
Tiga suara tembakan mulai terdengar. Yang dimana saat ini beberapa orang yang bersembunyi didalam sebuah apartemen hanya tersenyum saja mendengar suara tembakan itu, karena akhirnya bala bantuan untuk menyelamatkan mereka akhirnya tiba.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang bos, apakah kita akan membantu mereka?” tanya salah satu orang dari kelompok yang sebenarnya mempunyai misi untuk menghabisi Zen ditempat ini.
“Kita tunggu saja ditempat ini. Lagipula jika mereka melarikan diri dengan memasuki apartemen ini, kita bisa secara langsung menghabisi mereka” balas pria yang saat ini masih menodongkan senjatanya kearah pintu apartemen tempat dirinya berada.
Memang pada lantai atas gedung apartemen mewah ini, hanya terdapat sebuah unit apartemen yang dikhususkan untuk tempat tinggal Zen. Jadi satu-satunya tempat persembunyian yang aman dari lantai paling atas saat ini hanya apartemen miliknya saja dan sebuah tangga darurat jika memang bisa diakses.
Jadi saat para penyerang Zen merasa terpojok, mereka memutuskan untuk memasuki kembali apartemen Zen dan berlindung didalamnya, sambil menunggu apakah polisi yang menyerang mereka apakah berani memasuki tempat ini untuk mencari keberadaan mereka.
“Sepertinya orang yang sedang membantu kita sudah menyelesaikan tugasnya bos, karena tidak terdengar suara tembakan lagi” kata salah satu dari mereka.
“Sepertinya begitu. Kalau begitu mar... tunggu siapa kalian?” kata pemimpin dari kelompok tersebut yang saat ini sedang melihat siluet dari tiga orang yang tiba-tiba sudah berada didekat mereka.
Tentu kemunculan ketiga orang tersebut membuat kelompok itu mulai menodongkan senjata mereka kearah mereka dan bersiap untuk menghabisi mereka saat itu juga.
“Hahh... kalian tahu, aku paling membenci jika ada orang yang merusak tempatku beristirahat” kata seorang pria yang saat ini seakan muncul dari dalam kegelapan dan menatap mereka dengan tatapan yang tajam.
Aura yang dikeluarkan oleh pria itu cukup membuat beberapa orang yang sedang menodongkan senjata mereka mulai gemetar ketakutan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka, namun entah mengapa tatapan pria yang baru saja berbicara tersebut membuat mereka merinding.
“B-Boss, bukankah dirinya target yang harus kita habisi” kata salah satu dari mereka kepada pemimpin kelompoknya, yang saat ini masih merasa ketakutan dan mencoba menodongkan senjata miliknya kearah tiga orang yang baru saja muncul itu.
“Benar juga. Kalau begitu cepat habisi mereka” teriak sang pemimpin dan dirinya mulai menembakan beberapa tembakan kearah ketiga orang yang baru saja muncul itu.
__ADS_1
Peluru-peluru mereka melesat dengan cepat kearah tiga orang tersebut. Namun anehnya peluru mereka tiba-tiba berhenti saat sudah mendekati salah satu dari orang yang akan mereka tembak, dan membuat mereka langsung kebingungan.
“Jangan membuat kotor tempatku Bari” kata salah satu dari ketiga orang tersebut yang merupakan Zen yang sudah kembali menuju kediamannya bersama Bari dan Marci.
Bari tanpa menjawab langsung menggunakan kekuatannya dan langsung mematahkan tangan dari semua orang yang berani-beraninya masuk tanpa izin dari kediaman tuannya.
“Ahhhhhh.... tanganku” teriak seorang yang dipanggil bos oleh kelompok penyerang itu yang melihat tangannya sudah bengkok dan patah.
Tetapi setelah sang pemimpin berteriak kesakitan, satu persatu pria yang ikut menembak kearah Zen, Marci dan Bari juga mulai berteriak kesakitan karena tiba-tiba saja tangan mereka mulai patah dan membuat mereka semua meringkuk kesakitan.
Suara teriakan kesakitan terus terdengar dari dalam ruangan tersebut, hingga akhirnya suara-suara itu mulai mereda karena memang Bari menghentikan penyiksaan yang dia berikan kepada orang-orang tersebut, karena tuannya sudah muak mendengar suara mereka berteriak.
“Cih... pastikan mereka mengambil jalur neraka yang paling berat saat kamu membimbing mereka menuju akhirat Bari” kata Zen yang saat ini mulai mendekat kearah salah satu mayat yang sudah tergeletak di sana.
Zen hanya mengangguk saja dan mulai mengambil sebuah pistol yang sudah tergeletak disebelah sebuah mayat. Zen mulai memperhatikan senjata itu dan mulai membawanya bersamanya saat Zen ingin membuka pintu apartemennya dan melihat keadaan diluar kediamannya.
Namun saat dirinya membuka pintu apartemennya, seorang pria berpakaian polisi saat ini sedang menatapnya dan langsung menodongkan pistolnya kearah Zen. Namun saat moncong pistolnya sudah mengarah menuju kepala dari Zen, entah mengapa pria yang saat ini menodong dirinya mulai gemetar ketakutan.
Dengan tatapan tajam yang membuat nyalinya langsung menciut, tangan dari pria yang memegang pistol tersebut juga mulai gemetaran. Tetapi belumlah dirinya menenangkan dirinya, Zen langsung menodongkan pistol yang ada dipegangannya dan langsung menembakkannya tepat kearah kepala pria tersebut.
Suara tembakan dan disusul suara sebuah benda terjatuh kelantai mulai terdengar. Namun orang-orang yang berada di sana seakan tidak bisa beraksi karena aura menyeramkan terus saja menggerogoti diri mereka.
“Dasar Kecoa” gumam Zen dan kembali menodongkan senjatanya kearah seseorang dan tanpa pikir panjang langsung menembuskan peluru pistolnya menuju kepala dari pria yang dia todong itu.
__ADS_1
Tio saat ini entah mengapa dirinya tidak bisa bergerak. Bahkan dirinya saat ini melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa anak buahnya satu persatu mulai tergeletak dan tewas tertembak oleh orang yang seharusnya dirinya bunuh.
“Dan akhirnya, dalang dari ini semua” ucap Zen yang saat ini menurunkan bidikan pistolnya kearah bawah dan mulai berjalan mendekati pria yang saat ini sedang berdiri kaku ditempatnya.
“Seorang yang dipercaya oleh orang-orang sebagai pelindung mereka, saat ini bekerja sama dengan seorang yang sepatutnya dirinya basmi. Anehnya, anda malah memilih untuk bersama mereka menghancurkan kedamaian dari orang-orang yang sepatutnya anda lindungi. Entah hukuman apa yang cocok untuk kecoa sepertimu” Ucap Zen sambil menunjukan senyum menyeramkan dan mulai mengangkat bidikan pistolnya kembali dan mengarahkannya menuju kepala dari Tio.
“M-Maafkan aku t-” Namun sebelum pria itu selesai berucap, kepalanya sudah tertembus sebuah timah panas dan membuat dirinya mulai tergelatak dilantai.
Bukan saja darah yang keluar dari dalam tubuhnya, tetapi sebuah cairan kencingnya juga mulai merembes dan membasahi lantai tempat dirinya berada. Karena sebelum dirinya tertembak, pria itu sangat ketakutan hingga dirinya mengompol.
Tatapan menyeramkan Zen lalu mulai beralih dan mengarah kearah seorang wanita yang tangannya saat ini bersimbah dengan darah, karena mati-matian mencoba menghentikan pendarahan dari para bawahannya yang sepertinya sudah kritis.
“T-Tuan Z-Zen” kata Santi gemetaran, karena dirinya takut Zen juga akan menghabisinya karena tatapan yang diberikan kepada dirinya sangat menyeramkan.
Namun setelah melihat ekspresi ketakutan dari Santi, Zen langsung merubah ekspresi wajahnya yang menyeramkan itu menjadi senyuman hangat. Setelah itu, dirinya langsung membuang pistol yang sedari tadi dia pakai untuk membunuh dan mulai berbaring ditempatnya.
Santi cukup bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh Zen. Namun saat dirinya mulai berbaring, Zen yang masih menunjukan senyum diwajahnya yang tampan itu mulai mengedipkan sebelah matanya dan sepenuhnya mulai terlentang dilantai tempatnya berada.
“Aaaaaaaaa.... sakitnyaaaaaaaaa” kata Zen dengan nada yang sangat datar yang membuat Santi terkejut dengan apa yang sedang dilakukan oleh Zen.
Namun setelah Zen berkata seperti itu, suara beberapa langkah kaki mulai terdengar dan beberapa pihak yang membawa senjata mulai mendekati tempat kejadian pembunuhan yang sedang terjadi ditempat dimana Santi berada.
“Cepat, ada orang terluka disini”
__ADS_1