
Takut, bahkan sangat takut. Itulah yang sedang dirasakan oleh Vero saat ini. Dengan menutup matanya rapat-rapat sambil memeluk dengan erat pria yang saat ini melindunginya, saat ini wanita itu tidak tahu harus berbuat apa dan hanya mengikuti saja instruksi dari pria yang saat ini mencoba melindungi dirinya.
Hingga akhirnya dirinya mulai merasakan bahwa tubuhnya sudah dibawa menggelinding dan berhenti pada sebuah tempat. Namun Vero tetap saja belum berani membuka kedua matanya, hingga pelukan tangannya mulai dilepaskan oleh pria yang melindunginya, dan diganti oleh sebuah tindakan dekapan dari pria tersebut kepada tubuhnya.
Memang tidak seperti sebelumnya, Vero pasti akan merasa murka dengan tindakan dari pria yang menyelamatkan itu, karena menganggap bahwa pria itu sedang mencuri sebuah kesempatan untuk memeluknya. Namun kali ini, entah mengapa Vero mulai merasakan perasaan aman, setelah dirinya merasakan tindakan dari pria tersebut.
Tetapi, perasaan aman yang dirinya rasakan itu sepertinya tidak akan bertahan lama. Karena bisa terdengar sebuah suara tembakan mulai terdengar oleh dirinya. Bahkan dengan keadaan yang seperti itu, dirinya sebisa mungkin memastikan dengan mata kepalanya sendiri, apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada dirinya saat ini.
“A-Apa itu Zen. I-Itu suara t-tembakan, bukan?” tanya Vero, yang saat ini langsung menatap raut wajah dari Zen yang terlihat sangat serius.
Jarang memang dirinya melihat raut wajah Zen yang seperti itu. Karena biasanya, pria itu hanya menunjukan ekspresi raut wajah yang datar, atau raut wajah yang bahagia, jika dirinya menyantap berbagai macam makanan yang sedang dirinya nikmati.
Namun saat ini, dirinya menunjukan sebuah ekspresi yang jarang sekali dirinya lihat dan membuat Vero cukup terkejut melihat pria itu bisa menunjukan ekspresi seperti itu. Tetapi apa yang dirinya saksikan itu tidak berlangsung lama, setelah sebuah suara tembakan kembali terdengar oleh dirinya.
Masalahnya, suara tembakan yang dirinya dengar itu, bukan hanya satu tetapi mulai berentetan. Apalagi saat ini peluru yang dihasilkan dari suara tembakan tersebut, mengarah dengan mulus tepat kearah tempat Zen berada, yang saat ini sedang melindungi Vero agar tidak terkena peluru yang ditembakkan kepada mereka itu.
“Hentikan.... tolong hentikan semua ini!” teriak Vero didalam hatinya.
Tentu mulutnya terasa kaku setelah melihat seorang pria yang selalu membuatnya kesal, sedang melindungi dirinya dari hujanan peluru menggunakan tubuhnya. Bahkan tanpa disadari, air mata Vero saat ini sudah jatuh dari kelopak matanya yang indah, setelah melihat kejadian tersebut.
Memang sudah sering dirinya diselamatkan oleh pria yang saat ini sedang mendekapnya dengan erat itu. Tetapi tetap saja, kali ini apa yang mereka alami sangat berbeda dan dirinya tidak ingin pria tersebut harus tewas, apalagi pria itu tewas karena melindungi dirinya.
“Z-Zen!” dan begitulah akhirnya sebuah kata berhasil keluar dari dalam mulutnya, setelah dirinya berusaha untuk mengucapkannya.
Vero tidak tahu harus berbuat apa, karena suara tembakan itu terus saja terdengar oleh dirinya. Bahkan didalam pikirannya, saat ini Zen dipastikan sudah tewas karena tembakan yang terus saja menghujani tubuhnya, yang sedang melindungi Vero hingga saat ini.
__ADS_1
Tentu tangisan Vero semakin menjadi, karena dirinya tidak menyangka pria yang dianggapnya selalu malas, membuatnya kesal, rakus dan sebagainya itu, saat ini tewas karena dirinya sedang melindungi seseorang yang sepatutnya hanya memanfaatkan dirinya saja.
Tetapi hal itu tidak bertahan lama. Karena saat ini Vero bisa merasakan sebuah gerakan dari Zen saat beberapa penembak sepertinya mulai kehabisan peluru. Tentu dirinya terkejut, karena saat ini tubuhnya sudah kembali diangkat dan dibawa pergi oleh pria yang sedang melindunginya itu.
“K-Kamu tidak apa-apa Zen?” begitulah kalimat yang ingin dirinya utarakan kepada pria itu, tetapi saat ini dirinya masih sangat shock dengan apa yang beru saja terjadi, dan hanya mengikuti kemana pria itu membawanya.
Zen memang saat ini menggendongnya untuk berpindah menuju sebuah gundukan yang berada di samping sebuah jalan raya, yang dimana suara tembakan kembali terdengar setelah Zen mulai bergerak. Namun untungnya, Zen berhasil membawa dirinya dan Vero tiba di sana dengan selamat, dan berhasil menghindari peluru-peluru yang kembali menghujani mereka.
“A-Apakah d-dirimu tidak apa-apa, Z-Zen?” tanya Vero terbata-bata, yang saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan pria tersebut.
Namun yang membuat Vero kembali terhenyak, bahwa pria itu tidak menjawab pertanyaannya, namun saat ini hanya memberikan sebuah senyum yang menenangkan untuknya. Bahkan setelah melihat senyumannya itu, entah mengapa Vero langsung merasa aman atas tindakannya itu.
Bahkan kegiatan pria itu selanjutnya, tidak sempat Vero perhatikan dengan seksama, karena memang dirinya sudah terbawa oleh senyuman yang diberikan oleh Zen kepadanya. Hingga akhirnya sebuah rompi anti peluru sudah dikenakan oleh Zen kepadanya.
Tentu Vero tidak menyangka bahwa pakaian yang dikenakan oleh Zen sedari tadi, ternyata terdapat sebuah rompi anti peluru didalamnya. Maka dari, itu dirinya tidak tahu harus berekspresi seperti apa setelah mengetahui kenyataan tersebut.
“K-Kenapa kamu memberikannya k-kepadaku, Zen. B-Bukankah kamulah yang seharusnya menggunakannya?” tanya Vero, yang saat ini melihat pria itu akan melindungi dirinya sekali lagi, tetapi saat ini sesuatu yang bisa melindungi dirinya sudah tidak berada pada dirinya.
“Tenanglah. Kehidupanmu lebih penting. Jadi, jangan dilepaskan benda itu oke” ucap Zen kemudian, yang mencoba mengintip situasi dari keadaan disekitarnya.
Tentu perkataan Zen itu, entah mengapa langsung membuat sesuatu didalam diri Vero seakan mulai tergoncang. Bahkan saat dirinya melihat sosok Zen, entah mengapa sebuah degup kencang dari jantungnya, membuat Vero tidak bisa bernafas setelah mendengar perkataannya itu.
Namun disisi lain, dari pandangannya yang sangat terbatas saat Zen sedang mengintip, Zen bisa memperhatikan lima orang saat ini sedang mendekat kearah dirinya membawa sebuah pistol pada masing-masing dari mereka. Tentu dengan keadaan waspada, mereka saat ini mulai semakin mendekat kearah tempat Zen dan Vero berada saat ini.
Zen tentu mulai menyudahi aksinya dalam melihat situasi disekitarnya, dan memutuskan untuk menunggu saja salah satu dari mereka mendekat kearahnya, dan bersiap untuk menyergapnya lalu mulai mengembalikan keadaan. Begitulah rencana yang sudah dirinya siapkan.
__ADS_1
“Ingat, jangan bergerak dari tempatmu, apapun yang terjadi” Perintah Zen, dengan tatapan seriusnya kepada Vero dan langsung menyadarkan wanita tersebut yang sedari tadi sedang memperhatikan sosok Zen dengan serius.
“Memangnya, k-kamu mau kemana, Z-Zen?” tanyanya Panik, karena memang dirinya tidak ingin ditinggalkan pergi oleh Zen saat ini, setelah melihat Zen akan beranjak dari tempatnya.
“Tentu aku harus mengembalikan keadaan. Jika tidak, kita yang akan menjadi korban dari orang-orang yang ingin mencelakai kita saat ini” ucap Zen kemudian.
Tentu perkataan Zen itu, kembali membuat Vero kembali panik. Karena dirinya tidak menyangka bawah pria itu akan melawan segerombolan orang yang sedang menyerang mereka. Tentu dirinya berusaha menghalangi Zen, tetapi sepertinya dirinya tidak bisa melakukannya.
Zen memutuskan untuk bersiap untuk memulai mengeksekusi rencananya. Tetapi sebelum dirinya beranjak dari tempatnya, tangannya saat ini sudah diraih oleh Vero yang langsung menggenggamnya dengan erat, seakan tidak ingin melepaskan kepergiannya.
“B-Berhati-hatilah oke. A-Aku tidak akan m-memaafkanmu, jika kamu tidak k-kembali kepadaku” ucap wanita itu, yang saat ini memutuskan merelakan suami bayarannya itu untuk membalas perbuatan para penyerang yang menyerang mereka.
Dan sekali lagi, sebuah senyuman yang membuat Vero tenang kembali ditunjukan oleh Zen. Bahkan Zen saat ini mulai menepuk ringan kepalanya, sebelum dirinya berpindah tempat menuju gundukan yang berada disebelah mereka.
Genggaman tangan Vero juga sudah terlepas dari tangan milik Zen, dan saat ini dirinya sudah memperhatikan pria itu sudah bersiap untuk melakukan aksinya. Bahkan Vero saat ini mulai menyandarkan tubuhnya pada gundukan tempat dirinya berada, dan sekali lagi hanya mempercayakan situasi ini kepada Zen untuk diselesaikan olehnya.
Zen sendiri sudah berada ditempatnya, dan hanya tinggal menunggu saja salah satu dari mereka saat ini mendatangi gundukan tempat Vero berada. Apalagi dirinya akan membuat serangan kejutan kepada para penyerang itu, agar dirinya dan Vero bisa keluar dari situasi ini.
“Kepung mereka, saat ini mereka sudah terhimpit di sana” dan begitulah Zen bisa mendengar komunikasi yang sedang mereka lakukan satu sama lainnya.
Tentu Zen dengan sabar menunggu salah satu dari mereka untuk datang. Hingga akhirnya sebuah moncong pistol saat ini mulai nampak pada gundukan tempatnya berada. Tentu pihak para penyerang itu masih menganggap bahwa Zen masih berada di gundukan tempat dimana Vero berada.
Tetapi saat mereka tiba pada gundukan tersebut, yang mereka dapati saat ini hanya sosok Vero saja yang berada di sana. Hingga akhirnya, sebuah suara tembakan akhirnya kembali terdengar. Tentu mereka mulai terkejut dengan suara tersebut, tetapi sebelum mereka beraksi semuanya sudah terlambat.
Zen yang mengendap-ngendap sedari tadi, berhasil merebut senjata dari salah satu pihak mereka, dan langsung menggunakan senjata yang dirinya dapatkan itu dengan cepat kearah mereka satu persatu. Hingga akhirnya, kelima orang yang mendatangi tempatnya sudah tewas sepenuhnya.
__ADS_1
“Baiklah, mari kita mulai ronde kedua”