Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Mencoba Berharap


__ADS_3

Alice tentu saja sangat amat tertegun dengan perkataan Zen yang tiba-tiba saja mengakui dirinya sebagai calon Suami dari dirinya. Dan hal tersebut yang membuat Alice tidak menyangka perubahan situasi yang sedang terjadi saat ini karena kedatangan sosok Zen ketempat ini.


Namun masih menyimak semua hal yang terjadi disana, sosoknya bisa dikatakan dipaksa untuk beranjak dari sana, dan saat ini Zen menyuruh dirinya untuk menjauh dan mencari sebuah tempat bagi dirinya untuk mengamankan sosok Kileni, sementara Zen akan menghabisi beberapa pihak yang saat ini mencari masalah dengannya.


"Jangan biarkan mereka pergi dari sini!" Namun belumlah Alice beranjak dari sana bersama Kileni, saat ini Kian yang sudah berhasil mengembalikan kesadaran dirinya yang sebelumnya cukup pusing tertimpa sebuah potongan kepala, mulai memerintahkan bawahannya untuk mencegah kepergian Alice dan Kileni.


Mendengar perintahnya, tentu saat ini salah satu anak buahnya ingin meriah tangan dari Alice agar membuat dirinya tetap berada disini. Namun naas, belumlah dirinya menyentuh sosok Alice, sebuah serangan pukulan saat ini mengarah kearah dirinya dan langsung membuat pihak itu terpental.


Melihatnya tentu semua pihak sangat terkejut dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi saat ini pria bertubuh kekar dan besar itu, mulai terpental dan tubuhnya terhenti tepat pada tembok dari ruangan ini yang menghentikan dampak dari serangan yang dirinya terima dari Zen tadi.


"Pergilah" hingga Zen yang berhasil menghalangi tindakan mereka, mulai menyuruh Alice beranjak dari sana.


Alice tentu saja langsung pergi dari sana karena memang saat ini sosoknya sudah terlepas sepenuhnya. Bahkan saat ini sudah tidak ada lagi yang akan menghalangi langkahnya, karena mereka mulai mewaspadai sosok Zen yang terlihat sangat amat kuat kekuatannya.


Dan juga Zen juga sudah menghalangi akses jalan mereka untuk mengejar sosok Alice, karena saat ini dirinya mulai menutup pintu ruangan dari Alice dan mengurung mereka semua yang berada disana, agar tidak ada pihak yang akan melarikan diri dari apa yang akan dilakukan oleh Zen ditempat ini.


"Kalian tidak datang dan menyerang diriku?" dan begitulah sebuah kalimat dengan nada mengejek yang dikeluarkan oleh Zen kepada semua pihak yang berada disana.

__ADS_1


Kian bisa dikatakan membawa empat orang bodyguard miliknya saat ini. Dengan satu orang pria yang bertugas sebagai asisten dirinya, dan wanita yang menjadi mata-mata dari Alice di perusahan ini, bisa dikatakan jumlah mereka didalam ruangan tersebut terdapat 7 orang pihak yang akan dihabisi oleh Zen ditempat ini.


"Baiklah, karena kalian tidak bergerak, biar aku saja yang melakukannya" hingga sebuah serangan cepat, saat ini langsung menumbangkan seorang bodyguard dari Kian kembali, setelah Zen menyelesaikan kalimatnya.


Namun berbeda dari Bodyguard yang sudah tersungkur atas serangan awal yang Zen berikan tadi, Zen saat ini mulai mematahkan tangan dari seorang Bodyguard yang dirinya serang selanjutnya, dengan maksud untuk langsung melumpuhkan pergerakan dari pihak tersebut.


Bahkan tidak sampai disana saja apa yang dilakukan oleh Zen, karena setelah dirinya mematahkan tangannya, Zen yang menemukan sebuah pulpen pada meja yang berada didalam ruangan tersebut mulai menusukkannya menuju bola mata dari Bodyguard tersebut.


"Selanjutnya" dan begitulah sebuah kengerian terjadi, disaat Zen yang mencabut pulpen yang dirinya gunakan untuk menyerang tadi, tidak sengaja membuat bola mata dari pihak yang dirinya serang itu ikut tercabut bersama pulpen yang dirinya pegang itu.


Namun hal itu tidak mengganggu sosok Zen yang saat ini mulai meraih leher salah satu bodyguard yang berada disana untuk melanjutkan serangan yang akan dirinya lakukan. Tentu Zen tidak akan memberikan kesempatan untuk mereka melawan dirinya, sehingga Zen dengan cepat mulai membantai mereka satu-persatu.


Sebuah teriakan mulai terdengar dari pria yang menjadi korban kekejaman Zen itu. Hingga tangan Zen saat ini mulai merasakan sebuah aliran cairan berwarna merah terus menghujani tangannya, bisa dilihat usus dari pria yang dirinya sobek perutnya itu mulai keluar dari perutnya dan jatuh kebawah.


Sadis. Itulah yang dirasakan semua pihak yang berada disana. Bahkan Kian dan asisten Alice yang menjadi mata-mata bagi dirinya tidak sanggup melihat apa yang dilakukan oleh Zen di tempat ini. Bahkan wanita itu mulai muntah melihat apa yang dilakukan sosok yang dirinya anggap monster itu.


Hingga sedang asik mengeluarkan isi perutnya, entah kenapa tiba-tiba saja sebuah darah ikut keluar dari mulut wanita itu, setelah Zen dengan cepat menusuk leher dari wanita itu dengan pulpen yang bentuknya sudah sangat tumpul itu, dan mulai merobek setiap inci dari lehernya yang mulus itu dan mulai mengeluarkan nyawanya dari dalam tubuhnya sekalian.

__ADS_1


"Tolong.... TOLONG!!!!!!" dan begitulah suara teriakan dari beberapa pihak yang saat ini mulai panik dengan keadaan mereka.


Zen tentu tidak menghiraukan mereka, apalagi sosoknya yang sudah dipenuhi dengan cipratan darah, mulai memberikan senyum menyeramkan yang terukir pada wajahnya kepada mereka, sehingga membuat keadaan tempat itu semakin mencekam. Apalagi saat ini, Zen baru saja mencabut hingga putus tangan dari bodyguard dari Kian yang masih tersisa.


Darah yang keluar dari tubuh semua pihak yang sudah tewas itu, dengan tumpahnya darah mereka dilantai, seakan membuat sebuah aliran darah yang tergenang, karena aliran itu seakan tidak berhenti untuk terus mengalir dari pihak-pihak yang bisa dikatakan sudah tewas karena ulah dari Zen tadi.


"Baiklah, sekarang giliran kalian berdua" kata Zen yang menatap pria bernama Kian itu, yang saat ini bersama asisten pribadinya mulai gemetar ketakutan melihat Zen mendekat kearah mereka.


Ditempat lain, Alice yang bersama Putrinya tentu hanya bisa tenang menunggu Zen menyelesaikan kegiatannya. Apalagi dirinya sudah membayangkan tentang apa yang dilakukan oleh pria itu, karena suara kesakitan bisa dirinya dengar sedari tadi, disaat Zen sedang asik membantai pihak yang akan dirinya bunuh.


Untung saja Kileni masih asik menjadi kucing pada dunia virtual yang sedang dirinya mainkan. Karena jika dirinya melihat semua itu, bisa dikatakan mentalnya akan tidak siap dan akan membuat dirinya merasa trauma dengan apa yang dilakukan sosok yang dianggap sebagai Ayahnya itu saat ini.


"Hahh.. kenapa aku malah kepikiran tentang Zen yang mengaku sebagai calon suamiku?" Dan begitulah gumaman Alice yang bisa dikatakan masih terbawa dengan perkataan Zen tadi.


Memang suara kesakitan yang terjadi cukup mengganggunya. Namun masalahnya, pemikirannya saat ini mulai bercabang dengan ucapan Zen tadi. Entah mengapa dirinya malah terbawa perasaan dengan perkataannya dan tidak bisa melupakan tentang apa yang tadi dirinya katakan, hingga akhirnya Alice malah tidak sadar bahwa dirinya terus memikirkannya.


Hingga dirinya mulai tersadar bahwa dirinya malah memikirkan sosok Zen saat ini. Tentu sebagai wanita yang pernah menjalani sebuah hubungan, dirinya sangat mengetahui apa yang sedang dirinya rasakan saat ini. Maka dari itu, dirinya mulai menggelengkan kepalanya untuk melupakan apa yang baru saja dirinya rasakan itu.

__ADS_1


"Ingat Alice, kamu tidaklah pantas untuk dirinya. Jadi jangan pernah berharap"


__ADS_2