
Sebuah sosok Pria saat ini mulai muncul didalam benak dari Santi. Tentu sosoknya itu akan muncul di kepalanya karena memang pria itu yang selama ini selalu membantunya bahkan menyelamatkan dirinya. Jadi, dirinya entah mengapa berharap bahwa pria itu akan sekali lagi membantu dirinya untuk keluar dari situasi yang sedang dirinya alami saat ini.
Padahal saat ini kondisinya bisa dikatakan sangat amat mengenaskan dan bisa dibilang memprihatinkan. Apalagi bisa dikatakan apa yang terjadi dengan dirinya merupakan akibat ulahnya sendiri, sehingga dirinya bisa berada di tempat ini dan menjalani penyiksaan yang sedang dirinya alami saat ini.
Padahal sosok pria yang dirinya pikirkan di dalam pikirannya itu, bisa dikatakan selalu memperingatkan dirinya untuk tidak terlalu terburu-buru dalam bertindak dan memikirkan semua hal yang akan dirinya lakukan terlebih dahulu, sebelum dirinya akan memulai semua hal yang akan dirinya lakukan itu.
Namun sekali lagi, wanita itu sama sekali tidak mendengarkan peringatan yang sudah pria itu sering berikan kepada dirinya. Hingga akhirnya di sinilah dirinya berada, yang di mana bisa dikatakan dirinya sudah tidak berdaya dengan apa yang terjadi dengan dirinya di tempat ini.
"Z-Zen.... T-tolonglah aku!" dan begitulah ucapannya yang terkesan putus asa karena dirinya sudah tidak sanggup lagi menjalani apa yang sedang dirinya alami saat ini.
Rasa sakit yang sangat menyakitkan bisa dirinya rasakan di sekujur tubuhnya saat ini. Apalagi baru saja dirinya sadar dari pingsannya tadi, dirinya langsung mengalami sebuah perbuatan yang keji yang dilakukan oleh pihak yang sudah menyiksanya sedari tadi itu.
Bahkan beberapa pihak saat ini seakan mulai melakukan sebuah pelecehan seksual kepada dirinya, karena beberapa pihak yang berada di sana mulai menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh mereka kepada seorang wanita. Tentu Santi mulai menggeliat agar mereka mulai menghentikan aksi mereka. Namun bisa dikatakan semua itu sia-sia dan semakin membuat pihak yang melakukan itu bersemangat melakukannya.
Wajah penuh nafsu mereka saat ini mulai memasuki penglihatan dari Santi. Bahkan seorang pria saat ini setelah puas meremas sesuatu yang empuk pada tubuhnya, mulai bersiap membuka pengait pakaian dalam yang dirinya gunakan agar tubuhnya mulai telanjang sepenuhnya.
"Baiklah, kalau begitu mari kita persi-" namun belumlah pria yang akan menyelesaikan aksinya itu menyelesaikan kalimatnya, saat ini bisa didengar suara keributan mulai terdengar dari arah luar ruangan tempat mereka berada.
Tentu mendengar semua suara keributan itu, saat ini semua pihak yang berada di sana langsung mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Termasuk pria yang menyiksa Santi sedari tadi mulai mengurus anak buahnya untuk memeriksa asal suara keributan tersebut.
Mendengar perintah dari atasan mereka, saat ini beberapa bawahan dari pria yang menyiksa Santi itu mulai beranjak dari tempat mereka berada dan ingin memeriksanya. Namun naas, saat mereka ingin membuka pintu ruangan tempat mereka berada, pintu itu langsung didobrak dengan sangat keras dan mengenai mereka.
Tentu saja mereka langsung terpental atas kejadian itu, hingga saat ini dua orang berpakaian hitam mulai memasuki ruangan yang di mana pintu ruangan tempat mereka masuki itu sudah mereka hancurkan, sehingga mereka bisa masuk ke tempat ini dengan sangat mudah.
Melihat kedatangan kedua orang tersebut, entah mengapa Santi langsung merasa lega. Apalagi saat ini air matanya semakin mengalir dengan deras atas kedatangan mereka, karena dirinya sangat amat bersyukur bahwa saat ini apa yang dirinya inginkan akhirnya terkabulkan.
"Mereka sudah tidak dibutuhkan lagi dalam rencana kita, bukan?" dan begitulah sebuah suara terdengar dari salah satu pria yang sudah memasuki tempat tersebut, kepada rekannya yang berdiri disebelahnya.
"Tentu saja, Tuan. Mereka sudah tidak ada gunanya lagi bagi kita" jawab salah satu dari mereka lagi, yang bisa dikatakan menjawab pihak yang datang bersamanya ketempat ini.
__ADS_1
Melihat kedatangan mereka tentu Santi mulai merasa tenang. Karena bisa dikatakan dirinya mengenali salah satu pihak yang datang ke tempat tersebut. Maka dari itu dirinya mulai merasa lega karena akhirnya pihak yang dirinya harapkan akan menyelamatkan dirinya sudah tiba di tempat di mana dirinya berada saat ini.
Tentu air matanya terus keluar dari matanya, hingga saat ini tatapan pria yang dirinya kenal itu mulai menatap dirinya yang terlihat tidak berdaya dan kondisinya sangat amat mengenaskan setelah mengalami berbagai hal yang membuatnya menjadi seperti itu.
"Cih... kenapa dirimu sangat keras kepala?" ucap Zen sambil menggelengkan kepalanya melihat sosok pihak yang sudah dirinya anggap sebagai teman tersebut.
Bisa dikatakan Zen sudah menasehati wanita itu berkali-kali agar dirinya bisa bertindak dengan cara berhati-hati. Termasuk tentang permasalahan yang dimana dirinya ingin membersihkan instansinya, yang bisa dikatakan dirinya akan berurusan dengan pihak yang berbahaya.
Pada saat Zen berhasil mengamankan keadaan Ibunya, Zen memang langsung memperingatkan Santi untuk tidak terlalu gegabah dalam menyikapi kasus yang dirinya selidiki. Tetapi bisa dilihat sekarang, bagaimana kondisi dari wanita itu yang memang sama sekali tidak mendengarkan perkataannya.
Nyatanya, keras kepalanya wanita itu memang belum mampu dihilangkan oleh Zen, hingga sekali lagi dirinya melihat wanita itu sudah tersiksa sedemikian rupa oleh salah satu pihak yang bisa dikatakan sudah Zen suruh sikapi dengan hati-hati saat menghadapinya.
"Siapa kalian, mengapa kalian bisa berada di sini?" tentu bisa dikatakan Zen tidak akan bisa mendapatkan kesempatan mengobrol dengan Santi yang terlihat sedang menatapnya saat ini, karena beberapa pihak yang berada di tempat ini sudah menunjukkan sikap permusuhannya kepada dirinya.
Dengan mulai bersiap untuk melumpuhkan semua pihak yang berada di sana, Zen dengan bawahannya yang bersamanya saat ini akan segera menaklukkan mereka semua dan mungkin akan membuat beberapa dari mereka akan merasakan apa yang namanya neraka.
Zen memang datang bersama Lucifer ke tempat ini. Karena seperti yang dilihat, sudah ada beberapa pihak yang saat ini memang akan menjadi pasien dari mereka, dan mungkin akan dirawat dengan sangat baik oleh mereka berdua, teruma Lucifer yang datang ketempat ini menggunakan topeng menyeramkan yang sudah dirinya kenakan.
Lucifer memang sengaja menyembunyikan identitasnya, karena bisa dikatakan identitasnya sangat amat terkenal. Jadi untuk membantu membuat identitas Zen tetap tidak diketahui, saat ini dirinya mulai menyembunyikan rupanya agar tidak ada pihak yang bisa menebak identitas atasannya itu.
"Tentu saja, Tuan. Saya sudah tidak sabar menyiksa mereka" dan begitulah jawaban dari Lucifer atas pertanyaan Tuannya tadi.
"Baiklah, kalau begitu mari kita cincang beberapa pihak ini" balas Zen dan mulai mengambil langkahnya untuk memulai aksi mereka ditempat tersebut.
Santi hanya bisa menjadi penonton saja dalam kegiatan yang akan dilakukan oleh Zen. Apalagi bisa dikatakan saat ini sebuah adegan pertarungan mulai tersaji didepan matanya. Tentu beberapa pihak saat ini mulai mengeluarkan senjata api mereka untuk melawan keberadaan Zen dan rekannya tersebut.
Namun entah mengapa pergerakan mereka terlihat sangat cepat untuk dapat melumpuhkan pihak yang memegang senjata api tersebut, sehingga bisa dikatakan tidak ada pertarungan bersenjata yang terjadi di sana. Karena bisa dilihat, pihak yang memegang senjata sudah tak sadarkan diri semuanya.
Satu persatu pihak yang berada di sana mulai dilumpuhkan oleh kedua pihak itu yang memang terlihat sangat dominan dalam pertarungan mereka. Bahkan saat ini seluruh pihak yang berada di sana cukup panik melihat pertarungan yang seakan berat sebelah itu.
__ADS_1
"Sialan, cepat habisi mereka berdua!" Dan begitulah suara dari pria yang menyiksa Santi tadi, yang saat ini berteriak kepada bawahannya untuk segera menghabisi kedua sosok tersebut.
Beberapa pihak saat ini memang sudah mencoba untuk menghalangi tindakan kedua orang tersebut. Namun sayangnya kekuatan kedua orang yang berasal dari Neraka tersebut dengan mudah mengalahkan mereka, sehingga satu-persatu mereka sudah tak sadarkan dan mulai tepar di bawah tanah saat ini.
Bahkan pihak seperti Jim yang saat ini menjadi pihak terakhir yang masih berdiri bersama asisten pribadinya, tidak menyangka bahwa kejadian ini bisa menimpa mereka, hingga akhirnya sebuah tamparan keras dari Zen mulai mendarat dengan telak pada pipi dari Jim dan membuatnya terkapar dilantai.
Dengan mulai menendang perut dari pria yang menyiksa Santi dengan sangat brutal tersebut, saat ini pria tersebut sudah tersungkur tak sadarkan diri ditempatnya. Tentu Zen hanya membuatnya pingsan saja termasuk asistennya yang juga sudah dibuat pingsan oleh Lucifer.
Tentu mereka tidak akan mati dengan mudah. Apalagi walaupun mereka bisa dikatakan takut dengan kematian, tetapi bisa dipastikan disaat Zen menjalankan tindakannya kepada mereka berdua, dipastikan mereka akan berharap bahwa Zen akan membunuh mereka saja nantinya.
"Bawalah mereka pada ruangan itu, dan persiapkan semuanya, Luci. Aku akan menyusul dirimu sebentar lagi setelah aku menyelesaikan urusanku dengan wanita yang terlihat sangat kacau itu" ucap Zen yang saat ini mulai melangkahkan kakinya kearah Santi dan meninggalkan bawahannya yang sudah dirinya berikan instruksi.
Lucifer sendiri saat ini hanya mengangguk saja mendengar perkataan Zen dan saat ini mulai meraih rambut dari sosok Jim dan sekretaris pribadinya dan menyeret mereka menuju sebuah bilik kamar yang berada di ruangan tersebut, karena dirinya bersama Tuannya akan melakukan sesuatu kepada mereka berdua nantinya.
Disisi lain, Santi yang melihat sosok pria yang datang menyelamatkan dirinya dan sedang mendekat kearahnya mulai menangis saat ini. Apalagi sekali lagi dirinya datang diselamatkan oleh pria itu, apalagi dirinya sudah merasa bahwa kondisinya benar-benar tidak berdaya dengan semua hal yang sudah dirinya alami sedari tadi.
Hingga akhirnya langkah kaki dari pria itu saat ini sudah berhenti tepat di depan dirinya dan mulai melepaskan semua tali yang mengikat tubuhnya yang hampir terlihat polos sepenuhnya itu, agar dirinya bisa terlepas sepenuhnya dari kondisinya yang terlihat mengenaskan tersebut.
Tubuhnya sudah berhasil Zen lepaskan sepenuhnya, hingga tubuhnya yang terlihat lemas itu mulai jatuh ke pelukan Zen saat ini. Santi dengan kekuatannya yang tersisa saat ini langsung memeluk sosok yang menyelamatkan dirinya itu dengan erat seakan sedang mencari sebuah rasa aman dari pelukan tersebut.
Hingga akhirnya Zen hanya mengelus dengan pelan bagian kepala dari wanita yang hampir telanjang sepenuhnya itu, agar menenangkan dirinya yang saat ini semakin menangis dengan sangat amat kencang, karena merasa sangat amat tersiksa dengan apa yang dirinya alami tadi.
"T-terima kasih, Zen... T-terima kasih." ucap Santi yang dimana dirinya masih menangis didalam pelukan Zen, dan saat ini tindakan dari wanita itu masih coba ditenangkan oleh Zen.
Masalahnya, Zen yang mendengarkan perkataannya itu mulai menghela nafasnya. Karena bisa dikatakan dirinya tidak menyangka apa yang dirinya lakukan saat ini akan membawanya ke dalam situasi seperti yang bisa dikatakan tidak dirinya harapkan untuk terjadi.
Bisa dikatakan, dirinya akan sangat kebingungan disaat nanti dirinya akan menjelaskan apa yang terjadi di tempat ini kepada Istrinya. Jadi, hal itulah yang membuat Zen mulai pusing memikirkan permasalahan yang sedang dirinya alami berkat dirinya datang ke tempat ini dan malah memicu sesuatu.
"Hahh... padahal aku sudah berjanji kepada Vero untuk tidak menambahnya"
__ADS_1