Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Bermula


__ADS_3

Tidak menghiraukan Vero yang masih merasa kesal dengan sikap Zen yang tadi membawa Fenrir jalan-jalan. Saat ini Zen mulai beranjak menuju meja makan dari kediaman ini, untuk bersiap memulai kegiatan sarapan paginya, karena dirinya sudah sangat lapar setelah melakukan kegiatannya pagi harinya.


Namun saat dirinya melewati ruang tamu dari kediaman milik Vero, dirinya saat ini berpapasan dengan seorang wanita yang sedang duduk di sofa dari ruangan tersebut, dan sedang menyaksikan sebuah acara televisi yang menayangkan sebuah acara infotainment.


“Selamat pagi, Zen” namun bukan Bibi Leni lah yang biasanya menyapa dirinya mulai menyapa Zen saat ini, melainkan seorang wanita yang memang menginap pada kediaman ini semalam, yang menyapa Zen saat dirinya akan melewati keberadaannya.


“Oh... Selamat Pagi, Ana” balas Zen kemudian.


Anabelle memang menginap dikediaman dari Vero tadi malam, karena seperti yang sudah diketahui bahwa memang dirinya belum mempunyai kediaman di kota ini. Sebenarnya dirinya merasa cukup tidak enak untuk menginap ditempat ini tadi malam.


Namun karena Vero memaksanya, akhirnya dengan terpaksa dirinya memutuskan untuk bermalam pada kediaman milik Vero, sebelum dirinya menemukan sebuah kediaman yang akan dirinya jadikan tempat tinggalnya di kota tempat dirinya akan berkerja saat ini.


“Lalu, mari kita dengarkan tanggapan dari Aktor paling tenar di negeri ini. Atas ditunjuknya Sutradara Anabelle Widya, yang saat ini akan menggarap salah satu serial televisi yang akan ditayangkan pada platform StarFlix”


Begitulah suara televisi yang terdengar memenuhi ruangan yang sedang dilewati oleh Zen itu. Tentu awalnya Zen tidak memperdulikan suara tersebut, namun saat dirinya akan beranjak dari sana, dirinya tidak sengaja mulai menatap raut wajah dari Anabelle saat ini yang terlihat sangat kesal.


Bahkan wanita itu saat ini seakan merasa sangat marah setelah mendengar pernyataan yang muncul dari televisi yang sedang menayangkan sebuah wawancara ekslusif tersebut. Apalagi Zen bisa melihat dengan jelas, bahwa kedua telapak tangan wanita itu sudah mengepal karena rasa marah yang dirinya rasakan saat ini.


“Ya... sejujurnya aku ikut senang dengan prestasi yang dirinya dapatkan. Apalagi saat ini dirinya berhasil meraih kursi sutradara yang akan memproduksi sebuah serial televisi pada sebuah platform besar” balas pria yang saat ini menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.


“Lalu, bagaimana tanggapan anda tentang skandal yang menjeratnya saat ini. Apakah menurut anda, dirinya melakukan hal yang sama yang dirinya lakukan kepada anda, agar dirinya bisa mendapatkan kursi sutradara tersebut?” tanya sang perwara itu kembali.


“Aku tidak mau berspekulasi apapun saat ini. Tetapi aku harap dirinya mendapatkan kursi tersebut atas prestasinya yang selama ini dirinya tunjukan, bukan dari meng-” namun belum juga pria itu selesai menjawab pertanyaannya, Vero yang sudah memasuki kediamannya mulai mematikan saluran tersebut.


Suasana langsung hening saat Vero melakukan hal tersebut. Karena memang apa yang ditayangkan tadi dan didengar oleh beberapa pihak itu, merupakan sesuatu yang sangat sensitif bagi salah satu pihak yang berada di sana.


“Cih... dasar sampah” begitulah suara yang sangat amat pelan, yang dikeluarkan oleh Anabelle saat dirinya menanggapi sebuah tayangan yang saat ini sudah dimatikan oleh Vero.

__ADS_1


Tentu tidak ada yang mendengar ucapannya itu, selain Zen yang memang berhasil mendengar ucapannya yang sangat pelan itu. Namun Zen hanya mulai menghiraukan apa yang terjadi ditempat itu saja, dan saat ini memutuskan untuk menuju ruang makan dari kediaman ini.


“Hahh... tidak usah kamu pikirkan perkataannya, Ana. Karena kita semua tahu, bahwa dirinya merupakan seorang pembohong” Ucap Vero yang mulai membuka percakapan antara mereka berdua, setelah Zen sudah beranjak dari sana.


“Iya... aku tahu. Saat ini aku hanya kesal saja” balas Anabelle kemudian, yang juga mulai menenangkan dirinya atas rasa amarah yang memenuhi dirinya saat ini.


Memang awalnya Vero yang tidak jadi mengajak jalan-jalan Fenrir karena sudah dibawa oleh Zen, mulai mengajak Anabelle untuk berbincang diruang tamu, sambil menonton sebuah acara televisi di sana. Tentu dirinya melakukan hal tersebut, untuk menunggu sarapan pagi yang sedang dibuat oleh Bibi Leni.


Apalagi, bisa terlihat Anabelle masih merasa belum terbiasa tinggal dikediamannya, dan dirinya berinisiatif untuk mengajak dirinya mengobrol diruang tamu dari kediamannya saat ini. Dan begitulah bagaimana wanita itu menyaksikan acara infotainment yang menayangkan reaksi dari orang yang sangat brengsek menurut Anabelle tadi.


“Baiklah. Kalau begitu, mari kita sarapan pagi saja. Takutnya si pria rakus itu tidak meninggalkan makanan untuk kita” ajak Vero kepada wanita tersebut, sambil mencoba mengalihkan perhatiannya sejenak, dari permasalahan yang sedang dirinya alami.


Anabelle hanya mengangguk saja mendengar ajakan dari Vero, yang dimana saat ini mereka sudah menuju area meja makan. Apalagi pemandangan yang pertama mereka lihat, bahwa Zen saat ini sudah memenuhi piringnya dengan berbagai makanan saat ini.


Tentu memang mereka harus dengan cepat mengambil makanan yang sedang dihidangkan itu untuk diri mereka sendiri. Karena memang jika mereka terlambat saja untuk melakukannya, Zen mungkin akan menghabiskan beberapa makanan dan hanya menyisakan sedikit makanan yang bisa disantap oleh mereka.


“Hahh... apakah kamu tidak merasa malu saat ini, Zen. Apalagi perilaku dirimu saat ini dilihat oleh tamu yang datang pada kediaman kita” ucap Veto yang melihat tingkah dari Zen tersebut.


“Apakah kamu terganggu dengan apa yang aku lakukan saat ini, Ana?” tanya Zen kemudian, kepada wanita yang masih terlihat cukup canggung bercengkrama dengan mereka.


“Ah... tentu saja aku tidak terganggu, Zen” balasnya, sambil menggelengkan kepalanya saat ditanyakan sesuatu oleh Zen.


“Lihatlah, dirinya merasa biasa saja. Jadi, mengapa aku harus malu?” Balas Zen kemudian, sambil menatap Vero kembali.


“Memang. Tetapi seharusnya kamu bisa menjaga sikapmu itu, bukan?” Kata Vero kemudian.


“Mengapa Tuan Zen harus menjaga sikapnya Nona Vero. Apa salahnya jika dirinya makan dengan porsi yang banyak. Apalagi selama ini Bibi sudah susah-susah memasak, tetapi tidak ada yang memakannya” sindir Bibi Leni yang malah menjawab perkataan dari Nona Mudanya itu.

__ADS_1


Tentu mendengar perkataan Bibi Leni, membuat Zen langsung menganggukan kepalanya. Namun tidak dengan Vero yang langsung merasa kesal saat ini. Tentu dirinya saat ini seakan sedang dipojokan oleh orang-orang yang berada ditempat ini, dan membuatnya sedikit kesal dibuatnya.


“Cih... sekarang bukan dua orang lagi yang memojokkan diriku, tetapi sudah menjadi tiga orang” balas Vero kemudian, yang membuat ekspresi seakan merajuk dengan sindiran yang dirinya terima itu.


“Sudahlah, jika kalian terus berdebat kapan kita makannya” balas Zen kemudian yang mulai menyuapkan makanannya kedalam mulutnya, dan mulai mengentikan perdebatan yang sedang terjadi di meja makan tersebut.


Anabelle saat ini bisa sedikit melupakan kejadian yang membuatnya kesal tadi, melihat perilaku dari orang-orang yang tinggal dikediaman ini. Tentu yang membuatnya cukup lucu adalah, seroang Vero yang terkenal sangat dingin dan angkuh, selalu dibuat bungkam oleh perilaku dari suaminya dan seorang yang dipanggil Bibi olehnya itu.


“Nona Anabelle juga duduklah, ayo makan. Kamu tidak perlu takut jika ingin mengambil makanan yang banyak, untuk dirimu santap” ucap Bibi Leni kemudian yang mulai mengajak Anabelle untuk bergabung dengan mereka dimeja makan saat ini.


"Baiklah, Bibi Leni" jawab Anabelle kemudian.


Akhirnya ruangan makan itu tidak terdengar lagi suara ocehan dari orang-orang yang berada di sana. Karena memang saat ini mereka sudah mulai fokus untuk menyantap makanan mereka masing-masing saat ini.


Tetapi, ada satu pihak yang sepertinya sedang tidak bernafsu untuk melakukan hal tersebut. Karena memang saat ini dirinya hanya menatap dengan lekat makanan yang sedang berada dihadapannya saat ini, dan seakan memainkan makanannya menggunakan sendok yang dirinya pegang.


“Apakah kamu tidak ingin menambah lagi? Jika tidak aku akan menghabiskan semuanya?” tanya Zen kemudian, dan langsung membuat Anabelle terkejut dengan perkataannya.


Tentu Anabelle saat ini langsung menjadi bahan perhatian dari penghuni yang duduk dimeja makan tersebut. Apalagi bukan kali ini saja dirinya berperilaku seperti itu, bahkan saat makan malam kemarin dirinya juga berperilaku yang sama. Jadi, mereka cukup bingung dengan tingkah dari Anabelle saat ini.


“Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Ana?” tanya Vero kemudian yang sebenarnya cukup khawatir dengan apa yang dialami oleh wanita tersebut.


“Ah... maafkan aku. Hanya saja aku merasa kenyang, makanya aku sedang tidak bernafsu untuk sarapan saat ini” ucap Anabelle saat ini.


Tentu Vero mengetahui apa yang menganggu pikiran dari wanita tersebut. Apalagi sepertinya saat ini tekanan yang akan diterimanya akan semakin besar, karena apa yang akan dirinya lakukan nanti. Namun Vero meyakinkan dirinya, bahwa dirinya akan selalu ada untuk dirinya, menghadapi semua permasalahan yang akan dirinya hadapi nanti.


“Cih... semua berkata merasa kenyang. Apakah percuma Bibi memasakkan kalian berbagai makanan, karena tidak ada yang menyantapnya?” ucap Bibi Leni yang membuat gesture seakan sedang bersedih saat ini.

__ADS_1


“Ah... bukan begitu maksudku, Bibi” ucap Anabelle yang langsung merasa tidak bersalah, setelah mendengar perkataan dari wanita yang saat ini membuat gesture seakan sedang sedih itu.


“Tenanglah. Bibi hanya bercanda. Apalagi saat ini sudah ada seseorang yang akan menghabiskan semua makanan yang dibuat oleh Bibi”


__ADS_2