Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Mengharapkan Sesuatu


__ADS_3

Seorang pria bisa dikatakan sangat kesal melihat sebuah kemesraan yang sedang terjadi. Apalagi bukan hal inilah yang dirinya harapkan untuk terjadi disaat dirinya akan datang ketempat ini, disaat mengunjungi seseorang yang mungkin akan bisa dirinya coba untuk tipu kembali.


Walaupun rencana awalnya bisa dikatakan berhasil untuk setidaknya diundang masuk kedalam kediaman dari orang tersebut, namun sebuah kenyataan yang tidak dirinya harapkan harus dirinya saksikan saat ini, karena dirinya tidak tahu bahwa sebuah adegan sepasang suami istri sedang bermesraan mulai terlihat di depan matanya.


Hingga dirinya sampai tidak mempunyai kesempatan untuk setidaknya mengganggu aktivitas mereka, karena sangat terlihat kedua pihak itu seakan sedang dimabuk cinta yang sangat amat dalam, dan saat ini sedang meluapkan rasa cinta yang sedang mereka rasakan itu dengan saling menunjukkan kemesraan mereka satu sama lainnya.


"Ah... Silahkan diminum minumannya, Tuan Ciko" ucap Vero yang mempersilahkan tamunya untuk menikmati minuman yang sudah disediakan untuk dirinya, apalagi tindakan pria itu seakan merasa canggung berada di ruangan tersebut bersama Vero dan Zen yang terus menunjukkan kemesraan mereka.


Tentu pada awalnya Vero sama sekali tidak ingin menerima pria itu untuk bertamu kedalam kediamannya. Tetapi karena dirinya ingin menunjukkan bahwa saat ini dirinya sudah mempunyai suami dan tidak ingin diganggu oleh siapapun yang ingin mengejarnya, membuat Vero memutuskan untuk mempersilahkan dirinya untuk bertamu pada kediamannya saat ini.


Memang Vero sudah mengetahui maksud kedatangan pria yang bisa dikatakan brengsek tersebut pada kediamannya. Bahkan Vero juga bingung, mengapa dirinya pernah sampai berpacaran dengan pria itu yang notabennya sudah sangat dirinya ketahui sifatnya yang ternyata merupakan seorang playboy kelas kakap.


Maka dari itu tidak heran Vero sengaja menunjukan kemesraan dirinya bersama Zen, agar pria itu tidak mempunyai cela lagi untuk memanfaatkan dirinya, atau sekedar mencoba untuk mendekat kembali dengan sosoknya yang menganggap pria itu sangatlah menjijikan menurut Vero.


"Terima kasih, Vero" dan begitulah ucapan pria bernama Ciko itu, yang saat ini mulai menikmati minuman yang disediakan untuknya setelah dipersilahkan oleh Tuan Rumah dari kediaman ini.


Masalahnya pria itu seakan tidak bisa menikmati apa yang sedang dirinya sedang minum ditempat inu. Karena bisa dilihat, saat ini kedua pasangan yang memang baru bertemu kembali itu sedang bermanja-manjaan dengan pasangan mereka masing-masing.


Melihat itu semua tentu pria yang mempunyai niat jahat kepada Vero itu seakan tidak mempunyai kesempatan dalam menjalankan aksinya. Apalagi tindakan kedua pasangan itu yang sedang bermesraan sepertinya tidak bisa dihentikan oleh siapapun saat ini.


Tetapi tetap saja, karena dirinya sudah berada ditempat ini, mau tidak mau dirinya harus menjalankan aksinya. Hingga dirinya mulai memberanikan diri untuk menghalangi tindakan yang dilakukan oleh kedua orang itu, agar mereka tidak mengabaikan dirinya ditempat ini lebih lama lagi.


"Aku tidak tahu bahwa kabar tentang dirimu yang sudah menikah adalah kebenaran, Vero." Dan begitulah kalimat dari pria yang dihiraukan itu yang mulai angkat bicara saat ini.


"Tentu saja aku sudah menikah. Dan perkenalkan ini Suamiku, Zen Gwillyn" ucap Vero dengan bangga memperkenalkan suaminya didepan pria tersebut.


Siapa yang memang tidak mengetahui kabar bahwa Vero sudah menikah. Memang kabar tersebut sudah tersebar dengan luas, tetapi sampai saat ini kabar tersebut seakan memang hanya sebuah gosip belaka, karena sampai saat ini Vero belum secara resmi mengumumkannya dimuka umum tentang pernikahannya.

__ADS_1


Tentu acara Marlet Economic Night yang dihadiri oleh Vero dan bisa dikatakan di sanalah dirinya memperkenalkan Zen sebagai suaminya, akhirnya membuat beberapa pihak mulai mengetahui kebenaran tentang statusnya yang sudah menikah.


Namun tetap saja, karena yang menerima fakta tersebut hanya pihak-pihak yang berada ditempat itu saja, membuat saat ini kabar pernikahan Vero seakan masih merupakan sebuah rumor bagi beberapa pihak yang memang tidak melihat secara langsung kebenaran informasi tersebut.


Vero tentu sudah dikejar berbagai pihak untuk dimintai keterangan tentang kabar yang belum dirinya konfirmasi tersebut, namun hingga saat ini Vero seakan masih bungkam dan tidak melanjutkan perkara dari beberapa pihak yang meributkan status dirinya yang sudah menikah.


"Kalau begitu, berarti kabar bahwa kamu menikahi Bodyguard dirimu sendiri merupakan sebuah kebenaran juga?" ucap pria itu yang saat ini mulai menanyakan tentang kebenaran kabar yang dirinya dengar itu kembali.


Memang identitas dari Zen hingga saat ini di mata hampir seluruh pihak, bukanlah seorang Raja bahkan pemimpin dari sebuah Kerajaan dan Perusahaan besar yang ada di dunia ini. Maka dari itu, identitasnya yang merupakan Bodyguard bagi Vero masihlah melekat dengan erat kepadanya dan membuat beberapa pihak akan menganggapnya seperti itu.


Tentu Zen malah sangat senang dengan statusnya tersebut yang tidak diketahui oleh siapapun. Karena dengan hal itu dirinya bisa melihat beberapa pihak yang memang dengan tulus menganggap keberadaannya dan tidak memperlakukannya sebagai pihak yang sangat istimewa karena status yang dimiliki oleh dirinya.


"Ya... suamiku merupakan mantan bodyguard dariku. Bahkan sampai saat ini dirinya tetap menjadi Bodyguard untukku, benar begitu bukan Suamiku?" ucap Vero yang seakan membanggakan pekerjaan suaminya itu kepada pihak yang berada didepannya.


"Tentu saja, Istriku. Apapun yang terjadi, aku akan tetap melindungi dirimu" balas Zen dan terlihat setelah dirinya berkata demikian, Vero semakin memeluk erat lengan suaminya itu dengan sangat erat.


Kedua pasangan itu terlihat sangat senang mempermainkan pihak yang ada didepan mereka saat ini. Karena bisa dilihat raut wajah pria itu seakan sedikit kesal mendengar jawaban yang diberikan oleh mereka. Tentu mereka berdua tidak tahu pasti apa yang berada didalam benak pria itu saat dirinya menunjukkan ekspresi tersebut.


"Kalau begitu, selamat atas pernikahan kalian. Maaf aku tidak bisa memberikan apapun sebagai hadiah pernikahan kalian, karena bisa dilihat aku saja baru mengetahui kalian sudah menikah." ucap pria itu kembali yang mulai membalas perkataan mereka berdua dengan sangat santai.


"Ucapan darimu saja sudah cukup. Apalagi aku sudah mempunyai segalanya yang aku inginkan saat ini, jadi kami memang tidak perlu diberikan apapun atas pernikahan kami" balas Vero yang juga seakan masih bersikap santai dengan ucapan yang terdengar tidak tulus tersebut.


Vero sudah mengetahui dengan pasti apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh pria brengsek tersebut. Karena memang Vero sudah mengetahui wataknya yang bisa dibilang sangat menjijikan itu dan bisa dikatakan akan menggunakan berbagai cara untuk menipu beberapa pihak.


Begitulah bagaimana dulu Vero mempelajari sifatnya disaat mereka berpacaran. Jadi, Vero bisa menebak dengan mudah arah pembicaraan dari pria itu selanjutnya, karena bisa dipastikan apa yang akan dirinya ucapkan selanjutnya merupakan kata-kata yang akan menyombongkan dirinya.


"Tidak usah sungkan. Apalagi dengan posisiku sekarang yang merupakan manager pemasaran dari Warungpedia, aku bisa memberikan apapun sebagai hadiah pernikahan bagi kalian." ucap pria itu yang benar perkiraan dari Vero bahwa dirinya sedang menyombongkan dirinya saat ini.

__ADS_1


Dan sudah bisa ditebak oleh Vero apa yang akan dilakukan oleh pria tersebut. Karena sejak Vero berkenalan dengannya, dirinya selalu menggunakan berbagai kebohongan seperti itu untuk mendekati para wanita yang diincarnya.


Apalagi bisa dipastikan pria didepan mereka ini merupakan seorang penipu yang hanya memanfaatkan rasa percaya dirinya untuk menjebak beberapa wanita, dan menggunakan identitas palsunya untuk melaksanakan aksinya dalam memburu beberapa wanita yang bisa dirinya jebak nantinya.


"Ho... Bukankah dulu kamu bilang kamu Manager pada sebuah bank milik Ayahmu?" hingga akhirnya Vero mulai menyahuti perkataan pria tersebut, dengan nada yang seolah dirinya sangat penasaran atas pria yang berada dihadapannya itu.


"Benar. Tetapi karena sekarang bisnis e-commerce lebih menjanjikan, aku memutuskan untuk keluar dari tempat kerja lamaku dan memutuskan untuk bergabung dengan bisnis startup nomor satu di negara ini" ucap pria itu membanggakan diri.


Semua orang tahu kedudukannya yang seorang manager dari sebuah perusahaan besar merupakan sebuah pencapaian yang sangat tinggi. Namun masalahnya, bagi kedua pihak yang berada didepannya terutama Zen, jabatan itu hanya sebatas hal kecil saja dimatanya.


Apalagi pria itu sama sekali tidak tahu, bahwa saat ini dirinya berhadapan dengan pihak yang bisa melihat dengan jelas kedok kebohongannya. Seperti saat ini Zen yang terus memperhatikan dirinya, mampu melihat sedari tadi pria itu hanya mengutarakan omong kosong saja dalam percakapan yang mereka lakukan itu.


Memang begitulah kehidupan pria bernama Ciko tersebut. Pria yang merupakan Playboy yang akan mencari wanita-wanita kaya untuk dijadikan pasangannya lalu diperas olehnya untuk memperkaya dirinya. Tentu modus operandinya bisa dikatakan dirinya akan berperilaku seperti pria yang menjual dirinya.


Namun, dirinya tentu tidak akan melakukan itu, karena dirinya lebih memilih membohongi pihak-pihak yang diincarnya saja dengan sebuah hubungan serius. Apalagi menjadi seorang pria yang menjual dirinya sebagai pemuas nafsu untuk menukarnya dengan sebuah harta menurutnya adalah sebuah kelakuan yang sangat rendah.


Ciko masih mempunyai prinsip bahwa dirinya tidak ingin menjual dirinya seperti itu, dan lebih baik mendekati secara terang-terangan wanita yang bisa dirinya akan manfaatkan dan akhirnya dirinya akan memperkaya dirinya dengan menggunakan hubungan yang dirinya ciptakan tersebut.


Apalagi untuk memuluskan rencananya, pria bernama Ciko itu bahkan memalsukan berbagai hal untuk membuktikan dirinya sangat amat kaya. Hal itu terbukti dengan dirinya mulai menyerahkan sebuah kartu nama yang tertulis dengan jelas bahwa dirinya merupakan seorang Manager dari perusahaan yang dirinya sebutkan tadi kepada Vero.


"Oh... bukankah perusahaan Startup ini milik Tuan Rendy kalau tidak salah. Karena setahuku Darkness Company menjadi investor besar bagi perusahaan Startup tempat dirimu bekerja saat ini" dan begitulah ucapan Vero yang sedikit membuat Ciko sedikit terkejut mendengar perkataannya.


Karena memang dirinya berbohong, tentu saat ini dirinya sangat terkejut karena setahunya perusahaan yang dirinya gunakan sebagai kedok tersebut sama sekali tidak pernah melakukan kerja sama dengan perusahaan besar tersebut.


Jadi, Ciko bingung harus menanggapi seperti apa pernyataan dari Vero tersebut karena dirinya juga baru tahu bahwa Darkness Company menjadi investor dari perusahaan tersebut. Namun karena Vero sendiri yang mengatakannya membuat Ciko hanya mengangguk sambil tersenyum saja menjawab perkataannya.


Hingga Vero yang melihatnya juga ikut tersenyum yang dimana senyumannya itu disalah artikan oleh Ciko, karena dirinya mengira Vero mulai tertarik dengan dirinya yang saat ini bisa dikatakan statusnya lebih baik dari sosok suaminya saat ini.

__ADS_1


Namun masalahnya, sebenarnya Vero tersenyum kepada dirinya karena Vero benar-benar berhasil mempermainkan pria tersebut. Apalagi perkataan Vero tadi merupakan sebuah omong kosong belaka dan mencoba mengetes tentang seberapa pandai pria yang berada dihadapannya itu untuk terus mengungkapkan sebuah kebohongan.


"Ya... begitulah. K-Karena perusahan kami sudah sangat besar, akhirnya kami berhasil menarik Investor besar untuk berinvestasi pada perusahaan kami"


__ADS_2