Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Gelisah


__ADS_3

Seorang pria saat ini sudah kembali menuju kediamannya, setelah dirinya baru saja kembali dari kunjungannya pada sebuah tempat.


Namun saat ini entah mengapa dirinya merasakan perasaan yang sangat marah, dengan apa yang baru saja dirinya saksikan di sana. Disaat dirinya memutuskan untuk berkunjung pada sebuah tempat yang dirinya kunjungi tadi.


“Siapa... siapa... siapa pria itu sebenarnya? Lalu, apa hubungan dirinya dengan bidadariku?” ucap pria tersebut yang merupakan Agus, yang saat ini mulai mondar-mandir didalam kamarnya.


Setelah memasuki kediamannya, memang pria itu langsung dilanda sebuah kegelisahan. Apalagi setelah seseorang wanita yang sangat amat dicintainya berinteraksi dengan seorang pria.


Tentu dirinya langsung dilanda rasa kecemburuan karena dirinya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bahwa wanita yang dipanggil bidadari oleh dirinya itu, seakan bahagia dengan keberadaan pria tersebut.


Apalagi saat ini dirinya semakin dibuat gelisah, saat pria tersebut akan menemani wanita yang dirinya sebut bidadari itu, menuju sebuah tempat hanya berdua saja. Dan itulah yang membuat dirinya semakin emosi, dan kembali melemparkan semua barang-barang yang berada didalam kamarnya.


“Apa hubungan dirinya dengan bidadariku... apa hubungannya!” teriaknya kemudian, yang mulai semakin menggila dan menghempaskan semua barang yang berada didalam kamarnya.


Tentu saat ini pria itu benar-benar terpanggang oleh api cemburu yang amat dalam. Apalagi melihat kedekatan pria yang dikenalinya bernama Zen bersama bidadari yang selalu dirinya puja. Maka dari itu saat ini dirinya sangat kesal, dan mulai meluapkan kekesalannya dengan bertindak membabi buta didalam kamarnya.


“Ini tidak boleh terjadi... tidak ada siapapun yang boleh merebut dirinya dariku” ucapnya kembali, yang entah mengapa semakin merasa emosi membayangkan hubungan wanita yang dirinya anggap sebagai bidadari itu, dengan seorang pria yang tidak dikenalnya.


Namun dirinya mulai menenangkan dirinya saat ini. Dengan mulai menarik nafasnya dengan dalam, dirinya mencoba memadamkan sedikit bara api cemburu yang sedang membakarnya. Setelah dirinya cukup berhasil melakukan hal tersebut, barulah pria itu saat ini mulai menuju kearah meja komputer yang berada didalam kamarnya saat ini.


Tentu dirinya harus mencari identitas sebenarnya dari pria yang terlihat dekat dengan wanita yang sangat dipujanya itu. Karena memang dirinya tidak rela bahwa seorang yang dirinya anggap sebaai bidadari untuknya itu, akan didapatkan oleh orang selain dirinya.


“Tunggulah aku, bidadari yang diperuntukkan untukku. Karena akan aku lepaskan genggaman pria brengsek itu dari dirimu” ucapnya sekali lagi, yang saat ini entah sedang melakukan apa pada keyboard komputer yang yang sedang diotak-atik olehnya.


Disisi lain, saat ini Kelly sudah berada didalam ambulan yang sedang membawa Ibunya menuju kesebuah rumah sakit yang akan merawatnya. Tentu dirinya tidak hanya sendirian berada di sana, karena saat ini dirinya ditemani oleh perawat yang membantu menjaga Ibunya.


Zen sendiri saat ini sedang mengikuti mobil ambulan yang ditumpanginya menggunakan kendaraan milik Kelly. karena memang dirinya dimintai tolong oleh Kelly untuk membawa kendaraannya, dan Zen dengan terpaksa saat ini mulai menerima permintaannya itu.


“Baiklah, turunkan secara hati-hati” ucap seorang perawat, yang saat ini mulai membantu dengan perlahan proses penurunan Ibu dari Kelly dari dalam ambulan, setelah mereka sudah sampai ditujuan mereka.


Kelly dengan tenang hanya menatap para perawat yang sedang menurunkan Ibunya dari dalam ambulan. Mereka semua saat ini memang melakukan tugasnya secara hati-hati, karena memang beberapa peralatan medis yang menopang kehidupan dari Ibunya masih terpasang pada tubuhnya.


Hingga akhirnya mereka berhasil menurunkan Ibu dari Kelly dari dalam ambulan dengan selamat. Setelah itu, tentu mereka mulai membawanya menuju sebuah ruangan, yang dimana ruangan tersebut akan dijadikan sebuah tempat dimana dokter yang akan merawatnya nanti untuk memeriksa keadaannya.


Tentu saat ini Ibunya sudah dibimbing menuju ruang pemeriksaan dari rumah sakit ini. Apalagi pihak yang akan merawatnya, memutuskan untuk langsung memeriksa keadaannya, sebelum dirinya akan dipindahkan menuju ruang pasien


“Maaf Nona, tetapi anda tidak bisa masuk kedalam” ucap seorang suster yang menghalangi langkah Kelly yang ingin ikut masuk kedalam ruangan yang akan dimasuki Ibunya.

__ADS_1


“Tetapi sus...” ucap Kelly yang tidak rela membiarkan Ibunya masuk sendirian ke sana.


“Tenanglah Nona. Karena setelah pemeriksaan selesai, anda diperkenankan untuk menjenguknya” balas suster tersebut dan mulai meninggalkan Kelly ditempatnya.


Setelah suster itu meninggalkan keberadaannya, saat ini Kelly hanya bisa menyaksikan keberadaan Ibunya yang terbaring dengan lemah, mulai menghilang dari pandangannya.


Pandangannya saat ini memang sudah terhalangi oleh pintu yang saat ini sudah tertutup, dimana pintu tersebut merupakan pintu dari ruangan yang dimasuki oleh Ibunya tadi.


Dengan terpaksa Kelly akhirnya hanya mendengarkan saja perkataan dari orang yang mencegahnya tadi, dan mulai mencari tempat duduk dan dengan sabar mulai mulai menunggu hasil pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh Ibunya.


“Ibumu sudah masuk?” tanya Zen yang saat ini mulai menghampiri Kelly, yang terlihat cukup cemas duduk ditempatnya saat ini.


Memang mendengar orang yang menegurnya membuat Kelly sedikit terkejut, karena memang dirinya sangat mengkhawatirkan tentang kondisi Ibunya sedari tadi. Jadi saat Zen menyapanya, bisa terlihat dirinya kaget dengan sapaan yang diterima olehnya itu.


“Baru saja Zen” Balas Kelly yang mulai menyahuti perkataan dari Zen.


Zen hanya mengangguk saja mendengar jawaban darinya itu. Apalagi bisa terlihat Kelly saat ini kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu langsung mencemaskan keadaan Ibunya yang memasuki ruangan pemeriksaan tadi.


Zen sendiri saat ini hanya mulai mengambil tempat duduk tepat disebelah Kelly, dan mulai melihat keadaan sekitar. Dan setelah dipastikan tempatnya berada saat ini sudah kondusif, akhirnya dirinya memutuskan untuk mulai melanjutkan rencananya.


Tentu mendengar apa yang diucapkan oleh Zen itu, membuat Kelly langsung tersadar bahwa dirinya belum sama sekali melakukan hal tersebut. Jadi, dirinya saat ini dengan keadaan terburu-buru, ingin menyelesaikan urusan tersebut agar Ibunya bisa dirawat dengan cepat.


“Terima kasih Zen, sudah mengingatkanku. Dan juga, bisakah kamu menunggu Ibuku ditempat ini” ucap Kelly dan mendapatkan anggukan dari Zen, seraya mempersilahkan wanita itu untuk menyelesaikan urusannya ditempat ini.


Kelly langsung beranjak menuju tempat pengurusan administrasi dari rumah sakit ini. Tetapi setelah keberadaannya sudah menghilang dari pandangan Zen, sebuah kabut hitam mulai muncul didekat dirinya dan memunculkan sesosok pria dari dalamnya.


“Maafkan atas keterlambatan diriku Tuan. Aku baru saja menyelesaikan mengantarkan sebuah jiwa tadi” ucap pria yang baru muncul itu, yang ternyata merupakan Bari.


“Hem... Lalu, cepat lanjutkan rencana kita seperti yang sudah direncanakan” perintah Zen kepada bawahannya itu dan langsung mendapatkan anggukan dari Bari.


Bari kembali mulai menghilang dari pandangan Zen saat ini, karena dirinya akan menjalankan rencana yang sudah dibuat oleh Tuannya itu, untuk dilaksanakan oleh dirinya saat ini juga.


Melihat bawahannya itu sudah pergi, Zen yang masih duduk ditempatnya mulai menyandarkan dirinya ditempat dirinya menunggu itu. Dirinya saat ini hanya tinggal menanti jalannya rencana yang sudah dirinya rencanakan saja, yang dimana saat ini sedang dikerjakan oleh Bari.


"Ya... sekarang hanya tinggal menunggu saja" gumam Zen, yang mulai memejamkan matanya.


Kelly akhirnya kembali setelah mengurus semua administrasi yang diperlukan untuk perawatan Ibunya. Bahkan saat ini dirinya sudah duduk kembali disebelah Zen, sambil menantikan hasil pemeriksaan yang sedang dilakukan kepada Ibunya saat ini.

__ADS_1


Dengan penuh harap, saat ini Kelly dengan sabar menunggu waktu pemeriksaan Ibunya itu berakhir. Hingga akhirnya apa yang dirinya tunggu sedari tadi itu, akhirnya selesai setelah beberapa perawat sudah mendorong tempat tidur pasien yang ditempati oleh Ibunya.


“Nona Kelly...” tegur seseorang pria berpakaian dokter dan menggunakan masker, yang saat ini mulai menyapa Kelly.


“Ya saya sendiri..” Balas Kelly, yang menyahuti dokter yang keluar bersama Ibunya dari ruang pemeriksaan itu.


“Perkenalkan nama saya Dokter Bara. Saya adalah dokter yang akan merawat kondisi Ibu anda.” Ucapnya memperkenalkan diri.


“Ah... Salam kenal dokter Bara” ucap Kelly yang langsung menjabat tangan dari dokter tersebut.


Tidak seperti dokter yang sedang menyapa Kelly dan menghentikan langkahnya saat bertemu dengannya. Ibunya saat ini sudah dibawa menuju sebuah tempat saat ini. Tentu Kelly ingin mengikutinya, namun tindakannya itu sudah dihalangi oleh dokter yang bernama Bara itu.


“Tenang saja Nona Kelly. Ibu anda akan dibawa menuju ruang inap saat ini. Sebelum anda menyusulnya, bisakah saya memerlukan keberadaan anda dan Suami anda untuk ikut dengan saya, untuk menjelaskan tentang penyakit yang sedang dialami oleh Ibu anda” ucap Dokter Bara kepada Kelly.


Kelly tentu saja setuju untuk mengikuti perkataan dari dokter yang merawat Ibunya itu. Apalagi dirinya mendengar bahwa dokter tersebut akan menjelaskan tentang penyakit yang dialami oleh Ibunya, jadi dirinya juga tidak sabar untuk mendengarkannya.


Namun sebelum itu, dirinya harus meluruskan terlebih dahulu tentang kesalahpahaman tentang hubungan dirinya dengan suami dari sahabatnya itu. Karena dirinya takut bahwa nanti beberapa pihak memang menganggap Zen merupakan suaminya.


“Maafkan Dokter, tetapi pria ini bukan suamiku” ucap Kelly kemudian, disela-sela perjalanan mereka menuju ruangan dari dokter tersebut.


“Ah... jadi kalian masih pacaran ya... kalau begitu baiklah” ucap dokter Bara kembali. Tentu Kelly mencoba meluruskan kembali apa yang diucapkan oleh dokter tersebut, karena dirinya masih salah mengira tentang hubungan dirinya dengan Zen.


“Kami juga bukan sepasang kekasih dokter” balas Kelly kemudian.


“Oh... benarkah... Kasian juga diri anda Tuan, karena sepertinya diri anda hanya berada pada status Zona Pertemanan saja” ucap dokter bernama Bara itu kembali.


Tentu Kelly semakin membulatkan matanya karena dokter yang bersamanya masih salah paham dengan hubungan dirinya bersama Zen. Bahkan Zen yang biasanya cuek, saat ini mulai menatap dokter tersebut karena dirinya saat ini cukup bingung dengan perilaku dari dokter itu kepada dirinya.


Tentu mendapatkan sebuah tatapan dari Zen, dokter yang sengaja menggoda kedua insan yang sedang mengikuti dirinya itu, sengaja untuk tidak memperhatikan tatapannya. Hingga akhirnya mereka sudah sampai menuju ruangan dari dokter tersebut saat ini.


Kelly yang hendak meluruskan kembali kesalahpahaman dari dokter yang sedang diikutinya itu tentang hubungan dirinya dengan Zen, terpaksa harus mengurungkan niatnya. Karena memang saat ini mereka berdua mulai dipersilahkan masuk kedalam ruangan dari dokter tersebut saat ini.


“Silahkan duduk kalau begitu” ucap dokter itu, yang mempersilahkan kedua orang yang sudah berada didalam ruangannya, untuk duduk di kursi yang sudah disediakan untuk mereka. Sebelum dirinya menjelaskan tentang kondisi dari Ibu kandung Kelly.


Dokter bernama Bara itu juga sudah mulai mengambil tempatnya, setelah dirinya memperhatikan Zen dan kelly yang sudah duduk pada kursi mereka masing-masing. Dengan duduk dihadapan mereka berdua saat ini, akhirnya dokter bernama Bara itu mulai menatap kearah kelly.


“Kami berhasil mengidentifikasi penyakit Ibu anda.”

__ADS_1


__ADS_2