Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Dapat Kabar


__ADS_3

Seorang wanita saat ini cukup sibuk dengan berbagai berkas yang berada dihadapannya saat ini. Dengan keadaan dirinya yang bisa dikatakan cukup tidak bersemangat saat ini, dirinya terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan yang sedang dirinya lakukan saat ini.


Tentu dengan tekun, dirinya berusaha untuk menyelesaikan semua tugas yang sedang dirinya kerjakan, agar tidak terjadi sebuah kesalahan yang mengakibatkan tugasnya akan bertambah lagi. Karena memang, dirinya sudah muak melihat banyak sekali berkas yang berada di atas mejanya saat ini.


“Hahh... akhirnya selesai juga” ucap Santi yang mulai menyandarkan dirinya pada kursi yang sedang didudukinya, setelah berkas terakhir yang dirinya kerjakan, akhirnya sudah dirinya selesaikan.


Tetapi ada satu hal yang menarik setelah Santi selesai melakukan tugasnya. Saat ini, dirinya terlihat seperti seorang yang sedang melamun, jika beberapa pihak sedang melihat kegiatannya itu. Walaupun dirinya menanggap dirinya memang sedang tidak melamun, tetapi belakangan ini dirinya sering melakukan hal tersebut.


Entah saat ini pikirannya sedang menerawang kemana, tetapi bisa dikatakan Santi seperti orang yang sangat linglung saat ini. Memang dirinya akan selalu mengerjakan tugasnya dengan baik, tetapi setelah itu dirinya entah mengapa merasa tidak bersemangat dan berperilaku seperti itu.


“Ah... lebih baik aku mencari udara segar” ucap Santi yang memutuskan keluar dari ruangannya, setelah dirinya sadar dari apa yang baru saja dirinya lakukan tadi.


Beberapa bawahannya menyapa dirinya dengan ramah saat Santi melewati mereka, apalagi Santi membalas sapaan mereka dengan hangat. Hingga akhirnya dirinya sudah berada pada sebuah warung yang berada tidak jauh dari tempat parkir kantor tempat kerjanya.


“Seperti biasa Bu, Es kelapanya satu” ucap Santi kemudian kepada penjaga warung yang menjual berbagai minuman dingin, pada tempat dirinya berada saat ini.


Memang dirinya perlu mendinginkan kepalanya saat ini, dengan menikmati suguhan es kelapa yang dijual di sana. Hingga setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dirinya mulai meminum air kelapa yang segar itu, dan mulai mendinginkan kepalanya sejenak, karena memang banyak sekali pikiran yang saat ini memenuhi kepalanya.


Namun anehnya, dirinya kembali melakukan sebuah tindakan seperti sedang melamun yang dirinya lakukan pada ruangannya tadi, yang sebenarnya sangat jarang dirinya lakukan. Karena memang pemikirannya saat ini entah mengapa sudah terbang entah kemana.


Tentu apa yang dirinya lakukan itu, sudah dirinya alami sejal kejadian dirinya diculik bersama Angel tempo hari. Bahkan dirinya tidak tahu mengapa dirinya seperti itu, karena selain tindakannya yang seakan aneh itu sering dirinya lakukan, dirinya juga sering memimpikan sesuatu yang buruk belakangan ini.


Entah mengapa dirinya mengalami semua itu, namun semenjak hal tersebut terjadi kepadanya, dirinya seakan tidak bersemangat melakukan sesuatu. Sebenarnya bisa saja dirinya mengkonsultasikan apa yang dirinya alami kepada seseorang. Tetapi didalam pemikirannya, dirinya merasa tidak terjadi sesuatu kepadanya dan menanggap dirinya baik-baik saja.


“Selamat Pagi, komandan” ucap bawahannya yang menyapanya saat ini.


Tentu Santi yang entah pikirannya sedang berada dimana sedari tadi, langsung terkejut dengan sapaan yang dirinya terima saat ini. Namun dirinya langsung bersikap seperti biasa, dan saat ini hendak menyapa balik bawahannya itu.


“Selamat pagi. Kalian mau kemana?” tanya Santi kemudian.


“Ah... ada kejadian penusukan yang terjadi didepan perusahaan Grand Media, Komandan” jawab Bawahannya itu.


Memang para bawahannya berniat untuk langsung meluncur area perusahaan Grand Media, setelah mereka mendapat sebuah laporan. Tetapi saat mereka hendak mengambil mobil yang mereka kendarai, mereka tidak sengaja bertemu dengan komandan mereka ditempat ini.


Bahkan Santi cukup bingung mengapa dirinya belum dikabarkan tentang informasi apapun saat ini. Dan akhirnya dirinya menyadari, bahwa mungkin beberapa bawahannya sudah mencoba menghubunginya, namun ponselnya dirinya tinggalkan didalam ruangannya tadi.


“Baiklah. Kalau begitu jalankan tugas kal- tunggu, terjadi kejadian penusukan di perusahaan Grand Media katamu?” ucap Santi yang menyadari sesuatu saat ini, saat hendak melepaskan kepergian bawahannya tadi.

__ADS_1


“Benar Komandan. Kejadian penusukan yang baru saja terjadi itu, berada di perusahaan Grand Media.” Balas bawahannya.


Tentu Santi mengetahui perusahaan yang dikatakan oleh bawahannya itu, karena memang pemimpin perusahaan itu merupakan Istri dari kenalannya. Jadi, dirinya mulai penasaran dengan sebuah kasus yang sedang terjadi pada tempat tersebut.


“Mengemudilah, aku akan ikut dengan kalian” ucap Santi, yang menyedot habis sisa air kelapanya dan mulai mengikuti bawahannya.


Tentu bawahannya cukup terkejut, bahwa komandan mereka akan mengikuti mereka menuju lokasi dari tempat perkara yang akan mereka datangi. Namun karena hal tersebut merupakan perintah komandan mereka, akhirnya mereka hanya menurutinya saja.


"Siap, Komandan" ucap bawahannya, yang saat ini sudah bersiap untuk langsung berangkat menuju lokasi tempat mereka akan menyelidiki sesuatu.


Entah mengapa, keberadaan seorang pria bagi Santi, seperti merupakan seorang penyemangat bagi dirinya. Seorang pria yang sudah dirinya anggap sebagai sahabat itu, entah mengapa dapat membuatnya bersemangat lagi, bahkan saat dirinya sedang memikirkannya saja dapat membuatnya melupakan apa yang sedang dirinya alami.


Bahkan saat dirinya pernah mampir menuju kantornya, karena Santi meminta pertolongan kepada pria tersebut. Santi sengaja mengulur waktu agar pria itu tidak cepat meninggalkan kantornya, walaupun keberadaannya sudah tidak dibutuhkan oleh Santi saat itu.


Karena entah mengapa, berbincang dengan dirinya saja, membuat Santi entah mengapa merasa langsung kembali kepada kondisi dirinya yang seperti biasanya, dan bisa mengembalikan semangat yang selama ini sudah mulai pudar dari dalam dirinya.


“Memangnya, apa yang terjadi di sana?” Tanya Santi kemudian.


“Begini Komandan....” dan begitulah bawahannya itu mulai menjelaskan apa yang terjadi di sebuah perusahaan itu.


Santi tentu mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan bawahannya saat ini. Hingga dirinya mulai sedikit menyipitkan matanya karena mungkin dirinya mengenal siapa yang menjadi korban penusukan itu. Apalagi, ciri-ciri korbannya sangat mirip dengan pria yang dirinya kenal.


Walaupun beberapa pihak menanggap apa yang terjadi di perusahaan Vero dikarenakan pemberitaan yang sedang heboh terjadi belakangan ini yang menyangkut perusahaan itu. Tetapi Santi mempunyai sebuah hipotesa sendiri mengapa Zen bisa menjadi korban dari penusukan yang terjadi kepadanya.


Memang karena menurutnya bahwa Zen merupakan seorang mafia, tentu saja banyak pihak yang akan menjadi musuhnya. Maka dari itu, dirinya mulai menebak bahwa Zen merupakan korbannya, dan pihak yang melakukan hal tersebut merupakan saingan bisnis jahat yang dirinya lakukan.


Dan perkiraannya itu hampir terbukti benar, setelah dirinya saat ini melihat Zen dengan raut wajahnya datarnya seperti biasa, sedang ditunjuk oleh beberapa pihak yang mengatakan bahwa dirinya merupakan korban dari penusukan tersebut.


“Ho... aku tidak tahu kasus ini langsung ditangani oleh kepala kepolisian secara langsung.” Kata Vero, yang sat ini menyambut beberapa pihak kedalam ruangan kantornya.


Tentu siapa yang menyangka bahwa seorang kepala kepolisian wilayah ini, akan mengusut secara langsung apa yang terjadi pada perusahaan mereka. Apalagi sebenarnya kasus yang dialami Zen, bisa dikatakan tidak terlalu besar agar seorang kepala kepolisian turun tangan secara langsung untuk menyelidiki kasusnya.


“Memang, tetapi karena saya mengenal pria ini, jadi saya ingin menyelidikinya sendiri tentang apa yang terjadi kepadanya” balas Santi kemudian.


Mendengar jawaban yang mereka terima, Vero dan Kelly tentu langsung membulatkan mata mereka karena terkejut, dan mereka tidak menyangka bahwa Zen mempunyai kenalan seorang kepala kepolisian. Bahkan mereka saat ini bingung, mengapa pria itu bisa berkenalan dengannya.


“Kalau begitu, bisakah anda menyediakan diri saya sebuah tempat untuk berbicara dengan pria ini?” tanya Santi kemudian.

__ADS_1


Vero yang sudah tidak terlalu terkejut dengan kenyataan yang dirinya terima, tentu langsung menyenggol Kelly yang juga masih terkejut saat ini, untuk menyuruhnya mengantarkan mereka menuju sebuah ruangan pertemuan, agar mereka bisa gunakan untuk menyelidiki lebih detail tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Zen sendiri yang sebenarnya tidak menyangka kedatangan Santi ditempat ini, juga terpaksa mulai mengikuti langkah dari Kelly yang sudah mengantarkan menuju sebuah ruangan bersama Santi dan beberapa bawahannya. Setelah mereka tiba, tentu Kelly langsung mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


“Kalian berjaga lah dibalik pintu, karena aku ingin berbincang berdua dengannya” perintah Santi kepada anak buahnya.


“Baiklah Komandan” jawab kedua anak buah yang pergi bersamanya, setelah mendapatkan perintah dari Santi.


Kelly cukup bingung dengan sikap dari kepala kepolisian itu. Namun karena melihat sosoknya sudah menghilang dibalik pintu bersama Zen, akhirnya Kelly juga mulai beranjak dari sana untuk melanjutkan tugasnya.


Bahkan bawahan dari Santi juga bingung, mengapa atasannya tidak melibatkan mereka untuk melakukan penyelidikan terhadap korban. Namun karena itulah perintah dari atasannya, mereka hanya bisa mengikuti perintahnya saja.


“Cih... aku baru tahu kamu bisa tertusuk, Zen” Kata Santi kemudian, yang seakan sedang mengejek Zen saat ini.


“Aku sedang menghalau banyak orang tadi. Makanya aku tidak sempat mengelak” balas Zen memberikan alasannya.


“Dan juga, kabar tentang Istrimu yang sangat dingin kepada seorang pria, ternyata bukan hanya rumor belaka” ucap Santi kemudian yang mulai melanjutkan percakapan mereka.


Memang bisa terlihat Vero sangat amat dingin menanggapi anak buah dari Santi tadi, yang merupakan seorang pria. Apalagi saat Santi menanyakan berbagai hal, sikapnya itu bisa dikatakan sedikit mencair, tidak seperti saat para bawahannya mulai menanyakan berbagai hal kepada Vero.


“Yap... aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu” balas Zen kemudian.


Ya, Santi sebenarnya tidak memperdulikan kasus yang sedang dialami oleh Zen saat ini, karena memang dirinya hanya berniat mengajaknya mengobrol saja. Apalagi bisa dikatakan semangat Santi yang sebelumnya pudar perlahan mulai bangkit setelah bertemu Zen.


Karena alasan untuk bertemu dengan Zen untuk menyelidikinya secara langsung, merupakan alasan yang dirinya berikan untuk bisa berbincang dengan Zen. Karena memang dirinya tahu, Zen akan bisa menyelesaikan permasalahan yang dirinya alami sendiri, dan dirinya hanya menunggu kabar dirinya menyelesaikan permasalahan tersebut nanti.


“Hm... bukankah aku sudah menyuruhmu pergi ke dokter te..... ehm... apa sebutannya, aku lupa lagi?” Kata Zen, yang memperhatikan bahwa Santi belum menjalankan saran yang dirinya berikan kepadanya.


“Psikolog maksudmu?” tanya Santi yang awalnya kebingungan dengan ucapan Zen, namun dirinya akhirnya mengerti dengan maksud perkataan yang diucapkan oleh Zen itu.


“Ya... psikolog” Balas Zen yang akhirnya mengingat sebutan dokter, yang merawat tentang permasalahan mental.


“Aku baik-baik saja. Jadi, aku tidak perlu menemui seorang psikolog, Zen.” Ucap Santi, yang masih menyangkal bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Zen sangat mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh Santi saat ini. Dirinya bisa merasakannya saat dirinya bertemu dengannya di kantornya tempo hari. Tentu Zen menyarankan untuk wanita itu segera mengkonsultasikannya kepada seseorang.


Namun seperti yang sudah dirinya sarankan beberapa kali, wanita itu tetap saja mengelak dan berkata dirinya baik-baik saja. Bahkan Zen juga bingung, padahal sangat jelas dirinya berperilaku aneh belakangan ini, namun dirinya menyangkal sikapnya tersebut.

__ADS_1


“Kamu tidak terlihat baik-baik saja”


__ADS_2