Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Alasannya


__ADS_3

Dan begitulah alasan sepele Zen menerima permintaan menjaga seorang wanita yang sama sekali tidak penting bagi dirinya. Karena bisa dikatakan keponakannya yang memaksa Zen bahwa wanita yang saat ini sedang dijaga oleh dirinya itu harus tetap aman karena dirinya mengidolakannya.


Memang awalnya Zen ingin mengabaikan permintaan keponakannya itu. Namun setelah dirinya mengancam bahwa jika terjadi sesuatu dengan wanita bernama Jane itu, dirinya akan sangat marah kepada Zen, membuat Zen akhirnya menerima permintaan dari gadis kecil tersebut.


Tentu bukan hal itu saja yang menjadi alasan Zen berniat membantu Jane. Walaupun memang permintaan dari keponakannya itu merupakan faktor besar dalam dirinya untuk mau membantu sosok Jane, namun dirinya juga sudah membuat janji kepada wanita itu dan Pamannya sebelumnya.


Karena Zen juga sangat penasaran dengan keberadaan Jane pada penglihatan dari adiknya, membuat akhirnya Zen memutuskan untuk berjanji kepada Ji Shin, paman dari Jane untuk membantu mereka jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka nantinya.


Dan begitulah banyak alasan yang membuat Zen akhirnya membantu sosok wanita yang saat ini terlihat cukup gugup, karena tempat dimana mereka berada saat ini sudah didatangi oleh pihak kepolisian yang seakan sedang berpatroli dan sedang mencari sesuatu ditempat ini.


"Tenanglah, tidak usah gugup." Dan begitulah ucapan dari Zen yang saat ini melihat gadis yang diselamatkan olehnya itu mulai ketakutan, melihat kedatangan petugas kepolisian itu.


Bisa dikatakan saat ini dua orang petugas kepolisian sudah memasuki restoran tempat mereka berada. Sudah dipastikan mereka merupakan pihak suruhan dari orang yang mengejar sosok Jane yang saat ini memang menjadi bahan incaran dan beberapa pihak.


Tentu karena pihak Kultivator menguasai pemerintahan, jadi wajar mereka mereka mengerahkan berbagai lembaga di bawah mereka untuk membantu. Maka tidak heran, saat ini petugas kepolisian mulai menyisir berbagai tempat yang mungkin menjadi tempat persembunyian dari Jane yang harus mereka temukan keberadaannya.


Jane sendiri yang melihat dua orang petugas itu tentu dipastikan langsung panik. Karena dirinya juga sudah paham dengan apa yang terjadi. Namun naasnya, kepanikannya itu sepertinya hanya dirinya sendiri yang merasakannya, karena saat ini Zen yang masih bersikap santai mulai memakan makannya dengan sangat lahap.


Zen terlihat sama sekali tidak memperdulikan apa yang terjadi ditempat mereka berada. Apalagi dirinya dengan santainya mulai memanggil seorang pelayan lagi untuk menambah pesanannya. Tentu hal itu sangatlah mengejutkan bagi Jane, karena saat ini sepertinya sosok Zen menyepelekan keadaan mereka saat ini.


Melihatnya entah mengapa membuat Jane merasa kesal. Karena pria itu seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi, apalagi saat ini kedua petugas kepolisian itu mulai mendatangi satu persatu meja dan memeriksa seluruh pelanggan yang berada ditempat ini satu persatu.


Hingga kedua sosok itu semkin mendekat kearah mereka, namun saat ini kedua pasangan itu seakan belum mengambil sebuah tindakan apapun untuk membuat keberadaan mereka ditempat ini tidak ketahuan, apalagi Zen yang saat ini dengan lahap menyantap makanannya.


"Zen, apa yang harus kita lakukan?" tanya Jane semakin panik, karena para petugas itu semakin mendekati tempat dimana mereka berada.


Wajar jika Jane panik saat ini. Karena wajahnya merupakan sosok yang sangat mudah dikenali karena kepopuleran dirinya. Maka dari itu, dirinya mulai menekan sosok Zen yang masih santai ditempatnya, agar memikirkan sesuatu agar mereka bisa keluar dari situasi ini.


Memang wajahnya yang terkenal itu dipastikan akan langsung dikenali. Maka dari itu dirinya sedari tadi memakai jaket berhoodie dan menyembunyikan rupanya. Namun tentu saja kedoknya akan ketahuan sepenuhnya, jika pihak petugas kepolisian itu menyuruhnya untuk membuka penutup hoodie jaketnya tersebut.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, bertindak yang wajar. Kalau kamu panik, dirimu akan semakin dicurigai" ucap Zen yang masih asik menyantap makanannya, dan cukup kebingungan dengan tingkah dari wanita yang bersamanya itu, yang seakan sedang menunjukan kepada semua orang bahwa orang yang sedang dicari oleh pihak petugas kepolisian itu berada disini.


Tentu untuk menghindari kecurigaan, mereka tentu harus berperilaku agar tidak mencurigakan. Itulah yang dilakukan oleh Zen saat ini yang bersikap santai seakan dirinya merupakan seorang pria biasa yang sedang menyantap makanannya di tempat itu.


Dan hal itulah yang sedang dirinya sampaikan kepada wanita yang terlihat panik didepannya itu, agar dirinya juga bersikap seperti biasa seolah-olah mereka memang datang ketempat ini dan sedang menikmati sesuatu atau bisa dikatakan hanya sepasang manusia biasa yang sedang menikmati waktu mereka ditempat ini.


Namun tetap saja, Jane merasa tetap gugup dan tidak bisa bersikap biasa. Hingga kedua petugas kepolisan itu akhirnya mulai menuju kearah Meja tempat mereka berada. Tentu Jane semakin ketakutan, karena sepertinya sebentar lagi dengan terpaksa kedoknya akan ketahuan dan Zen sepertinya terlihat tidak peduli dengan apa yang terjadi.


Hingga apa yang dirinya takutkan itu mulai terjadi, disaat dua orang petugas kepolisan saat ini sudah berdiri tepat disebelah meja makan tempat mereka berada. Tentu mereka tidak langsung menyapa sosok Jane dan Zen yang berada di sana karena mereka mencoba memperhatikan terlebih dahulu sosok mereka berdua.


"Perm-" namun belumlah petugas polisi itu menyapa mereka, sebuah ledakan besar mulai terdengar pada area luar dari restoran tempat mereka berada.


Mendengarnya, tentu saja membuat kedua petugas kepolisian yang mendatangi meja tempat Zen dan Jane berada, langsung bergegas keluar dari restoran ini dan ingin memeriksa secara langsung lokasi dari suara ledakan yang mereka dengar saat ini dan suaranya sangat keras tersebut.


Hingga kepergian mereka itu tentu saja langsung membuat Zen hanya mengeluarkan senyum liciknya dan saat ini kembali menyantap makanan yang sudah diantarkan oleh pelayan restoran ini, karena dirinya tadi baru saja memesan makanan tambahan untuk dirinya santap.


"Tunggu apalagi Zen, mari kita melarikan diri dari sini" Dan begitulah ucapan Jane yang saat ini ingin langsung beranjak dari sana, karena para petugas kepolisian itu sudah pergi.


Tercengang tentu saja. Jane yang sama sekali tidak bisa menebak jalan pikiran pria itu dan saat ini cukup kebingungan dengan sikapnya. Bahkan saat ini Zen kembali membuat dirinya tercengang, karena dirinya kembali memanggil seorang pelayan restoran ini dan kembali memesan pesanan.


Pelayan yang sebelumnya sedang melihat kejadian apa yang sedang terjadi itu, tentu saja langsung datang ketempat dimana meja Zen berada dan kembali mencatat pesanannya. Dan hal itulah yang saat ini memuat Jane tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria yang sudah menyelamatkan dirinya itu.


Bahkan pelayan yang melayani sosok Zen juga cukup kebingungan pada awalnya dengan sikap pria itu, karena kejadian ledakan yang terjadi ditempat itu seakan tidak mempengaruhi dirinya dalam menyantap makanannya. Namun karena dirinya merupakan pelanggan, mau tidak mau pelayan itu harus melayani sosok Zen yang sedang memesan makanan itu.


"Zen! Kalau kita tidak melarikan diri sekarang, kita akan ketahuan. Ayo, kita dengan segera melarikan diri dari sini" dan begitulah perkataan Jane kembali, yang saat ini mulai kesal dengan sikap Zen yang terkesan sangat santai menanggapi situasi mereka saat ini.


"Cih... memangnya yang punya pemikiran seperti dirimu itu hanya dirimu sendiri? Semua pihak yang mengejar dirimu juga memikirkan hal yang sama. Lalu jika kita pergi dan mengikuti rencana mu untuk melarikan dari sini, apakah menurutmu mereka tidak memprediksinya?" ucap Zen yang tentu perkataannya itu langsung membuat Jane bungkam.


Dalam pelarian, ketenangan adalah kunci agar mereka bisa dengan mulus melarikan diri tanpa ketahuan. Apa yang dilakukan oleh Zen, merupakan tata cara melarikan diri yang paling benar menurutnya, karena mereka sama sekali tidak meninggalkan jejak hingga mengecoh beberapa orang yang mengejar keberadaan mereka.

__ADS_1


Tentu jika mereka melarikan diri sekarang, beberapa tempat dipastikan sedang dijaga ketat, karena semua pihak yang mengejar mereka akan beranggapan momentum ledakan tadi seakan menjadi sebuah pengalihan untuk beberapa pihak yang mereka kejar untuk melarikan diri.


Tentu semua pihak yang mengejar mereka memiliki kecerdasan yang baik dalam mencoba memprediksi pergerakan dari Zen dan Jane yang sedang melarikan diri. Salah satunya adalah, mereka pasti sudah memprediksi bahwa ledakan tadi adalah pengalihan yang dilakukan oleh mereka berdua untuk membantu mereka melarikan diri.


Apalagi seluruh pihak berwenang saat ini langsung mendatangi lokasi ledakan tersebut. Dan disaat melihat bahwa gedung yang meledak itu adalah gedung kosong, tentu saja ledakan tadi sudah diprediksi sebagai sebuah pengalihan dan saat ini semua pihak mulai mempersiapkan mencegat pelarian mereka.


Jadi, yang mereka butuhkan adalah bersikap yang wajar agar keberadaan mereka tidak akan dicurigai kembali, dan nantinya mereka bisa keluar dari tempat ini dengan bebas, tanpa takut ketahuan karena apa yang dilakukan Zen tadi, merupakan siasat untuk mencoba mengulur waktu dan mempermainkan beberapa pihak yang mengejar mereka.


"Tenanglah, semua sudah aku rencanakan. Jadi, lebih baik kamu bersikap santai, agar tidak membuat sosok dirimu itu akan dicurigai beberapa pihak. Lebih baik, kamu memesan makanan lagi, karena restoran ini sangatlah bagus" ucap Zen yang saat ini langsung menyantap makanannya, setelah pesanannya sudah tiba kembali.


Jane akhirnya hanya bisa diam dan kembali duduk dengan tenang ditempatnya. Apalagi dirinya sadar, bahwa pria didepannya itu tidak bisa diremehkan. Tentu dirinya baru ingat, bahwa pria itu sudah membantunya melarikan diri dari pihak-pihak yang sangat berbahaya dan bahkan mampu membunuh Pamannya.


Dari semua penjelasannya tadi juga mengisyaratkan bahwa dirinya bertindak menggunakan sebuah rencana yang matang, agar mereka bisa keluar dari situasi dengan aman. Apalagi sedari tadi apa yang dirinya lakukan cukup terbukti membuat mereka aman hingga saat ini.


Jadi, pergerakan Zen saat ini bisa dikatakan sangat matang, dan dirinya seharusnya hanya mendengarkan perkataannya dan mereka akan aman untuk dapat beranjak dari tempat dan wilayah ini tanpa ketahuan oleh siapapun. Maka dari itu, Jane saat ini mulai tenang dan mengikuti instruksi dari Zen saja mulai saat ini.


"Tapi, jangan bilang bahwa kamu yang menyebabkan ledakkan tersebut?" tanya Jane kembali, karena penasaran dengan ledakan yang tiba-tiba terjadi itu.


Memang tidak mungkin ledakan itu akan muncul secara tiba-tiba. Maka dari itu, penjelasan dengan pasti kenapa terjadi sebuah ledakan di sana, dipastikan ulah dari sosok Zen yang saat ini bahkan mulai mengangguk menjawab perkataan dari Jane dan membenarkan pemikirannya tersebut.


Zen tentu hanya mulai tersenyum mendengar rencananya itu sudah berhasil. Karena sebelumnya, Zen sempat memperhatikan keadaan kota tempat mereka berada terlebih dahulu, sebelum dirinya memutuskan untuk memasuki area restoran tempat dimana mereka berada saat ini.


Tentu tatapan Zen tidak sengaja melihat sebuah gedung kosong yang berada disalah satu sudut kota tempat dimana dirinya berada. Hingga tanpa sepengetahuan Jane, Zen mulai melemparkan beberapa bahan peledak tepat pada gedung kosong yang dirinya temukan itu.


Dan begitulah bagaimana Zen bisa langsung meledakan gedung kosong yang tidak jauh dari sana, setelah keadaan mereka mulai terhimpit tadi, sehingga Zen membutuhkan sesuatu yang dapat mengalihkan keberadaan mereka agar tetap aman dalam melewati situasi yang sedang mereka alami saat ini.


"Siapa sebenarnya dirimu, Zen?" dan begitulah ucapan Jane kembali, disaat dirinya sangat terkejut dengan kemampuan pria yang berada didepannya.


Jane sama sekali tidak mengetahui dengan pasti identitas dari Zen. Karena memang, Pamannya hanya berkata bahwa pria didepannya merupakan sosok pemilik kekuatan. Dirinya dipastikan bukan Kultivator, karena Jane akan langsung mengetahui dengan pasti jika dirinya merupakan Kultivator.

__ADS_1


Namun, saat ini dirinya merasa bingung, siapa sebenarnya sosok Zen itu. Apalagi dari semua pengawalnya yang pernah bekerja dengannya dan mereka merupakan seorang Kultivator, bisa dikatakan kemampuan mereka sangat beda jauh dengan Zen, yang terlihat bergerak dengan menggunakan sebuah rencana matang, dan tidak akan bergerak secara sembarangan.


"Aku hanya seorang pria Pemalas pada umumnya"


__ADS_2