Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kerja Sama


__ADS_3

Hari akhirnya berganti, yang dimana saat ini hari baru akhirnya mulai muncul. Sepasang suami istri, saat ini sudah bersiap untuk menuju sebuah tempat, yang dimana sang istri akan melakukan hal penting nanti, sehingga pagi ini terasa sangat merepotkan bagi dirinya.


Bahkan dirinya sudah mempersiapkan berbagai hal, termasuk beberapa dokumen yang akan dirinya gunakan dalam melakukan kerja sama menguntungkan terhadap sebuah perusahaan, yang bersedia melakukan kerja sama dengan dirinya nanti.


Walaupun sang suami nampaknya tidak memperdulikan dirinya yang terlihat mulai kerepotan itu, tetapi saat ini pria itu bersedia membantu wanita itu, baik dalam hal membawa barang-barangnya yang akan dirinya bawa menuju perusahaan yang akan mereka tuju nanti.


“Kamu sudah siap, Anabelle?” tanya Vero kepada temannya itu, yang akan mengikuti pertemuan yang akan dirinya lakukan pada anak perusahaan milik Bram.


Memang Vero sengaja membawa temannya itu untuk memperkenalkan dirinya, dengan calon sponsor baru yang bersedia mendanai projek miliknya dengan sangat besar. Jadi, Vero akan menunjukan bahwa dirinya sanggup untuk membayar hasil dana yang diberikan kepadanya itu.


Apalagi, Anabelle juga merasa bertanggung jawab atas kekisruhan yang terjadi pada perusahaan Vero, sehingga dirinya memutuskan untuk membantu temannya itu dalam menyelesaikan dan meyakinkan pihak yang akan mensponsori projek yang akan dipimpin oleh dirinya.


“Tentu saja, Vero. Aku akan membantumu sebisa mungkin” balas Anabelle yang sudah bertekad, saat menjawab perkataan dari Vero kepadanya.


Akhirnya, Zen, Vero dan Anabelle saat ini sudah bersiap untuk menuju sebuah perusahaan milik seorang konglomerat yang menekuni bidang tambang itu, dan bersiap untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan miliknya. Tentu, mereka beranjak dari sana setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka saat ini.


Karena sosok Zen tidak akan melewatkan sebuah sarapan sebelum dirinya memulai aktivitasnya. Jadi, walaupun Vero merasa mereka harus terburu-buru, tindakannya itu harus dirinya urungkan karena Zen harus menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu, barulah dirinya akan ikut bersama mereka.


“Apakah kamu yakin akan ikut, Kel?” tanya Vero, yang saat ini menyambut kedatangan sahabatnya, dengan penampilan kantornya pada kediamannya.


“Tentu saja. Aku harus mendampingi dirimu, bukan?” balas Kelly yang menyahuti perkataan sahabatnya itu.


“Lalu, siapa yang akan menjaga Ibumu?” tanya Vero sekali lagi, karena dirinya tidak mau menyusahkan sahabatnya itu dahulu, karena memang Ibunya baru saja sembuh.


“Tenanglah, sudah ada seorang perawat yang akan menjaganya. Apalagi, saat ini Ibuku sedang menjalani terapinya” balas Kelly.


Memang Kelly memutuskan untuk ikut serta dengan rombongan Vero, karena memang pertemuan yang akan mereka lakukan nanti bisa dikatakan sangatlah penting. Jadi, dirinya ingin menemani sahabatnya itu, dalam menyelesaikan urusan perusahaannya.


Apalagi, Kelly sudah cukup lama meminta cuti saat merawat kondisi Ibunya yang baru sembuh. Jadi, dirinya merasa bahwa dirinya harus mulai bekerja lagi, dan tidak akan menyusahkan sahabatnya yang terlihat belakangan ini banyak sekali memiliki permasalahan pada perusahannya.


Dan begitulah kejadian pagi hari pada kediaman Vero akhirnya berakhir, setelah Zen sudah mengemudikan kendaraan yang dibawanya menuju sebuah perusahaan yang pernah dirinya datangi untuk bertemu salah satu adiknya.


Tidak ada kejadian yang spesial saat mereka berada diperjalanan, hingga akhirnya Zen menurunkan beberapa wanita yang bersamanya tepat didepan area masuk menuju Lobby dari perusahaan yang saat ini mereka datangi, setelah mereka semua sudah tiba di sana dengan selamat.

__ADS_1


“Selamat datang di perusahaan Gold Rock, Nona Vero. Wakil dari Tuan Bram sudah menunggu anda diruang pertemuan saat ini” ucap seorang wanita, yang merupakan salah satu asisten dari Bram dan mulai menuntun rombongan Vero beranjak dari sana.


Memang Vero cukup bingung pada awalnya, karena dirinya mengira bahwa Bram sendirilah yang akan melakukan pertemuan dengannya. Namun dirinya memutuskan untuk tidak menghiraukan permasalahan itu, dan memutuskan untuk mengiyakan perkataan wanita yang saat ini menjemput keberadaannya dan mulai mengikuti langkahnya.


Tentu mereka pergi hanya bertiga saja, karena memang Zen hanya bertugas sebagai bodyguard dan sopir pribadi dari Vero saja. Jadi saat ini dirinya yang baru saja kembali saat memarkirkan kendaraan yang dibawanya tadi pada tempat parkir perusahaan ini, mulai bersantai pada sebuah tempat khusus yang disediakan untuk orang yang berprofesi sama seperti dirinya.


Tetapi berbeda dengan perlakuan yang didapatkan oleh beberapa supir pribadi dari beberapa orang yang mengantarkan majikan mereka menuju perusahaan ini, sosok Zen yang merupakan supir pribadi sementara dari Vero, saat ini mulai disambut oleh beberapa pihak setelah dirinya memasuki ruangan tempatnya akan bersantai itu.


“Selamat datang di perusahaan Gold Rock, Tuan Zen.” Ucap pihak yang pernah bertemu dengan Zen sebelumnya, yang menyambut kedatangan Zen ditempat tersebut.


“Oh... kamu bukannya asisten dari... ehmm... Ah.. Bram, bukan?” ucap Zen, yang berusaha mengingat nama atasan dari pria yang menyambutnya itu.


“Benar, saya asisten dari Tuan Bram, tuan” ucap pria itu, yang tidak merasa tersinggung dengan perkataan Zen, dan mulai membenarkan ucapannya. Apalagi, dirinya tidak mungkin bukan, menyinggung sosok yang bisa menghancurkan perusahaan Tuannya dengan mudah jika dirinya mau.


“Ya... maafkan aku, karena melupakan namanya. Lalu, mengapa dirimu berada disini, bukankah kamu harus mendampingi atasanmu itu?” tanya Zen kembali, yang tidak mengerti mengapa pria itu repot-repot ingin bertemu dengan dirinya.


“Maafkan saya karena mengganggu waktu anda, Tuan Zen. Tetapi atasan saya saat ini ingin bertemu dengan anda” balas pria itu kembali, yang menjawab perkataan Zen yang masih bingung dengan keberadaannya yang berada ditempat ini.


Memang Zen sudah menebak mengapa pria itu ingin bertemu dengan dirinya. Apalagi, jika pria seperti itu sampai berniat mengundangnya, tentu ada sesuatu yang dirinya butuhkan dari sosok Zen. Apalagi bisa dibilang, sosok Zen merupakan sosok yang paling penting, dari pada sosok Vero yang berharap kerja sama dengan dirinya.


Termasuk apa yang sudah dilihat oleh Zen saat ini yang dimana dirinya sudah disuguhkan berbagai makanan untuk dirinya. Tentu, hal ini merupakan sebuah hal yang penting menurut Zen, karena dirinya mendapatkan sebuah sambutan yang sangat amat menyenangkan bagi dirinya.


“Lalu, bukankah seharusnya kamu bertemu dengan Istriku, mengapa kamu berada disini?” tanya Zen kemudian, sambil menikmati berbagai makanan yang sudah disediakan untuknya itu.


Memang sosok Bram tadi sudah menyambut kedatangannya dalam sebuah ruangan khusus saat ini. Jadi mereka sudah duduk secara berhadapan dan mulai berbincang sejenak, sebelum mereka mulai mendiskusikan sesuatu yang serius diantara mereka.


“Wakil saya yang mewakilkan keberadaan saya untuk bertemu dengan Istri Anda, Tuan Zen. Tetapi, anda tidak perlu risau, karena saya memastikan perusahaan saya akan bekerja sama dengan perusahaan Istri anda secara profesional, Tuan Zen” jawab Bram, yang tidak ingin membuat Zen salah paham dengan keberadaannya.


Memang, Zen menyadari pria didepannya hanya ingin dekat dengan status yang dimiliki oleh Zen sendiri. Karena memang, tidak mungkin bukan seseorang yang sangat amat kaya, akan membuat pertemuan dengan orang biasa seperti Zen, jika dirinya tidak mengetahui statusnya.


Namun, Zen masih bisa mentolerir batas pria didepannya untuk mencari muka didepannya. Karena memang, Zen bisa merasakan bahwa pria didepannya tidak ingin menggunakan statusnya untuk memperkaya dirinya secara masif menggunakan status dari Zen.


Karena memang, setiap manusia pasti memiliki sisi yang serakah didalam diri mereka. Namun, Zen bisa membiarkan batas keserakahan dari pria yang berada didepannya, karena memang Zen masih bisa menerima perlakuannya itu yang masih bisa dianggap wajar bagi dirinya.

__ADS_1


Apalagi Zen bisa merasakan, bahwa pria yang sedang duduk dihadapannya lebih ingin menjalin kerja sama menguntungkan dengan seseorang yang memiliki status seperti Zen, untuk menjaga kestabilan perusahaannya dan tidak akan pernah mengalami sesuatu yang bisa membuatnya jatuh.


“Hm... begitu yah... tetapi kamu memanggil diriku disini, bukan hanya untuk menghidangkan makanan untukku saja bukan?” ucap Zen sekali lagi.


“Ah... anda sangat penger-”


“Katakanlah terlebih dahulu apa yang dirimu inginkan dariku, barulah aku mendengarkan informasi yang akan kamu berikan kepadaku” ucap Zen, yang langsung memotong perkataan pria yang berada didepannya, karena memang dirinya sudah bosan dengan sanjungan yang terus dirinya lontarkan.


Tentu Bram dan asistennya cukup terkejut dengan perkataan Zen, yang seakan tahu maksud mereka dalam mencoba meminta sesuatu kepada Zen. Karena memang mereka juga membutuhkan bantuan dari pria yang berada didepannya.


Maka dari itu, Zen dengan cepat memotong perkataannya itu, karena Zen sudah bisa menebak apa yang mereka inginkan. Walaupun sebenarnya, Bram sudah menyiapkan juga sebuah informasi yang menurutnya penting, untuk ditukarkan dengan sebuah bantuan dari Zen.


“Baiklah, Tuan. Sebenarnya, kami tahu anda sebenarnya merupakan sosok dibalik dari Darkness Company. Jadi, kami ingin meminta sebuah bantuan, agar anda bisa memfasilitasi sebuah pertemuan dengan petinggi dari perusahaan anda.” Balas Bram yang memutuskan untuk menyatakan maksudnya secara langsung.


Mendengar itu, tentu membuat Zen cukup terkejut mendengarnya. Karena bisa dibilang, apa yang pihak yang berada didepannya minta, tidak seperti bayangannya yang sudah dirinya perkirakan sedari tadi. Apalagi menurut Zen, permintaan pria itu sangat amat sepele bagi dirinya.


“Cih... kukira kalian meminta bantuan apa, ternyata hanya sebatas itu” gumam Zen, yang mulai merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kartu nama dari salah satu bawahannya dan langsung memberikannya kepada Bram.


Zen tidak menyangka, bahwa pria didepannya hanya meminta untuk dipertemukan saja dengan petinggi dari perusahaan milik adiknya, karena dirinya menyangka bahwa mereka ingin meminta sesuatu yang bersifat materi kepada Zen.


Jadi, Zen merasa tidak mempermasalahkan membantu mereka, dan saat ini mulai memberikan mereka sebuah kartu nama dari salah satu bawahannya yang merupakan orang yang paling penting pada perusahaan peninggalan milik adiknya.


"Bilang saja, jika aku yang memberikan kartu nama ini kepadamu" Ucap Zen kemudian, sambil memberikan kartu nama itu dengan santai kepada Bram


Tetapi berbeda dengan Zen yang menyerahkan kartu nama itu secara santai, Bram yang menerima kartu nama itu langsung gemetaran menerimanya. Karena memang, kartu nama yang dirinya terima dari Zen, tertera dengan jelas nama dari pemimpin Darkness Company, yaitu Alfred Darkness pada nama dari kartu nama tersebut.


"T-Terima kasih, Tuan Zen" ucap Bram, yang merasa senang karena dirinya mendapatkan sebuah akses langsung untuk berbincang dengan sosok yang sangat penting.


“Memangnya, apa yang kalian ingin diskusikan dengan perusahaan dari bawahan ku itu?” tanya Zen yang sangat penasaran.


“Ah... kami menemukan sebuah tambang baru, Tuan Zen. Dan kami ingin mencari beberapa perusahaan yang bersedia menjadi pembeli hasil tambang kami” balas asisten dari Bram yan menjawab pertanyaan dari Zen.


Mendengar hal itu, tentu Zen tidak mempermasalahkan untuk memberikan kartu nama milik Alfred kepada pria yang berada didepannya. Karena menurutnya, mereka tidak meminta sesuatu seperti hal yang bersifat materi, dan mungkin saja perusahaan miliknya yang dipimpin oleh Alfred memang membutuhkan sesuatu dari perusahaan milik Bram.

__ADS_1


Apalagi, Bram hanya meminta Zen untuk memfasilitasi pertemuan dengan bawahannya, dan mereka akan mengajukan sebuah kerja sama profesional terhadap perusahaan itu tanpa campur tangan Zen lagi. Jadi, Zen merasa tidak terlalu direpotkan dengan permintaan yang dilakukan oleh pihak yang duduk dengan perasaan yang sedang senang dihadapannya.


“Lalu, apa informasi yang kalian punya untukku?”


__ADS_2