
Beberapa orang asing saat ini sudah keluar dari area bendara tempat mereka baru saja mendarat. Dari penampilan mereka, bisa terlihat bahwa mereka merupakan warga negara dari Kerajaan Cina, yang seakan sedang berwisata ditempat yang sedang mereka datangi saat ini.
Orang-orang yang sedang berjalan beriringan tersebut, sudah menyeret barang bawaan mereka masing-masing dan sedang menunggu seseorang yang akan menjemput mereka ditempat ini. Hingga akhirnya sebuah kendaraan mini bus berhenti tepat didepan mereka.
“Selamat datang saudaraku” ucap seseorang yang menyambut kedatangan orang-orang tersebut, setelah dirinya menunjukan rupanya dari dalam mobil mini bus yang berhenti tersebut.
“Bagaimana kabarmu Xin Wei?” ucap salah satu dari mereka, yang menyambut sapaan pria yang menyambut mereka itu dengan ramah.
Tentu karena bisa dikatakan mereka dari sebuah kelompok yang sama, mereka bisa dikatakan sangat dekat dan seakan seperti sebuah keluarga saat ini. Hal itu mereka tunjukan dengan mulai saling berpelukan, seakan sedang melepaskan kerinduan mereka satu sama lainnya.
Apalagi mereka cukup senang karena bisa bertemu lagi dengan saudara seperguruan mereka ditempat ini, setelah mereka memang sudah lama berpisah satu sama lainnya.
“Lalu, dimanakah target yang harus kita habisi?” ucap pria itu sekali lagi, kepada pria yang dipanggil Xin Wei tersebut, setelah mereka sudah puas untuk melepaskan kerinduan mereka.
“Akan aku jelaskan saat kita sampai di markas yang akan kita tempati” ucap Xin Wei kepada mereka, untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya itu.
Mereka semua hanya mengangguk saja dengan perkataan Xin Wei dan mulai memasuki mini bus yang memang dikhususkan untuk menjemput mereka ditempat ini. Sebenarnya mereka bisa saja menjelajahi dengan bebas tempat ini menggunakan kekuatan mereka.
Namun karena mereka melakukan misi ini secara tersembunyi, akhirnya mereka tidak bisa melakukannya dan hanya bisa berpergian dengan cara yang sama dengan para manusia saat ini, yaitu menggunakan transportasi umum yang pada umumnya digunakan para manusia biasa.
"Tetapi sebelum itu, bisakah kamu mengantarkan kami untuk menuju tempat yang dapat membuat kami menghilangkan sedikit keletihan kami Xin Wei?" tanya seseorang dari mereka, setelah mereka sudah menaiki mini bus yang menjemput mereka.
"Tentu saja Saudaraku." Balas Xin Wei sambil tersenyum, dan mulai menyuruh supir dari mini bus yang ditumpanginya untuk melajukan kendaraan tersebut dan beranjak dari sana.
Disisi lain, seorang wanita juga sudah keluar dari bandara setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari Ibukota. Dengan mendorong kereta barang yang dibawanya, dirinya saat ini juga sedang menunggu jemputan yang akan menjemputnya ditempat ini.
“Maaf membuat anda lama menunggu Bu Santi” ucap seorang yang ditugaskan untuk menjemput dirinya ditempat ini, setelah dirinya tiba dihadapannya.
“Tidak apa-apa. Lalu bisakah kita berangkat sekarang?” Ucap santi dengan nada lelahnya, karena memang dirinya saat ini terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.
Tentu hal tersebut diakibatkan kejadian yang dirinya alami beberapa hari yang lalu. Apalagi penyebab kematian tunangannya masih terngiang dengan jelas di kepalanya, sehingga membuat keadaannya yang terlihat tidak bersemangat itu terpampang jelas diwajahnya.
Apalagi tidak mudah melupakan sebuah kejadian, yang dimana dirinya menyadari bahwa kematian orang yang sangat dicintainya, bisa dikatakan meregang nyawa karena dirinya sendiri. Walaupun tidak secara langsung bisa dianggap seperti itu, tetapi Santi merasa bahwa dirinyalah yang membuat tunangannya itu terbunuh.
__ADS_1
“Baiklah Bu Santi, kalau begitu silahkan masuk” ucap orang yang menjemputnya, sambil membukakan sebuah pintu penumpang dari mobil yang menjemput Santi ditempat tersebut, dan mulai memasukan barang bawaannya kedalam bagasi mobil yang akan ditumpanginya.
Memang karena Santi sudah menjadi kepala kepolisian sebuah wilayah, tentu dirinya mendapatkan beberapa fasilitas tambahan untuk kebutuhan dirinya sendiri, termasuk sebuah kediaman yang akan ditinggalinya mulai saat ini.
Bahkan mobil yang dirinya tumpangi saat ini, termasuk salah satu fasilitas yang dirinya dapatkan atas kenaikan pangkatnya. Karena memang karena pangkatnya termasuk tinggi pada organisasi kepolisian negara ini, jadi dirinya diberikan fasilitas seperti itu untuk menunjang kinerjanya sehari-hari mulai saat ini.
"Akhirnya aku kembali" ucap Santi yang sudah menutup pintu mobilnya, setelah dirinya masuk kedalamnya.
Hingga akhirnya, sopir yang membawa mobil yang ditumpanginya sudah menyelesaikan memasukan semua barang milik Santi kedalam bagasi, dan saat ini mulai masuk kedalam kursi kemudi dan mulai menjalankan mobil tersebut menuju kediaman lama milik Santi.
Karena memang dirinya memutuskan untuk langsung membereskan semua barang-barang miliknya pada kediaman lamanya, dan langsung memindahkannya menuju kediaman baru yang akan dirinya tempati mulai saat ini.
“Hahh... tetapi kenapa aku kembali merasa sangat tidak bersemangat hari ini” ucap Santi yang saat ini sudah duduk di kursi penumpang pada mobil yang ditumpanginya, sambil memandang pemandangan bagian luar dari kendaraan yang ditumpanginya.
.
.
Ditempat lain, seorang wanita saat ini cukup terkejut dengan sebuah kabar yang baru saja dirinya terima. Dengan keadaan yang panik, dirinya mulai bergegas menuju ruangan dari atasannya, untuk meminta izin agar dirinya bisa menindak lanjuti kabar yang dirinya terima tersebut.
“Ver... bisakah aku meminta izin untuk pulang lebih cepat hari ini? Karena pihak rumah sakit baru saja menelponku, dan mengatakan kondisi Ibuku memburuk” ucap Kelly dengan nada suara yang sangat panik, yang sedang berbicara dengan Vero saat ini.
“Kondisi Bibi memburuk?” tanya Vero yang juga ikut terkejut, dan tidak menyangka dengan sebuah kabar yang baru saja dirinya dengar itu.
Ibu dari Kelly memang sudah lama mengidap sebuah penyakit dan hingga saat ini dirinya tinggal di rumah sakit karena penyakit yang dirinya alami tersebut. Sebagai sahabat, tentu Vero juga mengetahui apa yang terjadi dengan Ibu kandung dari sahabatnya itu.
Apalagi karena dirinya merupakan sahabat dekat dari Kelly, Ibu dari Kelly sangat dekat dengan Vero. Walaupun kondisinya sudah sangat buruk sejak lama, tetapi tetap saja Vero sangat dekat dengan Ibu dari sahabatnya itu, bahkan saat ini dirinya juga ikut mengkhawatirkan keadaannya saat ini.
“Iya... aku baru saja dihubungi oleh pihak rumah sakit tadi” ucap Kelly kembali.
“Kalau begitu, cepatlah kamu langsung menjenguk keadaan Ibumu. Untuk pekerjaanmu, aku sendiri yang akan menghandle semuanya saat ini” perintah Vero kepada Kelly, agar wanita itu bisa langsung pergi menuju rumah sakit saat itu juga.
“Terima kasih Ver, kalau begitu aku pergi dulu” ucap Kelly yang langsung beranjak dari sana, untuk segera menuju rumah sakit tempat Ibunya berada.
__ADS_1
Tentu melihat sahabatnya pergi, membuat Vero mulai menghela nafasnya saja, karena turut prihatin dengan keadaan yang dialami oleh sahabatnya itu. Hingga akhirnya, dirinya mulai menghubungi beberapa karyawannya yang lain, untuk setidaknya membantu menyelesaikan pekerjaan dari Kelly yang dirinya tinggalkan.
“Memangnya Ibunya sakit apa?” tanya Zen kemudian, setelah Vero selesai menugaskan beberapa karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan dari Kelly.
Memang keberadaan Zen saat ini berada di ruangan dari Vero, karena memang Zen tidak tahu harus menunggu Vero menyelesaikan pekerjaannya dimana lagi. Jadi, dirinya memutuskan untuk berdiam didalam ruangannya saja, sambil menunggu dirinya menyelesaikan pekerjaannya dan dirinya bisa menjaga keberadaan Vero secara langsung dari sana.
Tentu keputusannya itu sempat membuat mereka kembali berdebat, karena Vero menyuruhnya menuggu pada ruangan yang dikhususkan untuk para OB yang bekerja di kantor ini untuk beristirahat. Namun karena ruangan ini cukup luas menurut Zen, jadi Zen memutuskan memilih untuk menunggu dirinya ditempat ini saja.
“Kanker” balas Vero acuh, dan mulai melanjutkan pekerjaannya.
“Hm... kanker ya...” balas Zen yang hanya mengangguk atas jawaban yang diberikan oleh Vero itu.
Sebenarnya Vero dan Kelly tidak tahu pasti penyakit yang sedang dialami oleh Ibu kandung dari Kelly tersebut. Walaupun memang kondisinya bisa dikatakan seperti penderita penyakit kanker pada umumnya, tetapi hingga saat ini tidak ditemukan penyakit tersebut didalam tubuhnya.
Tentu sebagai sahabat dan sudah menganggap dirinya sebagai saudara, Vero terus berusaha untuk membantu pengobatan dari Ibu sahabatnya itu diberbagai tempat termasuk luar negeri. Tetapi hingga saat ini, mereka tidak bisa menemukan titik terang dari penyakit yang dialami oleh Ibunya.
“Lalu, kamu tidak menjenguk keadaan Ibunya?” tanya Zen kembali.
“Tentu aku akan menjenguknya nanti, setelah pekerjaanku semuanya selesai” balas Vero yang menjawab pertanyaan Zen, tanpa memperhatikan dirinya karena Vero sedang fokus melakukan pekerjaannya.
Tentu bukan dirinya tidak peduli dengan keadaan Ibu dari sahabatnya itu. Tetapi menurutnya keberadaan Kelly sudah lebih dari cukup untuk melihat kondisi Ibunya saat ini. Jadi dirinya hanya menunggu saja informasi darinya, dan menyelesaikan pekerjaannya saat ini.
"Hmm.... begitu ya..." gumam Zen sambil mengangguk, setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Vero.
Setelah dirinya bergumam seperti itu, akhirnya suasana tempat itu mulai kembali sunyi. Karena memang Vero sudah mewanti-wanti Zen agar tetap tenang jika ingin berada di ruangannya. Apalagi saat Vero sedang bekerja, dirinya tidak ingin sesuatu mengganggunya, seperti salah satunya sesuatu yang membuat tempat ini berisik.
Jadi Zen saat ini memutuskan untuk bersantai saja di sana, sambil menunggu waktu akan berlalu. Hingga akhirnya, tidak terasa Zen sudah terlelap ditempatnya hingga hari sudah semakin siang, dan membuat Zen mulai terbangun dari tidurnya tersebut.
“Ah... sudah waktunya ya...” ucap Zen kemudian, yang saat ini mulai berdiri dari tempatnya, setelah melihat jam tangannya dan langsung keluar dari ruangan Vero.
Tentu Vero cukup bingung dengan perilaku dari suami bayarannya, yang saat ini sedang menjadi bodyguardnya itu. Namun karena menurutnya tindakannya itu tidak mengganggu pekerjaannya, jadi membuat dirinya menghiraukan saja tindakannya itu.
Namun saat dirinya akan kembali melanjutkan aktivitasnya, dirinya dikejutkan dengan suara pintu ruangannya yang kembali terbuka, dan memunculkan sosok pria yang baru saja keluar dari dalam ruangannya, yang saat ini mulai masuk kedalam ruangannya kembali.
__ADS_1
“Sudah waktunya makan siang, mari kita makan”