Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Masalah Pertama


__ADS_3

Sebenarnya, beberapa wanita yang melihat tingkah Zen kepada Angel, membuat mereka batal memuji dirinya yang terlihat sangat tampan. Karena menurut mereka, percuma saja mempunyai pacar yang tampan kalau dirinya tidak menghiraukan wanita yang bersamanya.


Hingga beberapa saat kemudian seorang pria yang merasa tidak bisa mengalahkan ketampanan Zen melihat sebuah kesempatan. Seorang pria yang terlihat cukup tampan saat ini sedang mencoba peruntungannya untuk memikat hati Angel yang seakan sangat dicueki oleh Zen, bahkan saat Angel sedang bersemangat bermain dengan mesin capit didepannya Zen hanya bersikap acuh kepada Angel.


“Tidak terima kasih” balas Angel yang dengan spontan langsung memeluk lengan dari Zen sambil tersenyum.


Angel ingin menyeret Zen pergi dari sana untuk menjauhi pria yang sangat menyebalkan itu, karena bisa dilihat pria itu mencoba mencari masalah. Angel bukannya takut kepadanya, dirinya hanya takut pria itu akan babak belur jika berurusan dengan Zen, karena Angel mengetahui seberapa besar kekuatan dari Zen.


“Hemmm... mengapa kalian pergi. Suruhlah pacar anda nona untuk mendapatkan boneka yang anda inginkan untuk anda sebelum kalian beranjak dari tempat ini” balas pria itu sekali lagi kepada Angel.


Sebenarnya Angel sangat setuju dengan pendapat pria itu, namun dia lebih memilih untuk tidak berurusan dengannya, karena dirinya tahu Zen merupakan orang yang sangat tidak ingin ikut campur dalam hal apapun.


“Apakah anda takut tuan?” tanya pria itu sekali lagi, namun saat ini kearah Zen dan terang-terangan mencoba memprovokasi Zen.


Zen hanya diam saja dan menunjukan ekspresi datarnya kepada pria didepannya, dan menganggap pria didepannya hanya seperti sampah yang harusnya bukan disini tempatnya, karena Zen bisa merasakan aura negatif memenuhi tubuhnya.


“Bagaimana kalau kita taruhan Tuan. Jika saya berhasil mengambil boneka yang diinginkan pacar anda, izinkan saya untuk mengajaknya makan siang berdua dengannya” Balas pria itu sekali lagi, yang merasa diamnya Zen merupakan pertanda bahwa dirinya mulai terprovokasi.


“Cih... ternyata selama ini otakmu tidak ada didalam kepalamu ya. Bukankah dalam taruhan, kedua belah pihak harus mempertaruhkan sesuatu yang setimpal?” kata Zen dengan nada mengejeknya.


Tentu saja pria yang sedang dikatai dengan perkataan ejekan oleh Zen itu sedikit kesal mendengarnya. Namun karena dirinya ingin mencari muka kepada Angel, tentu saja dirinya harus bersabar. Dan lagipula, jika pacarnya terlihat emosi dibuatnya, pastilah Angel akan merasa tidak nyaman jika bersamanya.


“Baiklah... kalau begitu apa yang ingin tuan inginkan dari saya sebagai bahan taruhan kita” balasnya kemudian.


Tetapi saat mereka sedang asik berdebat, perdebatan mereka saat ini mulai dilihat banyak orang yang lewat di sana. Bahkan Angel yang mengajak Zen ketempat ini merasa sangat bersalah, karena membawanya kesebuah tempat yang dia tidak tahu akan menyebabkan permasalahan seperti yang dia alami saat ini.

__ADS_1


“Heh... menurutmu kamu mempunyai sesuatu yang setimpal dengan wanitaku ini?” Kata Zen dengan nada mengejeknya.


Mendengar perkataan Zen itu, bukan pria yang didepannya yang saat ini terkejut, namun Angel. Saat dirinya mendengar bahwa Zen memanggilnya dengan sebutan wanitaku, tentu perkataan Zen itu membuat Angel senang dan mulai tidak menghiraukan keadaan sekitar karena hatinya saat ini sedang berbunga-bunga, walaupun dirinya tahu bahwa perkataan Zen itu hanya bualan untuk membelanya.


Beberapa orang yang melihat perdebatan itu juga mulai terkikik mendengar perkataan Zen kepada pria yang menurut mereka sangat percaya diri itu. Tetapi pria didepan Zen tidak habis akal, karena dirinya masihlah mempunyai senjata terakhir untuk membuat pria didepannya berani bertaruh dengannya.


“Baiklah... kalau begitu bagaimana jika anda menang, aku akan memberikan semua harta yang kubawa bersamaku saat ini” balasnya sambil mengeluarkan dompetnya dan menunjukan isinya.


“Ho.....” begitulah suara kecil dari orang-orang yang menyaksikan perdebatan itu, karena melihat pria yang sedang diejek oleh Zen itu mulai bertindak.


“Hm.... semua hartamu ya. Baiklah aku menyetujuinya, walaupun semua harta yang kamu bawa itu tidak sebanding dengan wanita yang saat ini bersamaku” Balas Zen yang tertarik dengan apa yang akan dilakukan pria tersebut untuk bertaruh dengannya.


Mendengar itu, pria didepannya hanya tersenyum senang. Siapa yang tidak senang melihat uang yang banyak menurutnya. Dan juga pria itu berfikir bahwa rencananya itu berhasil karena saat dirinya menunjukan beberapa uang yang banyak kepada Zen, dirinya sangat tertarik dengan uang yang digunakan sebagai taruhan dan senang hati menerimanya


“Jadi siapa yang akan terlebih dahulu memulainya?” tanya pria itu sekali lagi setelah memastikan mereka berdua memiliki sebuah koin yang akan digunakan dalam taruhan mereka.


“Kamu bisa memulainya duluan” Balas Zen singkat yang mempersilahkan pria didepannya untuk menggunakan mainan capit itu terlebih dahulu.


“Kalau begitu baiklah. Lalu nona, anda ingin aku ambilkan boneka yang mana” balas pria itu yang saat ini sedang menatap Angel sambil menunjukan senyum yang menurutnya menawan itu.


“Eh... aku...” balas Angel sebenarnya cukup terkejut ditanya seperti itu dan langsung menatap Zen yang berada disampingnya.


Zen hanya membalas Angel dengan sebuah anggukan dan akhirnya Angel menunjukan sebuah boneka beruang yang cukup besar berwarna cokelat yang sedari tadi ingin dia dapatkan. Melihat itu, tentu pria itu hanya tersenyum saja dan mulai bersiap untuk memasukan koinnya kedalam mesin capit itu.


Tetapi sebelum itu, pria itu sepertinya mulai sedikit pemanasan dengan mengotak atik dan menekan nekan pengontrol dari mesin capit itu sebelum dirinya memasukan koinnya. Untuk orang lain, mungkin perilakunya sangat wajar, namun tidak dengan Zen yang bisa merasakan apa yang sedang pria itu lakukan.

__ADS_1


“Hmmm... menarik” gumam Zen didalam hatinya.


Ternyata identitas pria itu merupakan putra dari pemilik pusat permainan ini, yang dimana dia sangat mengerti mekanisme dari semua mesin yang berada ditempat ini. Tentu saja termasuk dengan mesin capit yang sedang dia gunakan saat ini.


Memang mesin ini sengaja diatur agar semua pelanggan yang menggunakan mesin ini tidak mudah mengambil barang yang berada didalamnya. Namun benda ini mempunyai pengaturan otomatis jika seseorang mengetahuinya, yaitu membatalkan mekanisme awal dari benda ini dan akan bekerja seperti semestinya.


“Baiklah, aku akan mulai” kata pria itu percaya diri dan mulai memasukan koinnya.


Dirinya mulai menggerak-gerakan capit yang sudah dia kendalikan, lalu mulai mengarahkan capit itu menuju boneka yang diinginkan oleh Angel. Dan setelah memastikan bahwa bidikannya sudah tepat, pria itu langsung menekan tombol yang digunakan untuk meraih boneka tersebut.


Senyum di wajah liciknya masih terpampang dengan jelas diwajahnya itu. Namun seketika senyuman yang ada diwajahnya yang masih mengembang tiba-tiba saja mulai berubah menjadi ekspresi wajah yang sangat terkejut, karena capit yang tadinya akan mengambil boneka yang diinginkannya, malah naik dengan tangan kosong.


“Minggirlah... bukankah ini giliranku” Balas Zen yang melihat pria itu masih saja terpaku dengan capit yang dia kendalikan tadi sudah kembali ditempatnya dan hanya mengait sebuah udara kosong.


“Hmm... Apakah kamu yakin ingin boneka itu Angel?” kata Zen sambil menunjuk sebuah boneka beruang cokelat yang diinginkan oleh Angel tadi untuk memastikan apakah benar boneka itu yang diinginkan olehnya.


Angel hanya mengangguk saja dan mengkonfirmasi pertanyaan Zen itu. Melihat bahwa itulah yang diinginkan Angel, Zen langsung memasukan koin yang dimilikinya dan mulai mengendalikan capit dari mesin tersebut.


Angel sangat berharap Zen berhasil, termasuk beberapa orang yang sedang menonton mereka saat ini. Namun pria yang tadi sangat terkejut karena kegagalannya tadi, saat ini masih bersikap santai karena dia tahu Zen tidak akan bisa mendapatkan boneka yang diincarnya.


Tentu saja pria itu masih beranggapan bahwa dirinya hanya salah menekan sebuah tombol untuk menjalankan mekanisme yang harusnya bisa membuat mesin yang di gunakan tadi berfungsi seperti keinginannya, dan menganggap Zen tidak memiliki kesempatan saat ini.


Namun beberapa saat kemudian, suara sorakan mulai terdengar setelah sebuah boneka beruang berwarna cokelat, saat ini sudah terkait pada capit yang digunakan oleh Zen tadi. Dengan perlahan boneka yang awalnya berada dibawah, saat ini mulai terangkat dan siap dijatuhkan pada sebuah lubang yang dimana tempat itu menjadi akhir dari permainan ini.


“M-Mengapa bisa seperti ini?”

__ADS_1


__ADS_2