
Kelly yang sebelumnya masih terlihat fokus mengotak atik ponselnya, saat ini mulai mengalihkan fokusnya kearah sahabatnya yang baru saja membanting dengan keras pintu mobilnya dan terlihat sangat emosi. Entah apa yang membuatnya seperti itu, tetapi Kelly berusaha untuk menenangkan emosi dari sahabatnya itu dan membuatnya setidaknya untuk tenang.
Memang sahabatnya Vero mudah sekali marah bahkan dengan hal sepele sekalipun. Sejak kematian neneknya saat dirinya baru saja lulus SMA, perilakunya mulai menjadi seperti itu, bahkan kepada siapapun termasuk kadang-kadang kepada Kelly.
“Sudahlah, tenangkan dirimu.” Balas Kelly yang mulai menenangkan Vero yang terlihat masih sangat kesal dengan apa yang dia rasakan saat ini.
Mendengar perkataan sahabatnya, Vero mulai menarik nafasnya dengan perlahan dan menghembuskannya untuk setidaknya berusaha menenangkan kemarahan dirinya. Vero saat ini tidak ingin trauma masa lalunya mengakibatkan dirinya hilang kendali dan akhirnya mulai menyandarkan dirinya pada dudukan kemudinya lalu mulai memejamkan matanya sejenak.
“Maafkan aku Kel.. melihat orang yang seakan menjadi batu sandaran untukku bersifat dingin dan cuek, membuatku mengenang masa laluku yang sangat kelam” balas Vero yang masih menutup matanya berusaha menenangkan diri.
“Sudahlah, kita bisa menghadapi Ayahmu bersama jika dirinya berani mencari masalah denganmu lagi.” Kata Kelly sambil menepuk ringan bahu dari Vero.
“Dia bukan Ayahku. Karena seorang Ayah tidak meninggalkan sebuah kenangan buruk dari perilakunya terhadap diriku, yang seakan membuatku ingin meledak karena mengingat perilakunya tersebut” balas Vero sambil mulai memijit keningnya dengan perlahan.
“Baiklah... Baiklah.. Dan juga, apa maksudmu dengan seseorang yang menjadi batu sandaran untukmu itu?”balas Kelly yang sangat ingin tahu tentang siapa orang yang dimaksud oleh sahabatnya itu dan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka agar Vero tidak mengenang kembali tentang Ayahnya yang bejat.
“Sudahlah, tidak usah dibahas. Lagipula status sosial dirinya ternyata sangat jauh jika dibandingkan denganku” Balas Vero yang mulai membuka matanya dan menyalakan mesin mobilnya lalu mulai memundurkan kendaraannya untuk beranjak dari sana.
Namun yang mereka tidak sadari, seorang pria dari dalam mini market tempat Vero membeli beberapa cemilan dan minuman dingin tadi, saat ini sedang menatap kearah mereka terutama kearah Kelly melalui kaca mobil Vero yang sedikit transparan.
Wanita yang menggunakan setelan kantor yang duduk disebelah kemudi yang dikemudikan oleh Vero dan menggunakan sebuah kalung indah dengan ornamen sebuah batu berwarna hijau, saat ini sudah pergi meninggalkan parkiran mini market itu bersama Vero.
“Ho... aku baru sadar ada seorang Demi-God di wilayah ini” kata Zen didalam benaknya, sambil pandangannya masih mengikuti arah mobil mewah dari Vero yang sudah menembus jalan raya dan sudah menjauh dari parkiran mini market tempatnya berkerja.
Zen terus menatap kepergian mobil mewah itu, hingga dirinya tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sudah terbakar oleh api cemburu dan sedang menatap dirinya kesal, karena Zen seakan sangat tertarik dengan wanita yang baru saja dia temui tadi.
“Apakah kamu mengenal wanita tadi Kak?” tanya Angel yang mencoba mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang cukup terlihat sangat akrab dengan Zen tadi.
__ADS_1
Zen tidak langsung menjawab, namun pandangannya yang sebelumnya mengarah kearah jalan raya, akhirnya mulai berbalik kearah Angel yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang seakan meminta penjelasan.
“Hm... bisa dibilang seperti itu” Balas Zen yang mulai duduk di bangkunya dan memulai aktifitasnya seperti biasa, yaitu mendaratkan kepalanya di atas meja kasir tempatnya bekerja.
“Apa maksud Kakak tentang bisa dibilang seperti itu?” balas Angel yang juga ikut duduk di bangkunya namun mulai mendekatkan dirinya mendekat kearah Zen.
“Ya... Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Dan begitulah aku bisa berkenalan dengannya” Balas Zen yang mulai menutup matanya.
Angel hanya menghela nafasnya melihat perilaku malas dari Zen, dan dirinya memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaannya, karena memang jika Zen sudah seperti itu jawaban yang akan diberikannya hanya sebatas gumaman saja jika ada seseorang yang bertanya sesuatu kepadanya.
“Hmm... tetapi sepertinya aku pernah melihat wanita itu” balas Vero kemudian
Hari akhirnya berlalu dengan cepat, dimana Zen dan Angel saat ini bersiap untuk kembali menuju kediaman mereka masing-masing, setelah menyelesaikan pekerjaan mereka hari ini pada mini market tempat mereka berkerja.
“Ingat janji Kakak besok untuk menemaniku jalan-jalan” kata Angel yang sudah akan berpisah dengan Zen, karena jalan menuju kediaman mereka berdua memang berbeda arah.
“Iya... jam 9 bukan?” balas Zen malas dan mendapatkan anggukan dari Angel yang terlihat sangat senang karena Zen mengingat janjinya.
“Kalau begitu sampai besok Kak” kata Angel yang sudah melambaikan tangannya dan beranjak dari sana menuju kearah kediamannya.
Walaupun Angel mengalami tindakan asusila tadi malam, tetapi tidak membuatnya takut untuk berjalan pulang sendirian, karena Zen berkata bahwa tidak akan terjadi sesuatu kembali kepadanya dan membuat Angel entah mengapa merasa perkataan Zen itu cukup untuk membuatnya tenang.
"Ya.. sampai besok" balas Zen dengan memberikan senyum palsunya, karena sebenarnya dirinya sangat kesal dikarenakan dirinya tidak bisa menolak permintaan dari Angel tadi.
Zen hanya menghela nafasnya saja melihat Angel yang sudah beranjak dari sana. Dan setelah itu, tentu Zen yang sudah melihat kepergian Angel juga akan beranjak dari sana, namun seorang karyawan ditempat kerjanya mulai menggodanya saat ini.
“Ho... pria pemalas akan pergi berkencan besok” kata salah satu rekan kerjanya itu.
__ADS_1
“Cih... memang Zen diam-diam menghanyutkan. Baru saja berpelukan pagi tadi, tiba-tiba saja sudah berkencan besok” balas salah seorang lagi.
Tentu saja percakapan Zen dan Angel tentang janji temu mereka didengar dengan jelas oleh beberapa orang yang ikut pulang bersama mereka tadi, yang dimana Angel mengatakan rencana jalan-jalan mereka dengan suara yang lantang kepada Zen.
“Kencan?” balas Zen yang saat ini kebingungan dengan apa yang sebenarnya mereka katakan.
“Ya.. Sepasang pria dan wanita yang mempunyai janji bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditentukan bersama itu namanya Kencan.” Kata rekan kerja Zen yang mulai merangkul pundaknya.
“Oh... jadi Angel mengajakku kencan?” balas Zen yang menanggap bahwa Angel hanya mengajaknya berjalan-jalan saja.
Memang seorang sloth tidak pernah melakukan aktivitas yang tidak penting bagi dirinya. Jadi kata-kata seperti kencan dan sebagainya masih asing baginya, walaupun dirinya dulu mempunyai banyak sekali istri.
Istri-istri Zen yang tinggal pada istananya di Neraka memang bisa dibilang hanya sebagai pajangan saja, karena Zen menerima mereka bukan karena rasa cinta, namun lebih karena mereka selalu memaksa Zen untuk menikahinya.
Jadi seperti percakapan Zen sebelumnya dengan Uriel, memang benar semua Istri Zen tidak ada yang mencintainya dan mereka menikah hanya karena statusnya saja, Yang merupakan seorang penguasa Neraka pada saat itu.
“Sudahlah... kalau begitu aku mau pulang” balas Zen yang memutuskan untuk beranjak dari sana, karena dirinya memang sudah sangat ingin beristirahat.
Tentu saja perkataan Zen itu kembali di balikan oleh rekan-rekannya yang berada di sana dengan candaan, hingga Zen benar-benar meninggalkan tempat kerjanya itu dan berjalan menuju kearah Apartemennya.
Zen berjalan menuju kediamannya seperti biasa. Namun saat sedang asik berjalan, dirinya mulai menghentikan langkahnya dan mengarahkan tatapannya menuju kesebuah tempat karena dirinya merasakan sesuatu dari sana.
Orang-orang yang sedang berlalu lalang ikut kebingungan dengan perilaku Zen tersebut, karena saat ini dirinya sedang berdiri ditengah-tengah trotoar tempat pejalan kaki dan menatap dengan tatapan yang sangat serius kearah selatan.
“Hahh... mengapa semakin aneh saja orang-orang yang berada di wilayah ini” gumam Zen setelah merasakan aura yang sangat dikenalnya itu.
Aura akrab bisa dirasakan oleh Zen, dan dirinya tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang itu di wilayah tempatnya tinggal. Namun Zen memutuskan untuk menghiraukannya saja, karena menurutnya hal tersebut tidak berhubungan dengannya.
__ADS_1
“Baru saja aku menemukan seorang Demi-God tadi, sekarang aku merasakan beberapa orang dengan berkah Dewa yang kental pada diri mereka” gumam Zen yang akhirnya mulai kembali menatap arah depannya dan melanjutkan perjalanannya.
“Yang terpenting, Angel tidak terjebak kedalam masalah yang merepotkan”