Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Untung Saja


__ADS_3

Angel tentu masih mengingat dengan jelas percakapannya saat malam dirinya akan berangkat menuju Jakarta. Malam itu, dirinya menanyakan apakah benar Zen membunuh seluruh orang yang mengganggunya, saat percakapan mereka malam itu sedikit memperlihatkan perbuatan Zen yang sebenarnya.


“Ya... aku melakukannya”


Dan begitulah akhirnya jawaban yang diterimanya malam itu, setelah dirinya memaksa Zen menjawabnya dengan jujur atas pertanyaan yang dirinya lontarkan. Angel sempat dibuat tidak percaya dengan kenyataan yang dirinya dengar itu. Namun setelah mendengarnya langsung dari Zen, dirinya tidak tahu harus berperilaku seperti apa terhadapnya.


Dirinya juga tidak tahu bagaimana Zen berhasil membunuh semua orang yang mengganggunya, karena setahunya Zen selalu berada disisinya. Bahkan malam itu Zen tidak menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang dirinya ucapkan itu.


Hingga akhirnya, percakapannya dengan Santi membuat dirinya menyadari sesuatu. Seorang Mafia, begitulah apa yang dirinya tangkap saat dirinya sedang berbincang dengan Santi, saat merayakan kenaikan pangkatnya dan mereka membicarakan tentang Zen.


“Maaf Pak, tetapi apakah anda mengenal Zen?” tanya Angel kepada seorang pria yang sedang mengemudikan mobil ambulan yang dinaikinya.


Memang benar kata Amel tadi. Karena setelah dirinya keluar dari pintu yang diarahkan olehnya, dirinya menemukan sebuah ambulan yang dimana seorang pria dan seorang perawat saat itu sudah menunggunya di sana.


Tentu karena melihat keadaan Santi yang cukup gawat, Angel tidak menghiraukan apapun termasuk tentang bagaimana ambulan itu bisa berada di sana, dan langsung menaikan Santi kedalam ambulan yang sudah menunggunya dan mulai beranjak dari sana.


“Zen?” balas pria yang masih mengemudikan kendaraannya dengan fokus, karena dirinya tidak mengenal orang yang baru saja dibicarakan oleh Angel.


Angel lalu mengubah pandangannya kepada seorang perawat yang duduk di seberangnya dan mendapatkan gelengan darinya, yang menandakan dirinya juga tidak mengenal siapa itu Zen. Tentu reaksi yang dirinya terima semakin membuat Angel bingung, karena menurutnya pasti ini semua merupakan perbuatan dari Zen.


“Lalu, siapa yang menyuruh kalian untuk datang menyelamatkan kami?” tanya Angel yang masih menganggap bahwa kedua orang yang dirinya ajak bicara itu merupakan orang suruhan dari Zen.


“Nona Amelia” balas sang perawat.


“Amel?” balas Angel kemudian, yang masih tidak mengerti hubungan sahabatnya itu dengan permasalahan yang sedang dirinya alami ini.


Tentu, Angel sangat mengetahui Zen ada dibalik orang-orang yang menyelamatkannya, termasuk tentang sahabatnya itu. Karena memang Angel sempat mencurigai sahabat sekamarnya itu, karena memang dirinya terdaftar sebagai mahasiswa yang menerima beasiswa seperti dirinya.


Yang membuat Angel sangat curiga, yaitu perilaku yang dirinya tunjukan selama ini tidak mencerminkan seorang yang mendapatkan sebuah beasiswa. Jadi setelah sahabatnya itu datang menyelamatkannya tadi, tentu hal pertama yang Angel curigai adalah dirinya merupakan orang suruhan dari Zen.

__ADS_1


“Benar Nona. Nona Amelia yang menyuruh kami menjemput anda” balas perawat itu kembali.


Mendengar itu, Angel mulai mengangguk paham, lalu memutuskan untuk tidak melanjutkan perkataannya dan hanya memfokuskan dirinya dalam memastikan keadaan Santi baik-baik saja. Apalagi dirinya sudah memastikan identitas orang yang mengendarai ambulan yang dibawanya, dan perawat yang membantu dirinya.


Dan juga Santi saat ini memang sudah tidak sadarkan diri, setelah tiba dan dibaringkan di atas sebuah tandu yang ada didalam ambulan. Jadi saat ini Angel hanya harus memastikan bahwa tidak terjadi sesuatu kepada Santi, sambil menanti perjalanan mereka menuju sebuah rumah sakit.


Hingga akhirnya perjalanan yang bisa dikatakan singkat, karena kecepatan ambulan yang membawa mereka, membuat mereka tiba didepan sebuah rumah sakit dengan cepat. Bahkan saat mereka tiba, beberapa dokter dan perawat sudah menunggu kedatangan mereka di sana.


"Cepat, langsung bawa dirinya menuju ruang gawat darurat" kata seorang dokter, setelah menurunkan Santi dari dalam Ambulan.


Tentu Santi langsung diturunkan dari dalam ambulan dan dibawa menuju ruang gawat darurat untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh tentang kondisinya. Yang dimana Angel saat ini masih setia menemani dirinya, dan berharap kondisi dari Santi akan baik-baik saja.


.


.


Disisi lain, Zen saat ini sudah keluar dari dalam sebuah gudang yang digunakan Gio dalam menculik Angel dan Santi tadi. Setelah menyelesaikan urusannya ditempat itu, dirinya bersama seorang malaikat maut bernama Amelia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


“Ya... di kepalanya saat ini sudah dipenuhi berbagai pemikiran tentang siapa sebenarnya diriku. Dan saat kamu berkata seperti itu, dipastikan dirinya akan langsung membuat sebuah kesimpulan tentang identitas diriku” balas Zen.


Tentu Zen akan dianggap sebagai mafia oleh Angel menurut Zen. Apalagi setelah dirinya sudah bercengkrama dengan Santi, dipastikan identitasnya akan dianggap seperti itu. Walaupun sebenarnya Zen masih tidak mengerti apa itu Mafia hingga saat ini.


“Baik Tuan. Lalu, berapa lama anda akan berada di Jakarta?” tanya Amel kemudian.


“Untuk itu aku tidak tahu. Alfred menyarankan diriku untuk menyamar sebagai pria biasa saat ini. Jadi aku hanya melakukan perintahnya saja dengan menjadi Suami yang sangat sederhana saat ini” balas Zen.


Tentu Zen mengetahui harta yang dimilikinya, yang ditinggalkan oleh semua adiknya. Walaupun dirinya baru mengetahui sedikit, tetapi apa yang dirinya ketahui itu, sudah dapat membuatnya menjadi seorang miliarder jika memang dirinya mau.


“Baiklah Tuan. Lalu, apakah keberadaan saya disekitar Tuan dibutuhkan kalau begitu?” tanya Amel, karena biasanya keberadaan Zen harus didampingi oleh seorang malaikat maut sebagai pelayannya.

__ADS_1


“Tidak perlu. Kamu fokus saja menjaga Angel. Karena kebahagiaannya merupakan berkah bagiku” balas Zen dan mendapatkan anggukan dari malaikat maut bernama Amel tersebut.


“Lalu, apakah kehidupanmu ditempat ini baik-baik saja?” tanya Zen kepada bawahannya itu, sebelum dirinya akan beranjak dari tempatnya berada.


“Saya hanya merasa sangat bosan mengikuti apa yang disebut dengan perkuliahan Tuan. Hal itu sangat membosankan bagi saya” balas Amel yang merasa depresi harus melakukan kegiatannya itu setiap harinya.


Memang Amel sendirilah yang ditugaskan oleh Alfred sebagai pelindung dari Angel di wilayah ini. Karena memang Angel merupakan salah satu wanita yang paling dekat dengan tuannya, dan dirinya mengetahui bahwa wanita itu mempunyai sesuatu yang dapat membuat tuannya sangat senang.


Jadi, mau tidak mau Amel harus menyamar menjadi mahasiswa baru untuk melindungi Angel, karena dirinya bisa mengawasinya 24 jam keadaan Angel, jika memang dirinya sedang tidak bertugas mengantarkan sebuah nyawa.


“Hmmm... kalau begitu, karena kedokmu sudah ketahuan, kamu bisa keluar dari sana dan lindungi Angel dari jarak jauh saja” balas Zen yang melihat bawahannya itu sepertinya sangat menderita mengikuti kegiatan yang bernama perkuliahan.


“B-Benarkah Tuan?” balas Amel yang cukup senang dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Zen tadi.


“Yap. Lagipula bukankah kamu juga harus menjalankan perusahaan milik adikku. Jadi katakanlah perintahku ini pada Alfred agar kamu bisa keluar dari sana” balas Zen.


Zen tentu mengetahui kekuatan dari semua bawahannya dan bisa dikatakan mereka semua cukup kuat, apalagi Zen sudah menanamkan aura hitamnya kepada Angel. Jadi jika terjadi sesuatu kepada Angel, pastilah Amel bisa merasakannya dan bisa kapan saja datang untuk menyelamatkannya.


Apalagi, jika memang para bawahannya tidak bisa melindungi seseorang yang diperintahkan untuk dijaga oleh mereka, bawahan dari Zen bisa langsung membuka sebuah portal tempat Zen berada dan bisa langsung memanggilnya. Jadi Zen tidak mengkhawatirkan keselamatan dari Angel jika memang Amel tidak berada disekitarnya.


“Baiklah Tuan. Aku akan menerima perintah darimu itu” balas Amel yang merasa senang, karena dirinya tidak harus mengalami apa yang namanya mengikuti pembelajaran yang sangat membosankan menurutnya.


Zen hanya tersenyum saja melihat bawahannya itu sangat bahagia karena keputusannya. Hingga Zen memutuskan beranjak dari sana dengan menyuruh Amel membuka portal untuknya, agar bisa kembali menuju hotel tempatnya menginap dan meninggalkan Amel di sana untuk melanjutkan tugasnya.


Setelah Zen menghilangkan aura kamuflasenya, dirinya akhirnya mulai memasuki hotel tempat dirinya menginap, karena dirinya hendak beristirahat karena sangat lelah dengan semua tindakan yang dirinya lakukan sedari tadi. Namun saat dirinya menginjakan kakinya di lobby hotel yang disewanya, dirinya melihat beberapa orang memenuhi tempat tersebut.


“Heh.. mengapa sangat gaduh disini?” ucap Zen yang melihat kerumunan orang saat ini berada di area tempat dirinya berada.


Zen tidak menghiraukan mereka dan mulai melanjutkan langkahnya, sambil membelah kerumunan yang berkerumun itu, untuk kembali ke kamarnya. Dirinya tanpa menghiraukan beberapa pihak yang berada di sana, mulai menunggu lift yang akan membawanya kelantai kamar yang disewanya dengan sabar.

__ADS_1


Namun, saat lift yang membawanya menuju lantai tempat dimana kamarnya berada sudah sampai, dirinya dikejutkan dengan banyaknya orang bersetelan formal khas bodyguard, sedang berada di koridor lantai tempat kamarnya berada.


“Maaf, tetapi Tuan kami tidak membiarkan siapapun memasuki lantai ini.”


__ADS_2