Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kejadian Yang Terjadi


__ADS_3

Kehidupan seorang wanita yang sedang melarikan diri bersama putrinya, bisa dikatakan tidaklah setenang yang dirinya pikirkan. Walaupun bisa dikatakan dirinya tidak pernah bertemu lagi dengan beberapa pihak yang memang mengincar keberadaannya, tetapi kehidupannya tetaplah terasa tidak tenang.


Hal itu dikarenakan dirinya masih sangat ketakutan, jika keberadaannya pada tempat dimana dirinya bersembunyi bersama putrinya akan ketahuan oleh mereka. Jadi, kehidupan yang dirinya jalani belakangan ini bisa dikatakan sangat amat tidak menyenangkan.


Apalagi bagi putrinya yang harus menanggung akibat dari semua hal yang sudah terjadi karena keserakahan salah satu orang tuanya, dan menyebabkan semua permasalahan yang terus saja mengincar mereka hingga saat ini, masihlah menghantui keberadaan mereka.


“Ibu, lihat aku berhasil menggambar sebuah harimau” ucap Putrinya, yang mulai menyerahkan sebuah hasil gambarnya yang berantakan, kepada Ibunya yang sedang melamun kan kondisi mereka sedari tadi.


“Ah... benarkah? Lalu coba Ibu lihat” ucapnya, yang mengambil hasil gambar dari putrinya itu.


Walaupun bisa dikatakan gambar itu tidak mencerminkan sebuah harimau, tetapi Ibu dari gadis kecil itu berusaha memuji hasil karya putrinya dan merasa senang dengan apa yang baru saja dirinya lakukan. Apalagi sang putri yang menerima pujian dari Ibunya merasa senang mendengarkannya.


Bahkan dengan perlahan, gadis kecil itu mulai bersemangat menjelaskan dengan detail maksud gambar yang baru saja dirinya gambar itu, karena Ibunya juga bertanya berbagai hal tentang beberapa gambaran yang gadis kecil itu gambar, pada gambaran harimau yang sedang dirinya tunjukan kepada Ibunya.


“Lalu Ibu, kapankah aku bisa bersekolah kembali?” Hingga akhirnya kegiatan gadis kecil itu dalam menjelaskan gambarnya berakhir dengan sebuah pertanyaan, karena memang dirinya sangat merindukan suasana taman kanak-kanak tempat dirinya belajar dan bertemu dengan teman-teman sebayanya.


Mendengar perkataan putrinya, membuat wanita itu langsung merubah ekspresi yang terdapat pada wajahnya. Walaupun bisa dikatakan dirinya sedang tersenyum, tetapi dalam senyuman yang dirinya tunjukan itu, bisa dilihat jejak kesedihan yang terdapat padanya.


Awalnya dirinya sudah merasa senang bahwa Putrinya tidak lagi menyinggung tentang permasalahan ini saat dirinya menjelaskan tentang gambarnya tadi. Karena bisa dikatakan, Putrinya itu selalu saja menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya setiap saat dan dirinya tidak tahu harus menjawabnya seperti apa.


Tentu keputusan yang dirinya buat, memang mengorbankan banyak sekali hal. Bukan hanya dirinya merenggut masa menyenangkan putrinya yang harusnya mulai bersosialisasi dengan teman sebayanya, tetapi hampir semuanya dirinya korbankan.


Maka dari itu, dirinya merasa sedih karena perbuatan mendiang suaminya dahulu, menyebabkan dirinya hidup dengan sangat amat tidak menyenangkan bersama Putrinya saat ini. Apalagi, bisa dikatakan dirinya juga bingung, bagaimana caranya untuk memperbaiki semua hal yang sudah terjadi kepadanya.


“Bukankah sekolahmu sedang libur? Jadi disaat sudah tidak libur lagi, maka Ibu akan membawamu ke sana” ucap Ibunya yang terpaksa berbohong, agar putrinya itu tidak menanyakan lagi tentang permasalahan itu.


“Tapi, apakah aku juga tidak boleh bermain diluar, Ibu?” tanya gadis kecil itu kembali kepada Ibunya, karena memang kegiatannya hanya dihabiskan didalam kediaman mereka saja.


“Nanti sore, oke. Ibu berjanji akan membawamu jalan-jalan nanti sore. Bukankah kamu juga harus masih menggambar beberapa hewan lagi, dan akan menunjukannya kepada Ibu?” ucap Ibunya sambil mengelus rambut putrinya itu, dan mencoba mengalihkan perhatiannya.


“Tapi aku ingin jalan-jalan sekarang, Ibu” ucap putrinya yang memang sangat ingin untuk bermain pada area luar dari kediaman mereka.


Bisa dikatakan, karena memang rasa takut yang selalu dirinya rasakan, Ibu dari anak itu tidak berani untuk sering berkeliaran dengan bebas pada area luar dari kediaman mereka. Karena memang, dirinya masih sangat takut bahwa keberadaan mereka akan ketahuan oleh pihak yang mengincar keberadaannya.

__ADS_1


Jadi disaat putrinya ingin berjalan-jalan, dipastikan dirinya mencari waktu yang tepat yang menurutnya sangat aman untuk berkeliaran sejenak, dan dirinya harus memastikan bahwa Putrinya tidak boleh berkeliaran sendirian. Karena dirinya tidak mau, bahwa kepergian putrinya untuk bermain tidak ada pihak yang akan mengawasi dirinya.


Maka dari itu, dirinya merasa sangatlah bersalah kepada putri semata wayangnya itu, karena dirinya harus mengorbankan masa-masa indah yang harus dirinya lewati dengan kebahagiaan, dengan maksud untuk melindungi dirinya dari beberapa pihak yang mungkin ingin melakukan tindakan jahat kepada dirinya.


“Maafkan Ibu, oke. Tetapi, Ibu sedang bekerja saat ini, jadi Ibu tidak bisa menemanimu” dan itulah kata pamungkas yang selalu digunakan olehnya untuk menolak permintaan putrinya itu.


Putrinya bisa dikatakan akan langsung paham, jika Ibunya berkata seperti itu. Karena memang, dirinya tahu jika Ibunya sedang bekerja, dirinya tidak dapat diganggu. Jadi putri dari wanita itu, hanya mengangguk saja setelah mendengar pernyataannya.


Dengan perasaan yang sedih, akhirnya gadis kecil itu mulai kembali mengambil hasil gambar yang dirinya buat tadi, dan mulai kembali menuju tempatnya dan tidak ingin mengganggu aktivitas dari Ibunya, yang dirinya anggap sedang bekerja saat ini.


Sangat amat sedih, itulah yang bisa Ibu dari gadis kecil itu dapatkan disaat dirinya tidak bisa mengabulkan sebuah permintaan sepele dari Putrinya sendiri, dan saat ini terlihat sangat sedih saat dirinya harus menerima keputusan dari Ibunya tadi.


Tetapi mau bagaimana lagi, wanita itu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Putrinya dan menyebabkan dirinya bahaya. Maka dari itu, dengan sangat amat terpaksa, dirinya mengambil keputusan yang sangat menyakitkan bagi dirinya dan bai putrinya itu.


“Maafkan Ibu, Kelani. Maafkan Ibu” ucap wanita itu, setelah melihat raut wajah sedih dari putrinya dan sudah beranjak menjauh dari dirinya.


Siapa yang tidak ingin hidup dengan bebas. Itulah yang dirasakan oleh wanita bernama Alice itu saat ini. Karena memang, kehidupannya bersama putrinya seakan berada didalam sangkar saat ini. Walaupun dirinya memang berhasil lepas dari sebuah sangkar yang mengurungnya pada awalnya, tetapi bisa dikatakan dirinya malah masuk kesebuah sangkar yang baru saat ini.


“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” gumam Alice yang saat ini tidak tahu harus berbuat apa, menjalani kehidupan yang sangat menyedihkan tersebut.


Akhirnya waktu yang ditunggu oleh Kileni, putri dari Alice akhirnya tiba. Karena saat ini, waktunya dirinya bersama Ibunya akan keluar dari kediaman mereka. Dengan menggandeng tangan mungil dari Kileni yang merasa bersemangat, saat ini wanita itu mulai mengajaknya untuk keluar dari kediaman mereka.


Gadis kecil itu sangat senang akhirnya bisa keluar dari kediaman yang dirinya tinggali. Karena walaupun kediaman itu cukup besar, tetapi Kileni merasa cukup sesak tinggal didalamnya. Maka dari itu, dirinya merasa bahagia sudah berhasil keluar dari dalam kediamannya.


“Kileni mau eskrim itu, Ibu” ucap gadis kecil itu, disaat mereka berada disebuah supermarket saat ini.


Memang, waktu sore hari akan digunakan oleh Alice untuk belanja keperluan mereka. Dan waktu tersebutlah, yang juga dirinya gunakan untuk sekalian mengajak putrinya jalan-jalan. Maka dari itu, kedua pasangan Ibu dan anak itu, memulai kegiatan mereka dengan menyambangi sebuah supermarket terlebih dahulu.


“Yang ini?” tanya Alice sambil menunjukan Eskrim yang ditunjukan oleh putrinya, dan mendapatkan anggukan menggemaskan dari dirinya.


Mendapatkan apa yang dirinya butuhkan, tentu membuat Kileni senang. Hingga akhirnya acara belanja itu mulai berakhir, saat Alice sudah membeli semua kebutuhan mereka. Jalan yang masih dikatakan sore, saat ini mulai menemani perjalanan mereka untuk berkeliling pada tempat mereka berada.


Bahkan Kileni yang saat ini merasa sangat senang, karena akhirnya dirinya bisa keluar dari kediaman mereka. Mulai menikmati perjalanannya dengan berlari-larian kecil dan bermain sejenak pada tempat yang dirinya lewati bersama Ibunya.

__ADS_1


Namun sepertinya kesenangan yang sedang mereka nikmati itu sepertinya harus dihentikan, disaat sebuah mobil SUV berwana hitam tiba-tiba saja berhenti tepat di samping mereka. Terkejut memang kedua pasangan Ibu dan anak itu melihat kedatangannya yang tiba-tiba saja berhenti didekat mereka.


Dan hal itulah yang membuat Alice merasa sangat waspada dengan kemunculan mobil tersebut, dan mulai menunjukan sikap kewaspadaannya terhadap pihak yang seakan sangat mencurigakan bagi dirinya yang sedang menikmati waktunya bersama Putrinya saat ini.


Hingga, apa yang dirinya takutkan mulai terjadi. Karena beberapa saat kemudian setelah mobil itu berhenti, seseorang yang membuka pintu dari kendaraan tersebut, bergerak dengan sangat cepat dan langsung meraih putrinya yang sedang menikmati es krimnya.


Melihatnya orang yang sepertinya mempunyai niat jahat kepadanya, tentu membuat Alice mulai waspada. Tetapi bisa dikatakan semua hal yang dirinya lakukan sangatlah percuma, karena saat ini sosok itu sudah meraih putrinya yang berusaha dirinya lindungi sedari tadi.


“Kileni!” teriak Alice, yang dimana legan kecil putrinya itu sudah terlepas dari genggamannya.


Namun baru saja dirinya akan kembali meraih tubuh putrinya, sebuah pukulan keras langsung mendarat pada wajahnya. Tentu hal itu langsung membuatnya tersungkur, dan membuatnya tidak sempat untuk menghalangi pria itu yang akan membawa kabur putrinya.


Masalahnya, saking kerasnya pukulan yang dirinya terima, rasa pusing juga mulai menyelimuti Alice saat ini. Bahkan, dirinya bisa merasakannya sendiri, bahwa kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang dari tubuhnya atas serangan yang dirinya terima itu.


“Ibu... tolong aku... Ibuuuu...!!!” dan begitulah akhir suara dari putrinya, sebelum memang kesadaran dari Alice mulai menghilang sepenuhnya.


Dengan penglihatannya yang perlahan kabur, Alice hanya bisa melihat jalannya mobil yang menculik putrinya itu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, pukulan yang dirinya terima tadi, bisa dikatakan sangat amat keras dan membuatnya langsung tak sadarkan diri.


Kegelapan akhirnya mulai dirasakan oleh Alice yang saat ini sudah terbaring pada sebuah trotoar. Namun sebuah cahaya yang saat ini sedang menyorot kelopak matanya, seakan mengganggu kegiatannya itu dan membuatnya perlahan membuka matanya.


Dengan merasa sakit pada bagian kepalanya, saat ini Alice mencoba dengan perlahan membuka matanya dan mulai memperhatikan langit-langit yang asing dari tempatnya berada. Apalagi, pandangannya saat ini disambut oleh beberapa pihak yang sedang menatap dirinya.


“Anda sudah sadar?” ucap seorang wanita yang saat ini mulai mengajaknya berbicara, disaat dirinya baru membuka sepenuhnya matanya.


Bisa dikatakan, disaat dirinya tak sadarkan diri atas serangan yang dirinya terima tadi, beberapa warga yang menemukan keberadaannya yang sedang pingsan itu, langsung memindahkan dirinya menuju rumah warga yang berada tidak jauh dari lokasi Alice pingsan tadi.


Jadi, wajar saja saat ini Alice terbangun pada sebuah tempat yang asing, karena saat ini dirinya sudah berada di rumah dari salah satu warga yang menyelamatkan dirinya. Namun masalahnya, bukan hal tersebutlah yang diinginkan oleh Alice saat dirinya berhasil sadar dari pingsannya.


Karena sebenarnya dirinya hanya ingin melihat putrinya yang tadi diculik beberapa pihak, berada disisinya. Maka dari itu, disaat dirinya sadar, hal pertama kali yang dirinya harapkan adalah bahwa kejadian tadi merupakan sebuah mimpi.


Namun sayangnya, sepertinya apa yang dirinya harapkan itu tidak bisa terkabul. Karena bisa dilihat keberadaan putri semata wayangnya itu, bisa dikatakan hingga saat ini dirinya tidak berhasil temukan keberadaannya di manapun.


“Dimana putriku... dimana dirinya?!”

__ADS_1


__ADS_2