Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Jatuh


__ADS_3

Zen saat ini sedang berbaring di atas sebuah pasir pantai sambil memandangi sebuah pemandangan bintang-bintang malam yang sedang dirinya saksikan. Entah mengapa saat ini dirinya kembali mengingat keponakannya yang lucu-lucu itu.


Bahkan saat ini dirinya berada tepat di pantai saat Ana memintanya melihat pemandangan matahari terbit. Dan disinilah dirinya berada untuk mengulang kembali kenangan itu, walaupun hari masih jauh sebelum matahari terbit.


Zen cukup malas untuk kembali kediamannya dan datang lagi nanti untuk melihat matahari terbit, jadi dirinya memutuskan untuk sekalian menunggunya ditempat ini walaupun sebenarnya hari baru saja berganti.


“Hahh... apa aku harus meminta Mira membukakan portal menuju Vatikan ya?” gumam Zen kemudian.


Entah mengapa setelah kehilangan sebagian kecil dari sifatnya, rasa kesepian selalu menghampiri Zen, apalagi setelah bertemu beberapa keluarganya dahulu. Bahkan bawahannya sendiri saja sangat bingung dengan sifatnya yang baru ini.


“Jika anda ingin, saya bisa membukakan portal langsung menuju ke sana Tuan” tanya Mira kemudian yang saat ini sudah berdiri di samping tuannya yang masih terbaring di atas pasir pantai tempatnya berada.


“Hahh... aku menyelesaikan permasalahan Kana dulu, baru aku akan ke sana” ucap Zen kemudian.


Awalnya, Zen tidak mempermasalahkan keberadaan kelompok yang bernama Anomanex itu. Namun setelah dirinya mengetahui bahwa mereka mengincar salah satu orang yang bisa mengeluarkan aura negatif aneh yang memaksanya untuk ikut campur permasalahan orang yang memujanya itu, tentu saja Zen tidak bisa tinggal diam.


Apalagi, jika Kana sedang berada dalam marah bahaya, mau tidak mau Zen harus membantunya karena dirinya dan Kana sudah terikat dengan hubungan seperti Angel dahulu, yaitu mereka memujanya atau bisa dikatakan mereka mencintai dirinya.


Apalagi permasalahan Vampire yang berani-beraninya merusak kediamannya belum dirinya selesaikan. Dan rencananya, dirinya akan membantai para Vampire itu saat dirinya kembali dari Bali.


“Bukankah anda bisa berkunjung menuju Vatikan terlebih dahulu, baru menyelesaikan urusan anda Tuan?” Tanya Mira kemudian.


“Memang. Tetapi penglihatan Mikhael membuatku risau untuk langsung menuju ke sana secara langsung” balas Zen.


Tidak dipungkiri, kekacauan yang dikatakan Mikhael selalu mengganggunya. Apalagi benar kata Mikhael, bahwa kekacauan akan muncul disekitar Deadly Sins berada seperti yang dialami oleh seluruh adik-adik Zen dulu.


Jadi, karena Zen belum mengetahui wujud kekacauan yang akan muncul disekitarnya kelak, dirinya tidak ingin kembali dan membuat keponakannya kelak menjadi korban dari kekacauan tersebut, akibat kelakuannya yang abai.

__ADS_1


“Kekacauan ya... sudah lama memang tidak terjadi kekacauan di dunia ini” balas Mira.


“Tetapi mengapa kekacauan yang besar akan selalu muncul disekitar para Deadly Sins?” gumam Zen yang kebingungan saat ini.


Memang hukum absolut dari dunia ini yang berupa kekacauan terbagi menjadi dua. Yaitu Kekacauan kecil dan besar. Memang kekacauan kecil sering terjadi, namun kekacauan besarlah yang membuat keadaan dunia sangat amat kacau.


“Itu juga yang tidak dimengerti oleh Tuan Mikhael pada saat itu Tuan. Bahkan Tuan Pride menyebabkan dua buah kekacauan besar pada masanya Tuan. Walaupun dirinya mengetahui wujudnya, tetapi tetap saja dirinya tidak bisa menghalangi hukum absolut saat itu” balas Mira.


“Memang kekacauan apa yang terjadi?” tanya Zen.


“Perang. Bahkan perang itu sangat terkenal dan dinamai Perang Dunia Pertama dan Kedua” balas Mira.


“Benarkah, lalu apa wujudnya?” tanya Zen kemudian.


“Seorang Manusia. Kalau tidak salah manusia itu merupakan seorang pangeran” balas Mira.


Dahulu Mikhael berhasil memprediksi sebuah kekacauan besar dan diberitahukan kepada Pride. Tentu Pride menemukan wujud kekacauan itu dan mencegah sekeras mungkin untuk membuat kekacauan itu tidak menyebar atas perintah Mikhael.


“Hahh... bahkan sampai saat ini aku tidak tahu wujud kekacauan yang akan muncul di sekitarku” balas Zen.


Memang bukan hanya manusia saja yang bisa menjadi wadah dari sebuah kekacauan. Bahkan hewan, tumbuhan, dan benda juga pernah. Tetapi munculnya kekacauan besar selalu mempunyai kesamaan, yaitu wujud mereka akan selalu berada disekitar para Deadly Sins.


“Ah... maafkan aku karena tidak bisa menemanimu lebih lama lagi Tuan. Karena sepertinya ada jiwa yang harus aku antar” ucap Mira yang akan beranjak dari tempatnya.


“Ya... bekerjalah dengan giat” ucap Zen dan membuat Mira sudah membuat sebuah kabut hitam dan beranjak dari sana.


Zen sendiri akhirnya memutuskan untuk menikmati waktu bersantainya ditempat ini, sambil menunggu matahari terbit dan tidak memikirkan lebih jauh kekacauan yang mungkin akan dihalangi olehnya kelak.

__ADS_1


Zen terus terjaga sambil memperhatikan bintang-bintang yang masih gemerlap. Walaupun sudah beberapa jam dia berada di sana, dirinya tidak merasa bosan untuk memperhatikan bintang-bintang tersebut.


Namun kegiatannya saat itu terganggu, setelah seorang wanita sedang berteriak minta tolong dan berlari kearah tempatnya berada saat ini. Sebenarnya Zen ingin menghiraukannya saja namun wanita itu sepertinya semakin mendekatinya.


“Nah... mau lari kemana nona?” ucap seseorang pria yang berhasil menangkap wanita itu saat dirinya hampir mendekati Zen.


“Tolong aku... tolong” teriaknya kepada Zen, agar membuat Zen setidaknya dapat menolongnya.


Zen awalnya tidak ingin menghiraukan wanita tersebut, namun karena dirinya merasa terganggu dengan teriakan yang memanggilnya, Zen mulai menengok asal suara tersebut dan mendapati seorang wanita yang pernah ditemuinya beberapa kali, dan saat ini sudah ditangkap oleh tiga orang pria berbadan yang cukup besar.


“Cih... mengapa wanita itu selalu saja ingin diincar oleh beberapa orang jahat” gumam Zen yang memperhatikan wanita itu yang terus berontak, dan mencoba melarikan diri dari pria yang saat ini sedang ingin membawanya pergi dari sana.


“Tolong aku Tuan....” teriaknya sekali lagi.


Tetapi karena Zen malas untuk membantu seseorang saat ini, Zen hanya membiarkan saja karena memang dirinya malas untuk bertindak. Dan akhirnya Zen kembali berbaring dengan nyaman pada tempatnya dan mencoba menghiraukan kejadian tersebut.


“Tunggu bos, bukankah kita harus menghabisi pria tersebut?” balas seseorang dari ketiga orang yang ingin menculik wanita yang saat ini sudah mereka dapatkan.


“Hm... benar juga. Pekerjaan kita ini harus bersih dan tanpa saksi mata satupun. Jadi bereskan dia” balas pemimpin mereka dan membuat salah satu pria berbadan besar itu mulai mendekat kearah Zen.


“Idiot” gumam Zen kemudian yang membiarkan saja salah satu dari mereka menghampirinya.


Pria itu mulai mendekat kearah Zen yang masih berbaring ditempatnya berada. Tangan berototnya saat ini ingin meraih kerah baju Zen, namun naas tangannya langsung digenggam oleh Zen dan langsung dipatahkannya.


“Aku sudah membiarkan kalian melakukan apa yang kalian mau, tetapi sepertinya kalian menginginkan sesuatu yang lain” ucap Zen yang mulai bangkit dari tempatnya, tetapi dirinya masih memelintir tangan dari pria yang hendak menyerangnya.


Suara teriakan kesakitan mulai terdengar dan Zen mulai mengalahkan ketiga pria yang menyerangnya, setelah dua orang rekan dari pria yang sudah dipatahkan tangannya oleh Zen mulai menyerangnya.

__ADS_1


Tentu Zen mengalahkan mereka dengan mudah, hingga wanita yang dirinya selamatkan tadi saat ini mulai mendekat kearahnya. Namun entah mengapa saat wanita itu sudah mendekat ketempat dirinya berada, wanita itu malah langsung terkapar pada pasir pantai dibawah kaki Zen.


“Cih... dia malah pingsan”


__ADS_2