
Zen mulai memasuki sebuah kediaman mewah, setelah tuan rumah dari kediaman yang dirinya masuki, sudah mempersilahkan dirinya memasukinya. Memang, bisa terlihat dengan jelas sebuah kediaman yang sangat mewah, mulai menyambut keberadaannya saat ini.
Walaupun kediaman dari Vero bisa dikatakan tidak semewah mansion-mansion dari para konglomerat lain, tetapi kediaman ini bisa dikatakan cukup mewah, untuk ditinggali oleh seseorang.
“Nona Vero memang tidak ingin pindah dari kediamannya ini, karena kediaman ini merupakan kediaman peninggalan Neneknya” ucap Leni kepada Zen, menjelaskan kenapa Vero lebih memilih tinggal di rumah yang sedang dimasuki oleh Zen saat ini.
Memang, jika bisa dikatakan kediaman Vero tidak seperti kediaman para orang yang sangat kaya pada umumnya. Karena biasanya para orang yang sangat kaya lainnya, akan memiliki sebuah mansion untuk mereka tinggali.
Berbeda dengan Vero, dirinya lebih memilih kediaman yang cukup besar untuk dirinya tinggali, namun fasilitas yang terdapat didalamnya bisa dikatakan amat sangat mewah. Dan bisa terlihat saat Zen memasuki tempat itu lebih dalam.
“Hm... kukira dirinya bercanda saat dia bilang dirinya sangat kaya” ucap Zen sambil memperhatikan sekeliling kediaman dari Vero.
“Apa kamu kira aku berbohong?” tanya Vero kemudian, dan mulai merasa kesal setelah mendengar perkataan Zen itu.
Memang Vero masih menemani kegiatan Zen dalam menelusuri seluruh sudut kediamannya. Walaupun hanya Leni saja yang menjelaskan setiap ruangan yang mereka masuki, dan Vero lebih banyak diam dan mengikuti langkah mereka berdua saja.
“Tentu saja. Mana ada orang yang mengaku kaya tidak bisa membayar makanan pada sebuah kedai sederhana. Jadi jangan salahkan aku jika tidak mempercayai perkataanmu” balas Zen kemudian.
“Cih... sudah kubilang aku tidak mempunyai uang tunai bukan? Lagipula aku sudah mentraktir dirimu pada sebuah restoran mahal, apakah itu tidak cukup membuatmu percaya bahwa aku sangat kaya?” ucap Vero kemudian yang memperdebatkan perkataan dari Zen.
“Orang kantoran biasa juga bisa melakukan apa yang kamu lakukan pada saat itu. Jadi, tentu saja aku tidak mempercayai sepenuhnya perkataanmu” balas Zen kembali dan membuat Vero semakin kesal dibuatnya.
Anehnya, bukannya aneh mendengar perdebatan yang terjadi, tetapi Leni malah senang melihat kedua pasang suami istri itu sedang memperdebatkan sesuatu. Karena memang, Leni sangat jarang melihat Vero berinteraksi dengan seseorang terutama seorang pria.
Apalagi saat ini sepertinya Nona Mudanya itu seakan mulai membuka dirinya, terutama kepada seorang pria. Karena memang selama ini dirinya selalu saja menghindari para pria, termasuk dirinya sangat tidak nyaman dengan keberadaan mereka.
Bahkan Leni sempat tidak mempercayai kabar bahwa Nona mudanya itu sudah menikah, karena memang dirinya mengetahui seberapa bencinya majikannya itu dengan namanya Pria. Apalagi semua pekerja dikediaman ini semuanya wanita. Jadi, bisa dikatakan hal ini merupakan sebuah kemajuan dari perilaku yang dilakukan oleh Vero.
“Hahh... tapi kamu sudah melihat bukan, bahwa aku sangat kaya?” ucap Vero yang mulai membanggakan kekayaannya kepada Zen saat ini.
__ADS_1
“Yap... untuk saat ini aku percaya” balas Zen sambil mengangguk.
“Apa katamu? Kamu belum mempercayai bahwa aku benar-benar kaya?” ucap Vero kemudian, yang masih tidak terima dengan perkataan dari Zen yang menjawab perkataannya tadi.
Perdebatan pasangan pengantin baru itu, mulai menghiasi sepanjang perjalanan mereka menelusuri kediaman yang mewah milik Vero saat ini, hingga akhirnya mereka tiba pada sebuah kamar pada lantai dua dari kediaman ini.
Memang kediaman Vero hanya terdiri dari dua lantai saja, namun bisa dikatakan luas kediamannya cukup besar. Jadi bisa dikatakan kediamannya itu lumayan besar untuk ditinggali oleh beberapa orang, apalagi saat ini kediaman ini hanya ditinggali oleh Vero dan para pekerja rumahnya saja.
“Bibi Leni, untuk kamar kami biar aku saja yang menjelaskan kondisinya kepada Suamiku” ucap Vero yang saat ini sudah berhenti tepat pada sebuah pintu kamar, yang merupakan pintu kamar dari kamar pribadinya.
“Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan mengganggu” ucap Leni kemudian, yang membiarkan kedua pasangan itu melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
Tentu sebagai orang Dewasa, Leni mengartikan perkataan Vero itu dengan sesuatu yang menjerumus tentang hubungan seorang suami istri. Jadi dirinya hanya bisa membiarkan kedua pasangan itu melakukan apa yang mereka mau.
Dengan senyum yang sudah terukir diwajahnya yang sedikit keriput, Leni memutuskan untuk memberikan waktu kepada kedua pasangan itu, untuk dihabiskan waktu mereka bersama pada kamar mereka, dan memutuskan untuk tidak mengganggu kegiatan mereka lebih lanjut.
“Ah... Bibi hampir lupa, kalian mau makan apa untuk makan siang?” ucap Leni kemudian kepada kedua pasangan itu, setelah dirinya akan beranjak dari tempatnya.
Mendengar jawaban yang diberikan kepadanya, Leni kembali mengartikan bahwa kedua pasangan itu saat ini sudah tidak sabar dalam melakukan kegiatan mereka. Jadi, saat ini dirinya memutuskan untuk tidak mengganggu mereka lebih lanjut.
“Baiklah, kalau begitu nikmatilah waktu kalian berdua” ucap Leni yang mulai meninggalkan kedua pasang pengantin baru tersebut, dan lebih memilik melanjutkan pekerjaannya saat ini.
Vero mulai menghela nafasnya saja melihat kepergian Bibinya itu, karena memang dirinya harus bersandiwara untuk akrab kepada Zen jika ada dirinya. Apalagi, entah mengapa Vero tidak bisa mengacuhkan perkataan pelayan diri kediamannya itu.
Apalagi Vero sudah menganggap Leni sebagai orang tuannya. Jadi dirinya merasa sangat menghormatinya, dan dirinya merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, jika dirinya menolak dan mengabaikan perkataannya.
“Hahh... kalau begitu ayo masuk. Aku akan memperkenalkan kamar yang akan kamu tinggali” ucap Vero, yang mulai membukakan pintu kamarnya dan mengajak Zen masuk kedalamnya.
Akhirnya Vero sudah mengajak Zen untuk memasuki kamar pribadinya, yang dimana kamar tersebut sangatlah luas. Bahkan saking luasnya, kamar dari Vero terlihat seperti sebuah kediaman sederhana yang terdapat didalam sebuah rumah.
__ADS_1
Zen sempat memperhatikan seluruh sudut kamar Vero, hingga akhirnya dirinya mulai dibimbing oleh Vero menuju kesebuah ruangan yang berada didalam kamarnya. Tentu Zen hanya mengikuti langkahnya saja dan saat ini mulai diajak untuk memasuki sebuah ruangan yang berada didalam kamarnya itu.
“Ini sebenarnya ruangan kerjaku. Namun karena kamu sudah menjadi suami bayaran untukku, sekarang tempat ini sudah aku sulap menjadi sebuah kamar untuk dirimu” balas Vero, sambil menunjukan kamar yang akan ditinggali oleh Zen pada kediamannya ini.
Memang bisa dikatakan kamar yang akan digunakan oleh Zen, fasilitasnya tidak terlalu buruk. Karena didalamnya terdapat berbagai fasilitas yang cukup mewah terdapat didalamnya. Jadi bisa dikatakan Zen akan cukup nyaman tinggal dikamar tersebut.
Walaupun luas ruangannya bisa dikatakan tidak seluas kamar pribadi milik Vero, tetapi Zen cukup puas karena dirinya merasa sudah cukup nyaman, jika dirinya akan tinggal di ruangan tersebut. Apalagi dirinya juga akan mendapatkan privasi jika dirinya tinggal sendirian di ruangan itu.
“Hm... jadi kamu membuat sebuah kamar didalam kamarmu?” tanya Zen yang mendapat anggukan dari Vero.
“Tentu saja karena aku tidak akan tidur seranjang denganmu, jadi aku memutuskan untuk membuat sebuah kamar didalam kamarku, untuk menghilangkan kecurigaan tentang hubungan kita” ucap Vero kemudian.
“Hm... baiklah.” Ucap Zen yang hanya menerima saja keputusan yang sudah dibuat oleh Vero.
Akhirnya Vero mulai memperkenalkan kamar yang akan ditinggali oleh Zen, termasuk menunjukannya kamar mandi, lemari yang sudah berisi beragam pakaian dan sebagainya yang terdapat didalam kamar tersebut.
“Dan juga, saat kamu ingin keluar dari kamarmu, pastikan kamu mengetuk terlebih dahulu pintu kamarmu. Karena diluar kamarmu ada kamar tempat diriku beristirahat” ucap Vero.
Tentu Vero tidak ingin Zen asal keluar dari kamarnya, sedangkan dirinya sedang melakukan sesuatu pada kamarnya. Seperti misalnya jika dirinya sedang berganti pakaian. Tentu wanita itu mencegah hal itu tidak terjadi dan memperingatkan Zen terlebih dahulu tentang permasalahan tersebut.
“Baiklah” balas Zen sambil mengangguk, setelah mendengar peringatan yang diberikan oleh Vero.
“Dan juga, jangan melakukan hal yang aneh didalam kamarmu. Walaupun memang kamar itu dikhususkan untukmu, tetapi tetap saja ini kediaman milikku. Jadi aku tidak mau kamu berbuat sesuatu yang janggal dikediaman ini” ucap Vero yang memperingatkan Zen kembali.
“Iya... Iya... baiklah” balas Zen sekali lagi.
Karena melihat Zen sudah paham dengan semua peraturan yang sudah dirinya terapkan, akhirnya Vero mulai tersenyum puas dan mulai mempersilahkan pria itu untuk beristirahat sejenak didalam kamarnya, karena memang dirinya juga ingin kembali beristirahat.
Apalagi, waktu istirahat Vero tadi terganggu, saat seorang pria yang sangat dirinya benci mendatangi kediamannya tadi. Dengan menutup pintu kamar dari Zen, Zen saat ini mulai melihat kembali sekeliling tempat dirinya akan tinggal mulai sekarang.
__ADS_1
Dengan langsung membuang dirinya di atas kasur pada kamar tersebut, Zen saat ini mulai menatap bagian langit-langit dari kamar kediamannya, dan mulai menghela nafasnya karena memang sepertinya wanita yang membayarnya menjadi suaminya itu, mempunyai banyak sekali musuh.
“Hahh... ternyata musuh dari wanita itu bukan saja dari luar, tetapi dari dalam juga ada”