
Satu hari pelarian akhirnya sudah dilewati oleh Zen dan Jane. Hingga akhirnya mereka berdua saat ini sudah berada pada sebuah kereta bawah tanah yang akan membawa mereka menuju Ibukota Kekaisaran China, karena tempat itu akan menjadi destinasi lanjutan dari pelarian yang mereka lakukan saat ini.
Cukup lama memang penundaan yang mereka lakukan sebelum beranjak menuju Ibukota dari wilayah Kekaisaran ini. Tentu hal ini dikarenakan mereka bergerak secara perlahan, agar keberadaan mereka tidak ketahuan saat melakukan sebuah pelarian di saat menghindari kejaran beberapa pihak
Hingga akhirnya, kedua sosok yang saat ini sedang menumpangi kereta yang mereka tumpangi tadi, saat ini bisa melihat dengan jelas bahwa kereta tersebut mulai memasuki area stasiun tempat mereka akan turun, dan saat ini mereka mulai bersiap untuk turun dari sana.
"Cih... cepat bangunlah. Kita sudah hampir sampai" dan begitulah ucapan Zen yang membangunkan wanita yang bersamanya dan saat ini sedang terlelap di pundaknya.
Jane yang merasa terganggu dengan sikap Zen, akhirnya mulai sadar sepenuhnya. Hingga akhirnya dirinya mulai memperhatikan keadaan sekitar tempat dirinya berada, sambil mulai menguap karena rasa lelah yang dirinya rasakan masih dirinya rasakan saat ini.
Melelahkan memang apa yang mereka hadapi sedari kemarin. Jadi, sangat wajar jika Jane saat ini sampai ketiduran pada pundak Zen karena rasa lelah yang dirinya rasakan, atas apa yang sudah mereka lakukan sedari kemarin dalam berusaha melarikan diri dari berbagai pihak yang mengejar mereka.
Memang cukup memakan waktu lama disaat Jane saat ini mencoba memproses apa yang sedang terjadi, hingga akhirnya dirinya menyadari bahwa mereka sudah berada dalam perjalanan menuju Ibukota Kekaisaran China, sesuai tujuan yang mereka sepakati dan saat ini mereka akhirnya sudah tiba pada wilayah tersebut.
"Ah... M-Maafkan aku karena ketiduran, Zen" dan begitulah ucapan Jane yang merasa terus merepotkan sosok Zen yang berhasil membawanya kabur hingga ketempat ini dengan selamat.
Sikap Jane bisa dikatakan mulai berubah sepenuhnya. Apalagi dirinya menyadari bahwa Zen merupakan sosok yang berbeda dari semua pihak yang pernah menjadi pengawal yang melindungi dirinya. Maka dari itu, dirinya berusaha merubah sikapnya kepada Zen dan memperlakukan dirinya dengan sangat baik mulai sekarang.
Tentu dirinya merasa bahwa dirinya memperlakukan Zen seakan kurang baik. Bahkan disaat mereka bertemu pertama kali, dengan terang-terangan Jane menunjukan rasa ketidaksukaan kepada Zen dengan menunjukan sikap sombongnya kepada dirinya pada saat itu.
"Sudahlah. Lebih baik kita bersiap untuk keluar dari kereta ini" Ucap Zen yang membalas perkataan dari Jane tadi.
Sebenarnya sikap Jane yang terlihat sedikit arogan itu, memang dikarenakan hal buruk yang selama ini dirinya jalani. Apalagi kehidupan publik figur yang harus dirinya jalani dan dirinya terus menjadi bahan incaran, tentu membuatnya semakin tertekan.
Dan hal itu ditambah dirinya harus berhadapan dengan pemilik kekuatan hingga saat ini, yang dimana selain dirinya harus melarikan diri dari incaran mereka, pihak yang bersamanya juga seakan menjadi duri dalam dagingnya, yang dimana mereka menginginkan sesuatu yang lebih kepada dirinya.
Sebelum Zen, bisa dikatakan dirinya sudah menjalani kehidupannya dengan banyak pihak yang ada disisinya untuk menjaga dirinya. Namun naas, pihak-pihak tersebut sepertinya tidak hanya puas dengan bayaran yang mereka terima, tetapi juga mereka menginginkan sesuatu yang lebih untuk dijadikan pembayaran oleh mereka.
Menjadi cantik dan terkenal, tentu membuat siapapun yang berfikiran menyimpang akan dengan senang hati menjadikan Jane menjadi objek fantasi liar mereka. Termasuk para pengawal yang sudah dirinya bayar, yang bisa dikatakan ingin mewujudkan fantasi liar meraka terhadap dirinya.
Hingga akhirnya, beberapa kali Jane harus mengalami sebuah hal yang membuatnya trauma atas semua kejadian yang selama ini dirinya alami. Bahkan dirinya sempat ingin menyerah dengan situasinya dahulu, sebelum Pamannya memang selalu menguatkan dirinya untuk menjalani kehidupannya tersebut.
Jadi wajar, jika saat ini dirinya sangat kesusahan untuk dekat dengan pemilik kekuatan, karena apa yang dirinya alami di masa lalu masih membekas didalam pikirannya, dan bisa dikatakan sangat susah untuk dihapuskan didalam pikirannya hingga saat ini.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo turun" Dan begitulah ucapan dari Zen dan saat ini sudah bersama Jane yang masih menyembunyikan wajahnya, mulai turun dari dalam kereta yang mereka tumpangi itu.
Memang mereka mengambil keberangkatan pertama dari kereta yang sedang beroperasi tersebut, sehingga mereka sudah beranjak dari subuh-subuh sekali. Jadi saat ini mereka tiba tepat pada area ini yang sudah masuk kedalam jam lagi, sehingga saat ini tempat dimana mereka berada sangatlah ramai.
Beberapa pihak saat ini terlihat sedang ingin memulai aktifitas mereka masing-masing, jadi wajar jika tempat dimana mereka berada saat ini mulai ramai, dan berbanding terbalik disaat mereka berangkat tadi, karena waktunya masih pagi-pagi sekali.
Namun mereka mulai berjalan dengan perlahan untuk keluar dari sana, bahkan saat ini Jane terus memegang lengan dari Zen agar mereka tidak terpisah dari kerumunan yang akan menggunakan kereta yang mereka tumpangi tadi, hingga akhirnya sebuah pemandangan kota besar mulai menyambut keberadaan mereka.
Sinar matahari pagi saat ini mulai menyilaukan pandangan mereka, apalagi sedari tadi mereka memang sama sekali belum diterpa sinar matahari yang saat ini menyinari mereka. Hingga setelah mereka berhasil menyesuaikan penglihatan mereka, saat ini pemandangan kota yang maju mulai memasuki pandangan mereka saat ini.
"Hahh... akhirnya sampai juga" ucap Zen yang saat ini sudah bisa memandangi sebuah kota yang menjadi tujuan mereka.
"Maafkan aku, Zen. Tetapi bisakah aku menanyakan sesuatu kepadamu?" Hingga Jane yang akhirnya sudah berdiri di samping Zen, sepertinya sedang merisaukan sesuatu saat ini dengan kedatangan mereka ketempat ini.
"Tentu saja. Memangnya apalagi yang sekarang mengganggumu?" tanya Zen balik kepada wanita yang terlihat sedikit ragu-ragu menanyakan sesuatu kepada Zen.
"B-begini Zen. Bukannya aku meragukan semua tindakanmu, tetapi bukankah kita harus melarikan diri keluar dari Kekaisaran ini. Tetapi kenapa kamu mengajak diriku menuju Ibukota dari Kekaisaran yang dimana pihak yang mengincar diriku berada?" ucap Jane yang menanyakan maksud Zen membawanya menuju ketempat ini.
Awalnya dirinya hanya menerima saja keputusan dari Zen, karena memang apa yang dirinya lakukan bisa dikatakan sama sekali tidak pernah mengecewakan Jane. Namun tetap saja, dirinya sangat penasaran mengapa mereka harus melarikan diri ketempat ini.
Apalagi wilayah ini merupakan wilayah yang tidak pernah sama sekali Jane pikirkan akan menjadi wilayah yang akan didatangi olehnya, karena wilayah ini merupakan wilayah dari pihak-pihak yang membuat kehidupannya tidak tentram selama ini.
"Lalu, apakah kamu ingin melarikan diri terus selama sisa hidupmu?" tanya Zen balik yang membuat Jane langsung tertegun mendengar perkataannya itu.
"J-jangan bilang kita datang ketempat ini untuk menyelesaikan permalasahan diriku?" Hingga begitulah balasan yang diberikan oleh Jane, karena dirinya mulai menyadari maksud dari perkataan Zen kepadanya itu.
Tentu Zen tidak ingin terus melindungi wanita yang memang tidak memiliki sesuatu yang membuat Zen untuk terus melindunginya. Maka dari itu, dirinya ingin menuntaskan semua hal yang menjadi permasalahannya dan bisa bebas untuk tidak mengikuti keinginan keponakannya yang memaksanya untuk terus melindungi wanita tersebut.
Maka dari itu, solusi sederhana agar dirinya tidak perlu repot-repot lagi dalam mengatasi permasalahan dari Jane, tentu saja adalah dengan menghabisi akar permasalahan yang membuat Jane terus dikejar-kejar oleh beberapa pihak. Dan hal tersebutlah yang membuat Zen membawa Jane ketempat ini.
"Apa kamu gila? Apakah kamu tahu siapa yang mengincar diriku, Zen?" balas Jane yang tidak habis pikir dengan rencana Zen tersebut, karena menurutnya apa yang akan dirinya lakukan itu sangatlah mustahil untuk dilakukan.
Masalahnya wanita itu sama sekali tidak mengenal Zen secara keseluruhan. Karena jika Zen mau, dirinya mampu melenyapkan Kekaisaran ini kapanpun dirinya mau. Jadi, Kekhawatiran wanita yang bersamanya itu sama sekali tidak mendasar bagi Zen yang notabennya adalah entitas terkuat di dunia ini.
__ADS_1
Bahkan Zen hanya tersenyum saja mendengar perkataannya, karena menurutnya sangatlah menyenangkan melihat beberapa pihak seakan meremehkan kekuatannya. Maka dari itu, dirinya akan membuktikan kepada pihak yang menganggapnya tidak mampu itu dan akan menyelesaikan permasalahan ini sepenuhnya.
Tentu Zen melakukan ini bukan semata-mata ingin membuktikan dirinya saja. Karena memang adiknya Mikhael sangat amat penasaran mengapa Jane berada didalam penglihatannya. Karena hal tersebut bukanlah sebuah kebetulan semata dan dipastikan ada yang janggal dan harus dirinya selidiki tentang permalasahan itu.
Keponakannya juga ikut andil besar dalam keputusannya dalam melindunginya, bahkan Zen heran mengapa gadis kecil itu sangat mengidolakan wanita yang sangat merepotkan baginya, sehingga Zen harus menunda waktunya untuk mendekati beberapa wanita lain yang harusnya dirinya kembangkan hubungan mereka.
Hingga Zen akhirnya memutuskan untuk membantu adiknya itu menyelidiki tentang permasalahan ini. Apalagi Zen juga bisa dikatakan mulai sangat penasaran dengan apa yang terjadi, sehingga saat ini dirinya mulai melindungi gadis yang menjadi satu-satunya pihak yang memiliki petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Maka dari itu, memasuki kandang musuh merupakan rencana Zen untuk meneliti lebih lanjut tentang apa yang terjadi. Dan dari tempat dimana dirinya berada, Zen akan menyelidiki dengan detail tentang semua permasalahan yang saat ini sedang dirinya selidiki itu.
"Zen, apakah kamu mendengarkan perkataan ku?" Hingga Jane yang tidak mendapatkan jawaban dari Zen atas pernyataannya tadi, membuat wanita itu mulai menegur sikap pria itu terhadap dirinya.
"Sudahlah, kamu bisa tenang. Bahkan aku berharap bahwa Kaisar itu langsung menemukan kita, dan aku bisa dengan segera menyelesaikan semua permasalahan ini" dan begitulah ucapan Zen yang saat ini sudah beranjak terlebih dahulu meninggalkan tempat mereka berada tadi.
Jane sama sekali tidak mengerti jalan pemikiran Zen saat ini. Memang sedari kemarin rencana pria itu bisa dikatakan selalu sukses, hingga akhirnya mereka sudah berada ditempat ini tanpa diketahui oleh siapapun. Namun situasinya sangatlah berbeda dengan rencananya tadi, karena mereka saat ini seakan sedang memasuki markas musuh.
Apalagi tidak ada penjelasan dengan pasti apa yang akan mereka lakukan ditempat ini, hingga akhirnya Jane hanya mulai pasrah saja dan saat ini mulai mengikuti langkah Zen yang sudah beranjak dari sana. Dan begitulah bagaimana mereka akhirnya sudah berada pada sebuah Taksi, dan saat ini Jane bingung mereka akan pergi kemana sekarang.
"Cih... benar kata para bawahan ku. Sepertinya hanya Jane saja yang menjadi wadah dari tehnik tersebut" gumam Zen yang saat ini memperhatikan keadaan sekitarnya dari balik jendela taksi yang dirinya tumpangi, tetapi dirinya tidak melihat bahwa ada beberapa pihak yang memiliki sebuah teknik bersarang dalam tubuh Mereka.
Prinsip sebuah kekacauan adalah sesuatu yang menjadi akar kekacauan yang sedang terjadi akan menyebar dan akan memasuki setiap pihak yang akan mengalami sebuah kekacauan. Masalahnya sedari tadi yang Zen perhatikan, tidak ada satupun indikasi wilayah ini menjadi tempat yang akan menjadi sebuah kekacauan.
Bisa dilihat, apa yang Zen cari itu sedari tadi tidak dirinya temukan, bahkan tempat ini bisa dikatakan sangatlah aman dan tentram. Dengan apa yang dirinya lihat itu saja, sudah dipastikan akan sangat kecil bahwa sebuah kekacauan akan terjadi ditempat ini.
Apalagi bisa dilihat dengan seksama bahwa tidak ada yang mempunyai tehnik energi dari Kultivasi Ganda yang ditanamkan didalam tubuh mereka, yang menjadi alasan kecurigaan Zen tentang kekacauan yang akan terjadi itu disebabkan oleh teknik yang saat ini berada didalam tubuh dari Jane.
Maka dari itu, dirinya saat ini mulai bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, dan dimana sebenarnya akar kekacauan yang mungkin akan terjadi itu, karena tidak akan mungkin Mikhael akan melihat sesuatu yang asal dan tidak berarti sama sekali dalam penglihatan yang diterima olehnya.
"Kita sudah sampai, Tuan" hingga, lamunan Zen yang masih fokus dalam memeriksa berbagai hal harus terhenti setelah mereka sampai tujuannya.
Zen dan Jane akhirnya mulai turun pada tempat yang memang dituju oleh Zen dan saat ini mereka sudah berdiri pada sebuah rumah yang cukup besar. Jane yang melihat itu cukup kebingungan mengapa mereka datang ketempat ini, hingga saat ini rumah yang sekarang digembok tersebut mulai dibuka oleh Zen menggunakan sebuah kunci.
"Kita akan tinggal disini selama berada di wilayah ini"
__ADS_1