Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Keberangkatan


__ADS_3

Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh beberapa pihak akhirnya tiba. Karena hari ini, tepat hari kepergian Zen, Vero dan Bibi Leni menuju Kerajaan Gizeweith, kerajaan milik Zen. Kesibukan sudah mulai terlihat dari kediaman Vero saat ini, yang dimana mereka sudah bersiap untuk beranjak dari sana.


Semua persiapan mereka bertiga sudahlah selesai diurus semuanya. Jadi, hari ini mereka tinggal langsung berangkat menuju negara tempat tujuan mereka, untuk menghadiri sebuah acara yang sudah dipersiapkan untuk mereka di sana.


"Apa kamu yakin aku tidak perlu mengantar kalian menuju bandara, Ver?" tanya sahabatnya yang saat ini akan mengantarkan kepergian ketiga orang tersebut.


Kelly juga sudah berada dikediaman Vero bersama Ibunya. Tentu mereka berada di sana untuk mengantarkan kepergian Vero dan Zen yang mereka ketahui akan melakukan sebuah bulan madu di sana, walaupun bisa dikatakan Lenneth sudah mengetahui pasti tentang maksud perjalanan mereka saat ini.


"Tidak perlu, Kel. Aku akan berangkat bersama sopir pribadiku saja untuk menuju ke sana. Apalagi, kamu harus bekerja hari ini bukan?" Balas Vero yang menolak usulan sahabatnya itu yang ingin mengantarkannya menuju bandara.


Tentu saja hingga saat ini Kelly sama sekali tidak mengetahui status sebenarnya dari Zen. Karena bisa dikatakan, Zen mengharapkan bahwa statusnya itu tetap tersembunyi dan tidak diketahui oleh siapapun, termasuk Kelly yang merupakan sahabat baik Istrinya.


Maka dari itu, ekspresi wajahnya seakan berat melihat kepergian sahabatnya dengan suaminya itu, karena dirinya mulai membayangkan kegiatan membahagiakan dari sahabatnya dengan pria yang dirinya cintai itu, yang bisa dikatakan dirinya ketahui pergi berbulan madu.


"Semoga bulan madu kalian membahagiakan. Dan juga, Bibi mengharapkan sebuah kabar bahagia disaat kalian sudah menyelesaikannya" ucap Lenneth kepada kedua pasangan yang akan pergi tersebut.


Memang berbeda dengan putrinya, Lenneth sudah mengetahui maksud kepergian mereka berdua yang sebenarnya. Apalagi kepergian mereka menuju Kerajaan yang diciptakan oleh Tuannya, dan pemberitaan yang masif atas kerajaan itu membuat Lenneth sudah memastikan apa yang akan mereka lakukan di sana.


Lenneth tentu saja ikut merasa senang dengan kepergian mereka itu. Apalagi, apa yang akan mereka lalui nanti di sana, akan memastikan bahwa mereka berdua akan menjadi sepasang suami istri yang sah dimata beberapa pihak yang akan menyaksikan kejadian sakral menurutnya itu.


Tentu dirinya sebenarnya ingin melihatnya secara langsung, tetapi tetap saja sepertinya Zen masih ingin menyembunyikan identitasnya termasuk kepada putrinya. Maka dari itu, dirinya hanya bisa berharap bahwa kedua pasangan itu bisa bahagia dengan kegiatan yang akan mereka lakukan nanti.


Apalagi, dirinya juga sudah merasa senang bahwa salah satu orang yang seharusnya dirinya layani setelah kepergian tuannya yang lama, kisah cintanya tidak gagal dan saat ini memiliki pasangan yang sangat mencintai dirinya dengan sangat tulus.


"Terima kasih, Bibi Lenneth" ucap Vero kepada Ibu sahabatnya itu saat melepaskan kepergiannya itu.


"Ya... dan berhati-hatilah dalam perjalanan kalian" balas Kelly kemudian yang menyahuti perkataan Vero yang akan beranjak dari tempatnya.


Vero hanya mengangguk saja untuk menjawab perkataan yang dirinya dengar dari sahabatnya itu, hingga akhirnya barang-barang bawaan mereka saat ini sudah Zen bawa masuk kedalam mobil yang akan mengantarkan kepergian mereka menuju bandara.


Bisa terlihat, Vero juga sepertinya mulai mengikuti perkataan Zen. Karena barang bawaan dirinya bisa dikatakan sangat sedikit dari apa yang dirinya rencanakan untuk bawa menuju kerajaannya pada awalnya. Bibi Leni juga demikian, dirinya juga tidak membawa barang bawaan yang banyak pada dirinya.

__ADS_1


Apalagi, Zen sudah meyakinkan mereka bahwa dipastikan apa yang mereka mau, bisa mereka dapatkan di kerajaannya. Jadi, mereka saat ini pergi dengan barang bawaan yang sangat amat sedikit dan mungkin jika mereka kekurangan sesuatu mereka bisa membelinya pada tempat tujuan mereka nanti.


"Baiklah, kalau begitu kami berangkat sekarang" ucap Vero yang sudah bersiap beranjak dari kediamannya dan bersiap memeluk Lenneth dan Kelly sebelum dirinya akan berangkat.


"Berhati-hatilah. Dan juga, kalian harus ingat bahwa Leni akan bersama dengan kalian" ucap Lenneth agar kedua orang itu menjaga Bibi Leni saat perjalanan mereka.


Tentu Lenneth tidak ingin, bahwa disaat mereka bersenang-senang dan sibuk mengurusi berbagai hal, mereka melupakan keberadaan BIbi Leni yang juga ikut dengan mereka. Jadi, dirinya langsung memperingatkan kedua pasangan itu dengan keberadaannya yang ikut dengan mereka.


"Ya... benar kata Ibuku. Jangan lupakan keberadaan Bibi Leni, disaat kalian bersenang-senang berduaan di sana" ucap Kelly melanjutkan perkataan Ibunya.


"Kami tahu. kalau begitu kami pamit Bibi Lenneth, Kelly" ucap Vero kembali setelah dirinya selesai memeluk kedua orang itu untuk berpamitan kepada mereka.


Bibi Leni juga melakukan hal yang sama. Walaupun sebenarnya dirinya masih merasa ragu untuk ikut dengan pasangan suami Istri itu, tetapi dirinya akhirnya memutuskan untuk pergi bersama mereka menuju kerajaan milik suami nona mudanya.


Dengan saling berpamitan untuk terakhir kalinya sebelum mereka berangkat, akhirnya mereka semua sudah bersiap untuk langsung beranjak dari tempat mereka, dan mereka akan langsung menuju bandara yang akan membawa mereka dari sana menuju Ibukota Kerajaan Gizeweith.


Mereka bertiga akhirnya mulai masuk kedalam kendaraan yang akan membawa mereka menuju bandara. Dengan lambaian tangan dari Lenneth dan Kelly kepada kendaraan yang ditumpangi ketiga orang tersebut, akhirnya mereka melepaskan kepergian mereka bertiga menuju bandara.


"Hahh... mengapa sangat berat menerima kenyataan ini" tetapi disaat melihat kepergian mereka, entah mengapa Kelly mulai bergumam sesuatu yang mengisyaratkan bahwa dirinya seakan tidak bersemangat dengan kepergian orang-orang yang sudah beranjak dari hadapannya itu.


Jadi dirinya memutuskan bahwa dirinya harus menggunakan momentum yang dimana dirinya tidak bisa bertemu dengan sosok Zen, sebagai media agar dirinya bisa melupakan sosoknya sepenuhnya. Karena seperti yang diketahui, perasaannya terus saja tidak bisa hilang dari hatinya karena dirinya terus bertemu sosok yang sangat dirinya cintai itu.


"Kalau begitu, mari kita kembali Putriku. Bukankah kamu juga harus bersiap untuk pergi bekerja?" Namun perkataan Ibunya saat ini, mulai mencoba mengalihkan pemikiran putrinya dari apa yang sedang dirinya pikirkan tersebut.


"Baik, Ibu. Mari kita kembali" dan begitulah tanggapan Kelly yang mencoba untuk mengikhlaskan kepergian sahabatnya dan suaminya.


Disisi lain, kendaraan yang ditumpangi oleh Zen bersama Vero dan Bibi Lenneth sudah melaju dengan mulus menuju arah bandara. Namun disaat sampai pada areanya, mereka sepertinya tidak berjalan menuju ketempat biasanya jika mereka akan berpergian menggunakan sebuah pesawat dari sana.


Karena seperti yang bisa dilihat, saat ini mobil yang ditumpangi mereka mulai memasuki jalur yang lain, dalam memasuki kawasan bandara. Jalur khusus itu, akhirnya membawa mereka ketempat khusus yang dimana sebuah pesawat pribadi akhirnya sudah menunggu kedatangan mereka di sana.


Dengan seorang pria yang memegang tongkat sudah berdiri menantikan kedatangan mereka, akhirnya mobil yang mereka tumpangi itu sudah berhenti tepat tidak jauh dari keberadaannya yang saat ini mulai memerintahkan asistennya untuk membukakan pintu kendaraan tersebut.

__ADS_1


"Selamat datang Nyonya Vero, dan Nyonya Leni. Mari saya hantarkan kalian berdua menuju pesawat" dan begitulah ucapan dari seorang malaikat maut yang menyambut kedatangan mereka di sana.


Zen yang duduk disisi lain, juga saat ini disambut oleh seorang malaikat maut juga, hingga akhirnya mereka mulai beranjak dari kendaraan yang membawa mereka menuju kearah Alfred, yang saat ini sudah menunggu mereka didekat tangga pesawat yang akan mereka tumpangi.


"Selamat datang untuk kalian semua. Kalau begitu, mari masuk dan kita akan langsung berangkat menuju Kerajaan Gizeweith" ucap Alfred yang menyambut kedatangan mereka.


"Terima kasih, Tuan Alfred" ucap Vero yang sudah tidak merasa canggung lagi dengan sosoknya, dan saat ini mulai menggandeng tangan Bibinya untuk menaiki pesawat yang akan mereka tumpangi bersama.


Bibi Leni tentu masih merasa sangat gugup dengan semua hal yang dirinya alami saat ini. Apalagi, melihat sosok yang sangat amat penting menyambut kedatangan dirinya semakin membuat dirinya bingung harus bersikap seperti apa terhadapnya.


Tetapi, untung saja dirinya akan berpergian bersama Nona Mudanya. Karena seperti yang dilihat, Vero saat ini selalu berada disisinya sehingga membuatnya tidak terlalu bingung dalam bersikap kepada pihak yang terlihat sangat amat penting itu.


Hingga akhirnya mereka berdua mulai mengambil langkah mereka dalam menaiki satu persatu tangga pesawat pribadi yang akan membawa mereka menuju Kerajaan dari Zen, dan meninggalkan sosok Zen yang saat ini masih mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Selamat datang juga, Tuan Zen" ucap Alfred kemudian yang menyambut sosok Zen yang memang datang belakangan, karena dirinya memastikan bahwa barang bawaan milik Istrinya dan Bibi Leni tidak ada yang tertinggal.


"Kalau begitu, mari kita berangkat Alfred" ucap Zen yang juga mulai mengikuti langkah kaki Istrinya yang sudah menaiki pesawat yang akan mereka tumpangi.


Dengan dibarengi beberapa malaikat maut yang sudah membawa barang bawaan dirinya beserta Bibi Leni dan Vero, akhirnya dirinya juga akan naik dalam pesawat yang akan membawanya menuju Kerajaan yang baru dirinya ketahui bahwa kerajaan itu merupakan miliknya.


"Baiklah, kalau begitu bersiaplah untuk berangkat" Dan begitulah perkataan dari Alfred yang mulai mempersiapkan semua persiapan mereka untuk berangkat.


Disisi lain, Vero dan Bibi Leni saat ini disambut dengan interior pesawat yang mereka tumpangi yang bisa dikatakan terlihat cukup mewah. Memang, Vero pernah menaiki beberapa pesawat pribadi sebelumnya, namun yang dirinya tumpangi saat ini sangatlah berbeda.


"Lalu, kita akan duduk dimana, Nona Vero?" tanya Bibi Leni yang sebenarnya masih kebingungan dalam bersikap, karena ini kali pertamanya menaiki sebuah pesawat pribadi bahkan sebuah pesawat.


"Duduklah di manapun kalian mau, Bibi Leni" namun bukanlah Vero yang menjawab perkataannya, tetapi Zen yang saat ini sudah berada dibelakang mereka yang menjawab perkataannya.


"Bibi tidak usah terlalu memikirkan apapun, oke. Bersikaplah seperti biasa, karena ini semua adalah milikku." Ucap Zen yang saat ini mulai mengajak kedua wanita yang bersamanya itu untuk memasuki kabin pesawat itu lebih dalam.


Tentu perkataan Zen itu, tidak sertamerta membuat Bibi Leni tenang. Sikapnya bisa dibilang seperti Vero saat pertama kali mengetahui tentang Zen. Jadi, sepertinya dirinya masih membutuhkan waktu untuk mencoba menyesuaikan semua keadaan yang dirinya alami.

__ADS_1


Apalagi kenyataan dari pihak yang selama ini dirinya layani dengan sangat tulus dan dianggapnya merupakan seorang putra bagi dirinya, ternyata merupakan pihak yang statusnya saja akan diperhitungkan oleh beberapa pihak, karena besarnya sosoknya dimata pihak-pihak tersebut.


"Kalau begitu, ayo ambil kursi untuk kita masing-masing dan mulai berangkat"


__ADS_2