
Di Dunia ini, tentu ada yang ingin menjadi nomor satu. Termasuk kedua wanita yang saat ini saling menatap satu sama lainnya, yang dimana seorang pria saat ini sudah terjebak didalam perlombaan adu tatap yang dilakukan oleh dua wanita tersebut.
Pria itu merupakan Zen, yang saat ini hanya menyaksikan kedua wanita itu dan seakan sedang menjadi wasit untuk menentukan siapa yang menang, dari adu tatap yang sedang mereka lakukan saat ini. Apalagi saat mereka melakukan hal itu, suasana ditempat itu saat ini semakin intens akan sebuah persaingan saat ini.
Salah satu wanita tersebut merupakan Vero yang saat ini memeluk dengan mesra lengan dari suami bayarannya saat ini. Tentu apa yang dirinya lakukan saat ini, hanya untuk menunjukan atau memamerkan keberadaan Zen kepada wanita yang berada dihadapannya saat ini.
“Senang bertemu denganmu Nona Vero” ucap wanita yang bernama Alice itu, setelah memutuskan untuk memulai percakapan diantara mereka saat ini.
"Senang bertemu dengan anda juga, Nona Alice" Balas Vero kemudian.
Kedua wanita yang saling bertatap itu termasuk dalam sepuluh orang terkaya di negara ini. Yang dimana, wanita yang bertamu pada kediaman Vero saat ini mempunyai peringkat lebih tinggi dari Vero, dalam hal jumlah kekayaan yang dimilikinya.
Hal tersebut juga, yang menjadikan wanita tersebut merupakan wanita terkaya di negara ini, yang dimana Vero menjadi orang kedua setelah dirinya. Jadi, jangan kaget saat melihat mereka berdua akan mengeluarkan aura persaingan diantara mereka berdua.
“Lalu Nona Alice, ada perlu apa anda datang kekediaman saya?” tanya Vero kemudian.
“Saya bertamu pada kediaman anda, dikarenakan mulai hari ini, saya akan tinggal di komplek yang sama dengan anda. Jadi saya memutuskan untuk menyapa anda saat ini” balas Alice kemudian.
Aneh, itulah yang dirasakan oleh Zen saat ini. Karena memang wanita yang bernama Alice itu, sifatnya langsung berubah dengan seketika saat dirinya sedang bercakap dengan Vero. Bahkan ketakutan yang dirinya rasakan tadi tentang kemunculan Zen ditempat ini, entah mengapa mulai menghilang dari dirinya.
“Ah... benar juga. Aku ikut prihatin dengan perusahaan milikmu yang sedang kacau saat ini, Nona Alice” ucap Vero yang menyadari mengapa wanita itu memutuskan untuk pindah menuju daerah tempatnya tinggal.
“Terima kasih atas rasa prihatin anda Nona Vero. Tetapi alangkah baiknya, anda juga memperhatikan perusahaan anda, sebelum anda merasa prihatin dengan perusahaan milik saya” balas Alice, yang menyahuti perkataan dari Vero itu.
Percakapan mereka saat ini memang terlihat saling memojokkan satu sama lainnya, yang dimana bukan saja mulut mereka yang mencoba saling menjatuhkan, tetapi tatapan mereka berdua juga terlihat sangat menyeramkan saat ini.
Bahkan Zen yang saat ini berdiri ditempatnya, yang dimana keberadaannya hanya dianggap angin lalu saja. Saat ini lengannya terasa terhimpit dengan erat oleh lengan dan dada montok dari Vero, yang dimana wanita itu tidak menyadari perbuatannya, karena perdebatan yang mereka lakukan saat ini cukuplah intens.
Tentu karena dirinya merasa emosi, membuat wanita itu seakan memberikan kesempatan kepada Zen untuk merasakan sesuatu yang cukup montok miliknya itu. Tetapi untunglah Zen merupakan pria yang cuek dan saat ini tidak menangapi apa yang saat ini sedang dirinya rasakan.
__ADS_1
“Bisakah kalian berdua sudahi perdebatan kalian, karena aku sudah sangat lapar saat ini” ucap Zen, yang memutuskan untuk menghentikan perdebatan mereka saat itu juga.
Mendengar perkataan Zen, tentu Alice langsung menyadari bahwa pria yang sangat menyeramkan baginya itu masih berada ditempatnya. Apalagi dirinya cukup bingung dengan hubungan yang dimiliki oleh pria itu dengan saingannya saat ini.
Tentu dirinya sudah memprediksi status yang dimiliki pria yang terlihat sangat dekat dengan Vero itu. Tapi dirinya ingin mendengar secara langsung, status yang dimiliki olehnya yang saat ini seperti sedang sangat dekat dengan saingannya tersebut.
“Ah... maafkan aku suamiku. Kami berdua keasikan mengobrol sedari tadi, jadi melupakan keberadaan dirimu” ucap Vero yang saat ini sedang berperan manja kepada Zen.
Tentu perkataan Vero langsung membuat Alice membulatkan matanya, karena apa yang dirinya perkirakan sedari tadi adalah benar. Tetapi tetap saja dirinya tidak menyangka bahwa pria yang menurutnya sangat kuat itu, merupakan suami dari saingannya. Tetapi ada satu hal yang bisa ditangkap oleh Alice setelah memperhatikan interaksi mereka berdua, yaitu sepertinya saingannya itu tidak mengetahui jati diri dari Suaminya.
Jadi, dirinya masih bingung apa tujuan dari Zen, yang dirinya ketahui merupakan suami dari saingannya itu. Tetapi dirinya memutuskan untuk tidak memikirkannya sekarang, karena sepertinya dirinya sudah terlalu lama berada ditempat ini.
“Kalau begitu, maafkan diriku karena mengganggu waktu kalian cukup lama. Kalau begitu, kami berdua pamit dulu” ucap Alice berpamitan kepada pasangan suami istri yang dirinya temui itu.
“Ayo Kileni...” kata Alice kemudian yang mulai mengambil lengan putrinya yang imut itu, untuk meninggalkan kediaman dari Vero.
“Dada.. Tante, Dada.. om jahat” ucap Kileni kemudian yang mulai melambaikan tangannya kearah kedua pasangan itu.
Namun ada sesuatu yang mengganggu Vero, saat melihat seorang putri dari saingannya itu sudah beranjak dari tempatnya. Entah mengapa Vero secara spontan mulai menatap Zen dengan tatapan penuh arti. Apalagi memang tindakannya itu dirinya lakukan secara tidak sadar, akibat dirinya melihat seorang anak kecil yang imut tadi.
“Kenapa?” tanya Zen kemudian, yang menyadari bahwa wanita yang masih memeluk lengannya hingga saat ini sedang menatapnya.
“A-Ah... tidak apa-apa” ucap Vero kemudian yang langsung buru-buru untuk melepaskan pelukannya dari lengan milik Zen, setelah dirinya mulai sadar dari hayalan yang berada dikepalanya itu.
Merasa sudah terlepas, Zen akhirnya memutuskan untuk masuk kembali kedalam kediaman Vero terlebih dahulu, untuk menuju meja makan dan meninggalkan Vero ditempatnya. Tetapi yang tidak disadari oleh Zen, Vero saat ini tiba-tiba saja mulai menampar kedua pipinya menggunakan kedua tangannya secara bersamaan.
“Apa yang kamu pikirkan Vero!” teriaknya didalam hati, karena sempat-sempatnya dirinya memikirkan untuk mempunyai seorang anak bersama Zen tadi.
Tentu melihat tingkah imut dari Kileni tadi, entah mengapa Vero ingin sekali memiliki seorang anak. Tetapi dirinya merasa kesal, karena dirinya langsung mengharapkan hal tersebut kepada seorang pria yang merupakan suami bayarannya, dan seorang pria yang menurutnya tidak pantas menjadi ayah dari anak-anaknya kelak.
__ADS_1
Dirinya tentu saja langsung mencoba membuang pemikirannya itu, dan memutuskan untuk melupakan semua hal yang dirinya pikirkan setelah melihat Kileni tadi. Bahkan bekas merah di pipinya saat ini, merupakan sebuah tanda untuk dirinya, agar dirinya bisa melupakan pemikirannya itu.
“Lupakan Vero... lupakan.” Ucap Vero kemudian yang mulai menggelengkan kepalanya, untuk membuat semua pemikiran yang masuk kedalam otaknya tersebut agar terbuang jauh-jauh.
Setelah itu, dirinya mulai menyusul Zen untuk datang menuju meja makan untuk menyantap makan malam mereka bersama. Tentu Zen dan Bibi Leni cukup bingung menatap Vero saat ini, karena mereka melihat wanita itu memiliki wajah yang memerah.
"Aku sudah kenyang" dan begitulah kelanjutan tindakan Vero yang terlihat aneh itu, saat dirinya tiba-tiba saja memutuskan menyudahi makan malamnya dan langsung berlari menuju ke kamarnya.
Zen hanya bingung dengan sikap wanita tersebut. Tetapi makanan dihadapannya lebih menggoda daripada tindakan dari Vero. Maka dari itu dirinya menghiraukan tindakan dari Vero dan mulai memakan makanannya kembali dengan lahap, sebelum dirinya kembali menuju kamarnya dan berisitirahat.
Hari akhirnya sudah berganti. Tidak ada sesuatu yang spesial yang terjadi setelah malam itu, yang dimana tindakan Vero tiba-tiba saja mulai aneh. Namun pagi ini, sepertinya sikap wanita itu sudah kembali normal, karena dirinya sudah bersikap seperti biasa saat ini.
Hari ini, Vero memang sudah berniat untuk meliburkan dirinya untuk menemani sahabatnya, yang dimana Ibunya akan menjalani operasi hari ini. Bersama Zen yang sudah mengendarai mobil yang ditumpanginya, mereka berdua saat ini mulai menuju rumah sakit tempat Ibu dari Vero berada.
“Bagaimana keadaan Bibi, Kel?” tanya Vero setelah mereka tiba diruang perawatan dari Ibu kandung Kelly.
“Dokter sudah mempersiapkan semuanya, dan saat ini tinggal dibawa menuju ruang operasi saja” balas Kelly sambil menyambut kedatangan sahabatnya itu.
Tentu hari ini merupakan hari yang mendebarkan bagi Kelly. Karena penantiannya selama ini, akhirnya mungkin bisa terbayarkan setelah kejadian yang akan terjadi sebentar lagi. Apalagi saat ini beberapa perawat sudah memasuki ruang rawat dari Ibunya, untuk mempersiapkan dirinya dalam menjalani operasi yang akan dirinya lakukan nanti.
“Kami akan memindahkan Ibu anda, Nona Kelly” ucap perawat yang baru datang itu kepada Kelly, dan bersiap untuk membawa Ibunya menuju ruang operasi.
Dan begitulah Kelly, Vero dan Zen saat ini sudah mengikuti Ibu dari Kelly yang saat ini sudah dibawa menuju ruang operasi. Yang dimana setelah mereka bertiga tiba didepan ruangan tersebut, mereka hanya bisa menyaksikan Ibu dari Kelly memasuki ruangan itu sendiri ditemani para perawat yang membawanya tadi.
“Semoga operasinya berhasil” begitulah gumaman dari Kelly penuh harap, melihat kepergian Ibunya memasuki ruangan operasi dan akhirnya keberadaannya menghilang setelah pintu dari ruang operasi itu mulai tertutup.
“Baiklah, mari kita menunggunya diruang tunggu” ucap Vero kemudian yang menuntun mereka menuju ruang tunggu yang disediakan pada tempat tersebut.
Kelly cukup gelisah saat ini, karena memang dirinya sudah tidak sabar menantikan apa yang terjadi pada ruang operasi tempat Ibunya berada. Bahkan Vero saat ini mencoba menenangkan sahabatnya itu, karena memang Ibunya baru saja masuk keruang operasi dan dipastikan prosesnya sedang dimulai saat ini.
__ADS_1
Tidak ada percakapan diantara mereka saat ini, karena Kelly dan Vero mencoba saling menguatkan satu sama lainnya sambil berpegangan tangan, dan dengan sabar menunggu operasi yang dijalani oleh Ibunya. Hingga akhirnya suara Zen yang bosan mulai memecahkan kesunyian yang terjadi ditempat itu.
“Aku akan keluar membeli cemilan”