Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Pencuri Perhatian


__ADS_3

Dua orang yang sedang memasuki sebuah gedung yang sudah dihias sedemikian rupa, dan memperlihatkan kemegahan, kemewahan dan elegan dari semua dekorasi yang menghias seluruh gedung itu. Tetapi anehnya, malah mereka berdua lah yang saat ini menjadi perhatian umum saat kedatangan mereka ketempat tersebut.


Tentu siapa yang tidak mengenal sosok Vero yang menjadi bahan perhatian seluruh pihak yang berada di sana. Walaupun bisa dikatakan perusahaannya sering terkena masalah dan terus terancam bangkrut, tapi bisa dikatakan dirinya masihlah salah satu orang terkaya yang berada di negara ini.


Apalagi sosoknya yang terkenal sangat cantik, menjadi nilai tambah yang membuat dirinya semakin terkenal dimata beberapa pihak, yang saat ini sedang menatap kagum sosoknya dan sedang memasuki tempat itu bersama seorang pria.


“Apakah kalian tahu, Tuan Alfred Darkness dikabarkan akan datang ke acara ini?” ucap sebuah pihak yang sedang mengobrol, yang tidak sengaja pembicaraan mereka terdengar oleh Zen dan Vero.


Tentu kedua pihak itu cukup terkejut mendengar nama seorang pria yang mereka kenal sedang disebutkan namanya. Apalagi, Vero langsung membulatkan matanya saat mendengar kabar tersebut, karena dirinya baru mengetahui kabar yang baru saja dirinya dengar itu.


Zen juga demikian. Karena bisa dikatakan, dirinya juga tidak menyangka bahwa bawahannya itu sudah datang ke negara ini, tanpa memberitahukan dirinya terlebih dahulu. Memang, Zen sudah mengetahui maksud kedatangan bawahannya tersebut ke negara ini pada awalnya.


Namun dirinya tidak tahu, bahwa kedatangannya akan secara tiba-tiba dan tidak memberitahukannya. Sehingga Zen memutuskan untuk tetap tenang saja, karena dirinya tahu pasti bawahannya itu mempunyai alasan untuk melakukan semua itu.


“Apakah kamu mendengar perbincangan mereka, Zen?” bisik Vero yang saat ini masih menggandeng tangan dari Zen dan berjalan bersamanya, untuk mengkonfirmasi apa yang dirinya dengar dari beberapa pihak yang sedang berbincang ditempat tersebut.


“Ya... aku mendengarnya.” Balas Zen yang menjawab pertanyaan Istrinya itu.


“Lalu, apakah kabar itu benar?” tanya Vero kembali, yang seakan bertanya kepada pihak yang mengetahui semua informasi yang sedang terjadi saat ini.


Sebenarnya Zen tidak tahu sama sekali apakah kabar tersebut benar atau tidak. Namun saat dirinya mendengar tentang keberadaan Alfred tadi, dirinya mulai memeriksanya sendiri menggunakan kekuatannya, dan hasilnya memang benar bahwa pria itu saat ini berada di kota ini.


Apalagi keberadaannya yang akan datang ketempat ini bisa dikatakan cukup menghebohkan. Karena pihak yang memegang seluruh bisnis dari perusahaan terbesar di dunia ini, akan datang ketempat yang dipenuhi oleh berbagai pengusaha di negara ini, dan dipastikan mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengannya.


Jadi, beberapa pihak merasa sangat bersemangat dalam mencoba menanti kedatangan sosok yang besar itu, dan mencoba peruntungan mereka untuk sekedar mengobrol dengan dirinya, dan mungkin akan mendapatkan kesempatan untuk diajak kerja sama oleh sosok tersebut.


“Hmm.. mungkin. Terlebih lagi, jika seorang presiden di negara ini berada disini, dipastikan kabar itu mungkin benar” ucap Zen, sambil menunjuk sosok presiden dari negara ini, yang memang sedang mengobrol dengan berbagai pihak ditempatnya.


Melihat sosok yang sedang ditunjuk oleh Zen, membuat Vero semakin yakin akan kedatangan pihak penting itu ditempat ini. Namun dirinya mulai bingung saat ini, karena memang dirinya mulai memikirkan sebuah proposal yang mungkin bisa membuat dirinya bisa bekerja sama dengan pria yang sukses tersebut.


Vero tentu juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari cela agar dirinya dapat bekerja sama dengan pihak yang cukup besar namanya itu. Apalagi, dengan berbagai perusahaan yang besar dipimpinnya, dipastikan Vero akan mendapatkan sebuah keuntungan jika dirinya berhasil mengajak kerja sama pihak tersebut.


“Cih... kalau tahu begini, aku akan membuat beberapa proposal tadi sebelum datang ketempat ini. Apalagi ini adalah sebuah kesempatan langka untuk bertemu dengannya dan mungkin mengajaknya bekerja sama” ucap Vero yang memang sangat menyesali bahwa dirinya baru mendengar informasi tersebut.


Karena jika dirinya tahu bahwa pihak sebesar itu akan datang ketempat ini, dipastikan Vero akan mulai membuat proposal akan sesuatu, untuk memajukan perusahaannya dan menawarkan kerja sama tersebut kepada pihak Alfred yang akan datang ketempat ini.

__ADS_1


Tetapi sayangnya, dirinya tidak mempunyai apapun untuk ditunjukan kepadanya. Karena memang, sebuah perusahaan besar tidak akan menyetujui apapun jika ada pihak yang ingin bekerja sama dengan mereka, namun dirinya tidak menunjukan kejelasan dari program kerja sama yang akan dirinya tawarkan.


Maka dari itu, dirinya cukup menyayangkan bahwa dirinya baru mendengarkan informasi tersebut dan tidak bisa mempersiapkan berbagai hal untuk menggapai kesempatan besar yang mungkin dibawa oleh Alfred, disaat dirinya datang ketempat ini.


“Tenanglah. Pasti kamu akan memiliki kesempatan untuk melakukannya.” Ucap Zen yang saat ini semakin menggenggam erat tangan dari wanita yang bersamanya, dan mengajaknya menuju tempat dimana beberapa makanan mulai dihidangkan.


Bukannya Zen tidak ikut prihatin dengan kondisi Vero yang ingin melakukan sesuatu untuk mendapatkan kerja sama dari Alfred. Tetapi, cukup mudah baginya untuk membuat Istrinya itu menggapai apa yang dirinya inginkan, dengan kedatangan dari Alfred ketempat ini.


Apalagi, dimasa depan mungkin Vero yang akan memegang semua hal yang dirinya tidak pernah bayangkan untuk dirinya pegang. Karena bisa dikatakan semua hal yang dipegang oleh Alfred, merupakan milik suaminya yang menjadi warisan yang diturunkan oleh adik-adiknya.


Dan juga, berbagai makanan lezat yang sudah dihidangkan pada beberapa meja makan yang ditata secara prasmanan, lebih membuat Zen tertarik dari kedatangan bawahannya itu yang saat ini kedatangannya sangat dinantikan oleh beberapa pihak. Karena bisa dikatakan, mungkin mereka akan melakukan apapun untuk menjilat sosok Alfred yang akan datang ketempat ini.


"Lebih baik, mari kita menyantap makanan yang lezat ini. Apalagi, kamu belum makan sedari tadi bukan, karena kamu sangat sibuk didandani sedari tadi" ucap Zen yang saat ini sudah berada didepan beberapa makanan yang berada dihadapannya.


Memang Zen tidak akan memperdulikan hal lain selain tempat yang menyediakan makanan ditempat ini. Apalagi bisa dibilang, makanan yang sudah tersaji ditempat itu terlihat sangatlah lezat. Maka dari itu, dirinya lebih baik beranjak menuju ke sana daripada melihat Vero yang merasa sedikit murung ditempatnya.


Bahkan Vero yang belum sempat menjawab perkataan Zen tentang apa yang baru saja dirinya ucapkan tadi, harus terhalangi karena suaminya sudah mengambil sebuah piring dan bersiap untuk mengambil semua makanan yang tersedia ditempat tersebut.


“Apakah kamu mau?” tanya Zen, yang saat ini sudah mengambil piringnya dan bertanya kepada Vero yang masih setia menemaninya.


Zen mulai tersenyum senang dengan jawaban yang diberikan Istrinya. Maka dari itu, Zen mulai mengambil beberapa makanan yang sudah tersedia di sana, dan juga mengambilkan untuk Istrinya yang saat ini sudah menunjuk beberapa makanan yang ingin dirinya santap.


Memang tangan dari Vero bisa dikatakan cukup sibuk saat ini. Sebelah tangannya bisa dikatakan sedang memegang tas yang dibawanya, dan sebelahnya lagi digunakan untuk menggandeng lengan dari Zen yang tidak ingin dirinya dilepaskan.


Maka dari itu, dirinya menyuruh Zen untuk mengambil makanan untuk dirinya juga, pada piring yang diambilnya, sehingga mereka bisa makan bersama nanti pada tempat ini. Tetapi seperti yang diketahui Zen tidak akan berhenti mengisi piringnya dengan berbagai makanan yang diinginkan olehnya, hingga piringnya benar-benar penuh.


Masalahnya, apa yang sedang dirinya lakukan itu menjadi bahan perhatian saat ini. Karena bisa dibilang, untuk acara yang terlihat sangat formal itu, cukup aneh jika seorang pihak menunjukan sikapnya yang bisa dikatakan tidak semestinya dirinya tunjukan ditempat seperti ini.


“Aku ingin yang itu, Zen” ucap Vero yang kembali mulai menunjuk sebuah makanan, dan membuat Zen mulai mengambil makanan itu dan menaruh di piringnya.


Tentu Vero tidak memperdulikan pendapat orang dengan sikap dari suaminya. Bahkan wanita itu tidak mempermasalahkannya dan mereka seakan bahagia mulai memilih berbagai makanan yang saat ini sudah menumpuk pada dua buah piring yang dibawa oleh Zen.


Karena, Vero lebih senang melihat sosok pria yang tidak berperilaku secara pura-pura didepannya, hanya karena ingin mencuri perhatiannya. Apalagi, beberapa pihak yang seperti itu, mempunyai niat yang tidak baik saat mendekati dirinya, disaat mereka menggunakan cara yang penuh kepura-puraan tersebut.


“Nah... di sana kursi untuk kita, Zen. Lebih baik kita duduk dan memakan makanan kita di sana” ucap Vero yang mengajak Zen yang sudah puas mengambil makanannya dan membawanya menuju meja mereka.

__ADS_1


Memang dalam acara ini, semua tamu yang diundang sudah disediakan meja untuk mereka masing-masing. Jadi, saat ini Zen dan Vero mulai menuju kearah tempat yang disediakan untuk mereka oleh pihak yang membuat acara ditempat ini, dan akan memakan makanan mereka di sana.


Dengan tidak memperdulikan beberapa pihak yang masih menatap mereka dengan tatapan yang bisa dikatakan aneh. Saat ini sepasang suami istri itu mulai duduk ditempat mereka, dan mulai menikmati makanan yang sudah mereka ambil sebelumnya.


Tentu sebuah pemandangan sekali lagi mengejutkan beberapa pihak yang berada di sana. Karena bisa dikatakan Zen memakan makanannya seperti seorang yang sangat kelaparan. Bahkan makanan yang dirinya sudah ambil sangat banyak tadi, bisa dikatakan mulai berkurang dengan cepat saat ini.


Apalagi, tidak ada tamu yang mulai mengambil makanan mereka dan menyantapnya, karena mereka masih memfokuskan diri dalam menyambut sosok yang sangat besar namanya, yang akan datang ketempat ini. Maka dari itu, sangat wajar jika sosok Zen dan Vero menjadi bahan perhatian saat ini.


“Jangan terburu-buru memakan makananmu, Zen” ucap Vero, yang saat ini membantu membersihkan bibir dari suaminya yang terlihat ada bekas makanan.


Vero memang tidak mempermasalahkan sikap dari suaminya, yang sedang dirinya tunjukan kepada beberapa pihak yang berada ditempat ini. Walaupun bisa dikatakan tindakannya itu mempermalukan dirinya, namun Vero tetap tidak peduli dengan pandangan orang kepada mereka.


Apalagi, dirinya juga ikut bersemangat dalam menyantap makanan yang terus di suapkan oleh Zen kepadanya. Karena bisa dibilang, dirinya lebih menikmati waktu kebersamaan dengan suaminya itu, dari pada memperhatikan keadaan sekitar dimana tempat mereka berada saat ini.


Bahkan karena kegiatan yang sedang mereka lakukan itu, Vero sampai melupakan sejenak bahwa ada sosok yang sangat penting yang akan datang ketempat ini. Namun dirinya tidak memperdulikannya dan terus menikmati waktunya bersama Zen.


“Oh... kamu juga datang, Vero?” Tetapi disaat mereka sedang asik menyantap makanan mereka, meja tempat mereka berada saat ini, mulai didatangi oleh seorang pihak.


Sosok pria yang bisa terbilang tampan, saat ini dengan sikap berwibawa mulai mendekat kearah tempat dimana Vero dan Zen berada. Tentu tujuannya cuma satu, yaitu membuat obsesinya mendapatkan wanita tersebut, harus berhasil dirinya dapatkan.


Tetapi sayangnya, karena Vero cukup sibuk dengan makanan yang sedang dikunyah olehnya, Vero tidak menyahuti pihak yang mendekati dirinya saat ini. Karena bisa dikatakan, pihak itu sangatlah tidak penting bagi dirinya dan lebih baik menghiraukannya saja dan menikmati waktunya bersama Zen.


Bahkan, keheningan sempat terjadi ditempat tersebut, karena memang pria yang menyapa Vero ditempat tersebut, seakan terabaikan oleh dirinya. Maka dari itu, pria yang terlihat menahan rasa kesalnya itu, berusaha untuk setidaknya membuat wanita itu menghiraukannya.


“Ah.. aku dengar kamu sudah menikah ya?” tanyanya sekali lagi, yang tidak memperdulikan sikap Vero yang tidak menyahuti dirinya.


Kabar dirinya sudah menikah, tentu membuat pria itu sangat murka mendengarnya. Apalagi, dirinya sudah mengejar sosok Vero sudah sejak lama, namun wanita tersebut tidak pernah menghiraukan perasaan yang dirinya tunjukan itu kepadanya.


Maka dari itu, disaat dirinya mendengar kabar tentang Vero yang datang ketempat ini bersama suaminya, dirinya ingin memastikan secara langsung siapa pria yang berani-beraninya mencuri wanita itu dari dirinya, dan mungkin akan membuatnya mendapatkan sebuah pelajaran atas tindakannya itu.


“Tentu saja. Perkenalkan, namanya Zen Gwillyn, Suamiku” balas Vero dengan bangga memperkenalkan suaminya kepada pria yang menanyakan tentang status perkawinannya itu.


Tentu karena dirinya ingin memperkenalkan sosok Zen yang merupakan suaminya, membuat Vero mulai menjawab pertanyaan pria itu kepadanya. Walaupun sebenarnya malas dirinya melakukannya, tetapi disaat Vero melihat kesempatan memperkenalkan suaminya, Vero langsung melakukannya.


Apalagi, wajah pria yang saat ini sedang berada dimeja tempat mereka berada, bisa dikatakan cukup merah karena menahan rasa amarahnya, melihat kemesraan yang ditunjukan Vero setelah dirinya mengkonfirmasi bahwa Zen merupakan suaminya.

__ADS_1


“Ya... aku ingat sekarang. Bukankah kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Apalagi dahulu dirinya merupakan Bodyguard dirimu, Bukan?”


__ADS_2