
Beberapa hari akhirnya berlalu dengan cepat. Dalam beberapa hari yang sudah berlalu itu, memang tidak ada sesuatu yang spesial yang terjadi pada kehidupan disekitar Zen, kecuali dirinya yang sudah membantu pindahan dari Kelly menuju kediaman barunya.
Apalagi, Kelly sudah meminta tolong kepada Zen, untuk memastikan bahwa kediaman barunya tidak memiliki sesuatu yang menyimpang didalamnya. Karena memang, dirinya tidak ingin kejadian pada kediaman lamanya akan terulang kembali.
Dan juga, saat ini Ibu dari Kelly sudah diperbolehkan untuk kembali menuju kediaman miliknya, dan membuat Kelly dan Ibunya akhirnya sudah tinggal berdua pada kediaman milik Kelly yang sudah dirinya persiapkan dari jauh-jauh hari.
Walaupun Ibunya tetap harus menjalani sebuah terapi rutin, akhirnya mimpi dari Kelly bisa terwujud yaitu Ibunya sudah sembuh dari penyakit yang dialaminya, dan mereka berdua bisa tinggal bersama kembali. Jadi, dirinya harus memastikan bahwa kediamannya akan aman ditinggali oleh mereka berdua.
“Kalau begitu, aku berangkat Ibu” ucap Kelly yang sedang berpamitan kepada Ibunya, karena dirinya akan berangkat menuju tempat dimana dirinya bekerja.
“Iya, berhati-hatilah” balas Ibunya yang saat ini mulai mengantarkan kepergian Putrinya itu.
Tentu ada perasaan bahagia bagi Kelly, yang dimana saat ini ada seseorang yang mengantarkan kepergiannya untuk bekerja, dan akan menyambutnya dengan hangat dikala dirinya akan kembali pulang. Maka dari itu, dirinya merasa sangat senang bahwa akhirnya keinginannya itu mulai terwujud.
"Baiklah, Ibu" ucap Kelly yang akhirnya benar-benar sudah meninggalkan kediamannya.
Kelly memang tidak merasa khawatir meninggalkan Ibunya pada kediaman barunya. Padahal bisa dikatakan dirinya baru saja sembuh dan keluar dari sebuah rumah sakit tempat dimana dirinya dirawat sebelumnya. Karena memang, dirinya sudah membeli sebuah kediaman yang cukup dekat dari kediaman milik Vero.
Jadi, jika ada apa-apa dengan Ibunya, setidaknya masih ada Bibi Leni yang selalu menemani Ibunya pada kediaman miliknya. Karena bisa dikatakan, setelah Bibi Leni selesai menyelesaikan tugasnya pada kediaman dari Vero, dirinya akan langsung datang menuju kediaman dari Kelly untuk menemani Ibunya.
Apalagi Bibi Leni merasa senang bahwa dirinya saat ini sudah memiliki teman, untuk saling bercengkrama bersama. Maka dari itu, Bibi Leni dengan senang hati akan menemani Lenneth yang kondisinya baru sembuh itu dan menjaga keberadaannya disaat dirinya ditinggalkan bekerja oleh putrinya.
“Oh... kamu sudah tiba? Apakah kamu sudah sarapan?” ucap Vero kemudian, yang menyambut sahabatnya itu saat dirinya tiba dikediamannya.
“Aku sudah sarapan tadi, Ver. Ibuku sudah memasakkan sarapan untuk diriku tadi” balas Kelly yang menjawab pertanyaan sahabatnya itu dengan nada yang bisa terlihat jelas bahwa dirinya sangat bahagia.
Memang karena mereka sudah tinggal berdekatan, atau bisa dikatakan tetanggaan. Kelly sekarang akan berangkat bersama Vero untuk menuju perusaan milik Vero bersama. Karena memang, menurut Kelly tindakannya itu lebih efisien untuk dilakukan.
Apalagi, saat ini mereka akan beranjak bersama menuju sebuah lokasi yang yang dikhususkan untuk merekam sebuah film. Karena hari ini, tepat dimana Vero akan memulai proses syuting dari series yang akan dirinya produksi dan akan ditayangkan pada sebuah platform besar di dunia ini.
Dengan sebuah naskah yang sudah ditulis dengan apik oleh Anabelle sendiri, lalu kru produksi dan beberapa pemeran yang sudah mereka dapatkan dan cocok dalam proses tersebut, akhirnya proses syuting yang sudah mereka rencanakan akhirnya bisa terlaksana juga.
“Lalu, dimana Anabelle? tumben aku tidak melihat keberadaanya” tanya Kelly kemudian, yang tidak menemukan sosok wanita itu pada kediaman dari Vero.
“Dirinya sudah berangkat pagi-pagi sekali. Karena dirinya ingin memeriksa sekali lagi, seluruh set yang akan digunakan oleh dirinya untuk mengambil gambar nanti” balas Vero menjawab perkataan dari sahabatnya itu.
Memang rumah produksi milik Vero mempunyai sebuah studio sendiri. Jadi, mereka cukup dapat menghemat biaya yang mereka keluarkan untuk menemukan sebuah set syuting yang akan mereka gunakan. Walaupun dirinya harus merombak sepenuhnya studio miliknya itu, karena selama ini hanya digunakan untuk syuting sinetron yang ditayangkan pada stasiun televisi miliknya sendiri.
__ADS_1
Apalagi dengan dana yang sangat besar untuk memproduksi series yang akan mereka produksi tersebut, Vero bahkan sudah membangun berbagai set yang didukung oleh beragam green screen untuk menyempurnakan hasil syuting yang akan mereka lakukan, dan akan dimulai hari ini.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat” namun bukan kedua wanita itu yang saat ini mulai berkata sesuatu. Karena saat ini Zen yang sudah menyelesaikan sarapannya dan sudah bersiap, akhirnya mulai mendekat kearah mereka berdua.
“Oh... kamu sudah selesai sarapan?” tanya Vero, yang mendapati Zen sudah bersiap dan akan mengajak mereka untuk beranjak dari sana.
“Tentu saja sudah. Kalau begitu, ayo bersiaplah dengan cepat, karena aku tidak sabar melihat sebuah proses syuting” ucap Zen yang entah mengapa sangat bersemangat.
Sikap Zen yang bisa dikatakan sangat bersemangat, memanglah cukup aneh bagi beberapa pihak. Karena seperti yang diketahui, pria itu hanya bersemangat dalam hal makan dan menyiksa orang saja. Namun berbeda dengan saat ini, yang dimana Zen sangat bersemangat dalam mengikuti proses syuting yang akan dilakukan oleh Anabelle.
Karena bisa dibilang, sebagian kecil dari ide dari naskah yang dibuat oleh Anabelle bisa dikatakan berasal dari Zen, saat mereka melakukan proses pra produksi yang sudah dilakukan oleh Vero dahulu. Memang awalnya Vero sudah membuat konsep dari sesuatu yang akan dirinya produksi.
Bahkan sutradara yang seharusnya menggarap projek miliknya, sudah membuat sebuah naskah dari konsep yang menurutnya akan meledak dipasaran itu. Namun, karena keluarnya sutradara itu, akhirnya seluruh proses mulai dirombak oleh Anabelle selaku sutradara baru.
Dan disitulah Zen masuk, yang memberikan beberapa ide karena memang konsep dari sesuatu yang sedang mereka produksi, sangat diminati oleh Zen. Karena bisa dikatakan, dirinya setidaknya mampu memberikan beberapa ide yang menurut Anabelle cukup bagus.
“Lalu, apakah kamu sudah menghubungi teman-temanmu, Zen?” tanya Vero kemudian, karena memang Vero bekerja sama dengan sebuah pihak, yang berasal dari kenalan Zen untuk membantu proses syuting yang akan mereka lakukan.
“Tentu saja aku sudah menghubungi mereka. Bahkan mereka sudah ada di set syuting saat ini” balas Zen.
Mendengar itu, akhirnya Vero hanya mengangguk saja mendengar perkataannya. Hingga akhirnya, mereka bertiga yang sudah berpamitan kepada Bibi Leni, mulai menuju kearah tempat tujuan mereka yaitu studio yang dimiliki oleh rumah produksi milik Vero.
Tentu aura yang sangat menakutkan, mulai terasa disaat beberapa orang mulai mendekati area tersebut. Bahkan, beberapa dari mereka saat ini merasa tidak berani mendekat kearah tempat dimana beberapa sosok itu berada. Karena bisa dikatakan, penampilan mereka saja sudah dapat membuat beberapa pihak ketakutan.
“GrhhgGgaggahjjj”
Dan begitulah suara tidak jelas yang dikeluarkan oleh beberapa pihak, yang saat ini keberadaan mereka mulai memenuhi gedung perkantoran tersebut. Hingga akhirnya, beberapa langkah kaki akhirnya mendekat kearah mereka dengan santai.
Anehnya, pihak yang mendekat kearah sosok yang menyeramkan itu, sama sekali tidak takut dengan keberadaan para sosok tersebut. Apalagi salah satu diantara mereka cukup senang, melihat apa yang sedang dirinya saksikan berada ditempat tersebut.
“Bagaimana?” ucap Zen yang saat ini sudah mendekat kearah salah satu bawahannya, dan menunjukan sosok mereka kepada Vero dan Kelly.
“Wah... mereka sangat sempurna, Zen” balas Vero kemudian, yang sangat mengapresiasi apa yang baru saja dirinya lihat ditempat tersebut.
Saat ini, ditempat set yang akan dijadikan lokasi syuting dari series yang akan diproduksi oleh Vero. Sudah terdapat banyak sekali pemeran pembantu, yang akan melengkapi seluruh proses syuting yang akan dilakukan ditempat ini.
Pihak tersebut merupakan sosok yang dikenal sebagai Zombie, yang Zen bawa langsung dari Neraka untuk membantu proses syuting ditempat ini. Apalagi memang Zen sudah berencana melakukan hal ini sejak lama, untuk menunjukan seluruh bawahannya yang sangat amat menyeramkan pada khalayak umum.
__ADS_1
Karena bisa dikatakan, menunjukan sebuah rasa takut dan mencekam kepada beberapa pihak, adalah termasuk sebuah kesenangan bagi Zen. Jadi, dirinya secara langsung mengirim bawahannya yang menganggur di Neraka untuk datang ketempat ini untuk membantunya mewujudkan mimpinya itu.
“Dimana kamu menemukan orang-orang berbakat seperti ini, Zen?” tanya Anabelle yang saat ini mulai ikut dalam perbincangan tersebut, setelah dirinya mulai bergabung dengan keberadaan teman-temannya saat ini.
“Tentu saja, temanku merupakan penggiat sopl... cold... con....”
“Cosplay maksudmu?” ucap Kelly membenarkan perkataan Zen.
“Ya, Cosplay. Mereka merupakan penggiat Cosplay” balas Zen.
Memang pihak yang berperan menjadi Zombie yang dibawa oleh Zen, memanglah sangat amat terlihat seperti itu. Bahkan beberapa dari mereka, terlihat sangat berbeda dari Zombie-Zombie yang merupakan hasil dari sebuah riasan make up.
Karena mereka bisa dikatakan sangat amat nyata. Apalagi beberapa dari mereka ada yang tidak mempunyai beberapa bagian tubuh, bahkan ada yang isi perutnya benar-benar terlihat seperti keluar dari dalam tubuhnya, yang membuat kesan nyata itu sangat terlihat sangat mengagumkan bagi semua pihak yang tidak mengetahui kebenaran tentang jati diri mereka.
Apalagi, bawahan milik Zen yang seperti mereka sangat banyak. Jadi cukup mudah dirinya membawa mereka ketempat ini, tanpa mengganggu proses jalannya berbagai hal yang terjadi pada neraka tempat dimana mereka berkerja. Karena bisa dikatakan, yang dibawa Zen ketempat ini adalah bawahannya yang sedang tidak bekerja.
“Tapi, sepertinya mereka masih merasa malu di lokasi syuting, Zen. Karena mereka terlihat malu-malu jika didekati oleh beberapa pihak” balas Anabelle kembali.
Zombie yang merupakan Undead yang dibawa oleh Zen, memang diperintahkan oleh dirinya agar tidak mengganggu suasana yang ada ditempat ini. Maka dari itu, mereka terlihat seperti seorang pemalu yang berusaha menghindar jika diajak mengobrol dan didekati oleh beberapa pihak.
Jadi, cukup wajar jika beberapa pihak menganggap mereka pemalu. Karena instruksi Zen yang dirinya berikan kepada mereka, akhirnya membuat mereka seperti itu. Bahkan, Zen juga lupa untuk melakukan sesuatu, karena bisa dibilang mereka juga tidak akan mendengarkan beberapa pihak, yang memang akan menyuruh mereka melakukan berbagai hal kelak.
“Ah.. aku lupa. Regan kemari” teriak Zen, memanggil salah satu Zombie yang berada di sana.
“Siap, ada apa Tuan?” balas bawahannya yang merasa sangat bersemangat dipanggil oleh Zen.
“Cih... bukankah aku bilang, kita merupakan teman, bukan atasan dan bawahan. Jadi, anggap diriku teman.” Bisik Zen, yang membenarkan perilaku bawahannya itu, karena dirinya sepertinya lupa dengan perintah dari Zen.
Memang Zen sudah menyuruh bawahannya agar menganggap dirinya merupakan teman dari mereka. Karena bisa dibilang, Zen masihlah menyembunyikan identitasnya. Dan bisa dikatakan cukup aneh, jika beberapa pihak akan terus memanggilnya dengan sebutan Tuan.
“Ah... maafkan aku Tu-.. maksudku Z-Zen” balas bawahannya itu yang mulai merasa tidak enak, karena memanggil secara langsung nama dari Tuannya.
“Bagus. Dan juga, berperilaku lah seperti apa yang sudah aku beritahukan kepada kalian” balas Zen sekali lagi.
“Tu- ahh ka-kamu bisa tenang saja. Karena kami lebih menyeramkan dari orang-orang yang kami tonton dan harus berekspresi seperti mereka” balas Undead yang bernama Regan tersebut yang menjawab perkataan dari Zen.
Memang Zen sudah memperlihatkan bagaimana mereka harus berperilaku saat mulai bertindak didepan sebuah kamera kepada bawahannya. Apalagi, sebenarnya Zen tidak perlu risau, bahwa tingkat keseraman dari mereka, dipastikan akan sangat amat melebihi dari Zombie yang mereka saksikan sebagai referensi tersebut.
__ADS_1
Namun, yang menjadi masalah, Zen belum sempat mengubah wewenang miliknya, agar para bawahannya itu mau mengikuti perkataan dari Anabelle. Maka dari itu, sedari tadi mereka hanya acuh dan menghindari beberapa pihak yang mencoba mendekati diri mereka.
“Baiklah kalau begitu. Untuk sementara, perintah dari wanita ini akan menjadi perintah yang harus dirimu patuhi, oke”