Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kegagalan


__ADS_3

Seorang pria saat ini langsung membanting ponsel miliknya setelah dirinya menerima panggilan dari salah satu orang suruhannya. Dirinya saat ini cukup emosi karena orang yang dirinya sewa untuk menculik putrinya malah sudah mendekam dipenjara sekarang.


“Bukankah kata orang suruhan milikmu melaporkan bahwa dirinya sudah sedikit mabuk tadi malam” ucap pria itu yang masih kesal dengan kenyataan yang dirinya terima saat ini, kepada pria yang berada dihadapannya.


“Cih... aku juga tidak tahu Tuan Thomas. Mengapa para orang suruhan milikku yang aku berikan kepadamu malah tertangkap pihak kepolisian” kata pria yang merupakan Richard.


Richard memang sudah sangat jatuh cinta dengan Vero saat pertama kali bertemu dengannya. Tetapi sayangnya semua tindakan yang dirinya lakukan untuk mendekati wanita itu selalu saja gagal.


Namun dirinya tidak habis akal untuk mendekati wanita pujaannya itu, seperti saat ini dirinya bekerja sama dengan Ayah tiri wanita yang diincarnya yang serakah, untuk mendapatkan gadis yang sangat dicintainya itu.


“Padahal asistennya itu tidak bersamanya tadi malam. Mengapa dirinya masih bisa lolos dari orang suruhan milikmu” balas Thomas kemudian.


Memang asisten dari Vero, Kelly menjadi momok selama ini untuk setidaknya membuat rencana mereka untuk membuat Vero untuk takluk dihadapan Richard selalu gagal. Ini bukanlah percobaan pertama mereka mencoba menculik Vero.


Namun rencana itu selalu digagalkan oleh asistennya. Jadi disaat asistennya sudah tidak berada disisinya seperti tadi malam, mereka sudah mendapatkan angin segar untuk melakukan rencana mereka namun sayangnya kembali gagal.


“Padahal aku sudah menyiapkan sebuah kamar mewah yang akan aku gunakan untuk menghabiskan waktuku dengannya tadi malam” ucap Richard yang masih kesal karena rencananya kembali gagal.


Namun saat sedang menikmati kekesalan mereka, suara ponsel dari Richard mulai berbunyi dan orang pada ujung panggilannya itu memberikan dirinya sebuah informasi yang membuatnya langsung emosi dibuatnya.


“Apa katamu?!” teriaknya saat mendengar perkataan bawahannya.


.


.


Disisi lain, seorang pria saat ini sedang menyantap makanannya dengan lahap. Setelah dirinya sudah puas melihat matahari terbit tadi, akhirnya dirinya memutuskan untuk pergi menuju kedai penjual makanan sederhana dan sarapan di sana.


“Terima kasih sekali lagi karena sudah menyelamatkanku Tuan Zen” ucap wanita yang duduk didepannya, yang dimana memang pria itu selamatkan tadi saat dirinya hendak diculik oleh beberapa orang.

__ADS_1


“Hemm....” balas Zen yang masih dengan sikap seperti biasanya yang acuh kepada orang yang sangat asing baginya.


Wanita yang merupakan Vero entah mengapa sudah sedikit terbiasa dengan sikapnya, karena dirinya akhirnya mengerti bahwa pria yang dirinya anggap cuek itu sepertinya memang begitulah sikapnya.


Jadi dirinya saat ini mencoba memahami sikap dari Zen yang sangat cuek kepadanya. Apalagi sepertinya Zen masih bisa diajak untuk berkomunikasi, hanya saja dirinya cukup malas untuk menjawab dan terkesan cuek kepada dirinya.


“Ah... dan tenanglah. Aku sendiri yang akan membayar makanan yang kamu makan saat ini” ucap Vero kepada Zen, yang menyuruh Zen tidak perlu mempermasalahkan pembayaran dari makanan yang sedang dirinya santap.


Apalagi Vero sangat mengetahui pekerjaan dari Zen yang hanya seorang kasir sebuah mini market. Jadi menurutnya dirinya harus membuat Zen tidak memikirkan tentang biaya makanan yang saat ini sedang disantapnya.


“Benarkah?” tanya Zen kemudian yang membuat Vero sedikit terkejut karena sepertinya pria itu akhirnya mulai menyahuti perkataannya dengan sebuah kata.


“I-Iya Tuan Zen. Anda bisa memesan makanan sebanyak yang anda mau” balas Vero yang entah mengapa akhirnya merasa aneh karena sikap Zen yang tiba-tiba berubah karena menyahuti perkataannya.


Mendengar itu Zen tentu saja mengambil kembali sebuah nasi bungkus yang dijual ditempat dirinya sarapan dan kembali melahap makannya dengan lahap. Vero awalnya cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Zen saat ini.


“Cih... benar saja, sepertinya wanita ini memancing orang-orang jahat untuk selalu berbuat jahat kepadanya” gumam Zen kemudian yang sedang merasakan sesuatu saat masih menikmati santapannya.


“Ada apa Tuan Zen?” tanya Vero yang melihat Zen menghentikan aktivitas makannya dan seakan sedang menengok kearah sebuah tempat.


Namun bukannya menjawab, Zen kembali mengunyah makanannya dan mulai kembali mengambil bungkusan kesebelas dari nasi bungkus yang sudah disediakan ditempat itu dan kembali memakannya.


Hingga akhirnya saat ini Zen dan Vero sudah keluar dari kedai sederhana itu dan ingin berjalan kembali menuju tempat mereka menginap.


“M-Maafkan aku sekali lagi Tuan Zen. Aku benar-benar tidak membawa uang tunai” ucap Vero yang merasa bersalah karena dirinya tidak menepati janjinya untuk membayar seluruh makanan yang dimakan oleh Zen.


Vero saat itu lupa bahwa dirinya hanya membawa kartu kreditnya saja bersamanya. Sedangkan mereka makan pada kedai sederhana yang tentu saja tidak bisa menerima pembayaran menggunakan sebuah kartu.


Jadi, saat mereka akan membayar makanan mereka tadi, dengan terpaksa Zen membayar makannya sendiri bahkan membayar apa yang dimakan oleh Vero, karena memang Vero tidak memegang uang sepeserpun pada dirinya saat ini.

__ADS_1


“Aku pastikan akan mentraktir dirimu pada sebuah restoran nanti dan mengganti semua uangmu” ucap Vero yang masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi tadi.


Zen tidak menghiraukannya dan saat ini dirinya terus berjalan, bahkan mereka saat ini sudah masuk pada sebuah gang kecil yang sepi dan tentu saja Vero terus mengikuti Zen karena masih merasa bersalah.


“Aku berjanji Tuan Zen, aku akan memba-mphmmmmmm” Namun sebelum menyelesaikan kalimatnya, mulutnya saat ini sudah ditutupi oleh tangan dari Zen.


Vero cukup terkejut dengan perilaku yang dilakukan oleh Zen, bahkan dirinya sudah berfikiran aneh-aneh saat ini. Namun tindakan Zen selanjutnya kembali membuat Vero terkejut.


“Keluarlah, jangan menjadi pengecut” ucap Zen kemudian yang mulai melepaskan dekapan tangannya pada mulut dari Vero.


Beberapa orang saat ini sudah masuk kedalam gang yang dilewati Zen tadi. Bahkan Vero cukup mengenali dua orang yang memimpin orang-orang tersebut, dan dirinya cukup terkejut mendapati mereka berada disini.


“Oh... jadi pria ini yang kamu pilih Vero?” ucap salah satu dari mereka.


.


.


Disisi lain, seorang wanita yang sedang melakukan gladi resik untuk acara kenaikan pangkatnya, sedang menerima panggilan dari orang suruhannya. Cukup terkejut memang saat dirinya mendengar laporan dari bawahannya itu dan membuatnya hanya menghela nafasnya saja.


“Lakukan seperti biasa” ucap wanita itu dan mematikan panggilan yang dirinya lakukan.


“Cih... mengapa kamu selalu membuat masalah Zen” ucap Santi yang tidak habis pikir bahwa Zen saat ini sedang melawan beberapa orang kembali.


“Oh... lama tidak bertemu denganmu Santi” namun saat masih memikirkan permasalahan Zen, Santi dikejutkan dengan suara seorang pria yang sangat dirinya kenal sedang menyapanya.


Entah mengapa, tubuh Santi langsung menegang mendengar suara tersebut. Suara yang ingin dirinya hindari bahkan dirinya coba lupakan. Tetapi sepertinya dirinya gagal melakukannya karena pria yang mengeluarkan suara itu mulai mendekat kearahnya.


“P-Pak Gio”

__ADS_1


__ADS_2