
Tidak ada yang boleh menyakiti seseorang yang memang memiliki sebuah hubungan dengan Zen. Termasuk salah satunya merupakan pihak yang akan menjadi Istrinya kelak, yang dengan jelas-jelas mengalami sebuah tragedi yang membuat dirinya mengalami sebuah depresi yang sangat amat menyakitkan.
Memang Zen sangat menyesal pada awalnya, karena dari hasil pemeriksaan dari seorang psikolog yang merawat kondisi Angel yang mengalami trauma akibat apa yang dirinya alami, ternyata penyebab utama dari apa yang dirinya alami adalah karena ulah Zen sendiri yang menyebabkan dirinya seperti itu.
Dengan dirinya yang selalu lupa memberitahukan statusnya yang sudah menikah terhadap Vero, malah menjadi bumerang baginya karena Angel menganggap tindakannya itu sebagi sebuah penghianatan sehingga membuat dirinya merasa sangat tersakiti akibat ulahnya.
Memang alasan Zen tidak memberitahukan Angel tentang hubungannya dengan Vero pada awalnya, karena memang hubungan mereka pada saat itu masihlah merupakan sepasang suami istri yang hanya terikat sebuah kontrak pernikahan.
Maka dari itu, Zen tidak memberitahukan tentang permasalahan itu, dan dirinya sampai lupa untuk memberitahukan tentang hubungannya dengan Vero pada saat dirinya sudah resmi menjadi suami istri, karena bisa dikatakan Zen selalu lupa untuk melakukannya.
Dan hal itulah yang bisa dikatakan semakin membuat parah depresi yang Angel alami, karena setelah hatinya masih terluka yang disebabkan oleh Zen, dirinya malah mendapatkan sebuah trauma dari kejadian pelecehan yang dirinya alami, sehingga membuat keadaannya semakin terpuruk.
"Ya... Dan saat ini, aku datang untuk membalas semua perbuatan kalian kepadanya" ucap Zen yang saat ini mulai menyiramkan minyak goreng panas, pada tubuh seorang pria yang memang sudah mencari masalah dengan Angel.
"A-ampuni... a... a-mpuni aku Tua-Ahhhhhh" hingga suara desis minyak panas saat ini mulai mendesis saat bersentuhan dengan kulit lengan dari pria yang dirinya siksa.
Memang pada awalnya Zen sudah merasakan Angel mengalami sebuah pelecehan. Tentu pada saat itu dirinya ingin menyelamatkannya, namun ternyata wanita itu dibantu dengan Amel mampu menghalanginya. Jadi, hal itu membuat Zen tidak ikut campur lagi dalam permainan tersebut.
Bodohnya dirinya, Zen tidak langsung menanyakan kondisi dari Angel pada saat itu, sehingga sebuah kenyataan baru mulai terlewat dari Zen, karena memang Zen hanya bisa merasakan bahwa dirinya hanya terkena sebuah masalah yang mungkin membahayakan dirinya. Jadi disaat dirinya merasa depresi, hal tersebut tidak bisa dirinya rasakan terhadapnya.
Apalagi tahap berkah ikatan yang mereka jalani hanya tahap pertama saja, atau bisa dikatakan hanya sebatas Angel yang memiliki sebuah hubungan dengan Zen dan dirinya tidak membalasnya sehingga hubungan mereka tidak terhubung sehingga Zen tidak menyadari apa yang terjadi terhadapnya secara langsung.
"Tangan ini bukan, yang menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak kamu sentuh?" ucap Zen yang setelah menuangkan minyak panas pada tangan dari pria bernama Abra yang merupakan ayah dari Brian.
__ADS_1
Zen mulai mengambil sebuah paku dan mulai memalukan paku tersebut kearah tangan dari pria yang berani-beraninya melecehkan wanitanya. Teriakan mulai kembali terdengar, karena memang Zen memaku paku yang dirinya paku pada tangan pria tersebut, sampai benar-benar tangannya menempel dengan meja yang dimana tangannya dipaku oleh Zen di sana.
Bahkan dengan bengisnya, Zen tidak menggunakan satu paku saja untuk memaku tangannya, karena dirinya kembali mengambil beberapa paku dan mulai menancapkannya dan langsung di palu pada telapak tangan dari pria itu yang sepenuhnya sudah menempel pada meja tempat dimana Zen memaku tangannya.
"Sekarang, aku akan mengurus putramu terlebih dahulu" ucap Zen yang selesai menyelesaikan aksinya, dan saat ini mulai beranjak menuju sosok Brian yang mengaku sebagai kekasih dari Angel.
Melihat pria bernama Abra itu yang tidak mungkin lagi melarikan diri karena tangannya sudah terpaku dengan sebuah kursi, barulah Zen saat ini mulai melanjutkan aksinya kepada putranya yang ikut serta dalam permasalahan yang dialami oleh Angel.
Pria bernama Brian itu bisa dikatakan sudah tergeletak tak berdaya karena Zen sudah terlebih dahulu memberikannya serangan pertama. Hingga saat ini beberapa tulang rusuknya patah sehingga pria itu masih tersungkur dengan lemas ditempatnya, dengan beberapa tetesan darah masih mengalir dari mulutnya.
"Tanganmu ini yang menggenggam tangannya dengan kuat, bukan? Kalau begitu, mau mencoba merasakannya jika aku yang melakukannya?" ucap Zen yang saat ini meremas telapak tangan dari pria bernama Brian itu.
Suara teriakan mulai terdengar keluar dari mulut pria yang berani-beraninya berbuat kasar kepada Angel. Hingga bisa dikatakan, tangannya perlahan-lahan mulai remuk dan saat ini tiba-tiba saja genggaman tangan Zen yang terus menggenggamnya tangannya dengan sangat kuat langsung menghancurkannya.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan penyiksaan kalian" ucap Zen yang saat ini mulai berusaha melanjutkan aksinya ditempat itu.
Di tempat lain, sosok yang saat ini sedang di balas kan dendamnya oleh Zen mulai kembali menuju kediaman yang akhirnya dirinya tempati beberapa hari ini. Apalagi setelah dirinya menyelesaikan kuliahnya, wanita itu memutuskan untuk langsung kembali kediamannya dan ingin langsung beristirahat.
Bisa dikatakan kehidupannya mulai membaik saat ini. Apalagi berkat dirinya yang sudah bertemu psikiater, bisa dikatakan keadaannya sudah kembali seperti dirinya sendiri dan saat ini Angel sudah kembali seperti semula sebagai wanita yang penuh semangat dan tidak akan pernah lagi berfikiran untuk menyerah.
Bahkan pada saat itu, dirinya sangat menyesal pernah berfikiran untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan dirinya sangat amat kebingungan pada saat itu, karena pihak yang menyelamatkannya adalah sosok yang merupakan Istri dari orang yang sangat dirinya cintai dan malah saat ini mereka sudah sangat amat dekat dan bahkan dirinya ikut membantu dalam proses penyembuhannya.
"Hahh... setelah aku memikirkannya, aku mulai merindukan dirimu Kak Vero. Terutama, dirimu juga Kak Zen" ucap Angel yang saat ini mulai mengelus dengan lembut kalung yang diri gunakan, apalagi kalung itu hasil pemberian Zen terhadapnya dahulu.
__ADS_1
Angel sempat menyesal bahwa menganggap Zen meninggalkan dirinya. Bahkan dirinya sempat panik, karena pada saat itu dirinya sempat membuang kalung pemberian Zen karena kekecewaan dirinya yang sudah menikah. Untung saja , kalung pemberiannya itu terselip pada bagian bawah tempat tidurnya, sehingga Angel sudah menemukannya kembali.
Maka dari itu, dirinya memutuskan untuk terus berharap bahwa suatu saat nanti Kak Zen akan selalu menepati janjinya dalam melindungi dirinya apapun yang terjadi, dan mungkin akan datang dihadapannya seperti seorang kesatria yang akan menjemput permaisurinya.
Dan hal itulah yang membantu Angel dalam menjalani kehidupan barunya saat ini, yang ingin serius menyelesaikan pendidikannya dan barulah dirinya akan berfokus pada kehidupannya termasuk hubungannya nanti, seperti apa yang diharapkan oleh beberapa pihak kepada dirinya.
"Akhirnya sampai juga" dan begitulah ucapan Angel yang sudah sampai pada kediamannya yang merupakan pemberian dari Vero dan mulai memasukinya.
Tempat itu tentu saja masih gelap, karena Angel baru pulang dan waktu kepulangannya cukup sore dan hari sudah mulai sedikit menggelap. Maka dari itu, wajar saja kediamannya gelap karena tidak ada siapapun yang berada di sana. Hingga Angel mulai menyalakan semua penerangan dari apartemen mewah tempatnya tinggal saat ini.
Namun disaat dirinya mulai melewati ruang tamu kediamannya itu, Pandangan Angel malah tidak sengaja memperhatikan sesuatu yang ada di atas meja pada ruang tamunya. Hingga dirinya menyadari benda apa yang saat ini berada diatasnya, bahkan dirinya sangat terkejut melihat benda itu berada di atas meja pada kediamannya.
"B-bukankah ini kue ulang tahun yang sama, yang pernah Kak Zen belikan kepadaku?" ucap Angel yang memperhatikan sebuah kue yang sudah terpasang lilin pada bagaian atasnya, dan saat ini berada di atas meja ruang tamunya.
Tentu ingatannya mulai berpindah menuju kejadian setahun yang lalu, yang dimana pada hari ulang tahunnya dahulu, merupakan hari dimana Zen pertama kali menyelamatkannya, dan juga hari itu pertama kalinya dirinya merayakan ulang tahunnya secara bahagia.
Melihat kue yang sama yang pernah dirinya dapatkan, tentu membuat Angel bingung bagaimana kue ini bisa berada di kediamannya. Hingga saat ini pandangannya mulai memandang siluet pria yang sedang berdiri membelakanginya pada balkon kediaman mewahnya itu.
Air mata Angel akhirnya tanpa bisa tertahan mulai jatuh. Rasa terharunya melihat punggung dari sosok yang dikenalnya saat ini membuat dirinya bahagia. Apalagi sudah cukup lama dirinya ingin bertemu dengannya, dan saat ini keinginannya itu bisa dikabulkan saat ini.
Angel tentu mulai melangkahkan kakinya secara perlahan. Hingga suara langkah kakinya yang cukup menggema itu, akhirnya mulai mengganggu pria yang saat ini sedang memandang pemandangan indah dari atas balkon tempatnya berada dan saat ini mulai menghadap ketempat dimana dirinya berada.
Hingga niat Angel yang ingin mendekat kearahnya langsung terhenti, karena saat ini sosok itu mulai menunjukan senyum manis yang paling dirindukan oleh Angel saat ini, dan pria itu mulai mendekat kearahnya, yang masih mematung dengan ekspresi penuh haru melihat kedatangan sosok tersebut.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun Angel. Tidak terasa, kita sudah setahun saling mengenal"