
Zen, Vero dan Kelly saat ini sudah didalam sebuah kendaraan yang akan membawa mereka kembali menuju kediaman mereka. Tentu Zen saat ini yang membawa kendaraan tersebut, dan berjalan dengan santai menembus jalanan yang mulai padat, karena waktu mereka kembali merupakan waktu beberapa pihak juga pulang dari tempat mereka berkerja.
Namun walaupun mereka masih dalam perjalanan pulang, Zen saat ini masih disibukkan dengan menjawab semua pertanyaan dari kedua orang wanita, yang selalu menanyakan berbagai hal tentang dirinya yang diculik tadi. Bukan hanya itu saja, bahkan mereka terus saja mencoba memastikan apakah kondisinya baik-baik saja.
Dirinya sebenarnya tidak mempermasalahkan jika mereka menanyakan tentang kondisinya. Tetapi, Zen sudah mendapatkan berbagai pertanyaan yang terus terulang sedari tadi, saat mereka masih berada di perusahaan milik Vero, hingga mereka sedang dalam perjalanan pulang saat ini.
“Lalu, apakah pihak yang menculik dirimu sudah diurus oleh pihak kepolisian, Zen” dan begitulah pertanyaan lanjutan yang kembali ditanyakan oleh Vero, padahal pertanyaan itu sudah dirinya ulang kesekian kalinya.
Memang Vero dan Kelly baru menyadari bahwa Zen baru saja melewati sebuah kejadian penculikan tadi. Karena memang mereka melupakan rasa kekhawatiran mereka dengan sosok Zen, disaat mereka sedang sibuk mengurusi luka yang dialami oleh Kelly tadi.
Bahkan kejadian yang dimana Zen menatap tubuh dari kelly yang tanpa busana tadi, langsung dilupakan oleh wanita itu, karena dirinya juga sangat mengkhawatirkan keadaan Zen tadi. Tetapi Zen tidak menyangka, bahwa kekhawatiran mereka berdua ternyata sangat amat membuatnya kelelahan menanggapinya.
Tentu Zen sempat kewalahan dalam menjawab semua pertanyaan mereka yang sangat mengkhawatirkan dirinya tadi. Bahkan dirinya sudah merasa malas untuk menjawab mereka. Namun, karena mereka mengeluarkan sebuah aura kebahagiaan, maka dari itu Zen sampai sekarang dengan senang hati menjawab seluruh pertanyaan mereka.
“Bukankah sudah kubilang, bahwa Santi sudah mengurusnya” balas Zen yang kembali menjawab pertanyaan Vero dengan jawaban yang hampir sama, yang sudah dirinya berikan tadi kepada mereka berdua sebelumnya.
Memang keadaan dan kondisi dari Zen mulai menjadi prioritas kedua wanita itu saat ini. Karena mereka menganggap, bahwa sesuatu terjadi terhadap dirinya saat mengalami sebuah penculikan tadi. Namun, setelah mereka memastikan bahwa keadaannya baik-baik saja, jadi bisa dipastikan mereka bisa tenang.
Karena bisa dikatakan mereka sangatlah heboh saat memeriksa keadaanya tadi. Apalagi Vero yang benar-benar sangat frustasi melihat keadaan Zen tadi yang seakan terlihat tidak berdaya, dan membuat Vero berani mengorbankan apapun untuk menyematkan dirinya dari para penculik yang menculiknya tadi.
“Aku tidak mau tahu, Zen. Suruh temanmu itu mengusut tuntas permasalahan tersebut, karena aku tidak ingin kejadian yang dialami oleh dirimu akan terulang kembali” ucap Vero yang kembali menekankan perkataannya itu, agar diikuti oleh Zen.
“Aku setuju dengan perkataan Vero, Zen.” Balas Kelly yang menyahuti perkataan sahabatnya itu.
Zen hanya bisa mengangguk saja menjawab perkataan mereka, karena dirinya sudah bosan menjawab seluruh saran yang mereka berikan sedari tadi. Bahkan dirinya sudah kehabisan tenaga dalam menjawab pertanyaan mereka hingga saat ini.
Apalagi, apa yang baru saja mereka ucapkan tadi sudah diulang beberapa kali, dan membuat Zen sudah cukup muak untuk menjawab sebuah pertanyaan yang sama. Apalagi, jika dirinya terus lanjutkan, maka bisa dikatakan mereka akan mengulangi lagi pertanyaan yang sama tentang kekhawatiran mereka dengan kondisinya.
Hingga akhirnya perdebatan mereka yang mengkhawatirkan sosok Zen akhirnya mulai berakhir. Karena selain Zen terus meyakinkan mereka dengan menunjukan kondisinya baik-baik saja, akhirnya mereka juga sudah tiba tepat didepan kediaman dari Kelly.
“Terima kasih telah mengantarku, Zen. Dan juga, terima kasih juga dengan obat yang kamu berikan tadi” ucap Kelly yang mulai turun dari kendaraannya, setelah mereka tiba didepan kediamannya.
__ADS_1
Bisa dikatakan, luka lebam dari Kelly seakan mulai memudar saat ini. Walaupun belum bisa dikatakan sembuh sepenuhnya, tetapi bekas luka lebam itu tidak terlalu mencolok dan Kelly bisa menyembunyikannya dari keberadaan Ibunya menggunakan sebuah riasan.
Bahkan kedua wanita yang melihat perubahan luka yang tiba-tiba mulai sembuh itu, cukup terkejut melihat reaksi dari salep yang diberikan oleh Zen yang bisa dikatakan bereaksi sangat cepat. Jadi, mereka mulai kebingungan dari mana Zen mendapatkan obat yang berbentuk salep tersebut dan ingin membelinya sendiri untuk digunakan oleh mereka.
Karena bisa dikatakan selain ampuh mengobati luka ringan menurut Zen, salep itu berbau sangat harum dan baunya sangat disukai oleh kedua wanita itu. Bahkan Kelly yang memakai salep itu untuk mengobati lukanya tadi, masih memancarkan sebuah bau harum yang sangat enak untuk dicium.
“Sama-sama. Kalau begitu sampai besok” ucap Zen yang ingin segera menjalankan mobil yang dibawanya, agar dirinya bisa kembali, lalu makan malam dan langsung beristirahat.
“Ya... sampai jumpa besok, Kel. Dan jangan lupa beristirahat” sahut Vero yang juga sudah melambaikan tangannya kepada sahabatnya itu.
Kelly hanya mengangguk saja mendengar ucapan perpisahan mereka, dan mulai melambaikan tangannya kepada kedua orang yang pulang bersamanya itu. Hingga akhirnya kendaraan yang dibawa oleh Zen mulai beranjak dari tempatnya dan meninggalkan sosok Kelly yang mulai memasuki kediamannya.
Memang awalnya kegiatan mereka akan selalu mengantarkan Kelly menuju kediamannya terlebih dahulu, sebelum mereka akan kembali menuju kediaman mereka. Karena memang, setelah Kelly pindah didekat kediaman dari Vero, mereka memutuskan untuk selalu menuju ke perusahaan dari Vero bersama-sama.
Hingga akhirnya didalam mobil yang sedang dikendarai oleh Zen saat ini tersisa dirinya dan Vero. Tentu entah mengapa suasana didalam kendaraan tersebut mulai sunyi, karena memang Vero tidak tahu harus membicarakan tentang apa.
Apalagi suasana canggung mulai dirasakan oleh Vero, setelah Kelly mulai turun dari kendaraan mereka. Terlebih lagi, Vero yang merasakan perasaan tersebut, dikarenakan memang ungkapan perasaanya yang dirinya lakukan kepada Zen tadi, masih membekas pada ingatannya.
“Kenapa kamu diam saja, kita sudah sampai saat ini” ucap Zen yang menyadarkan Vero dari lamunannya itu.
Jujur, Vero memang sudah memiliki perasan cinta terhadap Zen. Bahkan dirinya tidak keberatan menganggap pria itu sebagai suaminya. Namun dirinya tidak berharap, bahwa dirinya sendirilah yang mengungkapkan perasaannya kepada Zen terlebih dahulu.
Tetapi ada salah satu hal yang membuat dirinya cukup risau saat ini. Karena memang, belum ada satu katapun dari mulut pria itu yang seakan membalas perasaan yang dirinya ungkapkan tadi. Jadi, bisa dikatakan Vero sedang menantikan jawaban dari Zen atas pengakuan cinta yang dirinya lakukan tadi.
Namun naas, hingga mereka sampai pada kediaman mereka saat ini, sepertinya harapan dirinya harus pupus untuk mendengar jawaban dari Zen, karena pria tersebut tidak menyinggung sama sekali permasalahan dirinya mengungkapkan cintanya yang Vero lakukan tadi.
Walaupun sebenarnya Zen sudah membalas perasaannya tadi, tetapi gumaman yang Zen ucapkan saat dirinya membalas cintanya, tentu tidak bisa didengar oleh Vero yang menantikan jawaban dari pernyataan cinta yang dirinya lakukan tadi. Jadi, Vero sama sekali belum menerima jawaban dari pria itu atas perasaannya.
“A-Ah... kalau begitu, ayo turun.” Ucap Vero yang mulai membuka pintu kendaraannya dan mulai memasuki kediamannya dengan perasaan yang kesal bercampur gelisah saat ini.
Memang, yang membuat dirinya kesal dan gelisah, karena dirinya menyangka bahwa Zen melupakan pernyataan cinta yang dirinya lakukan tadi. Jadi, dirinya bingung harus melakukan apa, agar pria itu setidaknya menjawab perasaannya yang dirinya lontarkan tadi.
__ADS_1
Disisi lain, tentu Zen hanya tersenyum saja melihat tingkah dari Vero. Karena memang dirinya sangat tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita yang baru saja keluar dari mobil yang dikendarainya tadi. Namun, Zen saat ini memang belum menemukan waktu yang tepat, untuk membahas tentang kelanjutan hubungan mereka.
Apalagi ada beberapa hal yang harus Zen pikirkan untuk membuat hubungan mereka untuk maju. Jadi, Zen memutuskan untuk mencari sebuah cara untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Apalagi ini merupakan pertama kalinya dirinya akan mempunyai pendamping yang sangat tulus mencintai dirinya.
Tentu permasalahan tentang statusnya bisa dirinya jelaskan secara perlahan nanti, setelah dirinya akan mengesahkan Vero sebagai Istrinya dimata Hukum Dunia. Maka dari itu, Zen mulai memikirkan cara agar disaat dirinya akan mengesahkan cintanya pada Hukum Dunia, akan membuat momen itu akan dikenang oleh mereka berdua.
“Kami pulang!” teriak Vero yang akhirnya memasuki kediaman miliknya, dan sudah disusul oleh Zen yang memang mengekor dibelakang dirinya.
Tentu saat ini Bibi Leni mulai menyambut kedatangannya dan juga Zen yang akhirnya juga ikut masuk kedalam kediaman mereka itu. Tentu pemandangan itu sangat membuat Bibi Leni senang, karena bisa dikatakan dirinya cukup bahagia melihat pasangan suami istri itu bisa terus bersama.
“Ah... apakah kalian jadi menuju tempat perancang pakaian?” tanya Bibi Leni, setelah mereka saat ini mulai duduk diruang keluarga dan bersantai sejenak di sana.
“Sepertinya kami akan menundanya untuk besok, Bibi. Karena hari ini kami sangat kelelahan” kata Vero yang mulai menyandarkan tubuhnya yang kelelahan pada sebuah sofa yang nyaman pada kediamannya.
“Perancang pakaian?” ucap Zen yang mulai ikut dalam percakapan tersebut, karena bisa dikatakan percakapan itu sedang melibatkan dirinya.
“Tuan Zen belum diberitahukan oleh Nona Vero?” ucap Bibi Leni yang menatap Zen dan Vero secara bergantian.
Tentu Zen mulai menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Bibi Leni, karena memang Istrinya tidak memberitahukan dirinya apapun. Vero juga melakukan hal yang sama, karena memang dirinya belum sempat memberitahukan hal tersebut kepada Zen, karena mereka disibukan dengan permasalahan penculikan tadi.
Apalagi, niat awal Vero juga ingin membiarkan Zen beristirahat, karena menurutnya mungkin Zen sedang terguncang dengan kejadian yang dialami olehnya tadi. Jadi, dirinya memutuskan untuk membatalkan rencana mereka dalam mengunjungi sebuah perancang busana, dan tidak memberitahukan Zen tentang rencananya yang akan membawanya menuju ketempat perancang busana.
“Memangnya ada apa?” tanya Zen yang masih bingung, mengapa dirinya harus pergi menuju ke perancang pakaian bersama Vero.
“Karena, kalian berdua akan menghadiri Marlet Economy Night beberapa hari lagi” ucap Bibi Leni.
Pemberitahuan yang diterima oleh Vero tadi, memang hanya sebatas mengkonfirmasi siapa yang akan menghadiri perhelatan megah tersebut. Karena memang undangan dari acara itu sudah diterima olehnya beberapa hari yang lalu, dan sudah diketahui oleh Bibi Leni.
Jadi disaat dirinya sudah memutuskan siapa yang diajak bersamanya, Vero langsung menghubungi Bibi Leni untuk menghubungi pihak perancang busana. Karena bisa dikatakan, Zen memanglah tidak mempunyai sebuah setelan untuk menghadiri acara tersebut.
“Kalau begitu, besok kita berdua akan ke sana, Zen. Karena aku ingin kamu mendampingiku untuk datang ke acara tersebut.”
__ADS_1