Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Teman Baru


__ADS_3

Amaterasu masih duduk ditempatnya, dengan ekspresi yang menandakan bahwa dirinya sangat kelelahan saat ini. Tidak seperti biasanya dirinya seperti itu, karena memang dirinya merasa cukup lelah hanya dengan berbincang dengan seorang pria tadi.


Tentu pria tersebut sudah meninggalkan tempatnya sedari tadi, setelah dirinya sudah menghabiskan makanan penutupnya. Dengan kesepakatan yang cukup melelahkan yang harus dirinya diskusikan tadi, membuatnya saat ini resmi bekerja sama dengan pria tersebut.


Walaupun pria itu tidak akan sepenuhnya membantunya, tetapi kerja sama yang mereka lakukan sudah dianggap cukup, jika dirinya bisa membantu Amaterasu dalam menghalangi tindakan yang dilakukan oleh para Vampire, yang dimana kegiatan mereka semakin tidak terkendali saat ini.


“Apakah dirinya benar-benar tidak melakukan sesuatu kepada Anda, Nona Amaterasu? Karena saat ini anda terlihat seperti seseorang yang baru saja dikalahkan” Kata bawahannya, yang saat ini sudah memasuki ruangan tempat dirinya sedang berbincang tadi.


Melihat kepergian Zen tadi, tentu semua penjaga dari Amaterasu yang masih setia menunggu pertemuan yang dilakukan dewi yang mereka layani dengan Zen, mulai memasuki ruangan tempat dimana Amaterasu berada, setelah sosok Zen keluar dari dalam ruangan tersebut.


“Ya... aku tidak apa-apa. Hanya saja sangat sulit mengajak berbicara dengan seseorang yang memang tidak memiliki sebuah tujuan hidup” ucap Amaterasu cukup kesal mengingat percakapannya dengan Zen tadi.


Saat dirinya menanyakan apakah Zen mempunyai rencana, Zen berkata dirinya tidak memilikinya. Tetapi setelah dirinya sudah menyusun sebuah rencana untuk Zen, pria itu malah tidak mau mengikuti rencananya. Jadi, Amaterasu bingung bagaiman harus menanggapi kerja sama mereka itu.


Hingga akhirnya kerja sama mereka itu, hanya menjadikan kerja sama saling memberikan informasi saja kepada satu sama lain. Sedangkan untuk pergerakan untuk melawan para Vampire, mereka memutuskan akan melakukannya dengan cara masing-masing.


“Sudahlah. Aku akan melaporkan hasil kerjaku ini, kepada Ayahku dulu” ucap Amaterasu yang mulai menyeka mulutnya setelah menghabiskan makanannya, dan mulai meninggalkan tempat tersebut.


Disisi lain, Zen yang sedang mengemudi dengan nyaman, entah mengapa mulai merasakan gatal pada telinganya. Entah mengapa telinganya bisa merasakan rasa gatal yang cukup mengganggunya itu, namun dirinya sebisa mungkin mencoba menghilangkannya saat ini.


Sambil mencoba menghilangkan rasa gatal tersebut, Zen saat ini berkendara dengan amat santai untuk keluar dari wilayah antah berantah dimana dirinya berada saat ini. Karena memang, tempat dimana dirinya bertemu dengan Amaterasu tadi, bisa dikatakan sangat amat terpencil.


“Dan juga, mengapa dirinya ingin bertemu ditempat yang sangat jauh dari pemukiman?” ucap Zen yang cukup kesal, karena memang waktu tempuh untuk kembali menuju kediaman yang ditinggalinya, bisa dikatakan cukup jauh saat ini.


Apalagi saat dirinya keluar dari wilayah yang keberadaan penduduknya bisa dikatakan tidak ada, saat ini dirinya malah disambut dengan kemacetan kendaraan yang menghalangi perjalanannya. Karena memang saat ini dirinya kembali disaat jam kerja baru saja usai.


Jadi dengan menahan rasa kesal yang dirinya rasakan saat ini, Zen mencoba untuk sabar dalam menunggu kemacetan yang dirinya sedang lalui. Apalagi dirinya cukup menyesali keputusan yang dirinya ambil tadi, saat meminjam kendaraan dari Vero.


“Hahh... lain kali aku tidak akan membawa kendaraan lagi” balas Zen yang kesal, karena perjalanannya saat ini sudah terganggu.

__ADS_1


Cukup lama dirinya terjebak didalam kemacetan yang terjadi itu, hingga akhirnya dirinya berhasil tiba dikediaman dari Vero dengan selamat. Tentu dengan wajahnya yang terlihat kesal dan kelelahan, saat ini dirinya sudah masuk kedalamnya.


“Oh... kamu baru kembali?” tanya Vero yang saat ini berada di kediamannya.


“Ya...” balas Zen yang entah mengapa tenaganya langsung habis, dan membuang dirinya menuju keatas sebuah sofa pada ruang tamu dari kediaman Vero.


Yang Zen tidak sadari, tenyata saat ini didalam kediaman dari Vero ada seorang wanita yang memang sengaja diundang oleh Vero, untuk makan malam dikediamannya. Bahkan Vero mengijinkan wanita itu untuk menginap dikediamannya malam ini.


Karena memang, wanita itu baru saja sampai di kota ini dan tidak memiliki kediaman untuk tempat dirinya menginap. Apalagi skandal yang dirinya alami, membuat wanita itu tidak merasa aman saat dirinya menginap disebuah tempat seperti penginapan atau hotel.


“Ah... Tuan Zen sudah pulang, apakah anda ingin langsung makan malam?” tanya Bibi Leni yang saat ini sudah keluar dari dapur, dan menyambut kedatangan Zen setelah melihat keberadaannya.


“Apakah Bibi sudah memasakkan sesuatu?” tanya Zen kemudian, yang entah langsung merasa bersemangat karena mendengar tentang kata makanan.


Entah dimana semua makanan yang sudah dimakan oleh Zen tadi pergi. Karena memang saat pertemuannya dengan Santi hingga Amaterasu, dirinya disuguhi banyak sekali makanan oleh mereka. Bahkan Zen menghabiskan semua makanan tersebut, dan saat ini masih terlihat seperti orang yang kelaparan.


Apalagi dirinya seakan tidak pernah kenyang dan saat ini sudah menantikan makanan yang sudah dimasak oleh Bibi Leni, yang dimana saat ini Bibi Leni sudah menghidangkan hasil masakannya di atas meja makan dari kediaman ini.


“Aku akan melakukannya nanti. Lebih baik aku makan malam dulu, untuk menghilangkan rasa lapar yang aku alami, karena kegiatan yang membuatku sangat kelelahan tadi” balas Zen yang tidak memperdulikan perkataan dari Vero, yang dilontarkan kepadanya itu.


Vero yang saat ini sedang menggendong Fenrir pada gendongannya, hanya menghela nafasnya saja mendengar jawaban yang diberikan oleh suami bayarannya itu. Tetapi berbeda dengan wanita yang saat ini berada didekat Vero dan menjadi tamu dari kediaman ini.


Wanita tersebut saat ini sangat penasaran dengan sosok dari Zen sebenarnya, saat pria itu memasuki kediaman Vero dan bertindak seenaknya pada kediamannya. Apalagi Vero terlihat tidak mempermasalahkan keberadaan dari pria yang bertindak seenaknya itu.


Bahkan dirinya semakin bingung dengan identitas Zen yang sebenarnya, karena memang saat berada di perusahaan dari Vero tadi, dirinya merupakan seorang yang menjadi bodyguard dari Vero. Apalagi memang Vero sangat dikenal sebagai wanita yang cukup membenci keberadaan pria yang berada disekitarnya.


“Ahh.. Ana, perkenalkan ini suamiku, Zen Gwillyn” ucap Vero yang memperkenalkan wanita itu kepada Zen, karena memang dirinya belum memperkenalkan mereka berdua secara langsung.


“Dan Zen, ini adalah Temanku, Ana” ucap Vero penuh penekanan kepada Zen.

__ADS_1


Tentu Vero ingin menunjukan bahwa dirinya mempunyai teman selain Kelly kepada Zen saat ini, untuk membungkam dirinya yang mengatakan bahwa temannya hanya sedikit. Jadi, dirinya saat ini memperkenalkan teman barunya itu kepadanya.


“Halo.. aku Zen.” Balas Zen yang terkesan cuek, karena memang dirinya hanya berfokus untuk mengambil nasi beserta lauk yang sudah tersedia dihadapannya.


Mendengar itu, tentu wanita yang mempunyai nama asli Anabelle itu, cukup terkejut mendengar fakta yang baru saja dirinya dengar dari Vero. Siapa yang tidak mengenal Veronica Safira, apalagi kabar tentang dirinya yang membenci seorang pria, sudah menjadi rahasia umum bagi beberapa pihak.


Tetapi tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja wanita yang memperkerjakan dirinya itu, mengatakan bahwa pria didepannya merupakan suaminya. Jadi, Anabelle masih terkejut dengan kenyataan tersebut, karena dirinya tidak menyangka wanita seperti Vero akan menikah.


“S-Salam kenal, Zen” balas Anabelle yang menyahuti perkenalan yang dilakukan oleh Zen.


Tentu tidak ada jawaban yang terdengar dari Zen atas balasan yang diutarakan oleh Anabelle itu, kecuali sebuah suara piring dan sendok yang mulai beradu, karena saat ini Zen sudah menyantap makanannya dengan lahap. Bahkan Vero saat ini hanya menggelengkan kepalanya atas sifat suami bayarannya itu.


“Ayo kita makan malam, Ana” ucap Vero kemudian, yang sudah menurunkan Fenrir dari gendongannya dan mulai mengambil piringnya dan mengikuti kegiatan Zen saat ini.


Tentu Anabelle yang sebenarnya canggung berada di sana, juga mulai mengikuti kegiatan mereka. Setelah Bibi Leni juga mulai ikut duduk dimeja makan tempat mereka berada, dan ikut makan malam bersama mereka. Apalagi Vero juga tidak ingin, semua makanan yang sudah tersedia akan dihabiskan oleh Zen, karena mereka tidak kunjung menyantap makan malam mereka.


“Ah.. Tuan, bisakah aku juga meminta makanan kepada anda. Makanan anjing yang diberikan kepadaku rasanya tidak terlalu enak” ucap Fenrir yang saat ini langsung meringkuk di kaki dari Zen.


Zen yang mendengarnya hanya mengalirkan sedikit aura hitamnya kepada serigala tersebut, agar dirinya juga bisa ikut menyantap sesuatu bersama dengan mereka saat ini. Apalagi Zen tidak terlalu mempermasalahkan untuk memberikan serigala itu aura kegelapan miliknya.


Karena memang, Zen bisa dikatakan cukup mudah memproduksinya dan tidak terlalu kerepotan jika memang ada yang ingin meminta aura tersebut. Termasuk Fenrir yang saat ini sudang sangat senang dengan aura yang sedang diserapnya.


“Ah.. benar aku hampir lupa. Fenrir, aku mempunyai tugas untukmu” Kata Zen kepada serigala yang sudah menjadi bawahannya tersebut.


“Aku dengan senang hati akan menjalani perintah anda, Tuan. Jadi, silahkan katakan apa yang dirimu ingin aku lakukan?” katanya.


“Nanti aku beritahu. Jadi nikmatilah aura kegelapan yang aku berikan itu sampai puas” balas Zen kemudian, dan membuat serigala itu langsung mengangguk menanggapi perintah tuannya.


Tentu tidak ada hal spesial yang terjadi saat acara makan malam itu berlangsung, karena memang saat ini beberapa dari mereka disibukan dengan memperhatikan acara mukbang yang sedang dilakukan oleh Zen saat ini. Apalagi mereka langsung merasa kenyang saat memperhatikan kegiatan dari Zen, yang sangat menikmati santapan yang sedang dirinya santap.

__ADS_1


Namun disisi lain, Zen yang memang masih menikmati makanannya juga mulai merasa kebingungan saat ini. Apalagi, sesuatu yang dirinya rasakan beberapa hari ini seakan tiba-tiba saja menghilang dari tempat mereka berada sebelumnya.


“Hm... kemana perginya para pengintai itu?”


__ADS_2