
Dua orang wanita saat ini sudah berada pada restoran yang cukup mahal, yang dimana salah satu dari mereka sedang mentraktir seseorang yang dikenalnya untuk makan malam di sana. Terlebih lagi, saat ini wanita yang sedang mentraktir kenalannya itu sedang merayakan sesuatu ditempat tersebut.
“Selamat atas kenaikan pangkatmu, Bu Santi” ucap Angel yang saat ini dihubungi oleh Santi untuk makan malam bersamanya ditempat ini.
“Sudah kubilang, panggil aku Santi atau Kakak saja. Aku merasa tua jika kamu memanggilku seperti itu” ucap Santi yang mulai menyuapkan makanannya kedalam mulutnya.
Memang hubungan mereka bisa dikatakan sudah cukup dekat setelah Santi bertemu dengan Angel kembali. Apalagi karena dirinya tidak mempunyai kenalan di kota besar ini, akhirnya dirinya menghubungi Angel dan memutuskan merayakan kenaikan pangkatnya bersama Angel.
“Bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Santi kemudian.
“Hm... cukup menyenangkan sejauh ini. Apalagi saat ini masih dalam masa pengenalan mata perkuliahan” ucap Angel, karena saat ini dirinya sudah berhasil beradaptasi sepenuhnya dengan kota tempat dirinya tinggal saat ini.
“Lalu, apakah Zen sering menghubungimu?” tanya Santi kemudian.
Tentu Santi mengetahui bahwa Zen sangat dekat dengan gadis yang sedang duduk dihadapannya. Karena memang, sebagian besar pembantaian yang dilakukan oleh Zen, dikarenakan gadis yang saat ini akan menjawab pertanyaannya itu.
“Cukup sering” ucap Angel sambil tersenyum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Santi.
“Lalu, apakah kamu sudah tahu bahwa dirinya saat ini berada di Bali?” tanya Santi kemudian dan dibalas anggukan oleh Angel.
“Katanya dirinya sedang liburan di sana” balas Angel.
Memang Angel sangat sering berhubungan dengan Zen, dan Zen dengan senang hati menyahutinya. Apalagi saat Zen berbicara dengannya melalui sambungan telpon atau mengiriminya pesan, Zen juga mendapatkan aura kebahagiaan darinya, jadi Zen sering melakukan hal tersebut.
“Yap... tetapi aku tidak menyangka pria seperti dirinya akan pergi liburan ke sebuah tempat” ucap Santi dan mendapatkan anggukan setuju dari Angel atas perkataannya itu.
Tidak ada yang bisa membayangkan seorang pemalas seperti Zen akan pergi liburan. Bahkan Angel sempat tidak mempercayai perkataan Zen saat dirinya berkata akan pergi liburan ke Bali.
Karena memang, saat Angel mengajak Zen jalan-jalan saja, dirinya harus memaksanya. Jadi setelah mendengar dirinya ingin pergi liburan atas keinginannya sendiri, Angel sempat berfikir bahwa Zen sedang membohonginya.
“Lalu, apakah kamu akan tinggal lama disini Kak Santi?” tanya Angel yang balik bertanya kepada Santi.
__ADS_1
“Ya... mungkin lagi 3 hari aku berada disini, karena masih ada beberapa hal yang harus aku urus” ucap Santi dan dibalas anggukan oleh Angel.
Dan begitulah perayaan yang sedang terjadi ditempat itu, yang dimana Angel dan Santi mulai saling bercerita dan tertawa bersama ditempat mereka sedang makan malam. Namun yang mereka tidak sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatan mereka sedari tadi dari jarak jauh.
“Hm... kalau dulu, aku memang menginginkan tubuh indah dirimu itu untuk menjadi penghangat ranjang milikku Santi. Namun saat ini aku tidak menyangka kamu sedang mencari masalah dengan kaumku”
Ucap seorang pria yang merupakan Gio, pria yang paling dibenci oleh Santi. Namun jika diperhatikan lebih detail, saat ini Gio menatap dimana keberadaan Santi berada menggunakan sepasang mata yang sudah berubah warnanya menjadi merah darah yang menyala.
“Tunggulah, aku pastikan kamu akan mendapatkan bayaran yang setimpal atas perbuatan yang kamu lakukan itu Santi” kata pria itu yang mulai mengembalikan keadaan matanya dan beranjak dari sana.
.
.
Ditempat lain, seorang pria sudah kembali menuju pulau pribadinya setelah menyelesaikan urusannya sedari tadi.
Dirinya saat ini memutuskan untuk beristirahat sejenak di sana, sebelum dirinya kembali kesebuah tempat, untuk menjalani kehidupan barunya.
“Semua sudah siap Tuan” ucap Mira setelah mengepak semua barang milik Zen yang akan dibawanya menuju hotel tempat dirinya akan menginap nanti.
“Hahh... baiklah. Kalau begitu bukalah portal kabut milikmu menuju area tempat hotel yang akan aku tinggali berada Mira” ucap Zen kepada Mira dengan nada malasnya, setelah dirinya sudah beranjak dari tempat tidur yang dirinya gunakan untuk berbaring.
“Baiklah Tuan” balas Mira yang sudah membawa koper milik Zen dan mulai membuka portal kabut miliknya.
Hari memang sudah mulai malam saat ini, karena memang Zen sengaja untuk menghabiskan waktunya pada pulau pribadinya sedari tadi, sebelum dirinya akan mendedikasikan kehidupannya untuk menjadi suami bayaran dari Vero.
Memang sebenarnya Zen cukup malas melakukan hal tersebut. Namun karena ada sebuah kekacauan yang berada didalam tubuh dari Vero, mau tidak mau Zen harus mengikuti perkataan darinya untuk mencegah tindakan yang buruk akan terjadi jika dirinya tidak mengikuti permintaan dari wanita tersebut.
“Mulai sekarang, kehidupan Tuan akan diawasi langsung oleh Tuan Alfred, Tuan. Jika dirasa bahwa Nona Vero dimasa depan sangat layak menjadi pendamping anda, maka saat itu status anda akan dikembalikan” ucap Mira setelah keluar dari portal kabutnya dan diikuti oleh Zen.
“Tetapi menurutku wanita itu akan sama seperti semua istriku yang lain Mira” balas Zen yang sudah mengambil kopernya dari tangan Mira.
__ADS_1
“Mungkin. Tetapi perbedaannya dirinya menikahi Tuan bukan karena status anda” balas Mira.
“Yap... tetapi dirinya menikahi diriku karena dirinya tahu aku bisa melindunginya. Bukankah akan sama saja?” tanya Zen kembali.
“Tentu saja berbeda Tuan. Karena dirinya mempercayai orangnya bukan statusnya yang akan melindungi dirinya.” balas Mira.
Kalau dulu, istri-istri Zen menikahi Zen karena mereka percaya bahwa statusnya yang merupakan Penguasa Neraka bisa melindungi diri mereka dari apapun. Bahkan mereka tidak memperdulikan Zen sebagai individu dan hanya tertarik dengan statusnya saja.
Namun berbeda dengan Vero. Dirinya mempercayakan dirinya dimasa depan bukan karena Zen seorang Deadly Sins atau penguasa neraka. Tetapi dirinya mempercayakan perlindungannya kepada seorang pria yang merupakan orang asing yang menurutnya bisa melindunginya.
“Ya... semoga saja perkataan dirimu itu benar. Karena aku tidak ingin mengulang kehidupanku yang dulu” ucap Zen yang mulai beranjak dari tempatnya dan melambaikan tangannya kepada Mira, sambil menyeret kopernya.
“Kita lihat saja nanti di masa depan Tuan” balas Mira yang membungkuk kepada tuannya itu, dan akhirnya melihatnya sudah memasuki sebuah lobby hotel setelah melepaskan mode kamuflasenya.
Zen sudah masuk ke area hotel bintang lima tempat Vero menginap. Namun dirinya bingung, bagaimana dirinya menghubungi Vero saat ini karena memang mereka belumlah bertukar kontak satu sama lain.
“Sial, dimana aku harus mencarinya saat ini?” ucap Zen yang kebingungan, dan memutuskan untuk menggunakan kekuatannya sedikit untuk mencari keberadaannya.
Tetapi untungnya, wanita yang dicarinya sedang menunggunya pada lobby dari hotel tempatnya menginap. Dari raut wajahnya, Zen bisa melihat dirinya sangat marah dan Zen tidak tahu mengapa wanita itu menunjukan raut wajah seperti itu kepadanya.
“Mengapa kamu sangat lama?” kata Vero yang saat ini langsung mendekat kearah Zen.
“Aku harus membereskan barang bawaanku terlebih dahulu” balas Zen sambil menunjukan kopernya.
“Kamu membereskan barang bawaanmu selama seharian penuh?” tanya Vero kembali, seakan sedang mengintrogasi seorang suami yang tertangkap basah sedang berperilaku sangat mencurigakan dengan kegiatannya hari ini.
“Aku harus berpamitan dengan teman yang datang bersamaku, dan menjelaskan semuanya tentang apa yang terjadi” ucap Zen beralasan.
Memang Vero mendengar Zen datang liburan ke Bali tidak sendirian melainkan bersama temannya. Jadi alasan yang dirinya dengar cukup masuk akal dan membuatnya akhirnya menerima saja alasannya itu.
“Hahh... baiklah. Kalau begitu ayo ikuti aku”
__ADS_1