
Seorang wanita dengan menggunakan pakaian dinas kepolisian, saat ini sedang berada didalam sebuah mobil Van, yang memang dijadikan pusat komando dari kegiatan yang akan dirinya pimpin.
Apalagi bisa terlihat, bahwa fasilitas didalam Van tersebut sudah menunjukan beberapa aktivitas, tentang apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
Dengan rompi anti peluru yang dikenakannya, wanita itu mulai menatap berbagai layar yang berada didepannya, yang saat ini menampilkan beberapa secara langsung sebuah tayangan tentang apa yang sedang dilakukan oleh para bawahannya.
Apalagi Walkie Talkie yang selalu ada ditangannya, membuat dirinya terlihat sangat fokus dalam melakukan tugasnya, dalam memimpin pasukan yang sedang dirinya tugaskan untuk melakukan penyergapan pada sebuah tempat saat ini.
“Apakah semua pasukan sudah siap?” tanya Santi melalui walkie talkie yang berada ditangannya, kepada bawahannya yang merupakan pemimpin dari kelompok yang sedang dirinya tugaskan.
“Kami tinggal menunggu instruksi anda, Komandan” balas bawahan yang menyahuti perkataannya itu.
“Baiklah, kalau begitu mulai penyergapan” perintah Santi.
Tentu bawahan Santi yang sudah mendengar perintah dari atasannya, langsung membuat aba-aba kepada seluruh pasukan yang dipimpinnya, untuk bergegas menyergap sebuah bangunan yang terlihat tua dan harus mereka kuasai saat ini.
Sebuah suara dobrakan pintu yang mulai terdengar, mulai menunjukan beberapa anggota kepolisian dengan peralatan lengkap, mulai mengarahkan moncong senjata mereka kearah depan dan sudah masuk kedalam tempat tersebut.
Dengan konsentrasi penuh, para anggota kepolisian tersebut mulai menyusuri setiap tempat yang sedang mereka masuki saat ini, untuk mencari keberadaan pelaku yang sedang mereka cari, maupun beberapa korban dari sebuah kasus yang sedang mereka selidiki.
"Sepertinya, tidak ada tanda-tanda para pelaku berada ditempat ini, Kapten" ucap salah satu pasukan, yang saat ini melaporkan statusnya kepada kapten yang memimpin operasi mereka.
“Sepertinya... Tetapi, kita belum memeriksa berbagai sudut kediaman ini. Jadi, jangan menurunkan kewaspadaan kalian” ucap pemimpin mereka, yang kembali memimpin pasukannya mengeledah tempat itu semakin dalam.
Tentu suara derap kaki mulai terdengar semakin intens, yang dimana beberapa anggota kepolisian yang memasuki tempat tersebut, mulai bergerak dengan cepat untuk menyisir seluruh area yang sedang mereka masuki, untuk mencari keberadaan beberapa orang.
Hingga akhirnya, apa yang mereka lakukan itu membuahkan hasil. Setelah salah satu kelompok dari beberapa kelompok yang memasuki tempat tersebut, saat ini berhasil menemukan lokasi beberapa orang yang terkurung didalam tempat yang bisa dikatakan sangat lusuh.
“Lapor, Komandan. Kami berhasil menemukan para korban” ucap pemimpin dari kelompok penyergapan itu, kepada Santi melalui sambungan walkie talkie miliknya.
“Baiklah, kalau begitu segera evakuasi mereka” perintah Santi, yang memberikan perintahnya selanjutnya.
__ADS_1
Santi langsung merasa lega bahwa apa yang dikatakan oleh Zen, merupakan sebuah kebenaran. Karena memang saat ini dirinya berhasil menemukan lokasi para korban, yang menjadi korban penculikan oleh beberapa pihak tidak bertanggung jawab.
Walaupun memang tidak semua korban yang menghilang secara tiba-tiba itu berhasil ditemukan. Tetapi tetap saja mereka berhasil menemukan beberapa orang yang saat ini terlihat sangat lemas, karena memang mereka seakan ditinggalkan ditempat itu tampa diberi makan apapun.
“Kami berhasil menemukan korban berjumlah 27 orang, Komandan. Tetapi delapan diantara mereka, sepertinya sedang dalam keadaan kritis. Karena dari keterangan salah satu korban, mereka tidak diberi makan apapun dari pihak yang menculik mereka.” balas bawahannya itu, yang melaporkan hasil kejadian tersebut kepada Santi.
“Baiklah. Cepat evakuasi mereka semua, dan utamakan yang kondisinya tidak baik-baik saja. Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit, untuk membantu mengurus hal tersebut. Jadi, kalian bisa berkordinasi dengan mereka, dan jangan lupa untuk memberitahukan hal ini pada keluarga korban” Perintah Santi, yang menanggapi perkataan bawahannya itu.
"Baik, Komandan. Kami akan melaksanakan perintah anda" ucap bawahannya itu kembali, dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya itu.
Walaupun memang pada kotanya sendiri hanya terdapat sekitar lima orang saja yang menghilang. Ternyata beberapa korban yang mereka temukan, merupakan orang-orang yang diculik dari kota yang lain dan mereka disekap ditempat ini.
Jadi, Santi merasa cukup lega bahwa dirinya berhasil menyelamatkan beberapa dari mereka, walaupun sebenarnya masih ada yang belum berhasil ditemukan. Apalagi jika dilihat, memang sepertinya para penculik itu cukup kejam, karena mereka meninggalkan para korban tanpa diberi makan dan minum untuk mereka.
“Terima kasih atas informasi yang kamu berikan, Zen. Karena apa yang kamu informasikan kepadaku merupakan sebuah informasi yang valid, dan diriku berhasil menyelamatkan beberapa korban dengan selama saat ini” ucap Santi melalui sambungan telfonnya, yang saat ini sedang menghubungi Zen.
Santi memang langsung menghubungi Zen, setelah dirinya memutuskan untuk beristirahat sejenak dalam tugas yang sedang dirinya lakukan. Apalagi dirinya harus berterimakasih kepada pria yang memberikan informasi kepadanya itu, karena berkat informasi dari pria tersebut, dirinya berhasil menemukan para korban.
“Baiklah.. Baiklah. Lalu, apakah kamu belum mengetahui letak korban yang lainnya?” tanya Santi kemudian.
“Sabarlah, aku juga sedang mencoba mencari keberadaan mereka” balas Zen dan mendapatkan anggukan dari Santi.
“Baiklah. Kalau begitu, terima kasih sekali lagi atas informasi darimu, Zen. Dan ingat, langsung beritahu diriku jika kamu mempunyai informasi yang lainnya tentang keberadaan para korban” Ucap Santi yang mulai mengakhiri panggilan yang dirinya lakukan, karena memang masih banyak yang harus dirinya lakukan saat ini.
Zen juga mulai memasukan ponselnya kedalam kantongnya, setelah panggilan yang dirinya terima tadi sudah diputus oleh Santi. Tetapi pandangannya saat ini, masih menatap area tempat dimana Santi menerjunkan pasukannya menuju lokasi yang dirinya beritahukan.
“Hahh... tetap tidak berhasil Tuan” balas Fenrir yang saat ini setia duduk disebelahnya.
“Sialan para Kultivator jahanam itu. Ternyata mereka selama ini bekerja sama dengan para Vampire” ucap seorang wanita, yang juga mulai bergumam kesal dan saat ini sedang berdiri disebelah Zen.
“Ya... sepertinya kita harus mengunjungi beberapa wilayah agar Fenrir bisa memeriksa lebih lanjut, tentang lokasi para Vampire itu bersembunyi” ucap Zen kemudian.
__ADS_1
Memang saat ini, Zen, Amaterasu dan Fenrir berada tidak jauh dari lokasi tempat dimana Santi sedang mengrebek sebuah tempat tadi. Tentu keberadaan mereka saat ini tidak disadari oleh siapapun, karena mereka saat ini sedang berada di atas sebuah pohon dan menggunakan skill kamuflase mereka.
Apalagi mereka awalnya sudah memeriksa terlebih dahulu lokasi ini berkat penciuman Fenrir. Namun sayangnya, sepertinya musuh yang sebelumnya berada ditempat tersebut sudah memprediksi kedatangan mereka, dan mulai melarikan diri dan tidak meninggalkan jejak apapun ditempat ini.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang, Zen?” tanya Amaterasu kemudian.
Memang entah sudah sejak kapan Dewi tersebut sudah bersikap dengan santai dan akrab kepada Zen. Apalagi Zen tidak mempermasalahkan tentang sikap yang dirinya tunjukan, dan membuat Amaterasu memutuskan untuk melanjutkan saja bersikap akrab dengan Zen saat ini.
“Mana aku tahu. Aku memang datang ketempat ini hanya untuk mencari para keberadaan Vampire saja” balas Zen kemudian.
Memang karena satu dan lain hal, penciuman dari Fenrir saat ini mulai terhalangi saat mencoba mencari keberadaan para Vampire ditempat ini. Memang mereka sudah memprediksi mengapa bisa terjadi seperti itu, jadi mereka saat ini tidak terlalu terkejut dengan hasilnya.
“Hah... sepertinya aku harus memberitahukan Ayahku, untuk menekan pihak Kultivator kerajaan Cina saat ini” balas Amaterasu kemudian.
Amaterasu sudah mendapatkan sebuah garis besar tentang apa yang terjadi disini. Tentu berkat informasi yang diberikan Zen kepadanya tadi, membuatnya bisa mendapatkan berbagai informasi baru yang sangat berguna untuk mencari keberadaan para Vampire.
Tetapi tetap saja, karena ternyata para ras jahat itu, sepertinya bekerja sama dengan sebuah kekuatan yang sangat susah untuk disentuh saat ini, khususnya oleh para Dewa. Karena memang para Dewa cukup asing dengan kekuatan yang mereka gunakan.
“Kalau begitu aku mau kembali. Karena aku hanya berpamitan kepada Istriku, bahwa aku sedang mengajak jalan-jalan anjing peliharaan ku saja tadi.” balas Zen, yang akan beranjak dari sana.
“Baiklah, dan jang- tunggu apa katamu tadi?” ucap Amaterasu yang langsung menatap Zen, saat dirinya baru menyadari dengan apa yang dirinya ucapkan tadi sebelum dirinya akan beranjak dari tempatnya.
“Aku akan kembali, karena aku hanya berpamitan kepada Istriku, bahwa aku sed-”
“Aku tidak menyuruhmu mengulang perkataan darimu itu. Tetapi kamu benar-benar sudah mempunyai seorang Istri?” tanya Amaterasu kemudian yang memotong perkataan Zen.
Zen hanya mengangguk saja menjawab perkataan yang dilontarkan oleh Amaterasu tadi. Tentu hal ini membuat Amaterasu tercengang saat ini, karena ternyata dirinya mulai menemukan alasan sebenarnya mengapa pria itu bisa berada ditempat ini.
“Kalau begitu, sampai jumpa” balas Zen kemudian, yang saat ini langsung menaiki punggung Fenrir yang sudah merubah bentuknya sedikit lebih besar, dan mulai beranjak dari sana.
Tidak memperdulikan respon yang akan dikatakan oleh Amaterasu. Zen bersama Fenrir mulai beranjak dari tempatnya dan mulai menghilang dari pandangan Amaterasu. Tentu Dewi tersebut hanya melihat arah kepergian pria itu, yang dimana rasa penasarannya mulai meningkat dengan kepribadian dari pria yang sudah beranjak tersebut.
__ADS_1
“Wah... aku penasaran wanita seperti apa yang dinikahi oleh pria yang menyebalkan itu”