Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Keberangkatan


__ADS_3

Angel saat ini hanya menatap keluar jendela dari bus yang ditumpanginya dan mencoba melihat keluar. Dengan air mata yang terus turun dari matanya, saat ini dirinya sedang menatap dua orang yang sedang melambaikan tangan mereka kearahnya. Tetapi tatapan Angel saat ini hanya fokus kearah salah satu dari mereka, karena pria yang sedang dirinya tatap itu merupakan seseorang yang membuat Angel sangat berat meninggalkan tempat ini.


“Sampai bertemu lagi Kak” begitulah gumaman dari Angel saat bus yang ditumpanginya perlahan sudah mulai beranjak dari tempatnya.


Sesaat sebelum Angel menaiki bus yang akan ditumpanginya untuk menuju Jakarta, Angel sempat memeluk Zen dengan erat sebelum dirinya menaiki bus yang akan ditumpanginya itu. Setelah itu, tentu saja dirinya memberikan sebuah surat dan menyuruh Zen untuk membacanya jika dirinya sudah sampai dikediamannya.


Tentu saja Zen mengiyakan permintaan dari Angel dan akhirnya mereka berdua mulai berpisah. Yang dimana saat ini bus yang ditumpangi oleh Angel sudah keluar dari area terminal, tetapi tatapan Angel tidak bisa lepas dari sosok Zen hingga akhirnya sosoknya itu sudah tidak bisa dirinya lihat kembali.


“Hahh.. seseorang yang dapat menghiburku sudah pergi” Ucap Zen setelah melihat Bus yang ditumpangi Angel sudah menghilang pada tikungan jalan.


Memang cukup menyenangkan disaat Zen mencoba mengumpulkan aura kebahagiaan yang didapatkan dari Angel. Entah mengapa dirinya merasa sangat senang melakukan itu, hingga akhirnya tidak ada lagi orang yang menurutnya akan membangkitkan rasa senangnya lagi.


“Kenapa Tuan tidak pindah menuju Jakarta kalau begitu?” tanya Bari yang masih setia menemani tuannya yang sedang menatap kepergian dari Angel.


“Entahlah, aku merasa sudah cukup nyaman tinggal disini.” Balas Zen yang akhirnya mulai beranjak dari sana menuju mobil yang ternyata memang miliknya yang tadi dikendarai oleh Bari.


“Kita akan kemana sekarang Tuan?” tanya Bari kemudian setelah dirinya sudah duduk pada bangku kemudinya.


“Bawa aku menuju tempat kerja” balas Zen sambil bersandar pada tempat duduknya.


.


.


Ditempat lain, Santi saat ini baru saja mulai keluar dari kantor atasannya. Raut wajahnya saat ini bisa terlihat sangat jelek karena dirinya baru saja dimarahi oleh atasannya, karena sampai saat ini belum ada kemajuan apapun dari kasus yang sedang dia selidiki.


Dengan rasa kesal yang menumpuk didalam dirinya, Santi mulai memasuki ruangannya dan langsung duduk ditempat duduknya sambil memijit keningnya untuk sekedar menenangkan dirinya.


“Cih... apa yang harus aku lakukan, aku tidak mempunyai bukti apapun” balas Santi yang memang saat ini bisa dikatakan bahwa kasus yang dia sedang selidiki mengarahkan dirinya menuju kearah jalan buntu.

__ADS_1


“Santi?” namun saat dirinya masih pusing memikirkan keadaannya, tiba-tiba saja seorang pria saat ini datang menuju ruangannya setelah tidak sengaja melihat keadaan Santi yang bisa dibilang sedang kesal.


“Ah... maafkan aku senior.” Kata Santi yang akhirnya menyadari ada seseorang yang sedang berkunjung pada ruangannya dan menyapanya balik.


“Beristirahatlah, aku hanya ingin melihat kondisimu saja” balas pria tersebut sambil memberikannya sebotol minuman kaleng yang dingin dan menaruhnya di atas meja dari Santi.


“Terima kasih Senior” balas Santi sambil tersenyum, karena ternyata masih ada orang yang menyemangati dirinya saat ini.


“Kalau begitu aku pergi dulu” balas pria tersebut yang memutuskan beranjak dari kantor milik Santi dan membiarkan wanita itu untuk menikmati waktu kesendiriannya.


“Ah... tunggu sebentar senior” kata Santi yang menahan kepergian pria tersebut dan mengambil sebuah berkas untuk diberikan kepadanya.


“Ini sisa berkas yang anda minta kepada bawahanku kemarin Senior” balas Santi sambil memberikan berkas yang sudah disiapkan olehnya itu dan memberikannya kepada seniornya.


“Ho... aku hampir saja lupa. Kalau begitu terima kasih ya..” kata pria tersebut dan mulai beranjak dari ruangan milik Santi.


Pria yang dipanggil senior oleh Santi merupakan atasan langsung dari Santi, yang dimana saat ini dirinya sedang menangani kasus pembantaian yang terjadi pada sebuah pusat perbelanjaan di kota ini. Memang Santi diizinkan olehnya untuk melihat kasus tersebut, namun semua bukti yang Santi dapatkan harus diserahkan kepada seniornya itu.


Ditempat lain, pria yang baru saja keluar dari ruangan Santi langsung memeriksa semua berkas yang diberikan kepadanya setelah dirinya masuk kedalam ruangannya. Satu nama yang menarik perhatiannya saat ini, yang dimana awalnya pria tersebut masuk dalam kandidat tersangka namun dikeluarkan karena alibinya sangat jelas.


Setelah membaca berkas tersebut, dirinya mulai keluar dari dalam ruangannya dan mulai memasuki ruangan atasannya yang sebelumnya Santi baru saja keluar dari sana beberapa saat yang lalu, yang dimana Santi dimarahi oleh orang yang berada didalamnya.


“Kamu sudah menemukan solusi Tio?” tanya pemimpinnya yang saat ini sedang bersandar pada kursinya.


“Tenanglah Ketua, aku sudah menyiapkannya” balas pria tersebut.


“Bagaimana? Jika kita tidak mendapatkan bukti tentang siapa pembunuh seluruh anggota kelompok beruang hitam, kita bisa mati besok” kata pria yang masih duduk di kursinya itu kepada pria yang baru saja memasuki ruangannya.


“Bagaimana jika kita menggunakan seseorang sebagai kambing hitam dalam kasus tersebut komandan?” tanya pria itu yang saat ini sudah mengunci ruangan pemimpinnya itu agar tidak ada yang mengganggu percakapannya dengan pemimpinnya.

__ADS_1


“Apa maksudmu Tio?” balas pria yang dipanggil komandan tersebut.


“Lihatlah dokumen ini, semua ini aku dapatkan dari hasil penyelidikan dari Santi” balas pria bernama Tio tersebut sambil mendaratkan sebuah berkas tepat di atas meja dari pemimpinnya.


Komandannya itu tentu saja langsung memeriksa isi dokumen yang diserahkan oleh Tio kepadanya. Tentu saja dirinya mengerti mengapa bawahannya itu mempunyai rencana untuk membuat seseorang menjadi kambing hitam, karena memang data dari orang yang sedang diperhatikan olehnya sangat mencurigakan.


“Apakah kita harus menggunakan ini?” balas pemimpinnya tersebut yang kembali menatap Tio.


“Tentu saja Komandan, apakah anda mau kepala kita besok akan hilang dari tubuh kita?” tanya Tio kepada atasannya itu.


“Hm... Baiklah. Kalau begitu ubahlah semua bukti dan arahkan tepat kearah pria tersebut, agar kepala kita bisa terselamatkan” balas pemimpinnya itu dan dijawab dengan anggukan oleh Tio.


Tio langsung saja keluar dari dalam ruangan komandannya itu dan langsung mengumpulkan anak buahnya dan menyuruh mereka untuk secepatnya mengubah bukti untuk menjerat seorang pria yang akan mereka jadikan kambing hitam.


“Setidaknya nyawaku masih terselamatkan” gumaman seorang pria yang sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang dirinya lakukan itu.


Disisi lain, seorang pebisnis yang mempunyai banyak bisnis yang sukses dimana-mana terlebih lagi bisnis pada dunia bawah miliknya, saat ini sedang bersantai pada sebuah sofa yang dimana beberapa wanita berbikini saat ini sedang duduk disampingnya dan menemaninya.


Beberapa dari mereka memang ada yang menyuapkan beberapa makanan kepadanya, ada yang mengipasinya bahkan ada yang terang terangan menggodanya, asalkan membuat pria itu senang dengan tindakan mereka.


Namun kesenangan pria itu mulai terganggu setelah seseorang memasuki ruangan tempatnya berada, yang dimana saat ini dirinya sedang menikmati apa yang sedang dia lakukan ditempat ini bersama wanita-wanita yang bersamanya.


“Apa yang membawamu kesini Black?” tanya pria tersebut yang dimana salah satu tangannya sudah mendarat pada dada dari seorang wanita yang duduk disebelahnya.


“Aku membawakan sebuah kabar tuan.” Balas pria yang dipanggil Black dan saat ini sudah berlutut dihadapan pria yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tajam, karena dirinya tidak senang waktunya sedang bersenang-senang terganggu.


“Pastikan kabar yang kamu bawa itu bagus, kalau tidak aku akan menyuruh bawahan milikku yang lain untuk menyiksamu” balas pria itu yang kembali menikmati apa yang sedang dirinya lakukan kepada wanita yang berada disebelahnya.


Pria yang dipanggil Black tersebut tidak gentar dengan ancaman tuannya, karena memang dirinya sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Maka dari itulah dirinya menjadi orang kepercayaan bosnya karena perilakunya tersebut.

__ADS_1


“Pelaku yang sudah menghabisi kelompok Beruang Hitam kita sudah ditemukan Tuan”


__ADS_2