
Pertemuan yang dilakukan oleh Vero pada perusahaan dimana dirinya berada, saat ini bisa dikatakan sangatlah sukses. Karena saat ini dirinya sudah resmi menandatangani sebuah kerja sama dengan pihak Rock Gold, yang diwakilkan oleh wakil CEO dari perusahaan ini.
Tentu awalnya dirinya cukup kebingungan, mengapa bukan CEO dari perusahaan ini yang menjalani pertemuan dengan dirinya secara langsung. Namun karena mereka sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaan Vero, jadi Vero tidak mempermasalahkannya.
Apalagi, yang dirinya pikirkan saat ini adalah bagaimana agar projek yang akan dikerjakan oleh perusahaannya bisa berjalan. Jadi, bagi Vero yang terpenting ada sebuah pihak yang mau bekerja sama dengannya, dalam hal ini memberikan sebuah sponsor untuk dirinya.
“Mengapa jika kita pergi menuju kesebuah perusahaan, kamu selalu saja dijamu dengan berbagai makanan enak, Zen?” tanya Vero, yang mendapati Zen saat ini dengan lahap memakan makanan yang sudah dihidangkan untuk dirinya.
Tentu saat ini Vero dan rombongannya sudah dibawa menuju tempat dimana Zen berada. Dan terjadilah sebuah adegan yang pernah disaksikan oleh Vero, yang dimana dirinya melihat suaminya sedang memakan makanan yang disediakan kepadanya oleh perusahaan tempat dimana dirinya berada saat ini dengan sangat lahap.
Masalahnya, pria yang sudah dirinya anggap suaminya itu, saat ini selalu saja dijamu dengan makanan mewah dan terlihat sangat lezat. Bahkan dirinya bingung saat ini, apakah memang semua perusahaan selalu memperlakukan karyawan biasa dari perusahaan lain seperti itu.
“Mana aku tahu, karena memang aku sudah disediakan makanan seperti ini saat tiba ditempat ini” balas Zen yang berkata jujur.
Yang dikatakan Zen itu bisa dikatakan sebuah kebenaran. Karena memang, saat dirinya tiba di ruangan ini tadi, dirinya sudah dijamu oleh banyak hidangan yang sudah dihidangkan kepadanya. Apalagi pemilik perusahaan ini sendiri yang melakukannya untuk dirinya tadi.
Memang Zen juga sudah mendengar sebuah informasi yang menurutnya penting dari Bram tadi. Apalagi, dirinya saat ini sedikit paham dengan situasi yang terjadi di negara ini. Jadi, Zen bisa mempersiapkan sebuah tindakan jika memang sesuatu terjadi kepada dirinya.
Apalagi, dirinya sudah mempunyai sekutu yang cukup bisa diandalkan saat ini, yaitu pihak dari perusahaan ini yang memutuskan untuk selalu mendukungnya. Apalagi apa yang dilakukan Zen tadi, yang dirinya anggap sepele itu mampu membuat pihak yang berbincang dengannya tadi cukup puas.
Dan juga, yang terpenting bagi Zen adalah keamanan dari Vero dan juga kebahagiaannya. Jadi, kerja sama yang Zen lakukan dengan perusahaan ini tadi, bisa dikatakan cukup diuntungkan. Walaupun apa yang Zen lakukan terhadap perusahaan ini hanya sebatas memberikan mereka akses untuk berkomunikasi dengan Alfred saja.
“Lalu, kenapa kalian masih berdiri di sana? Cepatlah ambil kursi masing-masing, dan mari menyantap makanan yang sudah disediakan untuk kita saat ini” ucap Zen, yang mengajak Vero, Kelly dan Anabelle untuk menyantap makanan ditempat ini bersama.
Memang makanan yang disediakan kepada Zen oleh pihak Bram bisa dikatakan sangatlah banyak. Karena mungkin, Bram sudah mengetahui bahwa Zen sangat menyukai makanan, makanya dirinya menyediakan berbagai hidangan untuk dirinya untuk disantap.
Bahkan, Kelly saat ini memutuskan untuk terlebih dahulu mengikuti tindakan Zen dan mulai ikut menyantap makanan yang sudah tersedia di sana, dan akhirnya tindakan itu mulai diikuti oleh Vero dan Anabelle yang mulai menikmati makanan mereka.
Karena bisa dibilang, mereka semua tidak bisa menolak godaan dari makanan yang terlihat lezat dan sudah tersedia di atas sebuah meja tempat dimana Zen berada. Apalagi melihat Zen memakan makanannya dengan lahap, semakin membuat mereka ingin segera ikut menyantap makanan tersebut.
“Ah... aku baru ingat, Zen. Bukankah pertemuan kita pertama kali terjadi di perusahaan ini, bukan?” tanya Vero yang saat ini sudah duduk disebelah Zen, dan mulai mengingat kejadian pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
“Hmm... benarkah?” ucap Zen yang memang sudah lupa kejadian itu, dan mulai memastikan kembali ingatannya dengan mulai mengingat apakah benar mereka bertemu di tempat ini untuk pertama kalinya.
“Apakah kamu sudah melupakannya?” tanya Vero sengit, yang saat ini entah mengapa merasa kesal dengan jawaban yang diberikan Zen kepadanya.
Bagi wanita, entah mengapa semua hal yang pernah dilakukan bersama pasangannya harus selalu diingat. Padahal bisa diketahui sendiri, Zen sangat malas untuk mengingat sebuah kejadian yang telah terjadi. Jadi, Zen merasa bingung, mengapa wanita yang duduk disebelahnya seakan sedang kesal kepadanya.
“Oh... aku baru mengingatnya. Kamu wanita yang terburu-buru dan menabrak diriku waktu itu bukan?” balas Zen, yang akhirnya mengingat dengan jelas pertemuan dirinya dengan Vero untuk pertama kalinya.
Walaupun Zen berhasil mengingat kejadian tersebut, tentu hal itu tidak serta merta membuat kekesalan Vero menghilang dari dirinya. Apalagi, Vero masih menganggap bahwa pertemuan itu sangatlah penting bagi dirinya, karena disitulah dirinya bertemu dengan seseorang yang kelak menjadi cinta pertamanya.
Dan juga, Zen sebenarnya tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena memang, awalnya Zen mengira pertemuan mereka pertama kali, disaat Zen menyelamatkan nyawa Vero untuk pertama kalinya, saat ban kendaraannya bocor dan dirinya dikepung oleh beberapa preman dan keberadaan Zen tidak sengaja berada di sana.
Apalagi kesan pertemuan mereka pertama kali saat itu, bisa dikatakan tidak menyenangkan. Karena bisa dikatakan, sosok Zen yang menabrak Vero saat itu, membuat Vero menyimpan dendam kepadanya bahkan sampai mereka bertemu kembali.
Jadi, saat Vero berkata bahwa mereka bertemu pertama kali pada sebuah perusahaan yang dimaksud oleh Vero, tentu membuat Zen bingung. Padahal, saat itu Vero sempat memperlihatkan sebuah pemandangan indah kepada Zen, saat dirinya tersungkur.
“Hmm.. Jadi, kalian berdua bertemu pertama kali di perusahaan ini. Lalu, apa yang kamu lakukan di perusahaan ini, sehingga bisa bertemu dengan Vero, Zen?” tanya Anabelle yang mulai penasaran dengan awal kisah cinta dari seorang Zen dan Vero.
Tentu perasaan cemburu mendengar bahwa kisah cinta Zen dan sahabatnya itu bermula dari tempat ini, membuat Kelly seakan tidak bersemangat lagi. Apalagi, dirinya masih sangat kesusahan untuk menghilangkan perasannya kepada Zen hingga saat ini.
Karena memang disaat dirinya akan berusaha melupakan sosok yang sangat dirinya cintai itu, entah mengapa Zen selalu mampu untuk mengembalikan ingatan tentang sosok yang dirinya cintai itu kembali. Jadi, hingga saat ini bisa dikatakan bahwa Kelly masih belum berhasil menyingkirkan sosok Zen dari dalam hatinya.
“Ya... aku baru ingat, sebenarnya apa yang kamu lakukan di perusahaan ini waktu itu, Zen?” sahut Vero kemudian, yang sangat penasaran dengan keberadaan Zen yang berada di perusahaan ini.
“Ah... kenalanku waktu itu, sedang berada didekat perusahaan ini. Jadi, dirinya memintai diriku bertemu untuk dengannya ditempat tersebut.” balas Zen beralasan.
Tentu Zen tidak akan bilang bahwa dirinya bertemu kenalannya, yang merupakan seorang bangsawan dari Vatikan pada tempat ini. Karena jika dirinya mengungkapkan hal tersebut, dirinya akan membuat beberapa pihak yang berada dimeja makan tempatnya berada mulai terkejut dengan kenyataan tersebut.
Apalagi jika dirinya berkata bahwa bangsawan tersebut, merupakan adik sepupunya. Maka hal itu akan membuat heboh seisi ruangan yang dimana diisi oleh dirinya bersama Kelly, Vero dan Anabelle saat ini. Walaupun dipastikan mereka tidak percaya dengan perkataannya, tetapi Zen memutuskan untuk menyembunyikan alasan tersebut.
“Dan, untung saja aku bertemu kenalanku ditempat ini bukan, kalau tidak waktu itu entah apa yang akan terjadi kepada dirimu?” lanjut Zen kemudian, yang mulai menatap Vero dan mencoba meredakan rasa kesalnya itu kepadanya.
__ADS_1
Bisa dikatakan perkataan Zen itu mampu untuk menghilangkan rasa kesal dari Vero. Karena memang, bisa dikatakan perkataan Zen itu adalah kebenaran. Apalagi, jika saat itu dirinya tidak bertemu dengan Zen ditempat ini, dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Vero tentu masih mengingat dengan jelas, bahwa dirinya akan dianiaya dan mungkin akan menjadi korban asusila saat dirinya mulai beranjak dari perusahaan ini. Dan untungnya, rasa kesalnya waktu itu dengan sosok Zen, membuat dirinya dapat selamatkan oleh Zen dan masih bisa hidup dengan bahagia hingga saat ini.
Bahkan Vero mulai bingung dengan sikap yang selama ini dirinya tunjukan kepada Zen, setelah mengingat kejadian tersebut. Karena memang, pria itu sepertinya sudah berkali-kali menyelamatkan dirinya, tetapi Vero masih menganggap Zen hanya sebagai pria yang dirinya bayar saja selama ini.
“Lalu, apa yang kalian tunggu. Cepat ceritakan kisah tersebut kepadaku” balas Anabelle yang kembali menuntut untuk mendengar kisah cinta mereka, dan membuat Vero langsung menghentikan lamunannya itu.
Tentu saat ini Vero mulai menjelaskan perjalanan cinta yang awalnya palsu itu kepada Anabelle. Tentu saja dirinya menyembunyikan fakta bahwa dirinya masih menikah kontrak dengan Zen hingga saat ini. Apalagi, sepertinya Vero merasa sangat senang saat dirinya menceritakan kisah cintanya dengan Zen yang berawal dari tempat ini.
Namun entah mengapa, setelah Vero sudah menyelesaikan menceritakan kisah cintanya dengan Zen kepada Anabelle, dirinya malah mulai merenungkan nasibnya saat ini. Apalagi statusnya dengan Zen saat ini, masihlah sebagai pasangan yang berpura-pura.
Sebenarnya Vero tentu ingin menyingkirkan status tersebut, karena bisa dibilang perasaannya sudah berubah sepenuhnya terhadap Zen, yang saat ini sedang memakan makanannya dengan lahap dan tidak memperdulikan percakapan yang terjadi ditempat itu.
Namun sekali lagi, apa yang dirinya pikirkan itu kembali terganggu setelah sebuah suara ponsel mulai mengganggu tindakan beberapa orang yang berada dimeja makan tersebut. Apalagi, pihak yang saat ini ponselnya sedang berbunyi, sepertinya tidak menghiraukan suara nyaring dari ponselnya tersebut.
“Kel, ponselmu berbunyi” tegur Vero, setelah melihat sahabatnya itu seakan melamun dan tidak menghiraukan suara ponselnya.
Memang percakapan mereka saat ini terhalangi oleh sebuah suara ponsel. Namun anehnya, pemilik ponsel yang mulai berbunyi itu seakan tidak meresponnya dan terlihat sedang melamun seakan sedang memikirkan sesuatu.
“Ah.. maafkan aku” ucap Kelly, yang terburu-buru mengangkat panggilan tersebut, yang saat ini sudah tersadar sepenuhnya dari lamunannya setelah ditegur oleh Vero.
Vero tentu sangat bingung dengan perilaku dari sahabatnya itu. Namun dirinya masih beranggapan bahwa wanita itu sedang memikirkan kondisi dari Ibunya yang baru sembuh dah harus dirinya tinggalkan. Namun, yang Vero tidak tahu, Kelly bukanlah melamun kan permasalahan tentang kondisi Ibunya.
Karena jika Vero mengetahui apa yang sebenarnya dilamunkan oleh Kelly tadi, entah apa yang akan terjadi pada meja makan ini. Namun untung saja, perasan dari Kelly masih dirinya simpan secara baik, sehingga sahabatnya itu tidak mengetahui isi dari hatinya yang sebenarnya.
"Hm... nomor siapa ini?" ucap Kelly, yang melihat panggilan yang masuk kedalam ponselnya merupakan sebuah panggilan dari nomor baru.
Awalnya dirinya bingung mengapa sebuah nomor baru mulai menghubungi dirinya. Tetapi karena mungkin bahwa rumah sakit yang merawat Ibunya yang sedang menghubunginya, jadi membuat Kelly langsung mengangkat panggilan tersebut.
Namun ternyata, panggilan tersebut bukanlah berasal dari rumah sakit tempat Ibunya dirawat. Karena memang panggilan tersebut berasal dari sebuah pihak yang sedang memberitahukan sebuah informasi, bahwa sosok yang sangat dibenci oleh Kelly akhirnya ditemukan keberadaanya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menuju kekantor kepolisian sekarang”