Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Ternyata Ada


__ADS_3

Seorang balita saat ini terus merengek dan membuat kedua Ibunya cukup repot menenangkan dirinya. Mereka sudah mencoba berbagai cara menenangkannya, namun memang balita yang terlihat seperti berumur tiga tahun itu tetap saja merengek.


“Pamanmu akan kembali sebentar lagi, jadi tunggulah sebentar lagi oke” ucap Aghata ibu kandungnya yang masih mencoba menenangkannya.


“Iya... apakah kamu mau dilihat sangat cengeng oleh Pamanmu?” ucap Valana, Ibu dari pernikahan pertama Ayahnya yang ikut mencoba membujuk balita berumur 300 tahunan itu untuk tenang.


“Aku m-mau ikut Paman....” ucap Balita itu yang terus meronta dan tidak menghiraukan bujukan para Ibunya.


Memang Zen sengaja tidak mengajak keponakannya yang paling kecil itu, karena memang Zen hanya berniat memeriksa tempat lelang yang sedang dia selidiki hanya sebentar saja. Jadi Zen memutuskan untuk tidak membawanya.


Namun yang Zen tidak ketahui, keputusannya itu membuat keponakannya itu terus merengek karena merasa tidak diajak olehnya. Karena memang walaupun umurnya bisa dikatakan sudah mencapai 300 tahun, tetapi sifatnya masihlah seorang balita.


“Kenapa Keponakan paman menangis?” ucap Zen yang saat ini sudah kembali dan sedang menggandeng Ana.


“P-Paman!” teriaknya keras dan meronta agar Zen menggendongnya.


Tentu Aghata yang menggendong putranya itu langsung menyerahkannya kepada Zen, karena memang putranya itu sangat ingin bersama Pamannya. Tentu saja Zen langsung menggendong bocah kecil itu dan mulai menenangkannya.


“Kenapa keponakan Paman menangis ha..?” ucap Zen sambil menggendong keponakannya itu sambil menepuk ringan punggungnya.


“Kenapa Paman.. hiks... tidak mengajak diriku tadi” ucapnya yang sudah mulai tenang.


“Maafkan Paman oke, kalau begitu keponakan Paman ini mau kemana?” tanya Zen kemudian.


Levon balita yang terlihat seperti balita berumur tiga tahun itu, langsung menunjuk kearah luar dari villa milik keluarga bangsawan Vatikan dimana Zen bersama istri dari adiknya berada, yang dimana Villa tersebut menghadap kesebuah pantai yang indah.


Memang selain pulau pribadi yang dimiliki oleh Zen, keluarga adiknya mempunyai beberapa villa dan berbagai hotel di Pulau Bali. Jadi saat ini mereka mencoba menginap disalah satu Villa milik adiknya, karena memang Villa ini terletak cukup dekat dari tempat lelang yang akan berlangsung besok.


“Levon ingin bermain di pantai bersama Paman?” tanya Zen memastikan kembali keinginan keponakannya dan dibalas anggukan oleh bocah lelaki itu.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu ayo pergi” Ucap Zen yang mengajak keponakan kecilnya itu menuju kearah pantai.


“Ana Ikut... Ana ikut...” teriak Ana kemudian yang sudah berlari menyusul langkah Paman dan adiknya.


Akhirnya ketiga orang itu membuat beberapa orang yang mereka tinggalkan didalam Villa mewah tempat mereka berada tadi mulai tersenyum, karena melihat keceriaan dua orang anak kecil bermain dengan Pamannya.


Hingga malam akhirnya tiba, yang dimana Zen saat ini sedang menyantap makan malamnya bersama saudara iparnya, termasuk bawahannya dan bawahan adiknya. Sedangkan kedua keponakannya yang sudah puas bermain dengannya tadi, saat ini sedang serius menonton sebuah film kartun pada ruangan disebelah mereka.


Sang malaikat yang hampir dibuat Zen menjadi malaikat jatuh karena perbuatannya, juga berada di sana dan memang sudah meminta maaf kepada Zen. Namun Zen malah memujinya, karena apa yang dia lakukan itu adalah untuk melindungi keponakannya. Jadi Zen tidak mempermasalahkannya, bahkan Zen menjanjikan malaikat bernama Inez itu sebuah hadiah.


“Dari yang kudengar dari Ana, Kakak ipar sudah menemukan benda berbahaya itu” ucap Aghata yang memulai percakapan mereka.


“Ya... tetapi sepertinya bukan bendanya yang berbahaya seperti apa yang dikatakan suamimu, tetapi sebuah mahluk berbahaya yang terdapat pada sebuah benda yang menurut suamimu itu berbahaya” ucap Zen sambil menyuapkan sepotong steak sapi kedalam mulutnya.


“Lalu, apakah Tuan mengetahui mahluk apa itu?” tanya Mira kemudian.


“Yap... aku mengetahuinya, bahkan sangat tahu” ucap Zen.


“Lalu, Mahluk apa itu Kakak Ipar?” tanya Valana kemudian.


“Sebuah mahluk mistik dengan garis darah murni dari rubah berekor sembilan” ucap Zen yang membuat beberapa orang yang berada di sana cukup terkejut.


“Tunggu, pemilik darah murni dari rubah berekor sembilan. Bukankah berarti dia....” ucap Mira yang langsung menatap Zen untuk mendapatkan jawaban dari apa yang dia ucapkan itu.


“Yap... Istri terakhir yang aku nikahi saat aku masih berada di Neraka” balas Zen, yang kembali memasukan sepotong daging steak kedalam mulutnya.


Saking banyaknya Zen mempunyai Istri dahulu, hingga dirinya tidak mengetahui berapa jumlah pasti dari semua istrinya. Namun bisa dikatakan, walaupun dirinya tidak memperdulikan mereka, ada satu wanita yang cukup mencuri perhatiannya.


Kana, itulah nama gadis itu. Seorang keturunan rubah berekor sembilan yang membuatnya menjadi perwujudan yang sebenarnya dari mahluk tersebut. Dirinya dulu diselamatkan oleh Zen dari kaumnya, karena memang Ayahnya pernah membantu Zen dahulu.

__ADS_1


Apalagi darah rubah yang dimilikinya sangat murni, membuat beberapa kaumnya sangat iri kepadanya. Bahkan ada yang berniat menyantapnya untuk membuat kekuatannya berpindah kepada mereka, namun rencana mereka tidak berhasil karena memang Zen yang mencegah itu semua untuk membalas budi Ayahnya.


“Bukankah dirinya gadis yang selalu dekat dengan anda Tuan?” tanya Mira kemudian.


“Yap... dirinya satu-satunya gadis yang berani mendekatiku, bahkan saat aku mengeluarkan aura kematian milikku” ucap Zen.


Kehidupan Zen di Neraka dahulu sangatlah berbeda dengan kehidupannya saat ini. Kehidupan Zen di Neraka sebagian besar hanya dihabiskan di atas sebuah tempat tidur mewah. Dan jika beberapa orang mencoba mendekatinya dan mengganggunya, maka Zen akan mengeluarkan sebuah aura kematian untuk mengusir mereka.


Namun tidak dengan Kana. Dirinya tidak menghiraukan semua itu dan dengan sabar merawat Zen. Maka dari itu sejak saat Kana bisa melawan aura kematian miliknya, Zen membiarkan saja wanita itu melakukan apapun yang dia inginkan di kamarnya.


“Ya.. bahkan kudengar beberapa istri tuan sangat cemburu kepadanya” ucap Mira kembali.


“Hm... mungkin... Lagipula dirinya satu-satunya istriku yang aku nikahi karena aku yang memintanya” balas Zen kemudian.


Karena Zen tidak tahu cara melindungi gadis itu karena dirinya merupakan perwujudan malas, jadi untuk mencegah kaumnya akan menyerang dirinya lagi, Zen memutuskan untuk menjadikannya istrinya saja, karena Zen cukup malas untuk selalu berada disisinya guna melindunginya.


Dengan status yang dimiliki Kana yang merupakan salah satu istri dari penguasa Neraka, pastilah kaum dari Kana akan berfikir ratusan kali untuk menyerangnya apalagi sampai mencelakainya. Jadi Zen memutuskan menikahi Kana agar statusnya tidak bisa disentuh oleh mereka.


“Dan juga aku sangat bingung dahulu. Bagaimana bisa diriku berkeinginan melindunginya, padahal hutang yang harus aku bayar hanya untuk menyelamatkannya dari sebuah masalah saja” ucap Zen kemudian.


Sangat jarang Zen menolong orang, apalagi bukan orang yang dia kenal. Namun entah mengapa dorongan untuk dirinya menolong hingga ingin melindungi Kana dahulu tidak bisa dia hiraukan. Tetapi saat Zen mengingat kejadian dirinya menyelamatkan Kana dulu, Zen akhirnya menyadari sesuatu.


“Auranya sama seperti aura yang dikeluarkan Angel” gumam Zen kemudian.


Ya... Zen baru menyadari bahwa aura yang dulu dia rasakan saat Kana meminta tolong kepadanya, adalah aura yang sama persis dikeluarkan oleh Angel yang membuatnya tidak bisa menolak permintaan mereka.


Satu kata yang bisa diungkapkan dari seseorang yang mengeluarkan aura tersebut, yaitu Cinta yang tulus. Jadi Zen baru menyadari bahwa ada salah satu istrinya yang ternyata benar-benar tulus mencintainya dahulu.


“Hmm... setidaknya mempunyai satu yang men-” Namun perkataan Zen mulai terhenti setelah dirinya merasakan sebuah aura yang sangat akrab.

__ADS_1


“Suamiku tolong aku!”


__ADS_2