Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Melapor dan Hukum


__ADS_3

Seorang wanita yang menggunakan seragam dinasnya, saat ini sedang menjalani sebuah sidang kode etik dari laporan yang dirinya buat. Tentu dirinya saat ini dipanggil menjadi saksi, atas kasus dari laporannya sendiri yang menyidangkan beberapa anggota polisi yang dirinya tahan sebelumnya.


Apalagi, bisa dikatakan jalannya persidangan itu cukup alot, karena memang para tersangka yang dilaporkan wanita tersebut, selalu saja mengelak untuk memberitahukan siapa yang menyuruh mereka melakukan penangkapan tanpa bukti, apalagi bisa dikatakan mereka juga menggunakan bukti palsu untuk menjerat seseorang yang mereka tangkap.


Maka dari itu, pihak yang saat ini sedang menyidang mereka terus menggali tentang informasi dalang yang sebenarnya, dari perilaku tidak bertanggung jawan yang mereka lakukan dan bisa dikatakan mencoreng nama baik tempat dimana mereka bertugas saat ini.


"Terima kasih atas kesaksian anda, Komandan Santi." ucap seseorang yang bertugas memimpin persidangan tersebut, setelah Santi sudah selesai memberi kesaksiannya.


Memang Santi sudah ditanyai berbagai pertanyaan, termasuk apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang yang dirinya pidanakan. Dengan menjelaskan semuanya secara detail tentang apa yang mereka perbuat, akhirnya tugas Santi sebagai saksi ditempat tersebut, dinyatakan sudah selesai.


Santi sendiri akhirnya mulai keluar dari ruang sidang itu dengan perasaan yang cukup senang. Karena bisa dikatakan, semua yang dirinya lakukan untuk membasmi para bawahannya, bahkan rekannya yang bisa dikatakan tidak menjalankan tugas dengan semestinya, bisa dikatakan cukup berhasil saat ini.


Karena memang apa yang dirinya perbuat itu, seakan menabuh genderang perang kepada seluruh anggota kepolisan tempatnya bekerja, agar mereka selalu melakukan tugas mereka dengan baik. Karena bisa dikatakan, mulai saat ini Santi akan membasmi mereka semua jika melakukan sebuah pelanggaran.


Walaupun bisa dikatakan apa yang dirinya lakukan itu akan menempuh jalan yang panjang, tetapi Santi yakin bahwa institusi yang dirinya banggakan itu akan kembali bersih, dan seluruh pihak akan sangat puas dengan kinerja dari kepolisian disaat dirinya berhasil melakukannya.


"Hahh.. Setidaknya rencana awal diriku dalam membasmi para polisi yang kotor itu, akhirnya sudah dimulai." Ucap Santi yang semakin bertekad untuk membasmi semua pihak, yang memang tidak layak bekerja pada institusi tempat dimana dirinya bekerja.


Seperti yang diketahui, selama ini apa yang dikatakan Zen bisa dikatakan hampir benar sepenuhnya. Karena dengan mata kepalanya sendiri, Santi bisa melihat bahwa hukum yang dirinya yakini saat ini mulai dipermainkan oleh berbagai pihak.


Tentu dirinya melihat bahwa beberapa bawahannya berani-beraninya melakukan tindakan tidak bertanggung jawab itu. Jadi, Santi bertekad bahwa dirinya harus membersihkan institusi yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat itu, dan membasmi semua pihak yang memang tidak layak bekerja di sana.


"Tapi, sepertinya aku harus bekerja lebih keras untuk membersihkan mereka" Ucap Santi, yang saat ini mulai berjalan keluar dari ruangan tempat sidang kode etik dilakukan tadi, dan memutuskan untuk mencari tempat makan dan mengisi perutnya yang sedari tadi belum diisi.


Memang kedua orang yang dibuat Santi menjadi tersangka atas perbuatan mereka tempo hari, tidak memberitahukan orang yang menyuruh mereka melakukan tindakan yang melanggar kode etik kepolisian. Apalagi mereka mengaku bahwa mereka sendirilah yang berinisiatif untuk melakukan tindakan tersebut.


Bahkan mereka sampai berani mengaku menerima suap dari pihak Daniel, yang saat ini sudah ikut terlibat dalam kasus yang cukup bisa dikatakan besar itu, atas perbuatannya yang saat ini mulai terungkap satu persatu. Jadi, atas pengakuan mereka akhirnya jalannya kasus itu akhirnya akan selesai.


Santi tahu, bahwa sebenarnya ada pihak yang lainnya berada dibelakang mereka. Namun, dirinya harus bermain cantik saat ini, karena bisa dikatakan pihak tersebut akan sangat susah untuk dirinya jatuhkan, jika memang dirinya melakukan sesuatu secara terburu-buru.


"Ya, setidaknya nanti ak-" Namun tiba-tiba saja perkataannya itu mulai terhenti, setelah ponselnya mulai berbunyi.


Santi memang saat ini sudah tiba pada sebuah rumah makan yang dirinya datangi, dan sudah memesan beberapa makanan untuk dirinya santap. Tetapi saat sedang asik mengisi perutnya yang sudah kelaparan, dirinya mulai terganggu dengan suara ponselnya yang mulai berbunyi.


Tentu dirinya mulai menghentikan tindakannya sejenak dan mulai melihat isi dari pesan yang dirinya terima saat ini. Karena memang suara ponselnya tadi menandakan bahwa dirinya sedang menerima sebuah pesan, dari sebuah aplikasi berbalas pesan yang berada di ponselnya.

__ADS_1


Namun saat dirinya melihat isi pesannya, Santi yang masih mengunyah makanannya, langsung menghentikan tindakannya itu. Dirinya merasa frustasi saat ini, karena pesan itu berasal dari pria yang selalu membuat masalah dan membuatnya sakit kepala dalam mengurus permasalahan yang selalu dirinya lakukan.


Apalagi jika pria sudah mengirimi dirinya sebuah pesan, bisa dipastikan bahwa dirinya sudah melakukan sesuatu yang membutuhkan Santi untuk membantunya menyelesaikan permasalahan yang dirinya perbuat. Dan apa yang dirinya perkirakan itu benar, karena isi pesan dari pria itu saat ini menyatakan bahwa dirinya baru saja menghabisi beberapa pihak.


Tentu membaca pesan yang dirinya terima itu, entah mengapa langsung membuat Santi merasa semakin lapar. Karena bisa dibilang, saat pria itu mengirimi pesan kepadanya saja, sudah langsung menguras semua energi dari Santi dan dan membuatnya langsung merasa sangat kelelahan.


"Tunggu, dirinya diculik?" gumam Santi yang membaca lebih detail pesan yang dirinya terima itu.


Tentu yang saat ini mengirimi dirinya pesan itu merupakan Zen. Pria itu memang tidak akan menjelaskan dengan detail permalasahan yang dirinya perbuat, dan hanya menyatakan bahwa dirinya sedang diculik dan dirinya baru saja membantai habis pihak yang berani-beraninya menculik dirinya.


Membaca kata membantai, membuat Santi semakin sakit kepala dibuatnya. Karena memang, depresi yang sebagiannya disebabkan oleh pria yang mengirimi dirinya pesan itu, belumlah pulih sepenuhnya. Namun, pria itu menyuruhnya untuk datang menyelesaikan apa yang baru saja dirinya perbuat.


Tentu membaca pesan itu kembali, membuat Santi tidak harus berbuat apa dan langsung meletakan lagi ponselnya di meja tempat dimana dirinya berada, dan mulai memesan kembali beberapa makanan agar dirinya bisa mempunyai energi untuk menyelesaikan permasalahan Zen nanti.


"Cih... pasti itu alasannya saja." Ucap Santi sambil mulai mengunyah makanannya dan tidak mempercayai perkataan dari Zen, yang mengatakan bahwa dirinya diculik.


Menurut Santi, memang pihak seperti Zen tidak akan diculik oleh beberapa pihak. Karena memang, Santi sangat tahu kekuatan dari pria tersebut. Jadi perkataannya yang berkata dirinya diculik, tidak akan langsung dipercayai oleh Santi, yang saat ini sedang melahap makanannya dengan perasaan yang bisa dikatakan sangat kesal.


Lagipula Santi mengira, bahwa memang ada sebuah pihak yang memang ingin menculik dirinya, namun tindakan mereka gagal karena Zen berhasil menggagalkan rencana mereka itu dengan membunuhnya. Jadi, bisa dikatakan sangat mustahil pria itu untuk diculik oleh seseorang menurutnya.


Namun sekali lagi, sebelum dirinya akan beranjak dari tempatnya, suara ponselnya kembali berbunyi saat ini. Namun berbeda dengan nada dering yang tadi dirinya dapatkan, karena saat ini sebuah nada dering yang menandakan seseorang sedang menghubunginya mulai terdengar.


Tetapi setelah dirinya melihat siapa yang sedang menghubunginya itu, tentu apa yang dirinya pikirkan tadi tentang kondisi Zen, langsung mulai terpatahkan. Karena saat ini Istri dari Zen mulai menghubungi dirinya. Tentu, jika sampai istrinya menghubunginya, bisa dipastikan apa yang dikatakan Zen tadi merupakan sebuah kebenaran.


Bahkan dirinya cukup terkejut, karena dirinya menganggap Zen membohongi dirinya, untuk sebagai alasan dirinya dalam membantai beberapa pihak. Namun, bisa dipastikan apa yang dialami oleh Zen saat ini merupakan sebuah kenyataan dan membuat Santi ingin langsung melihat kondisinya.


"Halo, Bu Santi, bisakah kamu membantuku?" ucap Vero dari panggilan telfon yang dirinya lakukan.


Tentu sebelum itu, Santi terlebih dahulu mencoba mengangkat panggilan yang dirinya terima. Karena memang, dirinya juga tidak ingin membuat Istri temannya itu merasa khawatir. Karena bisa dikatakan, wanita itu menelponnya dikarenakan dirinya mengkhawatirkan keadaan Zen.


"Apakah ini terkait dengan penculikan yang dialami oleh Suamimu?" tanya Santi secara langsung, karena dirinya sudah menebak mengapa wanita itu menghubungi dirinya.


"A-Anda sudah mengetahuinya?" ucap Vero yang terkejut bahwa wanita yang saat ini sedang dihubungi oleh Vero, sudah mengetahui keadaan suaminya.


Mendengar jawaban yang mengkonfirmasi perkataan Zen tadi, membuat Santi mulai menghela nafasnya. Karena bisa dikatakan dirinya salah mengira tentang sesuatu yang terjadi kepada Zen tadi. Tentu Santi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena bisa dikatakan Zen selalu saja berkata omong kosong kepada dirinya.

__ADS_1


Jadi, sangat wajar jika Santi tidak langsung mempercayai perkataannya, karena selama ini Zen akan selalu menggunakan berbagai alasan, setelah dirinya membantai beberapa pihak dan menyerahkannya kepada Santi untuk diselesaikan permasalahan yang sudah dirinya perbuat selama ini.


"Ya, dirinya sudah menghubungiku tadi untuk meminta pertolongan. Jadi kamu bisa tenang" jawab Santi yang ingin membuat tenang Istri sahabatnya itu.


Karena bisa didengar oleh Santi, bahwa wanita yang saat ini sedang menghubunginya cukup panik pada sambungan telepon yang sedang mereka lakukan. Jadi, sebisa mungkin Santi mencoba untuk menangkan terlebih dahulu dirinya.


Apalagi, menurutnya Zen cukuplah aneh. Mengapa pria itu merahasiakan identitasnya kepada Istrinya. Karena memang jika dirinya memberitahukan jati dirinya, yang dimana Santi masih mengira bahwa Zen hingga saat ini merupakan seorang mafia, dipastikan apa yang dilakukan olehnya tidak akan membuat Istrinya itu khawatir.


"Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan dirinya tidak bisa dihubungi kembali" ucap Vero yang saat ini masih khawatir dengan keadaan Zen.


"Tolong tenanglah. Karena aku akan memeriksa keadaannya secara langsung saat ini. Jadi, kamu bisa tenang dan menunggu kabar dari diriku saja, oke" kata Santi yang saat ini mulai meyakinkan Vero, bahwa dirinya sendiri yang akan melihat keadaan Zen.


"Tetapi, bisakah kamu mengajakku menuju tempat Zen berada? Karena memang aku masih sangat khawatir dengan keadaannya." Ucap Vero yang memohon kepada Santi.


Memang Vero ingin melihat secara langsung kondisi dari suaminya yang sangat dirinya khawatirkan. Maka dari itu, dirinya mencoba untuk membujuk Santi agar wanita itu mau mengajaknya disaat dirinya akan menuju ketempat dimana suaminya berada.


"Maafkan aku Nona Vero. Tetapi aku tidak bisa mengajakmu. Jadi, aku harap kamu bisa tenang dan menunggu saja informasi dari diriku" ucap Santi yang kembali menolak permintaan dari Vero.


Santi sangat mengerti tentang kekhawatiran wanita itu kepada suaminya. Namun Santi tidak mau, membuat wanita itu akan mengalami sebuah trauma, karena dirinya akan menyaksikan tindakan kejam dari suaminya. Maka dari itu, Santi langsung menolak permintaannya.


Apalagi bisa dipastikan, beberapa pihak yang menjadi korban dari kebengisan dari Zen, bisa dikatakan muncul dengan kondisi yang sangat amat buruk dan tidak bisa dibayangkan oleh orang awam. Bahkan mungkin, depresi yang pernah dialami oleh Santi, mungkin akan dialami oleh pihak yang melihat kekejaman dari Zen.


Dan juga, bisa dikatakan tempat dimana Zen berada bisa dikatakan belumlah aman sepenuhnya. Jadi, jika Santi memutuskan untuk mengajak Vero, bisa dipastikan dirinya harus bekerja ekstra untuk melindungi dirinya dari marah bahaya yang sedang dihadapi oleh suaminya.


"Tapi..." ucap Vero yang berharap agar permintaannya itu dikabulkan oleh Santi.


"Maafkan aku Nona Vero. Tetapi aku tetap tidak bisa mengajak dirimu" ucap Santi yang kesekian kali, kembali menolak permintaan Vero.


Walaupun bisa dikatakan Vero terus memaksa, tetapi tetap saja Santi langsung menolak semua permintaanya. Hingga akhirnya Vero sudah menyerah, dan meminta agar Santi untuk menghubunginya dan memberitahukannya tentang kondisi dari Zen jika dirinya bertemu dengan dirinya.


Santi tentu meyakinkan suami temannya itu bahwa dirinya akan melakukan permintaan itu. Hingga akhirnya, dirinya mulai menutup panggilan yang dirinya lakukan itu dan siap bergegas menuju tempat dimana Zen berada saat ini.


Apalagi, karena perkiraannya tadi salah dan menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh Zen kepadanya merupakan sebuah kebohongan. Membuat Santi dengan bergegas langsung menuju ketempat dimana Zen berada dan ingin memeriksa keadaanya.


"Hah... baiklah, kalau begitu mari menuju ketempat dimana pria itu berada"

__ADS_1


__ADS_2