Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Mengapa Bisa Kacau?


__ADS_3

Sebuah acara yang sangat bergengsi dan sudah terselenggara selama beberapa tahun secara berturut-turut, bisa dilihat mulai kacau saat ini. Bisa dikatakan, jalannya acara yang sedang berlangsung itu tidak seperti penyelenggaraannya beberapa tahun kebelakang.


Karena bisa dikatakan, seluruh kekacauan itu terjadi karena keserakahan beberapa pihak yang mencoba keberuntungan mereka, untuk mengenal lebih dekat dengan sosok yang sangat besar dan sudah datang atas undangan yang dirinya terima dari acara yang bergengsi ini.


Bahkan esensi acara yang sudah berlangsung selama beberapa tahu itu, seakan sudah mulai hilang disaat beberapa tamu yang datang ke sana, lebih mementingkan menyapa sesosok pihak yang sangat penting bagi mereka dan sedang datang ke acara tersebut.


Dan hal itu terbukti, disaat seorang pria yang statusnya sagat besar di negara ini, bisa dikatakan hanya sebuah keset dimata para undangan yang datang ketempat ini, karena mereka lebih sibuk mengikuti sosok yang mempunyai status lebih tinggi dari dirinya dari pada membantu dirinya yang sedang tersungkur pada tempatnya.


“Lalu, apakah kita juga akan pulang, Vero?” tanya Zen, yang memang sepertinya keberadaan mereka ditempat itu, memang tidak memiliki tujuan lagi.


“Ya... lebih baik kita pulang saja. Apalagi aku sangat kelelahan menanggapi semua fakta baru yang baru saja aku terima tadi” ucap Vero yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya itu.


Kenyataan demi kenyataan tentang suaminya, tentu sangat menguras energi saat Vero semakin mencoba mencerna tentang dirinya yang sebenarnya. Maka dari itu, raut wajah kelelahan bisa terlihat dengan jelas dari wajahnya yang cantik itu.


Hingga akhirnya Zen saat ini mulai memimpin langkah mereka menuju area luar dari tempat ini, dan memang langsung memutuskan untuk beranjak dari sana. Karena dirinya juga bisa melihat, bahwa Istrinya itu sudah sangat kelelahan.


Seperti kebanyakan orang, Zen dan Vero saat ini tidak memperdulikan lagi pihak yang sedang tersungkur ditempatnya berada saat ini. Dan lebih memilih melewati sosoknya yang terlihat sangat menyedihkan itu dan ingin dengan segera meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.


“Kalian berdua juga akan kembali?” namun saat diperjalanan untuk pergi, langkah mereka mulai dihalangi oleh pasangan suami istri yang juga akan beranjak dari tempat tersebut.


“Benar Tuan Bram. Karena bisa dikatakan tidak ada lagi yang bisa dilakukan ditempat ini” balas Vero yang menyahuti perkataan dari Bram yang menghalangi langkahnya itu.


“Kalau begitu, mari sekalian kita beranjak dari tempat ini bersama. Karena bisa dikatakan acara ini sudah tidak berjalan seperti semestinya” ucap Bram yang dimana undangannya itu langsung di anggukan oleh Vero.


Seperti yang dilihat, berbagai kegiatan yang sudah dipersiapkan dalam acara ini, sepetinya tidak akan terlaksana lagi. Karena bisa dikatakan kedatangan sosok Alfred ditempat ini bisa dikatakan sudah merupakan sebuah kegiatan utama dari acara yang sedang diselenggarakan ditempat ini.


Apalagi semua itu mulai terlihat, disaat langkah keempat orang yang akan beranjak dari tempat ini bisa dikatakan sudah tidak lagi menjadi perhatian beberapa orang. Karena saat ini, mereka masih sangat fokus untuk mengantarkan kepergian Alfred yang dimana dirinya juga akan keluar dari tempat ini .


Bahkan sosok yang dihempaskan oleh asisten dari Alfred tadi dan membuatnya tersungkur, juga sudah bangkit dan mulai mengikuti beberapa pihak yang mengantarkan kepergian sosok yang statusnya sangat besar itu, karena dirinya juga tidak ingin membuat kesan tentang dirinya dimata Alfred akan buruk.


Maka dari itu, sudah dipastikan acara yang bergengsi bagi beberapa pihak dan sudah berjalan selama beberapa tahun lamanya secara rutin, sepertinya sudah tidak bisa lagi dibilang sebuah acara yang bergengsi, karena pihak yang menghadirinya terlihat sudah tidak memperdulikan lagi jalannya acara tersebut termasuk sang penyelenggara acara ini.

__ADS_1


“Kalau begitu, sampai jumpa Nona Vero, Tuan Zen” ucap Bram yang dimana saat ini mereka akan berpisah, disaat mereka sudah keluar dari gedung tempat mereka berada dengan selamat.


Dengan saling berpamitan satu sama lainnya, akhirnya Vero dan Zen sudah masuk kedalam mobil yang sudah datang menjemput mereka didepan pintu masuk dari gedung yang megah tempat mereka berada tadi, dan akhirnya juga mulai beranjak dari acara yang terlihat kacau tersebut.


“Tunggu... apakah Tuan Bram mengetahui identitas dirimu, Zen?” tanya Vero setelah dirinya bersama Zen sudah duduk di kursi penumpang dari mobil yang ditumpangi oleh mereka dan dirinya mulai menyadari sesuatu.


Bisa dikatakan, tingkah pria itu juga terlihat aneh. Karena bisa dikatakan, dirinya seakan mencoba mencari perhatian dari Zen sedari tadi, dengan berada disisi dirinya. Maka dari itu, tebakan yang terlontarkan dari mulut Vero tadi, merupakan sesuatu yang dirinya sadari dari perbuatan pria bernama Bram tersebut.


“Bisa dikatakan seperti itu.” Ucap Zen yang menjawab pertanyaan dari Istrinya itu.


“Berarti selama ini yang membantu perusahaan milikku keluar dari dalam keterpurukan adalah dirimu, bukan?” tanya Vero yang kembali menyadari sesuatu.


Memang semenjak mengenal Zen, dan bisa dikatakan hidup bersamanya. Semua permasalahan yang dihadapi oleh Vero seakan bisa terselesaikan dengan mudah. Walaupun sebenarnya ada permasalahan yang memang memakan waktu lama untuk diselesaikan, tetapi tetap saja saat ini sudah terselesaikan sepenuhnya.


Tentu bantuan yang dirinya terima bisa dikatakan berasal dari perusahaan yang bernaung pada Darkness Company dan beberapa pihak yang mengenal sosok Zen dan langsung menawarkan bantuan mereka kepada Vero, termasuk Bram yang Vero baru tahu bahwa dirinya mengetahui status yang sebenarnya dari suaminya.


“Perkataan dirimu itu tidaklah salah, tetapi bisa dikatakan kurang tepat. Karena memang, aku sama sekali tidak pernah melakukan apapun untuk membantu dirimu, kecuali menyelamatkan nyawamu saja” balas Zen.


Memang Zen tidak pernah sama sekali membantu Vero secara langsung dalam hal mengeluarkan perusahaannya dari ambang kehancuran. Karena bisa dikatakan, semua itu atas inisiatif bawahannya dan beberapa pihak yang mengenal dirinya.


“Tetapi tetap saja, keberadaan dirimu sudah membantuku Zen. Maka dari itu, aku sangat berterima kasih kepadamu, suamiku” ucap Vero yang saat ini semakin mengeratkan pelukannya pada lengan dari Zen.


Semua kenyataan tentang status Zen memang suah diketahui sepenuhnya oleh Vero atas pertemuan yang dirinya lakukan bersama Alfred tadi. Bahkan keraguannya tentang dirinya menjadi sosok pendamping dari Zen, juga sudah mulai menghilang sepenuhnya dari dalam dirinya.


Tentu hal itu berkat suaminya juga, yang selalu ada disisinya apapun yang terjadi. Bahkan setelah Vero mendengar dan merasakan sendiri apa yang dilakukan Zen kepadanya selama ini, membuat wanita itu sempat menyesal memperlakukan pria itu sangat buruk pada awal-awal pertemuan mereka.


Apalagi yang membuatnya semakin merasa bersalah, dirinya pernah menganggap suaminya setara dengan sampah pada awalnya dan memperlakukannya seperti sebuah barang. Maka dari itu, dirinya ingin menebus semua permasalahan itu, dengan mencintai dengan tulus sosok pria yang sudah berhasil mencuri seluruh rasa cinta pada hatinya.


“Tetapi Zen, kata Tuan Alfred masih ada satu rahasia lagi tentang dirimu yang belum kalian katakan kepadaku. Lalu, mengapa kalian tidak langsung memberitahukan diriku?” tanya Vero tentang hal yang masih mengganggu dirinya tersebut.


Memang status Zen sebagai pemilik Kuasa, mantan pemimpin Neraka, mantan Harem Lord dan salah satu Deadly Sins yaitu Sloth, belum sama sekali diketahui oleh Vero. Karena memang, pertemuan mereka tadi bukan tempat yang tepat untuk memberitahukan seluruh identitasnya itu.

__ADS_1


Menurut Zen, identitasnya yang akan sangat membingungkan oleh Vero saat mendengarkannya nanti, haruslah dijelaskan secara detail dan menyeluruh, agar wanita itu bisa paham dan mengerti tentang siapa sebenarnya pria yang saat ini sudah dinikahinya.


Maka dari itu, Zen berencana akan menjelaskan statusnya yang sebenarnya itu dengan dibantu oleh adik-adiknya, disaat mereka akan menuju Kerajaan miliknya beberapa hari lagi. Karena memang menurutnya, disaat semua keluarganya berkumpul disaat itulah merupakan waktu yang tepat memberitahukan semuanya kepada Vero.


“Kejutan tentu saja. Jadi, harap bersabar oke, karena mungkin apa yang akan kamu ketahui nanti, mungkin lebih mengejutkan dari statusku yang baru saja kamu dengar tadi” ucap Zen sambil mengeratkan genggamannya pada tangan dari Vero.


Sebenarnya Vero tidak puas dengan jawaban dari Zen. Karena dirinya bisa dikatakan sangat amat penasaran dengan apa yang belum diberitahukan kepadanya oleh suaminya itu. Bahkan, dirinya ingin sekali mengoreknya secara paksa kepada suaminya, karena dirinya sangat penasaran dengan hal itu.


Namun dirinya saat ini lebih memilih untuk bisa bersama saja dengan pria yang sangat dirinya cintai tersebut yang merupakan suaminya. Jadi, asalkan hal itu tidak akan memisahkan mereka, Vero tidak mempermasalahkan jika dirinya harus menunggu untuk mendengar kebenaran tentang suaminya tersebut.


“Baiklah. Semoga apa yang menjadi kejutan untukku nanti, memang layak disebut sebagai sebuah kejutan” ucap Vero yang saat ini mulai menyandarkan tubuhnya tepat di samping Zen.


Zen hanya tersenyum saja mendengar jawaban Istrinya, hingga akhirnya tidak terasa mereka sudah tiba pada area kediaman dimana mereka tinggal. Dengan mulai turun dari kendaraan yang mereka tumpangi itu, kedua pasangan yang hingga saat ini tidak melepaskan genggaman mereka sedari tadi, mulai memasuki area kediaman tempat tinggal mereka.


Namun disaat mereka akan memasuki kediaman mereka, bisa dikatakan mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang saat ini tiba-tiba saja menghalangi langkah mereka dalam memasuki kediaman tempat mereka tinggal itu.


"T-Tolong... tolonglah diriku, Tuan Zen" begitulah ucapan seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka.


“Nyonya Alice?” dan begitulah ucapan yang keluar dari mulut Vero saat melihat wanita itu.


Bisa dikatakan, Vero akan selalu mengeluarkan aura permusuhan jika dirinya melihat wanita itu berada didekatnya. Namun, saat ini sepertinya dirinya tidak bisa melakukannya karena terlihat wanita itu datang dengan kondisi yang sangat berantakan.


“A-Aku mohon... tolonglah diriku, Tuan Zen” ucap Alice kembali yang saat ini mulai memohon sesuatu kepada Zen.


Tentu Vero cukup bingung dengan tingkah dari wanita itu, apalagi saat ini dirinya mulai berlutut dihadapan mereka seakan dirinya memang benar-benar sedang merasa putus asa, untuk meminta pertolongan kepada suaminya yang juga sedang memperhatikan tingkahnya itu.


Bahkan, tangisannya yang semakin keras saat dirinya meminta tolong kepada Zen, cukup membuat Vero yang melihatnya merasa prihatin dan mulai mencoba menenangkan wanita itu dan meminta penjelasan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


“Tenang dulu, Nyonya Alice. Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada anda?” ucap Vero yang berusaha menengahi permasalahan wanita tersebut, yang masih terlihat panik ditempatnya.


Bagaimana Vero tidak prihatin melihat keadaannya. Karena bisa dikatakan selain kondisinya berantakan, wajahnya saat ini terlihat sebuah bekas lebam yang cukup mencolok dan terlihat pada wajahnya. Bahkan, sepertinya dirinya langsung buru-buru ketempat ini dan ingin meminta bantuan secara langsung kepada Zen.

__ADS_1


Apalagi, dirinya bisa dikatakan datang dengan keadaan panik dan mulai berlutut dihadapan mereka saat ini. Bahkan dengan keadaan yang sedang histeris dan menangisi sesuatu, saat ini dirinya terus berusaha untuk meminta tolong akan sesuatu kepada suaminya.


“Aku mohon Tuan Zen. Tolong selamatkan Kileni. Akan aku berikan apapun kepada Anda, asalkan anda bisa menyelematkan dirinya”


__ADS_2