
Sebuah kabut berwarna putih saat ini sudah membawa empat orang keluar dari dalamnya. Seorang pria saat ini sudah membimbing dua orang anak kecil yang bersamanya, dan seorang wanita yang membuat kabut tersebut juga ikut keluar dari dalamnya.
“Wah... kebun binatang” ucap Ana yang sudah bersemangat setelah dirinya tiba pada sebuah tempat, yang dimana sebuah papan nama yang menunjukan atau bertuliskan kebun binantang menyambut dirinya.
“Ya... Ya... Ya...” gumam sang Balita yang sangat bersemangat saat berada di gendongan dari Zen.
Zen sangat senang merasakan kedua keponakannya sudah mulai senang dengan perjalanan mereka ini, dan tanpa pikir panjang langsung memasuki tempat yang sudah ramai dengan pengunjung itu, setelah menonaktifkan aura kamuflasenya tadi saat menggunakan portal kabut yang dibuat oleh Inez.
Inez yang sebenarnya masih ketakutan dengan keberadaan Zen, hanya mengikuti langkah pria yang sudah membimbing kedua keponakannya itu untuk memasuki sebuah kebun binatang yang sedang mereka kunjungi.
“Inez, belilah tiket masuk dan aku akan menunggumu disini” perintah Zen kepada Inez sambil memberikan malaikat itu kartu debitnya.
“M-Maafkan saya Tuan. Tetapi Tuan Mikhael sudah memberikan saya kartu debitnya untuk membayar semua pengeluaran istri dan anak-anaknya” ucap Inez yang menolak pemberian kartu debit milik Zen.
“Pakailah kartuku. Aku ingin mentraktir keponakanku” ucap Zen yang bersikeras agar kartu debitnya yang dipakai untuk membayar tiket masuk tempat itu.
Karena Inez cukup takut berdebat sehingga ujungnya dirinya diancam akan dijadikan seorang malaikat jatuh, lebih baik dirinya mengikuti semua perintah Zen dan mulai mengambil kartu debit yang diberikan olehnya, lalu mulai mengantri untuk membeli tiket masuk kebun binatang yang sedang mereka kunjungi itu.
“Paman, kata Ayah Paman dulu punya peliharaan Singa” Ucap Levon kemudian yang ingin menanyakan kebenaran cerita dari Ayahnya dulu.
“Ho... tentu saja Paman memilikinya. Paman dulu mempunyai peliharaan Singa, Naga, Dinosaurus, Mamoth, Cheetah dan sebagainya” ucap Zen yang mulai mengingat peliharaan yang dimilikinya dulu saat masih tinggal di Neraka.
Walaupun dirinya memelihara mereka, tetapi Zen jarang sekali mengurus mereka dan membiarkan bawahannya dulu yang melakukannya. Zen hanya senang mengoleksi hewan-hewan langka dan terlihat garang itu untuk memenuhi kediamannya saja.
“Benarkah, apakah mereka masih ada?” tanya Ana kemudian.
“Hmm.... sepertinya mereka sudah tidak ada. Tetapi Paman bisa mencarinya” ucap Zen dan membuat kedua keponakannya itu sangat bersemangat mendengarkan Paman mereka bisa mencari hewan-hewan tersebut.
“Lalu kapan Paman akan mencarinya?” tanya Levon yang sudah tidak sabar melihat semua hewan yang disebutkan oleh pamannya itu.
__ADS_1
“Hm.... mungkin saat Paman ada waktu. Dan pada saat itu terjadi, dipastikan Paman akan mencari hewan-hewan tersebut dan langsung menunjukan kepada kalian” ucap Zen dan mendapatkan anggukan bersemangat dari kedua keponakannya.
Mereka akhirnya mulai mengobrol berbagai hal, yang dimana Zen saat ini ditanyai berbagai hal oleh kedua keponakannya. Hingga akhirnya Inez sudah kembali membawakan tiket masuk untuk mereka dan mulai memasuki area tersebut untuk melakukan rekreasi bersama.
.
.
Sudah beberapa jam setelah kepergian kedua anak mereka. Saat ini Valana dan Aghata disibukan dengan beberapa orang yang sedang mendandani mereka. Apalagi mereka berdua merupakan seorang bangsawan dan terlebih lagi istri seorang Raja. Jadi mereka dituntut untuk tampil sempurna dihadapan publik.
Tentu saja melelahkan melakukan semua itu. Tetapi karena ini sudah menjadi resiko saat menikahi suami mereka yang mempunyai sebuah rahasia yang tidak terduga, akhirnya mereka harus menjalaninya dengan senang hati.
“Hmm... suami kita menelfon” ucap Valana yang menunjukan layar ponselnya yang sedang berdering kepada Agatha.
“Angkat saja Kak” ucap Agatha dan membuat Valana mengangkat panggilan tersebut.
“Selamat sore suamiku” ucap Valana memberikan salamnya kepada suami tercintanya.
“Dia berada di sebelahku dan sedang didandani” balas Valana.
“Kalian akan menemani Kak Zen untuk pergi menuju lelang?” tanya Mikhael setelah mendengar kedua istrinya sedang didandani saat ini.
Memang, mereka belum menceritakan apapun kepada Mikhael tentang tindakan Zen tadi malam, yang dimana Zen sudah menjelaskan semuanya kepada Valana dan Agatha tadi pagi sebelum dirinya membawa kedua anak mereka untuk menuju kebun binatang.
Tentu saat ini Valana sedang menjelaskan secara rinci tentang apa yang dilakukan Zen kepada suaminya, dan Mikhael dengan sabar mendengar semua penjelasan istrinya itu.
“Hm... memang dirinya sangat bisa diharapkan” ucap Mikhael yang memuji hasil kerja Kakak sepupunya itu.
“Lalu dimana Ana dan Levon?” tanya Mikhael kemudian.
__ADS_1
“Mereka sedang pergi menuju Kebun Binatang bersama Paman mereka” ucap Aghata yang menjawab pertanyaan suaminya itu, karena memang mereka sudah menggunakan panggilan Video saat ini.
Mendengar itu, entah mengapa Mikhael langsung tertawa karena dirinya mengetahui dengan pasti watak dari Zen. Kakak sepupunya itu terkenal sangat amat malas, tetapi tidak dengan namanya menyenangkan keluarganya.
Dan itulah yang membuat Mikhael sampai sekarang menyuruh semua orang yang berada disekitarnya untuk bersikap baik kepada Zen, karena memang Zen merupakan Kakak yang selalu ada saat para adiknya membutuhkannya.
“Jangan membuat mereka berdua meminta sesuatu yang aneh. Karena Kak Zen akan melakukan apapun untuk mewujudkan keinginan mereka” ucap Mikhael yang memperingati kedua istrinya itu.
“Mengapa sifatnya seperti itu Suamiku, padahal saat aku melihat dirinya berinteraksi dengan orang asing, dirinya sangatlah dingin dan terkesan cuek kepada mereka” tanya Valana yang masih kebingungan dengan perubahan sifat Zen jika bersama dengan orang asing dan keluarganya.
Zen merupakan anak pertama yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Jadi bisa dikatakan Zen memiliki lebih banyak waktu bersama dengan ayahnya dari pada para saudaranya yang lain, dan bisa dikatakan dirinya merupakan anak yang paling disayang olehnya.
Setelah sang pencipta menciptakan semua Heavenly dan Deadly sins, sang pencipta menugaskan Zen secara khusus untuk selalu merawat seluruh keluarganya dan selalu menyayangi mereka apapun yang terjadi.
Jadi, atas perintah tersebut Zen selalu menyayangi seluruh keluarganya, bahkan para bawahannya karena mereka merupakan sosok yang harus dirinya lindungi apapun yang terjadi, karena ayahnya yang menugaskan dirinya untuk menjadi seperti itu.
“Tetapi, mengapa tindakan Kakak Ipar biasa saja saat mendengar kematian semua adik kandungnya?” ucap Valana kemudian.
“Untuk itu, aku sendiri tidak tahu” ucap Mikhael.
Memang satu kekhawatiran Mikhael saat Zen terbangun dari tidur panjangnya, yaitu dirinya akan membalaskan dendam seluruh adiknya kepada dewa-dewa yang membunuh para adiknya dulu.
Namun apa yang dirinya takutkan itu tidak terjadi, dan membuat Mikhael cukup bingung dibuatnya karena tindakan Zen tidak seperti biasanya. Karena sangat diketahui, Zen sangat menyayangi semua adiknya.
“Apakah kamu pernah bertanya kepada Kakak ipar tentang permasalahan itu suamiku?” tanya Agatha kemudian.
“Uriel yang pernah bertanya kepadanya. Namun jawabannya hanya sebatas dirinya malas membalaskan dendam mereka” ucap Mikhael.
Memang Uriel menceritakan semua pembicaraan dirinya dengan Zen dahulu saat mengunjungi kota Malet kepada Mikhael. Namun mereka berdua masih bingung dengan tindakan Kakaknya itu, yang seakan tidak bertindak atas kematian saudara kandungnya.
__ADS_1
“Sudahlah. Yang terpenting, tidak akan terjadi peperangan karena Kak Zen tidak akan mengamuk dan membalaskan dendamnya kepada adiknya”