Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kembali Pulang


__ADS_3

Vero saat ini sudah bersiap untuk meninggalkan rumah sakit tempat dimana dirinya dirawat seharian penuh sedari kemarin. Apalagi setelah dirinya sudah diizinkan untuk pulang, dirinya langsung bergegas menghubungi Kelly untuk mengurus tiket kepulangannya saat itu juga.


Memang seharian dari kemarin hingga saat ini, Vero tidak mendapatkan sebuah izin untuk keluar dari rumah sakit ini. Bahkan walaupun dirinya bersikeras untuk keluar, Zen mencoba menahan tindakannya itu agar dirinya bisa beristirahat sejenak.


Walaupun sebenarnya hal itu hanya menjadi alasan bagi Zen, karena dirinya harus mengurus beberapa hal. Karena memang bisa dipastikan, bahwa Zen tidak akan mempunyai waktu untuk menyelesaikannya, jika Vero bersikeras untuk langsung kembali menuju kota Marlet kemarin.


Hingga akhirnya, mereka berdua saat ini sudah bersiap untuk langsung menuju bandara, karena mereka akan langsung kembali menuju kota Marlet saat ini juga, karena Vero tidak mempunyai sebuah urusan lagi di kota tempat dirinya berada saat ini.


“Kamu sudah menyelesaikan semual hal tentang administrasi perawatan diriku di rumah sakit ini, bukan?” tanya Vero kemudian, kepada Zen yang sudah kembali kedalam ruang perawatannya.


“Tentu saja aku sudah menyelesaikannya. Ini aku kembalikan kartu debit milikmu, dan bukti pembayarannya” balas Zen kemudian, karena memang dirinya menggunakan kartu yang dimiliki oleh Vero untuk membayar perawatan dari wanita itu ditempat ini.


Vero hanya mengangguk saja mendengar jawaban yang diberikan oleh Zen, hingga akhirnya mereka berdua mulai beranjak dari bangsal rumah sakit tempat dimana Vero dirawat. Rencananya, mereka akan langsung menuju bandara dari sana. Namun naasnya, sepertinya apa yang mereka rencanakan tersebut harus tertunda sejenak.


"Apa yang harus kita lakukan, Zen?" tanya Vero, yang saat ini melihat dari kejauhan beberapa kerumunan saat ini sedang menanti kedatangannya.


Memang pada pintu masuk dari rumah sakit tempat dimana Vero dirawat, tenyata banyak sekali wartawan yang sudah menunggu kedatangan dari Vero di sana. Bahkan Vero cukup terkejut melihat keberadaan mereka, yang sedang berkerumun dan menantikan kemunculannya ditempat itu.


“Kalau begitu, aku akan menghalangi mereka” ucap Zen kemudian, yang bersiap menghalau semua wartawan yang sedang menunggu kedatangan mereka, agar dirinya bisa beranjak dari sana bersama Vero.


Tetapi sebelum dirinya melakukan hal tersebut, lengannya saat ini langsung dipegang oleh Vero, untuk menghalangi tindakan yang akan dirinya lakukan itu. Tentu Zen bingung mengapa wanita itu melakukan hal tersebut kepadanya, karena memang jadwal penerbangan mereka semakin dekat.


Jadi, jika mereka semakin membuang waktu ditempat ini, mereka dipastikan akan ketinggalan pesawat yang akan membawa mereka kembali, menuju kota tempat asal mereka. Namun sayangnya, Vero bersikeras agar mereka tidak pergi kearah kerumunan yang sedang berkumpul itu.


“A-Aku takut, Zen” begitulah ucapan wanita itu, setelah dirinya menghalangi tindakan dari Zen yang akan menerobos masuk, dan membuat jalan untuk mereka berdua.


Zen langsung mengerutkan keningnya, melihat apa yang dilakukan oleh Vero saat ini. Karena memang Zen bisa merasakan bahwa wanita itu tidak ingin melewati kerumunan tersebut. Tetapi dirinya mencoba menenangkan dirinya, karena memang mereka harus mengejar pesawat yang akan mereka tumpangi saat ini.


“Sudahlah, aku akan melindungi dirimu. Jadi, ayo kita pergi” kata Zen yang mencoba meyakinkan Vero untuk beranjak dari sana, melewati kerumunan para wartawan tersebut.


“Jangan, Zen. Jangan ke sana” ucap Vero kembali, yang saat ini semakin menghalangi tindakannya.

__ADS_1


“Tenanglah. Akan aku pastikan tidak terjadi apa-apa kepada dirimu. Jadi, tenanglah oke” ucap Zen kemudian, yang kembali meyakinkan Vero, agar mereka bisa beranjak dari sana.


“Aku bukan mengkhawatirkan keadaanku, Zen. Tetapi aku takut kejadian penusukan yang kamu alami, akan terjadi lagi” ucap Vero yang semakin mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Zen, untuk menghalangi tindakan dari pria tersebut.


Memang sebenarnya Zen menganggap bahwa Vero tidak berani untuk menerobos kerumunan para wartawan itu, karena dirinya mengira bahwa wanita itu takut ditanya berbagai hal, dan dirinya malas untuk merespon mereka satu persatu.


Namun ternyata, apa yang dirinya pikirkan ternyata salah. Karena memang, Vero hanya masih merasa trauma melihat Zen yang ditusuk oleh seseorang, saat mencoba menghalau beberapa wartawan pada perusahaannya tempo hari.


“Hahh... lalu, kita harus bagaimana sekarang? Karena memang, kita tidak mungkin berdiam diri ditempat ini, dan menunggu mereka bubar, bukan?” tanya Zen, yang saat ini memutuskan untuk mengikuti saja perkataan wanita yang bersamanya itu.


“Aku tidak tahu, Zen. Tetapi pokoknya aku tidak ingin kita melewati mereka” balas Vero yang bersikeras, karena memang dirinya tidak mau kejadian Zen ditikam oleh seseorang akan terulang kembali.


“Hahh... Baiklah. Kalau begitu, kamu tunggu disini.” Kata Zen, yang saat ini mencoba melepaskan genggaman dari wanita itu pada lengannya.


Memang mereka berdua masih berada pada lobby dari rumah sakit tempat mereka berada. Pada saat mereka melihat kerumunan wartawan, tentu saja mereka langsung mengurungkan niat mereka untuk langsung keluar dari tempat tersebut.


Tetapi untung saja rumah sakit tempat Vero dirawat, merupakan rumah sakit yang memiliki sebuah hubungan baik dengan rumah sakit yang dikelola oleh bawahannya. Jadi, dirinya mulai menghubungi Amel, untuk dapat menyelesaikan urusan yang terjadi ditempat ini dan mencari jalan keluar untuk dirinya.


“Ayo, staf dari rumah sakit ini akan memandu kita untuk keluar dari pintu belakang, dari rumah sakit ini” ucap Zen, yang saat ini kembali menghampiri Vero, setelah apa yang dirinya lakukan ternyata sukses.


“Ah.. benarkah?” balas Vero kemudian, dan membuat Zen mulai mengangguk untuk menjawab perkataannya. Hingga akhirnya, mereka berdua mulai mengikuti beberapa staf rumah sakit yang saat ini mulai menuntun keberadaan mereka, untuk keluar dari sana.


Dengan dibimbing oleh seorang staf dari rumah sakit ini, akhirnya mereka berdua mulai keluar melalui pintu yang berbeda dari rumah sakit tempat Vero dirawat. Tentu saat melihat bahwa keberadaan wartawan tidak berhasil mencium keberadaan mereka, saat ini Vero dan Zen langsung dengan bergegas meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin.


“Akhirnya, kita bisa keluar dengan selamat” ucap Vero yang merasa lega, setelah mereka sudah berada disebuah kendaraan yang akan mengantarkan mereka menuju bandara.


Tentu Vero merasa cukup lega karena tidak perlu bertemu dengan para wartawan yang sedang berkumpul dan menunggunya, karena mereka ingin sekali meliput tentang kejadian yang sedang dialami oleh dirinya. Apalagi kabar tentang dirinya mengalami sebuah kecelakaan, hingga saat ini menjadi sebuah berita yang hangat diberbagai media.


Apalagi, karena skandal yang baru saja dialami oleh Vero, tentu berita tentang dirinya mengalami kecelakaan langsung saja menjadi sebuah berita yang sangat panas dan membuat beberapa pihak sangat penasaran dengan kondisi yang terjadi oleh Vero setelah kejadian tersebut.


“Padahal aku bukanlah orang yang sangat seterkenal itu. Mengapa mereka terus saja mencoba mengorek beberapa berita dari diriku?” ucap Vero yang kebingungan, karena menurutnya dirinya bisa dikatakan hanya seseorang wanita karir biasa.

__ADS_1


“Bukankah dirimu memang terkenal?” Kata Zen kemudian, yang menyahuti perkataan dari Vero.


“Siapa bilang aku terkenal. Bahkan ada satu pria yang pernah aku temui, dan dirinya bahkan tidak mengenali siapa diriku” balas Vero kemudian, yang saat ini langsung menatap keberadaan Zen yang duduk disebelahnya.


Tentu pria yang dimaksud oleh Vero dari perkataannya itu merupakan Zen. Karena memang pria tersebut tidak mengenali dirinya, saat mereka pertama kali bertemu dulu. Bahkan pada pertemuan mereka selanjutnya, Zen sepertinya memang benar-benar tidak mengenal sosoknya.


“Benarkah? Berarti pria itu sama sepertiku kalau begitu. Karena aku tidak mengenali dirimu saat kita pertama kali bertemu, bukan?” ucap Zen kemudian, yang saat ini baru menyadari bahwa dirinya juga tidak mengenali Vero saat pertama kali bertemu dengannya.


Tentu Vero langsung menatap Zen dengan tatapan yang aneh saat ini, karena sepertinya pria itu tidak sadar bahwa pria yang dirinya maksud itu merupakan dirinya sendiri. Karena memang, beberapa pihak yang pernah ditemui oleh Vero, hanya dirinyalah yang tidak mengenalnya.


Bahkan beberapa pihak yang bertemu dengannya, dipastikan akan memuja keberadaannya, seperti para kaum pria yang hendak mencuri hatinya. Namun sekali lagi, bahkan Zen yang tidak mengenalnya saja, juga tidak terpengaruh dengan kecantikan yang dirinya miliki, yang membuat beberapa pihak akan mencoba mengejar cintanya.


“Tapi, Zen. Pada saat kamu bertemu denganku, sebenarnya kamu mengenali diriku, bukan?” Tanya Vero penuh selidik, kepada pria yang masih fokus dalam mengemudikan kendaraan mereka.


“Tentu saja tidak. Untuk apa aku mengenali dirimu?” tanya Zen balik, yang langsung membuat Vero sedikit kesal mendengar perkataannya itu.


“Cih... jangan bilang bahwa kamu sebenarnya jatuh cinta kepadaku, dan kamu berpura-pura tidak mengenaliku karena ingin mendapatkan perhatian dari diriku, bukan?” ucap Vero kemudian, yang sebenarnya cukup mencurigai sikap Zen kepadanya dulu.


“Ho... apakah kamu berharap aku seperti itu?” balas Zen balik, yang langsung membuat Vero entah mengapa langsung bungkam dibuatnya.


Tentu mendengar pernyataan dari Zen itu, membuat Vero langsung melebarkan matanya saat ini. Tentu dirinya baru menyadari bahwa dirinya sudah bertindak terlalu jauh, sehingga dirinya tidak menyadari bahwa dirinya melontarkan perkataan yang membuatnya langsung terbungkam saat Zen membalas perkataannya.


Memang sebuah perasaan baru mulai muncul didalam diri Vero, kepada pria yang berada disebelahnya saat ini. Namun dirinya berusaha untuk menyangkal perasaan tersebut, karena dirinya masih menjunjung tinggi ego yang dimiliki olehnya, karena memang dirinya tidak ingin bahwa dirinyalah yang mengakui perasaan tersebut kepada Zen.


Dirinya tentu juga masih tidak berani memastikan perasaannya tersebut, karena bisa terlihat Zen sepertinya sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama, yang saat ini dirinya rasakan. Jadi dirinya akan merasa sangat malu, jika memang apa yang dirinya rasakan saat ini, merupakan sebuah perasaan sepihak jika dirinya berani mengakuinya kepada Zen.


“Cih... jangan mimpi” kata Vero, yang memutuskan untuk kembali menghadap ke depan dan memperhatikan jalan raya yang saat ini sedang mereka lewati.


Padahal didalam hati Vero, sudah muncul sesuatu yang dapat membuat kehidupannya mungkin akan sangat bahagia kelak. Karena sesuatu yang tumbuh tersebut, akan membuatnya membuka jati diri dari seseorang yang menginginkan sebuah kesempurnaan.


Bahkan Jika Zen memahami sepenuhnya arti dari apa yang dikeluarkan oleh Vero kepada dirinya, mungkin akan membuat cita-cita Zen yang selama ini dirinya harapkan akan terwujud. Dan mungkin, pria itu akan sangat bahagia jika dirinya bisa menyadarinya.

__ADS_1


"Tetapi, mengapa wajahmu merona saat ini?"


__ADS_2