
Mendengar jawaban yang diberikan oleh pria yang sedari tadi duduk depan mereka, Vero saat ini hanya tersenyum mengejek kepada pria tersebut karena memang kedoknya yang sedari tadi dirinya tunjukan bisa dengan mudah dibaca oleh Vero.
Sebuah umpan tipuan yang diberikan Vero kepadanya, ternyata dimakan secara mentah-mentah oleh pihak yang saat ini sepertinya seakan tidak mengerti maksud perkataan yang baru saja dirinya lontarkan, apalagi Vero sudah mengatakan sebuah omong kosong belaka kepadanya.
Vero bisa dikatakan merupakan pemimpin Darkness Company saat ini, dan tentu dirinya mengetahui dengan pasti apa yang diinvestasikan oleh perusahaan itu kepada beberapa pihak. Namun perusahaan Start-up yang baru saja mereka bicarakan tadi sama sekali tidak termasuk daftar perusahaan yang diinvestasikan oleh Darkness Company.
Maka dari itu, Vero langsung berhasil menguak topeng dari pria brengsek yang pernah dirinya pacari itu, dan saat ini hanya membiarkannya saja perbuatannya hingga dirinya memang akan sadar akan perbuatan Vero kepada dirinya yang sudah menjebak dirinya dengan kata-kata yang dirinya lontarkan kepadanya.
Apalagi cukup menyenangkan memang mempermainkan pria yang selama ini mempermainkan beberapa wanita menurut Vero. Dan hal itulah yang membuat Vero terus menggoda sosok pria yang bertamu pada kediamannya tadi, agar dirinya bisa menunjukkan betapa bodohnya dirinya tadi.
"Aku sangat penasaran dengan ekspresinya, jika dirinya tahu bahwa aku sudah membongkar kedoknya, Zen" ucap Vero setelah pihak yang dirinya benci itu sudah keluar dari kediamannya.
Zen dan Vero memang tidak berniat menampung pria bodoh itu lebih lama pada kediaman ini. Karena memang mereka ingin menghabiskan waktu mereka berdua saja, apalagi Zen cukup lama berpergian beberapa hari ini dan membuat Vero sangat merindukan dirinya.
Maka dari itu, Vero dan Zen selalu membuat adegan yang memuakkan bagi pria itu, hingga akhirnya karena dirinya tidak bisa lagi menghalangi tindakan dari kedua pasangan itu, akhirnya pria yang tidak tahu malu itu mulai berpamitan dan keluar dari kediaman ini.
"Ho... bukannya dirinya berkata bahwa kamu merupakan mantannya? Tetapi kenapa kamu terlihat sangat amat jahat kepadanya?" tanya Zen kepada Istrinya, setelah akhirnya mereka bisa bercengkrama berdua saja saat ini.
Memang Zen cukup bingung dengan pria yang bertamu pada kediaman yang ditinggali oleh dirinya dan Vero tadi. Apalagi dirinya seakan mencoba mengadu dirinya dengan sosok Zen yang memang hanya memperhatikan saja percakapan pria itu bersama Istrinya saja tadi.
Tentu dirinya tidak akan bersikap seperti itu jika pria tersebut mengetahui identitas Zen yang sebenarnya. Namun tetap saja, manusia yang serakah seakan buta dengan berbagai hal yang sedang dirinya lihat, sehingga nanti dirinya akan terjebak sendiri didalam perbuatan serakah yang dirinya ciptakan itu.
Dan juga, disaat melihat tingkahnya tadi, bisa dipastikan pria itu beranggapan bahwa dirinya mampu mengalahkan dan seakan bersiap merebut sosok Vero dari hadapan Zen. Sehingga satu pesan saja yang Zen berikan kepada pria itu didalam hatinya adalah, silahkan untuk mencobanya jika dirinya mampu.
"Cih... aku memacarinya hanya ingin mencari tahu bagaimana rasanya pacaran dengan pria yang brengsek, agar aku tahu bagaimana modus operandi mereka disaat para sampah-sampah itu mendekati diriku" ucap Vero menjawab perkataan dari Zen tadi.
Bisa dikatakan Vero memacari pria tersebut karena memang ingin merasakan namanya pacaran. Namun tentu saja dirinya bukan ingin merasakan sebuah perasaan romantis dari kegiatan pacaran itu, melainkan hanya ingin tahu bagaimana menjalani sesuatu hubungan dengan lawan jenis yang bisa dikatakan sifatnya sangat menyimpang.
__ADS_1
Vero memang akan berhadapan dengan banyak sosok pria seperti itu dimasa depan, setelah identitasnya sebagai salah satu keturunan konglomerat akan diketahui. Jadi dirinya ingin mencari tahu agar tidak terjebak dengan pria-pria yang mungkin akan menjebak dirinya dimasa depan, karena dirinya sudah tahu sifat mereka saat memacari salah satu dari mereka.
Dan juga, berpacaran dengan pria bernama Ciko itu, dapat membantu Vero untuk tidak didekati oleh beberapa pria yang mengejar keberadaannya, karena seperti yang diketahui sosoknya yang cantik akan diincar banyak orang sehingga dirinya memutuskan untuk mencari orang yang bisa menjauhkan dirinya dari pihak-pihak tersebut.
Hingga bisa dikatakan pria yang beranggapan bahwa dirinya mampu memperdaya sosok Vero, malah dirinya yang sebenarnya sedang dimanfaatkan oleh Vero untuk kepentingannya sendiri agar bisa hidup dengan tentram disaat dirinya menjalani sebuah kehidupan di bangku perkuliahan.
"Lalu, apakah berhasil?" tanya Zen yang menanyakan hasil dari kelakuan Istrinya tersebut.
"Cukup berhasil. Karena disaat aku pacaran dengannya, aku mendapatkan ilmu bagaimana pergerakan beberapa pria brengsek yang ingin berbuat sesuatu yang janggal kepadaku" ucap Vero yang merasa bangga bahwa apa yang dirinya lakukan itu berhasil.
Zen hanya tersenyum mendengar perkataan dari Istrinya tersebut, hingga akhirnya mereka kembali menghabiskan waktu mereka bersama untuk bermesra-mesraan dan menikmati waktu mereka berdua pada kediaman mereka saat ini.
Namun disaat mereka masih menikmati waktunya, Zen barulah mengingat sesuatu yang harus dirinya sampaikan kepada Istrinya. Apalagi, dirinya baru sadar bahwa sebenarnya informasi itu seharusnya langsung diberitahukan secara langsung kepada sosok Istrinya.
"I-istriku, sepertinya aku berbuat masalah lagi" ucap Zen yang berusaha menjelaskan apa yang dirinya ingin ucapkan secara hati-hati kepada Istrinya tersebut.
"Begini, sepertinya ada satu wanita lagi yang mengeluarkan aura kebahagiaan untukku" ucap Zen yang langsung membuat Vero mulai berubah sepenuhnya ekspresi wajahnya.
Siapa yang tidak terkejut bahwa saat ini seorang wanita yang menyukai suaminya semakin bertambah. Dirinya bingung kapan suaminya itu menambah seorang wanita yang terpikat kepadanya, sehingga ekspresinya yang melotot itu cukup membuat Zen hanya tersenyum ketakutan menanggapi ekspresi Istrinya tersebut.
Zen berusaha untuk tidak melakukan sesuatu yang menambah kekesalan Istrinya itu. Maka dari itu, Zen berusaha untuk tetap tenang, sambil menunggu Istrinya itu menanggapi perkataan yang baru saja dirinya lontarkan tadi kepada Istrinya.
"Siapa?" ucap Vero dengan nadanya yang mendesak agar Zen menjawab perkataannya.
"Seorang Dewa dan Putri Kerajaan Jepang, Amaterasu" ucap Zen yang saat ini langsung membuat terkejut sosok Istrinya yang menantikan jawabannya itu.
Saat peperangan terjadi, bisa dipastikan Amaterasu sepertinya sudah mengembangkan perasaannya kepada Zen. Namun Zen memang tidak langsung memberitahukannya kepada Vero, karena memang dirinya tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya kepada Istrinya itu atas permasalahan ini.
__ADS_1
Maka dari itu, Zen ingin mengatakan secara langsung permasalahan ini dan tidak melaporkan tentang hubungan yang dirinya miliki itu pada percakapan yang mereka sering lakukan, kepada Istrinya yang memang setiap hari menghubungi dirinya disaat mereka sedang berjauhan.
"Maksudmu, Putri Amaterasu yang merupakan Putri dari Kaisar Izanagi dan Permaisuri Izanami?" tanya Vero yang memastikan identitas wanita yang baru saja diucapkan oleh suaminya itu.
Zen hanya mengangguk menjawab perkataan Istrinya itu untuk menjawab perkataannya. Namun kali ini, sepertinya Istrinya itu tidak terlalu kesal mendengar nama wanita itu disebutkan. Zen tidak tahu mengapa dirinya seperti itu, namun Zen hanya bisa bersyukur bahwa Istrinya itu sepertinya tidak terlalu marah dengan dirinya.
Maka dari itu, Zen saat ini bisa bernafas dengan lega dan bisa bersikap lebih santai atas tanggapan yang diberikan oleh Istrinya itu kepadanya. Apalagi, dirinya sangat penasaran kenapa Istrinya itu tidak terlalu marah atas kenyataan yang baru saja dirinya lontarkan tersebut.
"Seorang CEO, lalu Sekretarisnya, hingga Kepala Kepolisian, lalu Dewa dan sekarang seorang Putri Kerajaan. Sepertinya memang kamu punya derajat tinggi atas wanita-wanita yang kamu dekati, Zen. Syukurlah kalau begitu" balas Vero yang memang merasa lega bahwa Zen tidak sembarangan mencari wanita.
Bukannya Vero merendahkan beberapa wanita, tetapi tidak dipungkiri bahwa wanita-wanita yang didekati oleh Zen bukanlah orang-orang yang sembarangan, sehingga Vero bisa bernafas dengan lega bahwa wanita yang menyukai sosok suaminya sepertinya berasal dari pihak yang memang memiliki pemikiran luas.
Tentu yang Vero takutkan bahwa Zen memilih wanita yang sembarangan. Memang Vero tidak mempermasalahkan bahwa Zen akan mencari wanita yang statusnya dibawah mereka, namun dirinya juga tidak ingin bahwa Zen akan mencari pihak seperti pelacur, pelakor, wanita-wanita pengejar harta dan sebagainya.
Maka dari itu, jika semakin jelas identitas wanita yang menyukainya, semakin mudah juga Vero mengetahui watak dari sosok yang mungkin menjadi saudarinya dan dirinya bisa dengan mudah mendiskusikan berbagai hal dengan mereka seperti apa yang sudah dirinya lakukan dengan Kelly dan Santi beberapa hari yang lalu.
Tentu saja mereka pasti akan langsung paham dan jelas tentang tata cara menjalani hubungan keluarga yang akan terus bertumbuh ini nantinya. Karena mereka mempunyai pikiran yang luas dan tidak hanya sebatas memiliki hubungan dengan Zen hanya karena sosoknya saja.
Apalagi akan sangat mudah jika Vero mendiskusikan permasalahan rumah tangga mereka kedepannya, karena mereka semua merupakan pihak yang dapat diajak berkomunikasi dengan sangat mudah oleh Vero kedepannya untuk menjalankan jalannya rumah tangga yang mereka jalani kelak.
"Hahh... kebetulan Kelly dan Santi juga sudah meminta izin kepadaku agar mereka bisa memiliki sebuah hubungan denganmu" dan begitulah perkataan dari Vero yang membuat Zen cukup terkejut mendengar perkataannya.
"Benarkah?" tanya Zen yang memastikan perkataan Istrinya itu dan saat ini mendapatkan anggukan dari dirinya.
Seperti yang sudah diketahui, Vero sudah melakukan pertemuan kembali dengan kedua wanita itu dan menanyakan keseriusan mereka atas apa yang mereka inginkan itu. Hingga akhirnya Vero memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk bisa mendekati sosok Zen dan menyerahkan semua keputusannya kepada suaminya tersebut.
Tentu Zen juga baru mendengar tentang informasi ini, apalagi dirinya tidak menyangka bahwa kedua wanita itu yang sepertinya berinisiatif untuk memperjelas hubungan mereka dengan Zen, dengan mendekati secara langsung sosok Vero dan meminta izin secara langsung kepada dirinya.
__ADS_1
"Maka dari itu, kesempatan mereka berdua bisa berdekatan dengan dirimu, akan terjadi disaat aku akan pergi menuju Ibukota beberapa hari lagi"