
Dilain tempat, berbeda dengan beberapa pihak merasa terkejut dengan kabar berita yang sedang mereka dengarkan, seorang wanita saat ini masih merasa sangat khawatir dengan keadaan putrinya yang kabarnya belum dirinya dengar hingga sekarang.
Apalagi, dirinya masih merasa takut bahwa terjadi sesuatu yang buruk kepada putri kecilnya itu, yang membuatnya semakin khawatir dibuatnya. Maka dari itu, dengan suasana rumah yang sangat terang pada tempat dimana dirinya berada, wanita itu sangat berharap bahwa putrinya bisa kembali dengan selamat.
Namun bisa dikatakan perasaannya semakin sangat gelisah, karena malam semakin larut tetapi hingga saat ini kabar tentang putrinya belum juga terdengar kabarnya. Tentu dirinya semakin merasa khawatir, tetapi dirinya juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menghilangkan perasaan khawatirnya tersebut.
“Cepatlah kembali, Kileni. Ibu sangat takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap dirimu” ucapnya yang saat ini sedang memeluk boneka kesayangan putrinya itu, dan berharap agar keberadaan putrinya bisa segera ditemukan.
Dalam rasa kekhawatiran yang sedang dirinya rasakan saat ini, terbesit rasa sangat marah terhadap mendiang suaminya yang tiba-tiba saja sosoknya muncul pada pikirannya. Karena bisa dibilang, penyebab semua ini bisa dikatakan disebabkan oleh dirinya.
Alice memang menikahi pria yang memang sangat dirinya cintai pada saat mereka bertemu pertama kalinya pada bangku perkuliahan. Namun, disaat dirinya sudah menikah dengannya, barulah terkuak semua perbuatan bejat yang dirinya lakukan.
Dan hal tersebutlah yang saat ini membuat dirinya harus menghadapi kehidupan yang tragis, apalagi sampai putrinya menjadi korban penculikan yang mungkin bisa mengancam nyawanya dari sebuah pihak yang seharusnya mereka tidak boleh berhubungan dengan mereka.
Maka dari itu, dirinya terus saja mengutuk perilaku suaminya itu dan berharap dirinya benar-benar masuk neraka dan mengalami sebuah siksaan yang sangat amat berat atas perbuatannya kepada dirinya, dan terlebih lagi Kileni yang kabarnya belum juga kunjung dirinya dengar hingga saat ini.
“Mengapa kehidupanku bisa seperti ini” dan begitulah ungkapan perasannya yang sangat jengah, dengan semua hal yang sudah dirinya alami selama ini.
Namun disisi lain, saat ini Zen yang masih menggendong Kileni pada pelukannya mulai menelusuri sebuah kediaman yang masih terang, dan terlihat didalam kediaman tersebut seseorang masih dengan cemas menunggu kabar tentang putrinya yang sedang diculik.
Hingga akhirnya, langkah Zen yang santai itu mulai tiba didepan pintu dari kediaman tersebut. Tentu, Zen langsung menekan bel dari kediaman itu, agar dirinya bisa dengan segera menyerahkan gadis kecil yang sedang berada di gendongannya dan mengembalikannya kepada Ibunya.
Langkah kaki yang memburu dengan jelas bisa didengar dengan Zen, hingga akhirnya pintu yang menghalangi langkahnya untuk memasuki kediaman yang dirinya datangi, mulai terbuka secara tiba-tiba dan memunculkan sesosok wanita yang terlihat jelas bahwa dirinya sangat bersyukur saat melihat siapa yang bertamu menuju kediamannya.
“Kileni!” dan begitulah suara keras dari Alice, saat dirinya melihat putrinya sedang tertidur dengan nyaman pada pelukan pria yang saat ini datang pada kediamannya.
Alice tentu langsung mengambil tubuh putrinya dari gendongan Zen, karena dirinya sangat khawatir dengan keadaannya sedari tadi. Hingga akhirnya, dirinya bisa dengan lega melihat bahwa putrinya sudah kembali dengan kondisi yang baik-baik saja.
Bersyukur tentu saja, apalagi dirinya tidak tahu harus berbuat apa jika terjadi sesuatu degan keadaan Putrinya. Maka dari itu, disaat dirinya melihat bahwa putrinya bisa kembali dengan selamat, dirinya langsung merasa lega dan sangat berterima kasih kepada sosok yang berhasil menyelamatkan putrinya tersebut.
__ADS_1
“Terima kasih, Tuan Zen. Terima kasih” dan begitulah sebuah kata dengan nada yang sangat tulus, keluar dari mulut Alice saat dirinya merasa sangat berterima kasih kepada sosok Zen yang sudah menyelamatkan putrinya.
“Ya... lain kali, coba untuk lindungi dirinya dengan lebih baik lagi, oke” ucap Zen kepada wanita yang mulai menangis haru atas kejadian yang dirinya alami.
Zen sebenarnya merasa cukup senang bisa membantu wanita yang terlihat sangat bersyukur, bahwa putri kecilnya sudah kembali di pelukannya. Apalagi, dirinya melihat bahwa wanita itu sangat amat tersiksa dengan keadaan kehidupannya selama ini dan ditambah dengan kejadian yang baru saja dirinya alami.
Tentu sangat berat menghadapi itu semua sendirian. Apalagi keputusan yang dirinya ambil itu, bisa dikatakan sangat amat menyiksanya. Dan juga berbagai tekanan yang dirinya rasakan pastilah semakin memberatkan dirinya, yang berusaha untuk hidup dengan bebas di dunia ini.
Zen bisa melihat dengan pasti, tentang apa yang dirasakan oleh wanita tersebut. Apalagi, yang dirinya prioritaskan saat ini adalah putrinya saja. Maka dari itu, Zen tidak terlalu mempermasalahkan dirinya yang menolong wanita tersebut untuk menyelamatkan Putrinya.
Apalagi, bisa dikatakan nama Putrinya sama seperti nama adik Iparnya. Maka dari itu, Zen tidak mempermasalahkan bahwa dirinya harus menyelamatkannya berkali-kali, bahkan dirinya pernah menghentikan tindakannya dahulu yang ingin menghabisi Ibunya, karena dirinya mendengar nama Putrinya saja.
“Dan juga, putrimu sepertinya mengalami trauma. Jadi, pastikan dirimu membawa dirinya menuju sika... psia... kisa....”
“M-Maksud anda, Psikiater Tuan Zen?” ucap Alice yang masih menangis haru tetapi langsung membenarkan perkataan Zen tersebut.
Sudah dipastikan, bahwa Kileni putri dari Alice mengalami sebuah trauma dari penculikan yang dirinya alami tadi. Apalagi, gadis kecil itu sepertinya sudah mengalami sebuah penyiksaan yang sangat serius dan dipastikan akan membuatnya terbawa dengan kejadian tersebut.
Maka dari itu, Zen saat ini mulai membeberkan apa yang terjadi kepada gadis kecil itu, kepada wanita yang saat ini mendengarkan dengan seksama tentang apa yang terjadi kepada putri kecilnya, yang bisa dikatakan mengalami sesuatu yang sangat amat tragis.
Bahkan Alice bisa mendengar sendiri bahwa didalam tidur nyenyak putri tersayangnya itu, dirinya sering mengigau tentang meminta ampun didalam tidurnya. Maka dari itu, dirinya semakin merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi kepada putri semata wayangnya itu.
“Maafkan Ibu nak. Maafkan ibu, yang membuatmu mengalami hal yang sangat keji itu” ucap Alice yang selesai mendengar semua penuturan Zen tentang apa yang terjadi kepada putrinya.
Mendengarnya, tentu membuat Alice semakin merasa terpuruk. Karena seperti yang bisa dilihat, putrinya sering mengigau meminta ampun didalam mimpi yang sedang dirinya alami. Maka dari itu, melihatnya membuat Alice semakin merasa amat bersalah.
Karena bisa dibilang, dirinya juga menganggap bahwa dirinya tidak bisa melindungi satu-satunya orang yang paling dirinya sayangi di dunia ini. Apalagi, sampai dirinya mengalami sesuatu yang sangat tragis. Maka dari itu, dirinya saat ini kembali merasa terpuruk.
“Hahh... kalau begitu, karena urusanku sudah selesai dalam membantumu, aku akan undur diri kalau begitu” ucap Zen yang memutuskan untuk beranjak dari sana, dan tidak memperdulikan lagi kondisi kedua pasangan Ibu dan Anak tersebut.
__ADS_1
Memang dirinya sudah tidak memiliki urusan lagi yang membuat dirinya harus berada ditempat itu. Apalagi, Zen sudah cukup bosan melihat adegan minta maaf yang terus saja terulang, dan saat ini membuatnya sedikit muak melihatnya.
Maka dari itu, dirinya memutuskan untuk kembali menuju kediamannya dan mungkin akan langsung beristirahat setelah dirinya menjalani berbagai hal yang sangat amat melelahkan sedari tadi.
“Terima kasih sekali lagi, Tuan Zen. Saya berjanji, suatu saat nanti saya akan membayar semua kebaikan anda” ucapnya yang mulai melihat kepergian dari Zen.
Memang, Alice tidak tahu harus membalas Zen dengan cara apa. Tetapi dirinya akan melakukan sesuatu dimasa depan, untuk membayar semua perbuatan pria itu terhadapnya yang menyelamatkan orang yang paling spesial bagi dirinya dimuka bumi ini.
“Ya... dan juga, kamu sudah tidak perlu bersembunyi lagi. Karena bisa dikatakan, tindakan mereka di negara ini sudah berakhir sepenuhnya” ucap Zen yang mulai melanjutkan langkahnya dan bersiap melanjutkan perjalanannya untuk kembali menuju kediamannya.
Kekalahan yang kedua kalinya yang dialami oleh Vampire di negara ini dan disebabkan oleh sosok Zen yang muak dengan keberadaan mereka, tentu tidak akan membuat mereka akan kembali lagi dan mencoba melakukan sesuatu yang buruk lagi di negara ini dimasa depan.
Apalagi, perburuan ras mereka yang semakin intens oleh berbagai pihak di dunia ini, semakin membuat keberadaan mereka tidak bisa bergerak dengan bebas lagi. Maka dari itu, bisa dipastikan mereka akan meninggalkan semua urusan di negara ini dan tidak akan lagi melakukan sesuatu yang buruk ditempat ini.
Dan juga, Zen saat ini sudah bisa mendeteksi beberapa pihak yang menggunakan kekuatan Kultivator untuk menyembunyikan keberadaan mereka, karena Zen baru saja mempelajarinya dari beberapa pihak yang dirinya kalahkan tadi.
Jadi, jika ada para Vampire yang bisa dirinya rasakan keberadaanya, Zen bisa dengan secara langsung menghabisi mereka. Dan hal tersebut jugalah, yang memastikan negara ini bisa bebas sepenuhnya dari keberadaan para Vampire jika mereka akan sekali lagi mencoba mendatanginya.
Karena Zen akhirnya sudah mengetahui cara melacak para pihak yang menggunakan kekuatan Kultivator untuk menyembunyikan keberadaan mereka, setelah dirinya mempelajari cara kerja skill yang mereka gunakan pada Vampire yang dirinya kalahkan tadi.
“Sekarang, mari kembali dan beristirahat kalau begitu” ucap Zen yang saat ini sudah mempercepat langkahnya dan bersiap kembali menuju kediamannya.
Bisa dikatakan, dirinya ingin beristirahat karena besok dirinya harus menemani Vero dalam melakukan sebuah tindakan besar di perusahaannya. Apalagi, Vero dipastikan akan meninggalkan perusahannya dalam waktu yang cukup lama.
Bisa dikatakan, Zen dan dirinya sudah menyepakati perkataan Alfred yang akan kembali menuju Kerajaan Gizeweith beberapa hari lagi. Jadi, permasalahan di negara ini, dipastikan akan diselesaikan terlebih dahulu oleh Vero, barulah dirinya akan berangkat menuju kerajaan tersebut bersama Zen.
Zen juga sebisa mungkin akan menyelesaikan beberapa masalah yang belum dirinya selesaikan di negara ini, sebelum dirinya bersama Istrinya juga akan menuju ke kerajaan miliknya. Apalagi, ada beberapa hal yang memang butuh pantauan dari Zen sebelum dirinya benar-benar lepas tangan sepenuhnya dari permasalahan tersebut.
“Hahh... tetapi kenapa aku merasakan sesuatu yang merepotkan sudah menanti diriku”
__ADS_1