Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Bersiap Untuk Bertemu


__ADS_3

Semua orang pada sebuah istana terlihat sangat amat repot saat ini. Memang ada yang mendasari tindakan mereka itu, namun seorang pria terlihat cukup kebingungan melihat tingkah mereka yang seakan sedang kerepotan itu.


Zen hanya menghela nafasnya saja melihat seluruh keluarganya sedang kerepotan dengan berbagai hal yang sedang mereka persiapkan. Maka dari itu, dirinya merasa cukup pusing memperhatikan mereka yang seakan sedang repot melakukan kegiatan mereka saat ini.


"Hahh... bukankah kita tinggal berangkat saja, kenapa kalian mempersiapkan banyak sekali hal yang akan kalian bawa" ucap Zen yang mengamati tingkah seluruh adik, ipar dan Istri-istrinya.


Namun naas, saat ini suaranya seakan dianggap angin lalu dan Zen hanya kembali menghela nafasnya karena saat ini sepertinya mereka disibukkan dengan berbagai hal untuk persiapan kepergian mereka menuju dunia yang ditinggali oleh Ayah dan Ibunya.


Tadi malam, Zen berhasil menyesuaikan sepenuhnya tubuhnya untuk dapat mengendalikan semua kekuatan Sang Pencipta yang dirinya wariskan dari Ayahnya. Tentu berkat hal itu, dirinya akhirnya bisa melakukan berbagai hal salah satunya berpindah antar dunia.


Dengan kekuatannya itu tentu hal pertama yang akan Zen lakukan adalah membawa seluruh keluarganya untuk bertemu Ayah dan Ibunya. Sehingga hal itulah yang membuat keributan terjadi pada Istana Kerajaannya yang saat ini dipenuhi dengan pihak-pihak yang sangat kerepotan.


"Zen, kami sudah siap" hingga salah satu Istrinya Axillia, dengan membawa beberapa barang mulai menghampiri Zen saat ini.


Memang mereka membutuhkan berbagai hal untuk pergi menuju dunia yang ditinggali oleh Ayah dan Ibunya. Karena dunia itu sepenuhnya kekuatan tidak bisa mereka gunakan, kecuali Zen yang memang berada di atas hukum yang menjerat seluruh semesta ini.


Tentu adik-adiknya dan Istri-istri Zen yang memiliki kekuatan juga tidak akan bisa melakukan apapun di sana, karena kekuatan mereka tidak akan bisa dikeluarkan sama sekali, seperti apa yang dialami oleh Zen pada saat dirinya mengunjungi dunia itu pertama kali.


Tentu ada sebuah hukum khusus yang dibuat di dunia itu dan dibuat oleh Sang Pencipta atau Ayah dari Zen. Maka dari itu, banyak hal yang harus mereka persiapkan untuk pergi ke sana termasuk salah satu Istri dari Zen yang kemungkinan besar akan melahirkan di dunia tersebut.


"Ya... sekarang kita hanya harus menunggu adik-adikku bersama Istri dan anak-anak mereka saja" Balas Zen yang memang menantikan mereka semua untuk berkumpul.

__ADS_1


Tentu keluarga sepupu dari Zen cukup kerepotan karena mereka disibukkan dengan berbagai hal termasuk persiapan untuk anak-anak mereka. Jadi dengan terpaksa mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan persiapan mereka.


"Lalu, kenapa kalian terlihat gugup?" hingga disaat Zen masih menantikan kedatangan adik-adiknya, Zen bisa melihat ekspresi beberapa Istrinya terlihat sedikit aneh.


Siapa yang tidak gugup bertemu dengan mertua untuk pertama kalinya. Apalagi yang mereka tahu, mertua mereka merupakan sosok yang sangat amat besar namanya. Jadi yang bisa mereka lakukan adalah berharap keberadaan mereka bisa diterima di sana.


Seluruh adik Ipar Zen juga merasakan hal yang sama. Karena mereka bisa dikatakan juga sangat gugup untuk bisa bertemu dengan mertua mereka untuk pertama kalinya. Maka dari itu banyak hal yang mereka persiapkan untuk pertemuan mereka nantinya.


"Tenanglah. Ayah dan Ibuku bukankah sosok yang akan mempermasalahkan apapun, termasuk pilihan anaknya tentang permasalahan pendamping" Balas Zen yang mencoba menenangkan mereka.


Namun tetap saja, kata-kata bijak Zen itu tidak membantu meringankan perasaan gugup mereka disaat akan bertemu dengan kedua orang Tua Zen. Jadi yang bisa Zen lakukan adalah membiarkan saja keadaan mereka seperti itu, dan menantikan saja kedatangan adik-adiknya bersama keluarga mereka.


Hingga akhirnya persiapan mereka sudah rampung sepenuhnya. Adik-adik Zen dan seluruh keluarganya, beserta Istri-istri Zen sudah siap sepenuhnya. Maka dari itu mereka siap untuk berangkat menuju ke dunia tempat dimana orang tua Zen berada.


"Mungkin beberapa dari kalian akan merasakan sedikit sensasi aneh. Tapi kalian bisa tenang karena hal itu sangat wajar" Balas Zen yang saat ini mulai membimbing mereka melewati portal sebesar sebuah pintu itu.


Yang pertama Tentu mempersilahkan seluruh Istri-istrinya untuk masuk satu persatu melewati portal itu. Lalu dirinya membantu seluruh saudara Iparnya dan juga anak-anak mereka untuk melewatinya. Barulah adik-adik Zen diikuti semua pelayan mereka mulai memasuki tempat itu sebelum akhirnya Zen akan memasukinya.


"Kalau begitu, aku berangkat dulu. Ingat jika terjadi sesuatu kalian bisa menghubungi diriku" Balas Zen yang berpamitan kepada Beberapa Malaikat dan Malaikat Maut yang akan menggantikan keberadaan dirinya dan adik-adiknya untuk menjaga dunia ini.


"Baiklah Tuan. Selamat bersenang-senang saat melakukan liburan anda. Dan jangan lupa sampaikan salam kami kepada Sang Pencipta dan Istrinya" Ucap Alfred yang melepaskan kepergian Tuannya itu.

__ADS_1


Zen hanya tersenyum sambil mengangguk saja mendengar perkataan mereka. Hingga akhirnya dirinya mulai ikut masuk kedalam portal yang dirinya buat, sehingga saat ini sebuah pemandangan baru bisa dirinya lihat setelah dirinya berhasil melewati portal perpindahan dunia yang dirinya ciptakan.


"Akhirnya aku kembali lagi" gumam Zen yang saat ini mulai melenyapkan portal yang dirinya buat, dan saat ini menatap tempat dimana dirinya berada.


Lokasi ini sama seperti lokasi pertama kali dirinya menginjakkan kakinya ketempat ini. Walaupun memang dirinya hanya mendatangi tempat ini sekali, tetapi sebuah rasa kerinduan dan sebuah rasa keakraban mulai dirinya rasakan saat melihat itu semua, dan saat ini dirinya berhasil kembali ketempat ini.


Namun sepertinya dirinya tidak bisa dengan bebas menikmati waktunya memperhatikan keadaan sekelilingnya itu, karena beberapa Istrinya merasa mual setelah melakukan perpindahan dunia pertama kalinya. Untuk para Istri mereka yang seorang manusia bisa dikatakan mereka merasa mual saat melakukan perjalanan dunia.


Maka dari itu Zen dan adik-adiknya mulai membantu meringankan keadaan mereka yang masih menyesuaikan keadaannya. Hingga begitulah mereka semua saat ini masih menyesuaikan diri mereka, setelah akhirnya tubuh mereka sudah merasa mendingan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka.


"Lalu, dimana kediaman Ayah dan Ibu, Kak?" Tanya Mikhael yang memang tidak bisa merasakan apapun di wilayah ini.


"Ikut aku" Balas Zen yang saat ini mulai memimpin mereka semua untuk berjalan menuju kediaman orang tua mereka.


Sama seperti sebelumnya, mereka harus menanjak sebuah bukti sebelum mereka melihat sebuah kediaman sederhana. Namun disaat Zen melihat kediaman itu, dirinya menemukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Karena saat ini kediaman itu sepertinya sudah diperbesar.


Namun Zen tidak memperdulikan semua itu dan saat ini dengan bersemangat mulai mendekat kearah kediaman sederhana yang besar itu. Saat semakin dekat, jantung semua pihak bisa dikatakan berdetak dengan cepat. Untuk adik-adik Zen tentu mereka seakan tidak sabar bertemu kedua orang tua mereka.


Sedangkan Istri-istri mereka dan Istri-istri Zen saat ini merasa semakin gugup untuk bertemu pertama kali dengan kedua mertua mereka. Hingga mereka semua merasakan jantung mereka berdegup dengan kencang, apalagi saat ini mereka sudah memasuki wilayah kediaman itu dengan dipimpin oleh Zen.


Tentu mereka semua saat ini mulai berhenti tepat di pintu dari kediaman itu. Hingga saat ini hanya Zen sendirilah yang mendekat kearah pintu kediaman tersebut dan mulai mengetuknya. Suara wanita mulai terdengar disaat Zen menyelesaikan ketukannya. Hingga pintu yang semula tertutup saat ini mulai terbuka dan saat ini memunculkan wanita yang sangat cantik dari baliknya.

__ADS_1


"Aku kembali, Ibu"


__ADS_2