Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Menghadiri


__ADS_3

Zen dengan langkah santainya, saat ini sudah memasuki area dari kantor kepolisian dari wilayah dimana dirinya tinggal saat ini. Tentu dirinya datang ketempat ini, untuk memenuhi janji yang dirinya lakukan kepada Santi untuk membantu dirinya


Apalagi setelah dirinya sudah menyelesaikan pekerjaannya dalam menjaga keberadaan Vero saat konferensi pers yang dirinya lakukan tadi, dirinya memutuskan untuk langsung menuju tempat ini, untuk menyelesaikan urusannya dengan Santi.


“Selamat datang di kantor kepolisian Kota Marlet, ada yang bisa saya bantu?” begitulah sebuah sambutan dari seorang anggota kepolisian, saat melihat keberadaan Zen mulai memasuki area kantor kepolisian tempatnya bekerja.


“Ahh... aku ingin bertemu dengan kepala kepolisan dari tempat ini” jawab Zen santai.


Tentu perkataannya itu, membuat orang yang menyambut kedatangannya ketempat ini, mulai mengerutkan keningnya. Apalagi tidak sembarang orang, akan seenaknya datang dan berkata ingin bertemu dengan kepala kepolisian dari kota ini.


Apalagi apa yang dilakukan oleh Zen saat ini, merupakan hal yang cukup aneh menurutnya. Seorang warga dengan penampilan yang cukup formal, saat ini meminta izin secara langsung untuk bertemu dengan kepala kepolisian dari wilayah ini.


“Maafkan saya. Apakah anda mempunyai janji temu sebelumnya? Karena memang tidak sembarangan orang bisa menemui kepala kepolisian kam-”


“Aku sudah mempunyai janji dengannya. Coba saja kamu tanyakan sendiri” balas Zen yang memotong perkataan pria tersebut, karena dirinya malas untuk mendengarkan ocehan panjangnya itu.


Sebenarnya pria itu sedikit kesal dengan sikap Zen yang berbuat seenaknya. Namun karena dirinya juga takut jika apa yang dikatakan pria itu benar, dirinya mulai menghubungi komandannya untuk menanyakan kebenaran yang dikatakan oleh pria yang berada dihadapannya.


“Baiklah Komandan. Saya akan mengantarkan menuju ruangan anda” balas anggota kepolisian tersebut, setelah menghubungi atasannya secara langsung untuk memberitahukan tentang keberadaan Zen.


Memang dirinya cukup terkejut bahwa apa yang dikatakan oleh pria yang berada dihadapannya merupakan sebuah kebenaran. Bahkan dirinya hanya menjelaskan bahwa ada seorang pria aneh yang ingin bertemu dengan komandannya itu, tetapi komandannya langsung menyuruhnya mengantarkannya menuju ruangannya.


Jadi, untung saja dirinya tidak mencari sebuah masalah dengan pria tersebut, dan saat ini langsung membimbingnya menuju ruangan dari atasannya, setelah dirinya mendapatkan perintahnya tadi untuk membimbingnya menuju ruangannya.


“Silahkan masuk” dan begitulah suara wanita yang dikenal oleh Zen, saat petugas yang mengantarkan dirinya mencoba mengetuk pintu ruangannya.


Zen lalu dibimbing masuk kedalamnya, dan saat ini terlihat Santi sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu dengan bawahannya. Tetapi setelah keberadaan Zen sudah berada didalamnya, Santi langsung menyuruh semua bawahannya yang berada di ruangannya untuk keluar.


Tentu dirinya ingin berbincang dengan bebas dengan Zen, untuk menanyakan tentang kasus yang sedang dirinya selidiki. Apalagi dirinya tidak ingin rahasia dari Zen akan terbongkar, saat dirinya mulai membicarakan tentang kasus yang sedang dirinya selidiki bersamanya.


“Silahkan duduk Zen” ucap Santi yang mempersilahkan Zen untuk duduk, setelah semua bawahannya sudah keluar dari ruangannya.


“Ahh... aku lupa mengucapkan selamat atas kenaikan pangkat mu Santi” Kata Zen, yang memang dirinya belum sempat mengucapkan selamat kepadanya.

__ADS_1


Tentu Zen tidak sengaja mengetahui bahwa Santi menjadi kepala kepolisian dari wilayah yang dirinya tinggali, dari saluran televisi yang tidak sengaja dirinya tonton. Apalagi saat itu wajah Santi terpampang dengan jelas di sana, dan membuat Zen cukup penasaran mengapa wanita itu berada disebuah saluran televisi.


“Terima kasih Zen, lalu kamu mau minum apa?” tanya Santi kemudian.


Dan begitulah basa-basi yang dilakukan oleh Santi saat menyambut kedatangan Zen didalam kantornya. Yang dimana saat ini Santi sudah menghidangkan segelas minuman kepada Zen, sebelum dirinya menjelaskan maksud dirinya mengundangnya ketempat ini.


“Ini, coba kamu lihat” ucap Santi sambil menunjukan sebuah berkas kepada Zen.


Zen yang masih meminum minuman yang diberikan kepadanya, saat ini mulai menaruh gelasnya dan mulai membaca berkas yang diberikan kepadanya. Tentu dirinya membaca dengan perlahan berkas itu, hingga akhirnya dirinya paham mengapa wanita itu meminta bantuannya.


“Hm... memang ini cukup aneh” gumam Zen yang masih serius meneliti berkas yang dirinya baca saat ini.


Zen tentu belum bisa membuat spekulasi apapun atas apa yang sedang dirinya baca saat ini. Namun memang perasaannya mengatakan bahwa ini ada sangkut pautnya dengan beberapa pihak yang memiliki kekuatan. Walaupun dirinya tidak bisa dengan pasti mengatakannya, tetapi dirinya meyakini hal tersebut.


“Hm... tidak ada bukti apapun ya...” gumam Zen kembali, yang mulai dengan perlahan mencerna semua informasi pada berkas yang sedang dirinya baca.


“Bagaimana Zen, kamu menemukan sesuatu?” tanya Santi kemudian.


“Aku tahu. Tetapi apakah kamu mempunyai sebuah pemikiran tentang permasalahan ini?” tanya Santi kemudian.


Sebagai anggota mafia yang diyakini oleh Santi, tentu Zen mungkin akan mengerti mengapa beberapa pihak mencoba menculik beberapa orang yang memiliki sesuatu yang khusus berada didalam diri mereka. Apalagi mungkin Zen pernah melakukan perbuatan seperti itu.


Seperti contohnya, mungkin mereka akan dijadikan sebagai bahan uji coba laboratorium, dan mungkin dijadikan senjata kimia karena memang cukup aneh memang, jika ada pihak yang menculik seseorang berdasarkan golongan darah yang dimiliki oleh korbannya.


“Hmm... sepertinya aku mendiskusikan permasalahan ini dengan seseorang terlebih dahulu, baru aku bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi” balas Zen kemudian.


Memang Zen tidak mempunyai clue sama sekali tentang apa yang terjadi degan kasus yang sedang diselidiki oleh Santi. Karena memang, menurut dirinya kasus itu juga sangat aneh, dan dirinya tidak tahu perbuatan apa yang mengharuskan beberapa pihak, menculik seseorang yang mempunyai golongan darah tertentu.


“Hm... apakah ini perbuatan para Vampire ya...” gumam Zen yang mulai menyangkut pautkan kasus ini dengan mereka, karena memang kasus ini berhubungan dengan darah.


Vampire di dunia ini memang membutuhkan darah untuk kebutuhan makanan mereka. Tetapi sebuah darah sangat jarang sekali digunakan oleh mereka untuk dijadikan sebuah santapan, karena Vampire bisa hidup dengan memakan makanan yang sama seperti manusia.


Jadi, cukup jarang memang Vampire menyantap darah dari seseorang, apalagi menculik mereka untuk melakukan hal tersebut. Karena mereka bisa mendapatkannya dari berbagai rumah sakit atau penyedia darah jika mereka ingin menyantapnya.

__ADS_1


“Apa mungkin rasa darah dari golongan darah langkah itu cukup lezat, makanya membuat para Vampire mengincarnya?” gumam Zen kemudian, yang mulai mencari titik terang dari kasus tersebut.


Memang Zen belum pernah menyantap darah manusia sebelumnya, jadi dirinya tidak mengetahui tentang perbedaan rasa dari setiap golongan darah dari manusia. Karena memang, pemikirannya itu merupakan sesuatu yang logis, yang bisa dirinya pikirkan saat ini.


“Tetapi, benarkah kamu tidak mempunyai pemikiran apapun tentang kondisi ini, Zen?” tanya Santi kemudian, karena dirinya membutuhkan sesuatu untuk setidaknya mulai bergerak dalam mengatasi permasalahan ini.


“Hmm... kalau begitu, bisakah kamu memberikan diriku barang pribadi yang digunakan oleh para korban?” pinta Zen kemudian.


Mendengar permintaannya, Santi langsung dibuat cukup bingung mengapa Zen membutuhkan hal seperti itu. Namun karena dirinya mengetahui bahwa Zen pasti mempunyai rencana, dirinya langsung menghubungi bawahannya untuk dicarikan barang-barang tersebut kepada keluarga korban.


Apalagi dirinya dengan bergegas melakukannya, agar permasalahan yang sedang dirinya selidiki saat ini langsung mempunyai titik terang, sebelum kasus ini mulai menyebar dengan luas dan membuat seluruh masyarakat di wilayah ini mulai risau dengan kasus tersebut.


“Ah... untunglah kami sempat menyita beberapa barang pribadi mereka, untuk keperluan pelacakan menggunakan anjing pelacak, Zen. Jadi, saat ini bawahan diriku akan membawakannya secara langsung kesini” balas Santi kemudian.


Memang sudah berbagai cara digunakan oleh Santi untuk mencari keberadaan para korban. Salah satunya menggunakan anjing pelacak untuk mencari beberapa bukti keberadaan mereka, disekitar tempat mereka menghilang.


Tetapi seperti apa yang diketahui dari seluruh berkas yang dibaca oleh Zen tadi. Semua yang Santi lakukan itu gagal dan tidak membuahkan hasil apapun, sehingga dirinya merasa frustasi karena kasus ini belum menemui titik terang hingga saat ini.


“Ini barang yang anda minta, Komandan” kata seorang petugas kepolisian yang membawa masuk beberapa barang kedalam ruangan dari Santi.


“Terima kasih, kalau begitu kamu bisa kembali” ucap Santi kepada bawahannya itu.


Tentu bawahannya itu cukup bingung, mengapa atasannya menginginkan beberapa barang pribadi milik korban dibawa menuju ruangannya. Apalagi didalam ruangannya ada pihak asing, yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk ikut campur dalam permasalahan tersebut.


Namun karena hal itu merupakan keputusan dari komandannya, dirinya mau tidak mau harus mengikutinya. Apalagi dirinya langsung berpamitan kepada atasannya itu, karena dirinya langsung keluar dari dalam ruangannya karena diperintahkan oleh dirinya.


"Oke... mari kita lihat" gumam Zen, yang mulai memperhatikan seluruh barang pribadi milik korban, yang keberadaan mereka tidak bisa ditemukan hingga saat ini.


Zen tentu langsung meneliti barang-barang yang dibawakan oleh bawahan dari Santi tadi. Apalagi bawahannya itu membawakan beberapa barang pribadi dari seluruh korban yang keberadaannya hingga saat ini tidak diketahui oleh siapapun.


Namun Zen hanya mengambil sebuah kaos kaki saja, dan saat ini meminta Santi memberikannya sebuah plastik khusus untuk menaruh barang bukti dan mulai memasukan kaos kaki tersebut kedalamnya. Setelah melakukan itu, tentu saja Zen langsung memasukannya kedalam kantong jasnya untuk dirinya gunakan mencari keberadaan para korban.


“Untuk apa sebenarnya kamu membutuhkan barang tersebut Zen?”

__ADS_1


__ADS_2