
Zen saat ini sudah memasuki area Villa tempatnya menginap, dan sedang menggendong keponakannya yang memaksanya tadi pagi untuk menemaninya melihat pemandangan matahari terbit.
Tentu sebagai Paman yang baik hati dan tidak sombong, Zen menuruti kemauan gadis kecil tersebut dan membawanya menuju area pantai yang berada tidak jauh dari Villa tempat mereka menginap, untuk melihat pemandangan yang ingin dilihat keponakannya itu.
“Akhirnya sampai” ucap Ana yang merasa senang sudah ditemani oleh pamannya sedari tadi.
Memang saat sedang asik terlelap, Zen dikejutkan dengan kedatangan sesosok gadis kecil dan memaksanya untuk menemaninya. Untung saja gadis itu adalah Keponakannya, kalau tidak dirinya mungkin akan mengamuk dan menghancurkan tempat ini, karena kegiatannya itu terganggu.
Apalagi Zen baru saja kembali dari melakukan kegiatan pembantaian dan membantu seseorang tadi. Namun karena yang datang dan memberi permintaan adalah keponakannya, jadi Zen harus memenuhinya karena itulah yang dirinya yakini, yaitu keluarga adalah nomor satu baginya.
“Lalu, kamu mau kemana lagi, biar Paman temani?” ucap Zen kemudian.
“Hm... aku pergi menuju kebun binatang Paman. Aku mau melihat singa” Balas Kileni kemudian.
“Baiklah, sehabis sarapan kita langsung menuju ke sana” balas Zen yang ikut bersemangat dengan permintaan keponakannya itu.
Memang bagi Zen keluarga adalah nomor satu baginya. Bahkan saat masih berada di neraka, Zen tidak segan-segan menuruti permintaan para saudaranya, walaupun permintaan mereka bisa dibilang mustahil untuk dipenuhi.
Maka dari itu, semua saudara dari Zen sangat amat menyayanginya dan bahkan hingga saat ini semua saudaranya yang tersisa sangat menghormatinya, bahkan mereka akan memenuhi semua kebutuhan dan permintaan Zen jika dirinya membutuhkannya.
“Ho... pantas saja sedari pagi aku mencari keberadaan gadis nakal ini dan tidak bisa menemukannya.” Ucap Valana, Ibu kandung dari Ana melihat kedatangan kedua orang yang baru saja masuk kedalam villa tempat mereka menginap.
“Aku mengajak Paman melihat pemandangan matahari terbit Ibu” ucap Ana bersemangat.
“Jangan menyusahkan Pamanmu.” Ucap Valana yang mengambil putrinya itu menuju gendongannya.
“Maafkan perilaku putriku yang merepotkan dirimu Kakak Ipar” ucap Valana kemudian.
__ADS_1
“Merepotkan? Sejak Kapan menyenangkan salah satu anggota keluarga merepotkan?” balas Zen kemudian.
Valana hanya tersenyum saja mendengar jawaban Kakak Iparnya itu, karena memang bisa dikatakan Kakak Iparnya itu sangat hangat kepada keluarganya termasuk dirinya dan Agatha. Terlihat dirinya selalu saja mengikuti kemauan mereka, walaupun sebagian besar keinginan yang mereka minta dari Zen berasal dari kedua keponakannya.
“Baiklah Kakak Ipar. Kalau begitu mari menuju area meja makan karena diriku dan Agatha sudah memasak sarapan untuk kita semua” balas Valana kemudian yang memimpin langkah Zen menuju area meja makan.
Satu hal yang membuat beberapa orang sangat senang dengan Zen, yaitu dirinya jarang membeda-bedakan seseorang karena statusnya, kecuali memang dirinya tidak menyukai orang tersebut dan tidak mengenal mereka. Seperti contohnya saat ini, malaikat maut dan seorang malaikat yang ditugaskan untuk menjaga kedua istri Mikhael, dan anak-anak mereka sudah berada dimeja makan yang sama dan akan makan bersama dengan mereka.
Bukan itu saja, semua pelayan yang merupakan orang-orang yang diselamatkan oleh Zen dulu juga dipaksa olehnya untuk makan bersamanya, karena memang itulah peraturan yang sudah dibuatnya.
“T-Tidak apa-apa Tuan. Aku akan sarapan setelah anda menyelesaikan sarapan anda” kata seorang malaikat yang sudah menaruh piring yang sudah berisi makanan tepat dihadapan Zen.
“Kalau kamu mau menjadi malaikat jatuh, silahkan saja sarapan saat aku selesai memakan sarapanku ini” ancam Zen dan langsung membuat malaikat yang bernama Inez itu langsung bungkam, dan duduk pada kursinya lalu menyantap sarapannya.
“Jangan seperti itu Tuan. Dirinya merupakan malaikat baru, jadi belum paham sepenuhnya dengan tugasnya” ucap Mira kepada Zen.
“Hm.. Aku akan mengingatnya. Dan Inez, lain kali bersikap biasa saja jika berada di dekatku.” Ucap Zen kemudian.
Tentu kesalahan terbesarnya adalah menodongkan senjatanya kearah seorang pemimpin neraka secara langsung, dan membuat Inez merasa sangat bersalah. Namun entah mengapa, dirinya tidak dihukum seperti seharusnya dan malah perilakunya itu hanya dibiarkan saja, yang membuat perasaan tidak enak hatinya terus tumbuh didalam dirinya.
“Lalu kenapa keponakan paman yang tampan ini tidak memakan makannya?” ucap Zen kemudian yang melihat keponakan yang berwujud balita itu hanya menatap makanannya saja dan tidak menyentuhnya.
“Dia ngambek Kakak Ipar, karena dirimu tidak mengajaknya melihat matahari terbit tadi” balas Agatha kemudian.
“Ah... benarkah... Maafkan Paman oke” ucap Zen yang merasa bersalah dan mencoba membujuk keponakannya itu agar tidak merajuk.
“Humph...” dan begitulah balasan yang diterima oleh Zen, yang dimana balita itu sekarang sudah membuang mukanya dan tidak ingin menatap Zen.
__ADS_1
“Paman tadi ingin mengajakmu. Tetapi karena Levon masih tidur, jadi Paman tidak jadi mengajakmu. Lalu, untuk menebus kesalahan Paman, bagaimana jika kita pergi menuju kebun binatang hari ini?” ucap Zen kemudian.
Tentu mendengar Pamannya akan mengajaknya menuju kebun binatang, membuat balita itu sedikit tertarik dengan perkataan Pamannya itu. Namun karena dirinya masih sedikit marah karena tidak diajak tadi pagi, tentu dirinya tidak menunjukan dengan jelas ekspresinya itu.
“Tunggu Kakak Ipar, bukankah kamu akan menghadiri sebuah lelang hari ini?” ucap Valana yang menghentikan aura kebahagiaan yang mulai muncul dari balita yang sedari tadi sedang merajuk.
“Aku sudah menyelesaikan tugasku, jadi aku tidak perlu menghadiri lelang tersebut lagi bukan?” tanya Zen yang merasa kehadirannya pada acara tersebut tidak diperlukan lagi.
“Memang Kakak Ipar, tetapi karena keluarga kita mendapatkan undangan langsung dan menerima undangan tersebut, jadi setidaknya Kakak harus menghadirinya” ucap Agatha kemudian.
“Undangan itu tidak tertulis namaku bukan, tetapi tertulis Keluarga Kerajaan Vatikan. Jadi, bisakah kedua adik Iparku yang baik hati menggantikan diriku menghadiri lelang tersebut?” ucap Zen sambil menatap kedua wanita yang merupakan adik iparnya itu.
“Tapi aku juga ingin pergi menuju kebun binatang Kakak Ipar” ucap Agatha kemudian.
“Cih... biarkan aku menikmati waktuku bersama keponakanku. Kalian berdua datanglah menghadiri lelang tersebut” balas Zen kemudian.
Akhirnya sudah diputuskan. Hari ini Zen akan menuju kebun binatang bersama kedua keponakannya dan meninggalkan Valana dan Agatha untuk menghadiri sebuah lelang, karena memang permasalahan yang harus dirinya selesaikan pada lelang tersebut sudah terselesaikan oleh Zen tadi malam.
“Lalu, apakah Kakak Ipar akan pergi bersama Ana dan Levon saja?” tanya Valana kemudian karena dirinya mengkhawatirkan kedua anaknya itu akan merepotkan Zen.
“Hm... mungkin aku akan mengajak Inez untuk membantuku menjaga mereka” Balas Zen.
Tentu Inez yang masih memakan makannya dengan perasaan yang ketakutan langsung tersedak mendengar perkataan dari Zen. Namun karena Zen sudah berkata seperti itu, mau tidak mau gadis malaikat itu harus mengikutinya.
“Tapi aku juga ingin pergi menuju kebun binatang Tuan” ucap Mira kemudian.
“Masih ada yang harus kamu bimbing jiwanya hari ini Mira. Jadi lakukan tugasmu dengan baik, dan mungkin dimasa depan aku akan mengajakmu jalan-jalan” ucap Zen.
__ADS_1
Mira sebenarnya ingin ikut, tetapi karena tugasnya untuk mengantarkan jiwa yang nasibnya berakhir hari ini, jadi dirinya terpaksa harus mengurungkan niatnya itu.
“Jadi... mari kita berangkat”