Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Perjalanan


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu dengan cepat, dan Zen saat ini sudah bersiap untuk melakukan perjalanannya menuju Pulau Bali untuk menyelesaikan permintaan adiknya dalam menyelidiki sesuatu pada tempat tersebut.


“Apakah anda yakin tidak ingin memakai kekuatan ruang untuk pergi ke sana Tuan?” tanya Bari mengkonfirmasi kembali jalur apa yang akan ditempuh oleh tuannya untuk menuju ke Bali.


“Sudah kubilang, aku cukup malas menggunakan kekuatan apapun dalam menjalani kehidupanku sebagai manusia, kecuali memang ada sesuatu yang membuatku muak” balas Zen kemudian yang membuat Bari hanya mengangguk paham dengan perkataan tuannya itu.


Zen memang cukup jarang menggunakan kekuatannya jika menyangkut hidup berdampingan dengan manusia. Bahkan hingga saat ini Zen sebisa mungkin menyelesaikan masalahnya tanpa melepas segel kekuatan yang mengikat didalam dirinya.


Bahkan beberapa kekuatan yang dirinya keluarkan untuk melawan beberapa musuhnya, hanya menggunakan kekuatan yang dirinya dapatkan dari aura kebahagiaan dari Angel. Jadi hingga saat ini Zen sama sekali belum menggunakan kekuatan yang masih dirinya segel.


“Baiklah, lalu saya akan mengantarkan anda menuju bandara hari ini Tuan” kata Bari yang akan mengantarkan Zen menuju Bandara.


Zen hanya mengangguk saja dan mulai mengikuti langkah Bari yang akan turun menuju basemen dari apartemen miliknya dan akan berangkat dari sana menuju bandara.


Ini adalah pertama kalinya Zen akan berpergian menuju sebuah wilayah yang baru. Karena memang saat dirinya sudah bangun dari tidur panjangnya dahulu, tempat yang pernah dia kunjungi adalah kediaman yang ditinggalkan oleh saudara kandungnya dan kota tempat dirinya tinggal saat ini.


Jadi inilah kepergian Zen pertama kali menuju sebuah wilayah dan membuatnya sebisa mungkin mencoba menikmati kepergiannya menuju tempat yang baru dengan cara yang dilakukan oleh manusia pada umumnya.


“Baiklah, sudah sampai tuan” kata Bari yang membukakan pintu mobil yang dikendarainya untuk Zen.


“Jadi, mana tiket pesawatku?” ucap Zen kemudian karena memang Bari belum memberikannya tiket pesawat yang akan ditumpanginya.


“Ah... maafkan saya kalau saya belum memberitahu anda tuan. Saat ini anda akan menaiki pesawat pribadi milik anda untuk menuju ke Bali” ucap Bari.


“Aku mempunyai pesawat pribadi?” gumam Zen kemudian yang akhirnya hanya mengikuti saja kemana Bari membawanya.


Memang saat ini mereka sudah sampai di bandara, namun Bari saat ini menuntun Zen menuju arah yang berbeda dari beberapa orang yang akan berpergian dari tempat ini, karena memang mereka akan menuju tempat khusus untuk orang-orang yang akan menaiki pesawat pribadi.

__ADS_1


.


.


Disisi lain, seorang wanita yang mengenakan setelan formalnya saat ini sedang berdiri disebuah tempat untuk menunggu seseorang. Dengan kaca mata hitam yang dikenakannya saat ini dirinya dengan sabar menunggu orang yang harus dijemputnya ditempat ini.


Dirinya cukup senang menantikan orang yang akan dijemputnya itu, karena memang sudah lama dirinya tidak bertemu dengannya dan cukup bahagia bisa bertemu dengannya kembali setelah ribuan tahun tidak bertemu. Walaupun saat ini dirinya harus berdiri pada teriknya matahari yang terus menerpa dirinya.


“Apakah anda yakin tidak ingin menggunakan tabir surya Nyonya Mira. Karena anda saat ini sedang berdiri dibawah teriknya matahari yang sangat menyengat” ucap seorang wanita yang mendampingi wanita yang bernama Mira itu.


“Tenanglah. Orang sepertiku tidak akan terpengaruh dengan cahaya yang menyengat dari matahari yang sedang menyinari diriku saat ini” ucap Mira kepada wanita yang mencemaskan keadaannya.


“Benarkah... apakah nyonya juga tidak merasakan kepanasan?” tanya wanita itu kembali setelah melihat Mira berdiri dibawah teriknya matahari menggunakan setelan formalnya.


“Suhu pada tempat tinggal diriku dulu lebih panas dari ini, jadi aku sudah terbiasa merasakannya. Dan juga, pakailah tabir surya untuk dirimu sendiri agar kulitmu tidak terbakar walaupun kamu sudah memakai payung. Karena aku tidak ingin tuanku akan terganggu dengan penampilanmu dengan kulit yang terbakar oleh sinar matahari” jawab Mira kepada bawahannya itu.


Banyak pesawat yang lalu lalang ditempat mereka berdiri, namun kedatangan orang yang mereka berdua tunggu hingga saat ini masih belum juga terlihat. Hingga sebuah pesawat pribadi dengan warna hitam akhirnya tiba ditempat mereka dan membuat Mira saat ini sangat bahagia.


Dengan senyum menawan yang ditunjukan olehnya, saat ini dirinya menantikan orang yang menaiki pesawat itu untuk turun dan bersiap menyambutnya. Setelah tangga penumpang sudah didekatkan menuju pesawat yang baru tiba itu, akhirnya pintunya sudah mulai terbuka dan memunculkan seorang pria dengan raut wajahnya yang datar mulai keluar dari dalamnya.


“Selamat datang Tuan Zen” begitulah ucap wanita bernama Mira yang melihat Zen sudah datang mendekat kearahnya setelah turun dari pesawat yang ditumpanginya.


“Yo... Mira. Aku tidak menyangka kamu sudah sebesar ini” kata Zen sambil memeluk wanita yang menyambut kedatangannya itu.


“Terima kasih Tuan. Anda juga berubah menjadi sangat tampan saat terakhir kali kita bertemu” ucap Mira yang masih memeluk tuannya itu.


“Hahh... padahal dulu kamu masih sangat kecil dan sering mencuri makananku” ucap Zen yang sudah melepaskan pelukannya dari Mira dan mulai tersenyum senang karena bertemu dengan seorang yang sangat dekat dengannya dulu.

__ADS_1


Saat masih tinggal di Neraka, Zen memang hanya dekat dengan semua adiknya, semua adik sepupunya dan bawahannya yang merupakan malaikat maut. Salah satu malaikat maut yang paling dekat dengannya adalah wanita yang dipeluknya tadi.


Mira saat itu masihlah seorang gadis kecil saat dirinya masih tinggal di neraka. Karena Zen sangat dekat dengan kedua orang tuanya, jadi Mira sering mampir pada kediaman Zen walaupun Zen sering tidak menghiraukannya.


“Saya sudah bertumbuh dengan baik Tuan” kata Mira yang cukup senang bahwa tuannya masih mengenalnya.


“Ya, Ya, Ya. Lalu bagaimana kabar Margaret dan Misa?” tanya Zen kemudian.


“Ayah dan Ibu baik-baik saja Tuan. Dan saat ini mereka sedang membantu Tuan Alfred mengurusi semua peninggalan milik adik-adik anda” jawab Mira.


“Begitu ya... padahal aku ingin bertemu dengan mereka.” Ucap Zen.


“Ah... perkenalkan ini Nia yang tempo hari anda selamatkan Tuan” ucap Mira yang mengenalkan seorang wanita yang menggunakan payung untuk mencegah terik matahari mengenai dirinya.


“T-Tuan Zen, saya Nia yang anda selamatkan tempo hari” ucap Nia yang sedikit berkeringat karena memang saat ini dirinya berdiri diarea bandara dan dibawah teriknya matahari.


“Hm... sepertinya kehidupanmu sudah sedikit berubah” ucap Zen sambil mengangguk mendengar perkenalan diri dari Nia.


“Dirinya yang kami pilih sebagai asisten anda untuk urusan pada dunia manusia di dunia ini Tuan. Jadi kami akan mengajarkan apapun kepadanya, dan saat dirinya sudah siap kami akan memberikannya kepada Anda” balas Mira.


Orang-orang yang terkurung dan dipenjara oleh Vampire yang dikalahkan oleh Zen dan Bari sebelumnya, memang diungsikan oleh Bari menuju kediaman milik para tuannya di Bali untuk bekerja di sana.


Termasuk Nia yang ternyata memiliki tingkat kepintaran yang tinggi dan membuat Mira memutuskan untuk mengubahnya menjadi asisten dari Zen kedepannya karena kemampuannya tersebut.


Dengan persetujuan dari Alfred, nantinya Nia akan dilatih oleh beberapa orang untuk menjadi orang yang cakap dalam memenuhi kebutuhan Zen saat dirinya tinggal di dunia manusia, agar tuannya itu bisa hidup dengan nyaman di dunia ini.


“Hm... benarkah. Kalau begitu belajarlah dengan giat Nia”

__ADS_1


__ADS_2