakan sama" balas Zen kembali sambil memeluk dengan erat sosok adiknya itu, dan membuat Ramiel hanya tersenyum bisa merasakan kembali kehangatan pelukan Kakaknya itu.
Ramiel memang dikenal sebagai sosok yang paling manja dari semua keluarganya. Apalagi karena memang Zen yang paling menyayangi seluruh saudaranya, maka bisa dipastikan Ramiel yang paling dekat dengan dirinya. Karena bisa dikatakan Zen akan selalu menuruti permintaannya.
__ADS_1
Jadi wajar, jika sosok Zen adalah sosok yang sangat penting bagi Ramiel, hingga dirinya repot-repot untuk melihat kondisi Kakaknya dan bersikeras untuk menuntut keadilan atas keputusan bawahan Kakaknya tempo hari, yang bisa dikatakan hanya sebuah kesalahpahaman.
"Cih... Mengapa kata-kata Kakak sama seperti Istriku." ucapnya sekali lagi yang merasa sedikit kesal dengan perkataannya, setelah mereka melepaskan pelukan mereka.
"Benarkah? bahkan aku sangat heran dirimu sudah menikah" balas Zen yang membuat adiknya saat ini mulai menunjukan senyum senangnya kembali.
Bisa dikatakan Ramiel adalah sosok yang paling tidak bisa melakukan apa-apa dari seluruh keluarganya. Karena sifat dasarnya yang bisa dikatakan seorang yang sangat baik hati, dirinya selalu menunjukan sikapnya itu yang dituangkan kedalam sikap yang sangat manja. Jadi sifatnya itu memaksa Kakak dan adiknya yang sering merawatnya dahulu.
Maka tidak heran jika Zen cukup terkejut mengetahui bahwa dirinya sudah menikahi seseorang. Apalagi Zen sangat amat penasaran dengan sosok adik iparnya yang mampu merawat adiknya yang sangat manja itu, dan memberikan cintanya kepada dirinya.
"Tentu saja aku sudah menikah. Bahkan Istriku sangat cantik dan kami mempunyai seorang putra yang imut." ucapnya bangga dengan keadaannya saat ini.
"Hmm... baguslah kalau begitu" ucap Zen yang cukup senang dengan keadaan adiknya yang terlihat sangat bahagia itu.
Zen juga bisa dikatakan kondisinya saat ini sedang senang, karena akhirnya dirinya juga mempunyai seorang yang spesial baginya. Apalagi setelah dirinya menerima perasaan Vero kepadanya tadi, bisa dikatakan akhirnya dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini dicarinya.
Tentu hubungan yang dirinya bentuk terhadap Vero tadi sudah mengubah segalanya. Apalagi perasaan yang selama ini dirinya cari dan tidak pernah dirinya dapatkan, akhirnya dirinya bisa temukan dari sosok wanita yang memang beberapa waktu ini sudah berada disisinya.
"Maksudmu pengakuan dan sebuah ciuman. Tentu saja aku mengetahuinya." Balas Zen yang mengetahui tata cara bagaimana cara mengesahkan hubungan dirinya dan Vero dimata hukum dunia, yang menjerat seluruh pihak yang berada di dunia ini.
Bisa dikatakan proses agar dunia dapat mengenal bahwa Zen yang merupakan seorang Deadly Sins sudah menikah, adalah dengan mengesahkan hubungan itu Dimata hukum dunia. Tentu caranya adalah dengan menunjukan wujud bukti cinta mereka kepada hukum dunia itu sendiri.
Maka dari itu, bisa dikatakan langkah Zen selanjutnya adalah mengesahkan hubungannya bersama Vero, agar hukum dunia yang masih menjerat Vero seperti tidak memperbolehkan dirinya menjalani hubungan dengan pihak yang mempunyai status di atas dirinya, bisa terlepaskan sepenuhnya.
Apalagi, sebenarnya cukup mudah melakukannya. Tetapi didalam otak Zen, dirinya ingin melakukan sesuatu yang spesial, yang dimana saat dirinya menunjukan bukti cintanya itu bersama Vero kepada hukum dunia, akan membuat kegiatan itu sangat spesial bagi dirinya dan Vero.
"Lalu, berarti Istri Kakak hanya tinggal menjalankan pelatihan sebagai anggota bangsawan saja. Namun untuk itu Kakak bisa tenang, karena seluruh adik Ipar Kakak pasti akan membantu dirinya." balas Ramiel kepada Kakaknya.
"Mengapa dirinya harus menjalani pelatihan seperti itu. Lagipula aku dan dirinya akan menjalani kehidupan yang sederhana." ucap Zen yang sudah memiliki rencana pernikahannya dengan Vero, dan ingin menjauh dari yang namanya kebangsawanan dari kerajaan adiknya.
"Apa maksud Kakak. Tentu dirinya harus menjalani pelatihan, karena dirinya merupakan permaisuri pertama dari Kerajaan Gizeweith" ucap Ramiel yang langsung membuat Zen bingung dengan apa yang baru saja dirinya ucapkan itu.
"Kerajaan Gizeweith?" tanya Zen yang yang belum mengerti, mengapa adiknya mengatakan nama sebuah kerajaan di dunia ini kepada dirinya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Kakaknya itu, tentu membuat wajah dari Ramiel menunjukan keanehan. Karena bisa dibilang cukup aneh bahwa Kakaknya tidak mengetahui kerajaan yang seharusnya dirinya pimpin, setelah sepeninggalan adiknya Pride yang menjadi raja terakhir dari kerajaan yang disebutkan oleh Ramiel tadi.
Namun bisa dikatakan sangat wajar jika Zen tidak mengetahui apa yang baru saja dirinya sebutkan itu. Karena disaat Alfred ingin membacakan semua warisan dari Pride kepadanya, Zen langsung melarikan diri dan tidak ingin mendengarkannya.
"Ya, Kerajaan milik Kakak" ucap Ramiel melanjutkan percakapan mereka.
"Hah... sejak kapan aku mempunyai kerajaan?" ucap Zen yang masih kebingungan dengan perkataan adiknya itu.
Sebenarnya, bukan harta saja yang ditinggalkan oleh Pride kepada Zen melalui Alfred. Melainkan sebuah teritori wilayah yang menjadi Kerajaan miliknya yang bernama Gizeweith, yang dirinya serahkan kepada salah satu bawahan mereka yaitu Misa dan Margaret.
Ya, kedua malaikat maut yang statusnya dibawah langsung dari Alfred, dan merupakan kedua orang tua dari Mira sang malaikat maut yang bertugas di Bali, bisa dikatakan menjadi pasangan Perdana Menteri dari Kerajaan milik Zen itu.
Dan hal itulah yang sampai saat ini belum diketahui oleh Zen, karena memang dirinya belum diberitahukan oleh bawahannya. Karena bisa dikatakan, Zen saat itu sudah cukup malas untuk mendengar titah adiknya yang dirinya serahkan melalui Alfred melalui sebuah wasiat.
"Cih... Alfred belum memberitahukannya kepadamu ya kak?" ucap Ramiel yang membenarkan bahwa Kakaknya sebenarnya mempunyai kerajaan.
Memang kerajaan miliknya merupakan sebuah Kerajaan Kecil, yang bisa dikatakan seukurannya hanya sebesar negara Singapura. Bisa dikatakan, rakyat dari kerajaan tersebut bisa dikatakan hanya sedikit, namun kemajuan kerajaan tersebut bisa dikatakan melebihi seluruh negara yang berada dimuka bumi ini.
Tentu inilah kenyataan baru yang baru diketahui oleh Zen. Bahwa dirinya mempunyai sebuah kerajaan bahkan dirinya seorang Raja. Jadi, dirinya cukup terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh adiknya itu tentang keberadaan kerajaan miliknya.
"Cih.. jadi Raja yang memimpin kerajaan maju tersebut, dan dikatakan tidak pernah menunjukan rupanya pada khalayak umum itu adalah diriku ya..." ucap Zen yang baru mengetahui kebenaran tentang sebuah kerajaan, yang selama ini hanya dirinya dengar dari sebuah pemberitaan.
Memang siapa yang tidak mengetahui kerjaan Gizeweith. Bahkan termasuk Zen mengetahui kerajaan tersebut. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja yang tidak pernah menampakan rupanya pada khalayak umum, dan termasuk Kerajaan paling makmur dan maju di dunia ini.
Bahkan setelah dirinya mendengarkan penuturan dari adiknya tadi, dirinya baru menyadari bahwa Darkness Company merupakan perusahaan yang bermarkas pada wilayah Kerajaan Gizeweith. Jadi, Zen selama ini baru menyadari itu semua dan bisa dikatakan cukup terkejut mendengar kenyataan tersebut.
"Hahh.. seharusnya aku mendengarkan apa saja yang diwariskan oleh Pride kepadaku dan dititipkan kepada Alfred, agar aku tidak terkejut." ucap Zen, yang memang dirinya langsung kabur saat Alfred akan membacakan wasiat tentang harta yang dimilki Pride dan akan diwariskan kepada dirinya.
Tentu mendengar kata memimpin pada awalan wasiat yang didengarnya, membuat Zen langsung melarikan diri. Karena bisa dikatakan, dirinya sudah tidak ingin lagi memimpin apapun. Hal itu dikarenakan dirinya sudah bosan menjadi sebuah pemimpin dan ingin hidup dengan bebas sesuai keinginannya.
Maka dari itu, disaat Alfred memintanya menjadi pemimpin dan mewarisi seluruh harta dari Pride, Zen langsung menolaknya. Karena memang, dirinya berusaha untuk hidup sesuai keinginannya mulai saat ini, disaat dirinya memulai hidup yang baru di dunia yang baru ini.
"Sudahlah, Kak. Yang terpenting, nanti Kakak Ipar akan dilatih dengan khusus oleh semua Adik Ipar Kakak.
__ADS_1