
Di atas sebuah bukit, dua orang wanita saat ini masih diam dan menunggu hasil dari apa yang dilakukan oleh Zen dan Bari di wilayah ini. Suara ledakan dan tembakan bisa terdengar dengan jelas dari mansion yang sedang mereka awasi, walaupun salah satu dari mereka tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana, karena jarak dari tempat ini dari mansion tersebut cukup jauh.
“Apakah kamu yakin kedua rekanmu akan baik-baik saja Nona Marci?” tanya Santi yang sedikit khawatir dengan keadaan Zen dan Bari yang pergi menuju mansion tersebut.
“Sudah kubilang, mereka akan baik-baik saja” balas Marci sambil tersenyum manis kearah Santi.
Mendapatkan senyuman seperti itu, tentu saja Santi entah mengapa merasakan sangat terpukau dengan senyuman dari Marci, karena memang bisa dikatakan Marci sangatlah cantik dan senyumannya itu sangatlah amat menawan. Namun santi langsung membuang semua pemikirannya itu karena memang dirinya masihlah normal.
Santi kembali menatap kearah Mansion yang dimasuki oleh Zen dan merasa saat ini sangat percuma untuk menghalangi Zen untuk membunuh, karena sepertinya dirinya sudah terbiasa seperti itu. Walaupun hati kecilnya merasa apa yang dilakukan oleh Zen adalah salah, tetapi entah mengapa sebagian dari dirinya ingin orang-orang yang didalam mansion itu menerima sebuah hukuman yang pantas.
Santi sudah menyelidiki tempat itu selama dua tahun lamanya, dan apa yang dilakukan oleh orang yang tinggal didalam mansion tersebut bisa dikatakan tidak bisa dimaafkan. Walaupun dirinya sudah berusaha menjerat mereka dengan hukum, tetapi tetap saja mereka sepertinya bisa keluar dari jeratan tersebut.
“Hm... sepertinya mereka sudah selesai” gumam Marci kemudian yang akan beranjak dari sana dan menuju mansion yang terlihat sedang terbakar saat ini.
“A-Anda mau kemana nona Marci?” tanya Santi kemudian yang terkejut bahwa Marci sudah beranjak dari tempatnya.
Tentu Santi yang tidak ingin ditinggal sendirian langsung mengikuti langkah dari Marci dan saat ini mereka berdua sedang menuju kearah mansion yang mereka awasi sedari tadi, karena Marci merasakan bahwa Zen dan Bari sudah menyelesaikan tugas mereka ditempat itu.
Namun saat mereka sudah masuk kedalam area mansion yang megah itu, Santi dikejutkan dengan kehancuran yang dia lihat, yang dimana sebagian bangunan mansion yang megah itu terlihat sudah tidak berbentuk.
“Apakah mereka berdua yang melakukannya?” gumam Santi kemudian yang dimana tatapannya saat ini dirinya sudah mengarah kearah mayat dan beberapa potongan tubuh yang tergeletak disekitar area tersebut.
Mengerikan, itulah yang bisa ditangkap oleh penglihatan dari Santi atas kejadian yang sedang terjadi ditempat ini. Santi masih tidak mengerti bagaimana kehancuran itu bisa terjadi. Namun saat melihat sekeliling, dirinya mendapati bahwa Zen dan Bari sudah keluar dari dalam mansion yang megah itu bersama.
“Sepertinya urusan anda sudah selesai tuan” ucap Marci kepada Zen.
“Yap... kalau begitu mari kita pulang” ucap Zen yang sudah memimpin Bari dan Marci untuk meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Santi hanya tertegun saja melihat kejadian tersebut, karena dirinya melihat bahwa ketiga orang tersebut yang melakukan semua ini seakan sudah terbiasa melakukannya, karena mereka seakan tidak memperdulikan apa yang sudah mereka perbuat ditempat ini.
“Apakah mereka benar-benar anggota dari sebuah organisasi mafia?”
.
.
Keesokan harinya, seorang pria yang menggunakan seluruh kekuatannya untuk melarikan diri, saat ini sudah berada disebuah air terjun pada sebuah wilayah diluar dari kota Malet. Cukup melelahkan memang, tetapi pria itu harus segera melaporkan apa yang dirinya lihat kepada atasannya.
Setelah menembus aliran air yang jatuh dari atas air terjun tersebut, dirinya mulai masuk kedalam sebuah goa yang berada dibalik dari air terjun tersebut. Semakin dalam dirinya masuk kedalam goa yang dirinya masuki, membuatnya tiba sebuah kediaman yang menyerupai kastil didalam goa tersebut.
“Akhirnya aku sampai” balasnya dan langsung masuk kedalam kastil yang terlihat megah tersebut.
Setelah memberitahukan maksud kedatangannya kepada para penjaga kastil tersebut, dirinya mulai masuk kedalamnya dan saat ini dirinya sudah berada disebuah pintu yang sangat besar yang akan menuntunnya menuju kesebuah ruangan.
“Katakanlah maksud kedatangan dirimu ketempat ini” kata salah satu pria yang saat ini duduk ditengah.
“Kediaman tuan Mark sudah dimusnahkan Tuan Lord Agung” ucap pria yang merupakan Black yang saat ini sudah berlutut dihadapan ketiga pria tersebut.
Setelah Black berkata seperti itu, dirinya mulai menjelaskan semua apa yang dirinya lihat saat terjadinya kekacauan di kediaman tempatnya berjaga, mulai dari pembantaian sampai kekuatan sebenarnya dari pria yang menatapnya dan membuatnya sangat ketakutan.
“Ya... aku sebenarnya sudah merasakan kematiannya. Lalu, apakah kamu tahu siapa yang membunuhnya?” tanya seorang yang saat ini berada disebelah kiri.
“Aku hanya mengetahui salah satunya tuan, yaitu seorang malaikat maut. Aku tidak tahu siapa orang yang satunya lagi namun aku mengetahui namanya, yaitu Zen Gwillyn” ucap Black.
Memang sangat susah mendeteksi siapakah Zen sebenarnya, karena dirinya sendiri membuat segel agar terlihat seperti seorang manusia jika beberapa orang mencoba untuk menyelidiki tentang dirinya.
__ADS_1
“Gwillyn. Bukankah itu nama dari keluarga Heavenly Sins?” gumam pria yang saat ini duduk ditengah.
“Apakah kamu merasakan aura kesucian dari pria tersebut?” tanya pria yang berada disebelah kiri kembali kepada Black.
“Tidak Tuan. Aku sama sekali tidak merasakan aura kesucian darinya. Aku hanya merasakan rasa teror saja saat aku tidak sengaja mencoba merasakan auranya” balas Black.
“Apakah dia salah satu Dewa, Tuan Lord Pertama?” tanya seorang yang duduk disebelah kanan dan bertanya kepada pria yang duduk ditengah.
“Apakah kamu pernah mendengar seorang Dewa bekerja sama dengan malaikat maut Lord Ketiga?” balas pria yang duduk ditengah itu.
Mendengar itu, mereka semakin bingung dengan siapa yang sebenarnya menyerang kediaman salah satu bawahannya yang cukup berharga. Tentu mereka ingin tahu siapa yang melakukan semua itu, karena sebagian besar pemasokan keuntungan yang dimiliki oleh mereka berasal dari pria yang sudah dibunuh oleh Zen.
“Hm.. Bukan dari pihak Heavenly sins karena dirinya tidak menggunakan kesucian, lalu siapa sebenarnya pria itu. Apakah bawahan langsung dari seorang Alfred Darkness?” tanya pria itu kembali.
Alfred merupakan seorang malaikat maut yang sangat kuat, bahkan jika seorang Dewa tidak serius melawannya, maka pihak Dewa akan mati dibuatnya. Mengapa mereka berfikir bahwa itu merupakan bawahan dari Alfred, karena hanya dua pihak saja yang bisa membuat para malaikat maut untuk bertindak bahkan tiga jika memang pihak Deadly Sins masih hidup.
Yang pertama pastilah para Heavenly Sins yang dimana tidak mungkin mereka melakukan semua itu, dan kedua pemimpin para malaikat maut yaitu Alfred. Namun cukup aneh memang jika Alfred menyerang mereka tanpa alasan yang jelas, karena memang diketahui pihak malaikat maut jarang sekali ikut campur dengan keberadaan manusia dan mahluk seperti mereka.
“Lalu, bagaimana proses pencarian anak haram dari Dewa Ebisu?” tanya pria yang berada ditengah sekali lagi.
“Kami sudah menelusuri seluruh wilayah kota Malet Tuan Lord Agung, tetapi kamu tidak merasakan apapun saat mencoba menemukannya.” balas Black kembali.
Memang, misi mereka selain mencari uang yang sangat banyak untuk menjalankan semua rencana mereka yaitu mencoba mencari salah satu anak haram dari Dewa Sinto, yaitu Dewa Ebisu yang kabarnya anaknya berada di wilayah Malet.
Mereka ingin mencari anaknya itu untuk digunakan sebagai sandera, bahkan untuk menyerang balik pihak Dewa Sinto yang selalu memburu mereka dan selalu saja menggagalkan semua rencana mereka.
“Cih... mengapa semua rencana kita mulai kacau”
__ADS_1