
Sinar matahari pagi sudah menembus sela-sela korden yang mencoba menghalangi sinarnya masuk kedalam sebuah kamar. Namun tetap saja sinarnya itu berhasil mencari cela untuk masuk dan mengganggu seorang pria yang sedang terlelap dengan nyaman pada tempatnya.
Karena merasa terganggu, pria tersebut akhirnya mulai membuka matanya dan memperhatikan keadaan sekitarnya, sambil mengumpulkan sepenuhnya kesadarannya. Namun tatapannya saat ini mengarah menuju seorang wanita yang sedang menatapnya tajam.
“Pagi Vero” ucap Zen yang tersenyum menyapa wanita yang membayarnya untuk menjadi suaminya, sambil meregangkan tubuhnya.
Namun bukannya membalas, Vero saat ini semakin menatap Zen dengan tatapan yang semakin intens kepadanya dan sangat kesal dengan perilakunya. Apalagi tadi malam, Zen berhasil membuat Vero yang tidak ingin tidur seranjang dengannya untuk tidur di atas sebuah sofa.
“Apakah kamu tidak merasa sedikitpun bersalah atas apa yang kamu lakukan tadi malam kepadaku?” tanya Vero kemudian yang terlihat sangat kesal.
“Bersalah? Siapa yang bersalah?” tanya Zen kembali atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Vero kepadanya.
“Tentu saja dirimu brengsek! Bisa-bisanya kamu membuatku tidur di atas sofa tadi malam!” teriaknya karena sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya atas perlakuan Zen tadi malam.
“Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk tidur bersamaku tadi malam? Mengapa kamu memarahiku sekarang padahal kamu yang memilih untuk tidur di atas sofa.” Balas Zen yang menanggapi perkataan Vero dengan raut wajah kebingungannya.
Memang perdebatan mereka tadi malam terus terjadi, yang dimana Zen bersikeras untuk tidak ingin tidur di atas sebuah sofa. Tentu Vero terus memaksanya dan akhirnya dirinya menyerah dan lebih memilih tidur di atas sofa, daripada tidur bersama dengan Zen satu ranjang.
Tetapi, keputusan yang diambil oleh Vero merupakan keputusan yang salah. Apalagi dipastikan dirinya tidak bisa terlelap selain tidur di atas tempat tidur, dan membuatnya terjaga semalaman karena dirinya merasa tidak nyaman untuk tidur di sofa.
“Cih... dasar pria brengsek.” Ucap Vero yang mulai bangkit dari sofa yang digunakannya untuk tidur, dan langsung masuk menuju kamar mandi pada kamar hotel tempat dirinya bersama Zen menginap.
Suara bantingan keras dari sebuah pintu mulai terdengar saat Vero menutup pintu kamar mandi yang dimasukinya. Zen yang baru sadar itu tentu masih bingung mengapa wanita itu sangat marah, karena setahunya dirinya tidak berbuat sesuatu yang salah kepada wanita tersebut.
Disisi lain, saat ini Vero sudah membasuh wajahnya pada wastafel pada kamar mandi tempatnya berada dan langsung menatap rupanya pada sebuah cermin yang berada dihadapannya. Bisa terlihat saat ini ada lingkaran hitam berada dibawah matanya saat dirinya memperhatikan dengan seksama wajahnya pada pantulan cermin.
“Hahh... mengapa aku tidak bisa melawan perkataannya” balas Vero kemudian.
__ADS_1
Memang Vero tidak bisa tidur dengan nyaman semalam, karena dirinya tidak biasa untuk tidur di atas sebuah sofa. Namun karena tidak bisa melawan perkataan dan tindakan Zen, akhirnya dirinya tidur di sana.
Hingga akhirnya sebuah lingkaran hitam sudah muncul dibawah matanya, menandakan bahwa dirinya benar-benar sangat susah untuk tertidur semalaman. Apalagi dirinya selalu merasa kesal saat melihat Zen malah terlelap dengan nyaman di atas tempat tidur yang harusnya menjadi tempat dirinya tidur.
“Baiklah, kamu harus kuat Vero, karena kamu tidak boleh untuk kalah dengan pria itu lagi” balas Vero yang bertekad untuk tidak mengalah dengan Zen lagi, sambil menggunakan handuk yang diambilnya untuk mengeringkan wajahnya.
Setelah melakukan semua yang dirinya ingin lakukan didalam kamar mandi, Vero akhirnya keluar dari dalamnya. Tetapi setelah dirinya keluar, Vero tidak menemukan sosok Zen didalam kamarnya dan mulai mencari keberadaannya.
“Terima kasih” namun saat sedang mencari keberadaannya, suara pintu tertutup mulai terdengar setelah Zen mengucap terima kasih kepada seseorang.
Vero langsung menuju asal suara yang didengarnya itu dan mendapati beberapa hidangan sudah tertata dengan rapi di atas sebuah meja, setelah seorang room service sudah mengantarkan beberapa hidangan pesanan dari Zen kedalam kamar mereka.
“Kamu sudah memesan sarapan?” tanya Vero dan mendapatkan anggukan dari Zen.
“Tentu, saat kamu masuk kedalam kamar mandi, aku langsung menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan sarapan pagi kesini” balas Zen yang langsung duduk pada tempatnya dan bersiap memakan makanannya.
Namun yang Vero baru tahu, ternyata semua tagihan makanan yang dia pesan saat itu harus dibayar olehnya, karena Zen berkata dirinya tidak mempunyai uang. Tentu karena Zen pernah menyelamatkannya dirinya, Vero dengan senang hati membayarnya.
Tetapi saat ini kasusnya berbeda, karena Zen merupakan pria yang dibayar oleh Vero untuk menjadi suaminya. Jadi seharusnya Zen tidak bertindak sesuka hati dan memberitahukan terlebih dahulu tindakan yang akan dirinya lakukan.
“Tenang Vero... Tenang” ucapnya sambil menahan semua kekesalan yang sedang dirinya rasakan.
Namun belum juga emosinya mereda seluruhnya, suara bel pintu mulai terdengar. Dengan menghela nafasnya, akhirnya Vero mulai melangkah dan mencari tahu siapa yang sedang bertamu ke kamarnya saat ini.
“Selamat pagi pengantin baru” ucap Kelly setelah Vero membukakan pintu kamarnya.
“Apa yang kamu inginkan Kel?” tanya Vero kepada sahabatnya itu, dengan nada ketusnya.
__ADS_1
“Aku hanya mengingatkanmu bahwa kita akan menuju Jakarta tiga jam lagi. Jadi aku memastikan kamu sudah bangun. Apalagi terlihat kamu tidak tidur semalaman” ucap Kelly sambil menunjukan senyum penuh arti kepada Vero setelah melihat kantung mata Vero yang menghitam, dan tidak memperdulikan nada yang digunakan Vero membalas perkataannya tadi.
“Cih... aku memang kurang tidur tadi malam” balas Vero dengan kesal karena mengingat kejadian semalam.
“Ho... aku penasaran apa yang kalian berdua lakukan tadi malam. Lalu dimana suamimu?” tanya Kelly kemudian.
Bukannya menjawab, Vero membukakan pintu kamar hotelnya dengan lebar dan menunjukan Zen yang menyantap sarapannya dengan lahap kepada Kelly yang menanyakan sosok suami bayarannya itu.
“Apakah kamu tidak sarapan Vero?” teriak Zen kemudian yang mendapati bahwa Vero belum berada dimeja makan tempatnya berada, dan mulai menengok kearah tempat Vero berada.
“Hahh.... ya aku datang” Kata Vero dan sekalian mengajak sahabatnya itu untuk makan bersama dengan mereka.
Tentu karena diajak, Kelly dengan senang hati mulai masuk kedalam kamar pengantin baru tersebut. Setelah duduk disebelah Vero yang sudah duduk pada tempatnya terlebih dahulu, mereka mulai menyantap sarapan pagi mereka bersama.
Vero dengan perasaan kesal, mulai makan makanannya dengan perlahan sambil memperhatikan kedua orang yang makan bersamanya memakan makanan mereka dengan lahap.
“Hari ini kita akan menuju Jakarta Zen, karena aku ada urusan di sana. Jadi setelah ini kamu bersiap-siaplah” ucap Vero kepada Zen yang masih dengan lahap memakan makannya.
“Hm.. Baiklah” balas Zen, yang sebenarnya tidak mengetahui mengapa mereka harus ke Jakarta hari ini.
Setelah menyebutkan bahwa mereka akan menuju Jakarta, entah mengapa Vero langsung mulai murung. Sahabatnya Kelly juga mengetahui mengapa sahabatnya itu sedang murung saat ini, karena saat mereka kembali nanti, mereka akan mengambil sebuah keputusan besar untuk menyelamatkan perusahaan milik Vero.
Tidak mudah memang mereka mengambil keputusan yang sangat berat itu, apalagi mereka harus melakukannya untuk menyelamatkan perusahaan dari Vero agar tidak mengalami kebangkrutan. Walaupun apa yang akan mereka lakukan itu akan membuat Vero sangat amat sedih.
“Kenapa suasananya berubah saat ini?” gumam Zen kemudian yang menatap kedua wanita yang berada dihadapannya, setelah merasakan sebuah aura kesedihan yang mulai muncul.
Namun yang dirinya dapati saat ini bahwa Vero sedang menunjukan raut wajah bersedih dan sahabatnya sedang mencoba menguatkannya. Zen tentu tidak tahu apa yang terjadi, namun memilih untuk tidak memperdulikan mereka dan terus menyantap makanannya dengan lahap.
__ADS_1
“Kalian akan makan atau tidak? Jika tidak aku yang akan habiskan makanan kalian”